'Lintas Agama' ala Sunda

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Lukisan Tembok di Joglo Keadilan, YSK, Bogor (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Lukisan Tembok di Joglo Keadilan, YSK, Bogor (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Sejak 2017, saya menapaki perjalanan panjang di dunia agama-agama, belajar di kelas hingga turun langsung ke lapangan. Di Bandung dan Jawa Barat, saya banyak berjumpa dengan orang-orang dari berbagai latar, bercanda bersama mereka, sekaligus mengikuti isu-isu terkait.

Dalam perjumpaan itu, saya menemukan banyak konsep dan istilah baru yang kadang terasa asing, menantang batas pemahaman saya tentang ritual, iman, etika, dan spiritualitas. Apalagi ketika saya kembali pulang ke kampung, ketika harus menjelaskan ide-ide ini dengan warga akar rumput.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa bahasa bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga wadah budaya, cara memandang dunia, dan medium untuk menangkap makna terdalam.

Di situlah saya mencoba membumikan kata-kata itu dalam alam pikir Sunda, berdialog dengan orang-orangnya, mencari petuah, membaca literatur, dan memperhatikan kehidupan publik Sunda. Usaha ini bukan sekadar menerjemahkan kata, tetapi juga untuk berusaha menangkap kekayaan budaya, filosofi, dan estetika yang melekat di dalamnya.

Dengan cara ini, saya mencoba menghadirkan ide global ke dalam konteks lokal. Ataupun malah sebaliknya, mendokumentasikan pengetahuan rakyat Sunda. Inilah sebuah refleksi bebas sekaligus eksperimen kreatif lewat bahasa.

Patali-Igama (Interreligious)

Sepintas lalu artinya tampak jelas hubungan antaragama (interreligious). Istilah ini terinspirasi dari patalimarga, yang dalam bahasa Sunda berarti hubungan antarmanusia, antara manusia dan Tuhan, serta antarkota, negara, atau bangsa. Sedangkan igama merupakan kata lain untuk agama, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan telah diadaptasi ke dalam bahasa Sunda.

Saya membayangkan patali-igama, sebagai padanan yang pas untuk istilah-istilah populer seperti lintas agama, lintas iman, interfaith, dan sejenisnya. Di sini igama juga merangkul semua ekspresi religius dan yang disekitarnya, termasuk pada kategori yang disebut faith (keyakinan).

Sebagai catatan, bagi saya sangat jelas bahwa patali-igama hanyalah sebuah penegasan spesifik dari apa yang sesungguhnya sudah dikenal oleh orang Sunda melalui konsep patalimarga.

Kaluginaan Pangageman (Kebebasan Beragama)

Frasa ini terdiri dari dua unsur, lugina dan ageman. Lugina mengacu pada rasa senang dan lega karena telah menyelesaikan semua kewajiban, atau merasa bebas dan merdeka. Sedangkan ageman berarti cecekelan (pegangan) yang baik, segala sesuatu yang dipegang atau dijalankan.

Kata pangageman mendapat imbuhan pa- dan -an, kita melihatnya pada contoh pangajaran (pengajaran) atau pagawéan (pekerjaan). Dari sana saya melihatnya sebagai segala hal, suasana, atau cara kita menjalankan agama. Jadi, kaluginaan pangaageman dapat dipahami sebagai kondisi kelegaan dan kemerdekaan bagi kita untuk menganut ‘pegangan’ tertentu.

Istilah ini boleh saja baru dibentuk sekarang, tetapi maknanya saya yakin sudah lama hidup dalam keseharian Sunda.

“Merdéka wé urang mah,” (Kita itu merdeka) ujar seorang sesepuh penghayat di Lembang, kalimat yang selalu terngiang dalam ingatan saya.

Begitu pula ungkapan-ungkapan yang sering saya dengar dari mulut orang Sunda di berbagai tempat, seperti “nu penting mah teu ngarugikeun batur,” (Asal tidak merugikan orang lain) atau “Keun antep, hirup-hirup manéhna ieuh,” (Biarkan itu hak dia). Kata-kata itu mencerminkan pandangan hidup yang menekankan nilai kebebasan beragama yang secara alami tumbuh dalam interaksi sosial kita.

