Pangsi, Iket, dan Ki Sunda

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi, Selasa 11 Juli 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi, Selasa 11 Juli 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang mendung menggantung di langit. Saat tengah asyik membaca Pikiran Rakyat. Tiba-tiba istriku berseru dari dalam kamar, “Bah, pangsi jeung iket di mana?”

Ku menjawab santai, tanpa mengalihkan pandangan dari bacaan urang Jabar: “Eta di lomari!”

Perempuan yang menginjak kepala empat itu kembali menyahut, “Itu mah nu heubeul, lain nu anyar dibeli!

Setiap hari Rabu, kita menyaksikan para siswa mengenakan pakaian adat, pangsi lengkap dengan iket Sunda bagi laki-laki, kebaya bagi perempuan. Ini merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) tentang Kebudayaan Sunda dan penggunaan bahasa ibu (bahasa Sunda) setiap hari Rabu.

Semua itu merupakan bukti nyata dari upaya menjaga, memelihara, dan melestarikan khazanah budaya Ki Sunda yang berakar pada kearifan lokal.

Pasalnya, seluruh khazanah kearifan lokal merupakan bagian tak terpisahkan dari konstruksi kebudayaan dan suatu bangsa dianggap besar apabila turut memelihara, melestarikan, dan merasa bangga atas jati dirinya.

Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi di halaman Pendopo Alun-Alun Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Selasa 11 Juli 2023. Gelaran yang bertema "Pangsi Pusaka Karuhun Nusantara" diinisiasi oleh Jaga Lembur dan Pakarang Adat dalam rangka melestarikan atau ngamumule budaya Sunda. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi di halaman Pendopo Alun-Alun Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Selasa 11 Juli 2023. Gelaran yang bertema "Pangsi Pusaka Karuhun Nusantara" diinisiasi oleh Jaga Lembur dan Pakarang Adat dalam rangka melestarikan atau ngamumule budaya Sunda. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Merawat Kearifan Lokal

Dalam pandangan Jonh Haba kearifan lokal mengacu kepada berbagai kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat dikenal, dipercayai dan diakui sebagai elemen-elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial, diantar warga masyarakat.

Jika kita menginventarisasi definisi Haba setidaknya ada enam signifikansi, fungsi sebuah kearifan lokal bila hendak dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk pendekatan dalam konflik; Pertama, sebagai penanda sebuah identitas. Kedua, elemen perekat (aspek kohesif) lintas warga, kepercayaan, keagamaan. Ketiga, kearifan lokal tidak memaksa (top down) tetapi sebuah unsur kultural yang ada dan hidup dalam masyarakat karena itu daya ikatnya lebih mengena dan bertahan.

Keempat, kearifan lokal memberikan kebersamaan bagi sebuah komunitas. Kelima, lokal wisdom akan mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan kelompok, dengan meletakkannya di atas coom ground (kebudayaan yang dimiliki). Keenam, kearifan lokal dapat berfungsi mendorongnya kebersamaan, apresiasi sekaligus sebagai sebuah mekanisme bersama untuk menepis berbagai kemungkinan yang mereduksi, bahkan merusak solidaritas komunal yang dipercaya berasal dan tumbuh di atas kesadaran bersama, dari sebuah komunitas terintegrasi.

Untuk itu, keenam fungsi kearifan lokal yang diuraikan menjadikan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) sebagai sumber-sumber budaya sekaligus menjadi penanda identitas bagi kelangsungan hidup, sebuah kelompok maupun aliran kepercayaan. (Haba, 2007: 11 dan 34-35, Irwan Abdullah, Ibnu Mujib dan M. Iqbal Ahnaf, 2008:7-8)

Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ngamumule Budaya Sunda

Salah satu usaha melestarikan identitas lokal itu dengan memakai iket, menggunakan kebaya dan bahasa Sunda. Bagi Mochhamad Asep Hadian Adipradja, Pimpinan Komunitas Pulasara iket menjelaskan Iket (totopong) merupakan kekayaan budaya tutup kepala paling tua di tatar Sunda.

Secara bahasa iket berasal dari kata saiket (satu ikatan), sauyunan dalam satu kesatuan (perkumpulan) hidup. Ibarat lidi, jika sehelai tidak mempunyai fungsi apa-apa, tapi bila dibentuk menjadi satu ikatan sapu, maka akan mampu membersihkan apapun. Begitu pula dengan manusia yang hidup sendiri, tentu berat menghadapi suatu masalah. Berbeda jika dilakukan bersama. Iket juga menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dari jati diri Kasundaan.

Kepala merupakan subjek yang diikatnya, dan persoalan yang datang dari luar dan dalam dirinya merupakan objek yang harus dihadapi. Agar hidup senantiasa siap menghadapi segala situasi dan kondisi (caringcing pegeuh kancing, saringset pageuh iket).

Iket dibagi menjadi tiga bagian, yakni bahan, model (motif) dan bentuk iket. Lebih bagus bahan dan bergam motif batik dari satu iket, lebih mahal harganya. Biasanya yang punya kalangan menak, sebagai contoh motif rereng dan gamir saketi. Sebaliknya, bila iketnya polos--bagai wulung di Kampung Dukuh dan putih di Baduy Dalam--atau jika hanya ada motif batik pinggirnya semata (iket sisina), harganya lebih murah dan yang menggunakannya pun berasal dari golonga rakyat kecil. Sedangkan bentuk iket ada dua bagian, yaitu persegi dan segitiga. Sebernarnya semua bentuk iket persegi, menjadi segitiga karena dilipat atau dipotong dari bentuk asli untuk mempermudah pemakaian.

