Mengurai Rindu yang Terbendung dengan Kuliner Minangkabau di Bandung

6 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan
Ilustrasi makanan khas Minangkabau. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ilustrasi makanan khas Minangkabau. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Pagi di kawasan Pasar Buku Palasari selalu punya cerita. Saya selalu berupaya datang di pagi hari jika ke kawasan ini. Bukan hendak membeli buku, karena tentunya para penjual buku belum lagi ada. Saya sengaja datang untuk mencari sarapan kuliner khas Minangkabau. Mungkin bagi sebagian masyarakat di Bandung sudah mengenal Katupek Kapau Uni Rita di Palasari. Tidak jarang juga saya mencari sarapan ala Minangkabau di warung kaki lima Katupek Uda Naldi di kawasan Citarum. Belum lagi dengan Sate Padang yang terkenal di seberang Universitas Padjajaran, kampus Jalan Dipatiukur.

Kedai-kedai ini terletak di kaki lima atau mempunyai tempat yang sederhana. Namun kuliner Minang tidak terbatas untuk kalangan kaum ekonomi menengah ke bawah. Sebut saja Rumah Makan Simpang Raya, Rumah Makan Bumus, Rumah Makan Sabana Kapau, dan masih banyak lagi rumah makan yang menyajikan kuliner Minangkabau di Bandung. Rumah makan ini dapat saya katakan sebagai tempat makan premium. Mengingat tempatnya yang besar, bersih, mewah, dan juga tarif yang lebih tinggi dari rumah makan kebanyakan. Namun demikian, penetapan ini bukan tanpa dasar. Sehingga wajar saja ada istilah “ada harga ada rupa”.

Pemandangan ini sudah akrab di Bandung. Di setiap sudut kota, dari kaki lima hingga restoran berpendingin udara, kuliner Minangkabau hadir dengan berbagai wajah. Ada yang mempertahankan gaya tradisional, ada pula yang tampil modern dengan konsep kafe. Semuanya punya satu kesamaan, yaitu cita rasa yang membuat orang dapat melepas rindu dengan Ranah Minang. Oleh karenanya wajar jika banyak orang yang kembali datang.

Jejak Rasa dari Barat ke Priangan

Perjalanan kuliner Minangkabau di Bandung tidak bisa dilepaskan dari kisah para perantau. Banyak yang datang dengan niat sederhana untuk mencari penghidupan. Mereka membawa bekal paling berharga, yaitu kemampuan memasak dan berniaga. Dari situ, lahirlah warung-warung kecil di pinggir jalan yang kini tumbuh menjadi jaringan rumah makan Padang di seluruh penjuru kota.

Rasa yang kuat dan bumbu yang berani membuat masakan Minang mudah diterima lidah siapa pun. Dalam waktu singkat, kuliner Minang menjadi bagian dari selera kota ini. Meski sejatinya rumah makan ini sudah mempunyai pelanggan tersendiri, yaitu para pelajar atau perantau yang tinggal di Kota Bandung.

Jika mengingat cerita Abang penjual Nasi Padang menggunakan roda di kawasan Dago Atas pada era tahun 2009an, “Kuncinya tetap di rasa. Kalau enak, orang tidak peduli tempatnya kecil atau besar”. Oleh karenanya wajar jika para penjual Nasi Padang akan berupaya menyamakan cita rasa masakan dengan daerah asalnya

Bandung dikenal sebagai kota yang cepat menerima hal baru. Warganya terbuka, gemar mencoba, dan punya semangat eksplorasi. Itu sebabnya, berbagai kuliner dari daerah lain mudah tumbuh di sini. Keberadaan Kota Bandung yang terbuka turut membuka peluang bagi perkembangan kuliner Minangkabau.

Pelaku kuliner Minangkabau mulai memadukan nilai tradisi dengan ide-ide segar. Ada rumah makan yang dibuat dengan konsep kaki lima. Ada pula restoran yang menyajikan nasi Kapau dalam konsep prasmanan modern. Perubahan ini menunjukkan kemampuan pelaku usaha menyesuaikan diri dengan ritme kota tanpa kehilangan karakter asli masakannya.

Bandung memberi ruang untuk itu. Di tengah dinamika gaya hidup urban, cita rasa Minang justru menemukan bentuk baru. Bagaimana tidak, saya dapat menikmati segelas Teh Talua di dalam ruangan sejuk berpendingin.

Ilustrasi masakan khas Minangkabau. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ilustrasi masakan khas Minangkabau. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)

Sebagai kota kreatif dunia, Bandung sudah memiliki ekosistem yang mendukung sektor kuliner. Pemerintah kota memberi ruang bagi usaha kecil, mengadakan pelatihan, dan membuka peluang lewat berbagai festival makanan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Koperasi dan UMKM sering melibatkan pelaku kuliner lokal dan perantau dalam berbagai ajang promosi.