Silih (Toleransi)

Dalam tradisi Sunda, nilai toleransi tercermin melalui berbagai ungkapan seperti silih hurmat (saling menghormati), silih ajénan (saling menghargai), silih béla (saling membela), atau silih simbeuh (saling menolong). Semua konsep ini berakar kuat pada adagium silih asah, silih asih, silih asuh yang hadir meluas di seluruh Tanah Sunda.

Meski tidak ada istilah tunggal yang merangkum seluruh khazanah tersebut, maka dibutuhkan kepekaan kita dalam memilih istilah yang sesuai konteks. Asalkan maknanya tetap jelas sebagai rasa hormat dan penghargaan terhadap keragaman, yang menuntut sikap aktif untuk hidup bersama secara damai, bukan sekadar pembiaran pasif atau bahkan konsesi.

Hiasan Dinding di Ecocamp, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Hiasan Dinding di Ecocamp, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di masyarakat Sunda, prinsip ini mudah dipahami secara intuitif, tercermin dalam ungkapan sehari-hari seperti “Ieuh, urang mah hirup kudu silih nya, saling wé,” (Hei, hidup kita itu harus saling ya). Orang Sunda akan otomatis menangkap makna positif dari kata silih tanpa harus menjabarkannya satu per satu.

Satu hal yang menarik, konsep silih- juga menekankan dimensi timbal balik yang bersifat vertikal, di mana setiap individu didorong untuk aktif berbuat baik kepada sesama.

Paguneman (Dialog)

Paguneman sering kita temui dalam buku dan LKS mata pelajaran bahasa Sunda di sekolah. Kata ini biasanya digunakan sebagai judul untuk percakapan atau teks drama. Memang, dialog adalah padanan langsung dari paguneman ini.

Namun di balik itu ada banyak istilah lain yang mengacu pada hal serupa, misalnya gunem catur, sedangkan istilah  seperti ngawangkong (ngobrol), badami atau barempung (tukar pikiran, rapat), sawala (debat, diskusi), dan maduan (adu argumentasi) memperkaya makna sosialnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akrab dengan ungkapan seperti, “Ngobrol atuh da wawuh,” (Ngobrol dong kan kenal) atau “ngopikeun ah,” yang menunjukkan sifat paguneman yang ringan dan akrab.

Suasananya selalu menekankan pentingnya ungkapan lisan, tetapi paguneman tidak hanya sebatas itu. Ia juga mencakup perjumpaan, tukar cerita, saling bantah, saling menyimak, bercanda, curhat, dan berbagai bentuk interaksi sosial yang mempererat hubungan masyarakat Sunda.

Pasalia (Konflik) dan Kakasaran (Kekerasan)

Dalam bahasa Sunda, istilah pasalia (yang berasal dari kata salia atau sulaya) menggambarkan keadaan berlainan, bertolak belakang, atau berselisih. Istilah ini cocok dengan makna konflik, yang muncul dari perbedaan pandangan, kepentingan, atau nilai tertentu.

Tentu hal tersebut jauh berbeda dengan kekerasan, yang merujuk pada sifat atau keadaan yang agresif, menyakiti, atau menindas. Dalam bahasa Sunda, kita mengenalnya dengan kata kasar. Ia menampilkan keadaan yang tidak lembut, tidak halus, tidak sopan, bahkan kurang nyeni. Sinonim lainnya ialah abrag, perilaku atau sifat yang menonjol dan kasar.

Kekerasan hadir dalam berbagai bentuk, kakasaran teges, ngawaruga (langsung fisik), sugal (verbal), kakasaran pinisti (struktural), kakasaran budaya (kultural), dan kakasaran pangaweruh (epistemik).

Ada banyak diksi, ada banyak cerita yang menunggu untuk kita gali. Dari rampak seja (doa bersama), pasamoan (titik temu), buméla (advokasi), amengku (inklusi), papak (setara), malinding sanak atau pilih kasih (diskriminasi), karageman (pluralitas), hingga répéh-rapih atau runtut-raut (damai) dan layeut (harmoni), sedikit demi sedikit merangkai jejak perjalanan lintas agama saya.

Kata-kata ini tentu menjadi jendela untuk melihat nilai, pengalaman, dan makna hidup yang saling bertaut. Ia membangun jembatan antara gagasan global dan kearifan lokal Sunda. Dan saya senang ada di dalamnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)