Motif dalam iket dibagi menjadi empat bagian, yaitu pager, modang, waruga, dan juru. Pager adalah motif yang ada di sekeliling iket. Modang, bentuk kotak pada bagian tengah iket. Waruga, bagian tengah iket yang polos. Serta juru merupakan motif yang ada di setiap sudut iket. Sedangkan bentuk iket ada dua bagian, yaitu persegi dan segitiga. Sebenarnya semua bentuk iket persegi, menjadi segitiga karena dilipat atau dipotong dari bentuk asli untuk mempermudah pemakaian.

Dua bentuk ini mempunyai falsafah hidup. Bentuk persegi menunjukkan hidup masagi/sempurna dalam arti pemikiran, dengan siloka opat kalima pancer atau opat pancer kalima diri urang. Pancer menunjukkan empat madhab/arah (utara, selatan, timur, barat) dan bahan yang menjadi dasar kehidupan (tanah, air, angin, api).

Bentuk persegi juga terdapat di tengah motif (modang), yang selalu berlawanan dengan bentuk iket (diagonal), untuk membedakan dengan kain lain yang sejenis. Jika iket dilipat jadi segitiga, bentuk modang ini akan lurus (horizontal). Hal ini menunjukkan kapancegan (konsistensi) pandangan hidup. Dan bentuk segitiga sendiri adalah kesamaan konsep tritangtu (ratu, rama, resi) yang harus dimaknai secara luas.

Rupa iket awalnya hanya dikenal tujuh bentuk pemakaian. Tapi, seiring dengan kreatifitas masyarakatnya, rupa iket semakin bervariasi, antaranya barangbang semplak, parékos/paros (parékos/paros nangka, jéngkol, gedang), koncér/paitén, julang ngapak, lohén, ki parana, udeng, pa tua, kolé nyangsang, porténg, dll.

Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi di halaman Pendopo Alun-Alun Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Selasa 11 Juli 2023. Gelaran yang bertema "Pangsi Pusaka Karuhun Nusantara" diinisiasi oleh Jaga Lembur dan Pakarang Adat dalam rangka melestarikan atau ngamumule budaya Sunda. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pesilat dari Paguron Gajah Putih Baleendah menampilkan gerakan pencak silat pada gelaran Bandung Lautan Pangsi di halaman Pendopo Alun-Alun Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Selasa 11 Juli 2023. Gelaran yang bertema "Pangsi Pusaka Karuhun Nusantara" diinisiasi oleh Jaga Lembur dan Pakarang Adat dalam rangka melestarikan atau ngamumule budaya Sunda. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Melihat fenomena yang muncul kini, iket semakin tren di kalangan anak muda. Dengan berbagai motif dan gaya pemakaian. Bisa jadi dilatarbelakangi oleh kerinduan terhadap nilai tradisional yang semakin tergerus oleh modernisasi. Atau hanya sekedar pencitraan identitas tanpa pemaknaan. Meskipun demikian, harus jadi kebanggaan bersama dengan diarahkan pertanggungjawabannya. Bahwa mengenal dan memaknai kembali kebudayaan Sunda tidak harus secara paksa. Tapi, diawali dengan kesadaran kecintaan melalui iket. (Cupumanik No 91 Tahun VIII No. 7 Pebruari 2011:32-35 dan Galamedia, 28/3/2013).

Di mata Ahmad Gibson Al-Bustomi, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, persoalan iket yang gemar dipakai anak muda biarkan saja. Pasalnya, mereka tengah mencari hal-hal yang baru dan pencarian jati diri. Sedangkan jika di antara para pejabat ada yang mau memakai, maka pakailah iket, tidak usah menakan urang lain dengan aturan supaya memakai iket. Jangan-jangan jika sekarang memaki iket sering dianggap aneh ini dikarenakan kita sering dilabeli istilah "miara jeung ngamumule budaya Sunda". (Cupumanik No 91 Tahun VIII No. 7 Pebruari 2011:38).

Pangsi, iket, dan figur Ki Sunda bukan sekadar simbol, melainkan bagian penting dari upaya ngamumule (melestarikan) budaya Sunda. Ketiganya mencerminkan identitas, nilai, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pelestarian unsur-unsur budaya ini, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, justru ingin menanamkan rasa bangga terhadap jati diri sebagai urang Sunda.

Tentunya, dalam melestarikan khazanah kesundaan, perlu diberikan ruang yang lebih luas, misalnya melalui pengayaan mata kuliah Bahasa Sunda, penggunaan bahasa lokal dalam dakwah, penelitian terhadap naskah-naskah kuna yang kini keberadaannya sangat mengkhawatirkan.

Dengan demikian, keterlibatan semua unsur sangat dinantikan. Peradaban, kebudayaan suatu bangsa akan terus tumbuh dan berkembang, tetap terpelihara, lestari, dan menjadi sumber kebanggaan apabila kita semua ikut menjaga dan melestarikannya. Inilah salah satu cara kita untuk ngamumule budaya Sunda. Jika bukan kita yang melakukannya, lalu siapa lagi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)