Langkah ini memberi dampak langsung. Usaha kuliner Minangkabau tidak lagi berjalan sendiri. Mereka masuk ke dalam arus besar ekonomi kreatif Bandung, bersama para pelaku kopi, roti, dan jajanan kekinian.

Namun, tantangannya tetap besar. Persaingan di bidang kuliner semakin ketat. Di sinilah pentingnya arah kebijakan yang memperhatikan keberagaman pelaku usaha. Dukungan terhadap pelatihan, akses bahan baku, dan promosi digital bisa membantu mereka bertahan sekaligus berkembang.

Bandung memiliki potensi untuk menjadi etalase kuliner Nusantara. Setiap daerah membawa rasa dan kisahnya sendiri, dan kota ini bisa menjadi panggung yang mempertemukan semuanya.

Restoran Minangkabau Kini

Beberapa tahun terakhir, restoran Minangkabau di Bandung tampil dengan wajah baru. Desainnya lebih modern, konsepnya lebih rapi, tapi esensinya tidak berubah. Rendang masih dimasak dengan santan dan rempah yang sama, hanya cara penyajiannya yang disesuaikan dengan gaya hidup kota.

Kreativitas seperti ini membuat kuliner Minang terus hidup di Bandung. Kuliner Minangkabau tidak berhenti sebagai pelepas rindu para perantau. Tetapi berkembang dan diminati masyarakat luas di Kota Bandung. Di satu sisi hal ini adalah peluang bisnis yang membutuhkan tenaga kerja. Namun di sisi lain keberadaannya juga sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi Minangkabau.

Masyarakat Bandung sendiri tampaknya menyambut baik keberadaan kuliner Minangkabau. Beberapa tempat yang saya kunjungi bahkan memberlakukan sistem antrian kepada pengunjungnya. Tentunya hal ini menjadi pertanda positif bagi pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Jika disimak lebih jauh, bahkan para wisatawan yang berkunjung juga menyempatkan diri untuk menikmati Kuliner Minangkabau di Kota Bandung.

Maraknya kuliner Minangkabau membawa dampak ekonomi yang luas. Banyak tenaga kerja terserap, rantai pasokan bahan makanan bergerak, dan sektor wisata kuliner ikut hidup. Wisatawan yang datang ke Bandung kini tidak hanya mencari surabi atau seblak, tapi juga ingin mencicipi rendang dan sate Padang dari tempat yang sedang viral di media sosial.

Keberagaman ini memperkaya citra Bandung sebagai kota wisata kuliner. Pemerintah kota bisa memanfaatkan momentum ini dengan memperluas promosi kuliner lintas budaya. Misalnya dengan membuat peta wisata kuliner tematik yang menghubungkan makanan khas berbagai daerah yang tumbuh di Bandung.

Langkah semacam itu tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas Bandung sebagai kota yang terbuka dan penuh rasa.

Modernisasi sering membawa risiko sehingga nilai-nilai tradisi perlahan tergerus oleh tren. Namun, pelaku kuliner Minang di Bandung umumnya punya kesadaran kuat menjaga resep dan cara memasak warisan keluarga. Di dapur mereka, rempah masih digiling manual, santan masih diperas dari kelapa segar.

Kesetiaan pada cara lama ini menjadi bentuk penghormatan terhadap asal-usul mereka. Sementara dari sisi pelanggan, ada penghargaan tersendiri pada keaslian rasa yang tetap terjaga.

Rendang, gulai, dan dendeng balado tidak hanya menjadi sajian menu semata. Keberadaan kuliner khas Minangkabau ini menjadi simbol kebanggaan yang terus diwariskan.

Baca Juga: Ditinggal Wahana Dreamland, Bukit Teletubies Cicalengka Bertahan berkat Kopi

Perkembangan kuliner Minangkabau di Bandung menunjukkan bagaimana rasa bisa menjembatani banyak hal, diantaranya budaya, ekonomi, bahkan arah kebijakan pemerintah kota. Di tangan para perantau, masakan Minang menemukan ruang tumbuh di kota yang menghargai kreativitas dan keberagaman.

Bandung menjadi rumah kedua bagi cita rasa dari Sumatera Barat. Di sini, rendang dan sambal lado tidak hanya memanjakan lidah, tapi juga memperkaya identitas kota yang terus bergerak maju.

Selama pemerintah kota terus memberi ruang bagi pelaku usaha dan masyarakat tetap setia pada rasa yang jujur. Sehingga kuliner Minangkabau akan tetap hidup di Bandung. Kuliner Minang tidak menjadi pelengkap saja, tetapi juga menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan Kota Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)