Jain dan Sunda di Restoran 'Hijau' Bandung

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Salah Satu Sudut di Restoran "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" di Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Salah Satu Sudut di Restoran "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" di Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di Kota Bandung, ada restoran bernama Kehidupan Tidak Pernah Berakhir yang unik. Semua makanannya ramah lingkungan. Dari sayuran organik sampai piring daur ulang, restoran ini sengaja mengajak pengunjung peduli pada bumi.

Penelitian menunjukkan bahwa citra restoran sebagai tempat yang “hijau” dan nilai produknya yang ramah lingkungan bisa membuat orang lebih percaya dan puas saat makan di sana (Yoningsih dan Hidayat, “Pengaruh Green Brand Image dan Green Perceived Value Terhadap Green Trust untuk Meningkatkan Green Satisfaction (Studi Pada Restoran Vegetarian Kehidupan Tidak Pernah Berakhir Kota Bandung)”, Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science, 2023).

Ternyata, banyak orang yang masih belum begitu mengenal restoran ini. Menariknya, bukan pengetahuan mereka yang paling menentukan, tapi cara restoran menampilkan diri dengan label “hijau” itu. Gabungan pengetahuan dan citra merek cuma memengaruhi sekitar seperempat keputusan beli, sisanya masih bergantung pada banyak hal lain yang membuat orang penasaran mencoba makanan ramah lingkungan (Oktaviani dan Yusiana, “Pengaruh Green Brand Knowledge dan Green Brand Positioning terhadap Green Purchase Intention di Restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir Kota Bandung Tahun 2019”, e-Proceeding of Applied Science, 2019).

Tren makanan hijau di Indonesia kini semakin mengarah ke pola makan vegetarian dan vegan, yang bukan hanya soal rasa, tapi juga pertimbangan etika dan kesehatan. Pola makan masyarakat cepat berubah, dipengaruhi kesadaran akan kesehatan pribadi sekaligus gaya hidup berkelanjutan (Viviana Arwanto, dkk “The State of Plant-Based Food Development and Its Prospects in The Indonesia Market”, Heliyon, 2022).

Kesadaran etis dalam memilih makanan sebetulnya bukan fenomena baru di dunia. Berbagai budaya dan tradisi keagamaan sejak lama menekankan pentingnya menghormati kehidupan makhluk lain, baik sebagai bentuk spiritualitas maupun pedoman moral.

Dalam konteks modern, perhatian terhadap kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan hewan membuat nilai-nilai etis ini kembali relevan, sekaligus memberikan dasar filosofis bagi orang yang memilih pola makan vegetarian atau vegan. Dengan begitu, tren makanan hijau tidak hanya mengikuti gaya hidup kontemporer, tetapi juga mencerminkan nilai moral yang mendalam, yang sejatinya sudah menjadi bagian dari kekayaan dunia kita.

Aturan Makan yang “Ketat”

Jeffery D. Long dalam “Jainism: An Introduction” (2009) menyoroti Jain sebagai komunitas religius kecil yang perannya berpengaruh secara signifikan. Meski ideal asketik hanya dicapai oleh sebagian kecil penganut, ajaran mereka terutama prinsip ahimsa atau penghindaran kekerasan, membentuk praktik sehari-hari yang menghormati semua makhluk bahkan hingga tingkat mikroskopik.

Pendekatan ini tentunya menghasilkan etika lingkungan yang kuat dan relevan dengan gaya hidup modern, termasuk kesadaran akan makanan ramah lingkungan.

Penganut Jain menghindari daging, ikan, telur, madu, bahkan sebagian menolak susu dan produk turunannya. Umbi-umbian seperti kentang, wortel, bawang, atau jahe juga tidak dimakan karena mencabut akar yang dianggap membunuh tanaman dan mikroorganisme tanah.

Mereka juga pantang makan setelah matahari terbenam, demi mencegah tanpa sengaja membunuh serangga kecil. Selain itu, makanan fermentasi seperti alkohol, cuka, dan tape dilarang karena melibatkan mikroba, bahkan sebagian buah berbiji banyak dihindari karena dianggap mengandung potensi kehidupan baru.

Larangan dan disiplin ini jelas bukan semata aturan diet, melainkan pancaran dari sebuah filsafat religius yang sudah berakar dalam sejarah panjang India. Untuk memahami kedalaman prinsip Jain, kita perlu melihat cara mereka menafsirkan kehidupan, jiwa, dan tujuan akhir manusia. Dari sinilah tampak bahwa praktik makanan hanyalah salah satu bentuk konkret dari perjalanan batin yang lebih luas.

Ahimsa

Sejak lama, manusia menatap cakrawala dan menelusuri sunyi, mencari Kebenaran yang abadi, yang berdenyut di dalam nadi, di setiap hembus angin pagi, dan di pelupuk mata sendiri.

Dari tanah India yang subur, lahirlah banyak ajaran yang berusaha menjawab kegelisahan itu. Jain Dharma menorehkan cahayanya, menyingkap tabir batin yang tersembunyi. Parveen Jain dalam “An Introduction to Jain Philosophy” (2019) menjelaskan bahwa dalam pandangan Jain, Kebenaran Tertinggi menyinari banyak sudut, menunggu manusia yang mampu melihat dunia tanpa bias.

Dharma dipahami sebagai perjalanan menuju kesucian, di mana jiwa menjadi lentera abadi dan kebahagiaan lahir dari cahaya batin, bukan dari kenikmatan inderawi.

Yang Mulia Mahavira, tirthankara ke-24 yang hidup pada abad ke-6 SM di Bihar, menegaskan bahwa setiap pikiran, kata, dan perbuatan yang menyakiti makhluk lain akan menutupi cahaya jiwa. Dharma, melalui pengetahuan yang benar dan perilaku yang baik, menuntun manusia mengendalikan diri dan hidup selaras dengan semua makhluk.

Ajaran ini dirumuskan dalam lima anuvrata yakni ahimsa (non-kekerasan), satya (kebenaran), asteya (tidak mencuri), aparigraha (tidak serakah), dan brahmacarya (pengendalian diri), dilengkapi praktik meditasi, penghormatan kepada para tirthankara, serta diet vegetarian yang ketat.

Tradisi ahimsa klasik memang menekankan penarikan diri dari dunia, tetapi dalam praktik modern generasi baru Jain memandangnya secara lebih aktif. Lana E. Sims dalam “Jainism and Nonviolence: From Mahavira to Modern Times” (The Downtown Review, 2015) mencatat keterlibatan mereka dalam pelayanan sosial, perlindungan hewan, dan aktivisme lingkungan. Di tengah diaspora, terutama di Amerika Serikat, Jain juga menjadi lebih inklusif terhadap perempuan dan generasi muda, sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip utamanya.

Ahimsa Jain pun menjelma sebagai inspirasi bagi tokoh dan gerakan non-kekerasan dunia, dari Thoreau, Gandhi, hingga Martin Luther King Jr., serta memberi warna pada gerakan lingkungan di Barat. Dari asketisme ekstrem hingga praktik aktif yang berorientasi pada pelayanan, Jain berkembang menjadi jalan spiritual yang menekankan cinta, perlindungan, dan penghormatan terhadap semua makhluk.

Selalu Kembali Pulang pada Pangkuan Ibu Kita

Keberadaan restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir di Bandung seperti sebuah tanda kecil yang mengingatkan kita bahwa makanan bisa menjadi jembatan antara manusia dan semesta. Menu nabati, piring daur ulang, dan pesan ramah lingkungan yang mereka suguhkan bukan hanya soal selera modern, melainkan undangan untuk melihat makan sebagai tindakan etis.

Lalapan Khas Sunda (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Lalapan Khas Sunda (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam skala yang lebih luas, kesadaran ini menemukan gema dalam praktik religius Jain. Bagi penganutnya, ahimsa adalah nafas kehidupan. Di sana, makan bukan sekadar mengenyangkan perut, melainkan cara untuk berjalan lebih ringan di atas kemelut dunia.

Menariknya, jika kita menoleh ke pangkuan ibu kita sendiri, Sunda, nilai-nilai serupa sesungguhnya juga sudah lama hadir dalam budaya makan tradisional. Lalab yang diambil dari kebun atau pekarangan tanpa banyak olahan, kisah Nyi Pohaci yang menekankan kesakralan padi, atau tradisi ngabotram di atas daun pisang yang minim limbah. Semuanya adalah bentuk penghormatan pada kehidupan.

Yumna Alifa dan kawan-kawan dalam “Peran Salapan Cinyusu dalam Pelestarian Budaya Pangan Nabati Sunda dan Dampaknya terhadap Gastro-Tourism” (ETNOREFLIKA, 2024) menunjukkan bahwa praktik ini tidak hanya soal kuliner, melainkan juga cermin hubungan harmonis manusia dengan alam. Ada kesadaran halus bahwa tumbuhan bukan sekadar objek konsumsi, tetapi bagian dari kosmos yang mesti dirawat.

Dari sinilah, kita bisa melihat sebuah benang merah, baik Jain, restoran di Bandung, maupun tradisi pangan Sunda sama-sama menempatkan makanan sebagai jalan etika.

Satu sama lain mengajarkan bahwa pilihan yang sederhana dapat menjadi bentuk kasih, penghormatan, dan tanggung jawab.

Di tengah arus modernisasi, pertemuan nilai ini membuka ruang refleks bahwa makan ramah lingkungan bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan cara kita menjaga keseimbangan dengan dunia. Dari piring sederhana di restoran kota kita telah belajar, dan kini setiap suapan adalah janji untuk tidak menyakiti kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)