PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 11:20 WIB
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Deretan spanduk putih dengan cat merah menyala membentang di sepanjang kawasan Cicadas, Kota Bandung. Tulisan-tulisan bernada protes itu terpasang di depan lapak pedagang kaki lima (PKL), menempel di dinding kios, hingga pagar besi yang menghadap langsung ke jalan utama. Pesannya beragam, namun mengerucut pada satu suara: penolakan terhadap rencana pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT).

“Kami tidak butuh BRT. Kami butuh makan. Kami butuh kepastian,” demikian bunyi salah satu spanduk yang mencantumkan identitas PKL Cicadas. Spanduk lain menyinggung kondisi usaha yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi, menyiratkan kegelisahan pedagang kecil yang kembali merasa berada di posisi rawan.

Di balik spanduk-spanduk itu, aktivitas jual beli di sepanjang Cicadas tetap berjalan seperti biasa. Pedagang membuka lapak, pembeli datang silih berganti. Namun di balik rutinitas tersebut, tersimpan kekhawatiran tentang masa depan ruang usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.

Tak semua pedagang bersedia memberikan keterangan. Sejumlah PKL memilih diam, mengaku bingung dan khawatir karena belum pernah menerima sosialisasi resmi terkait rencana pembangunan. Dari pantauan di lapangan, hanya dua pedagang yang berkenan berbicara terbuka, sementara sebagian lainnya menyatakan belum memahami secara utuh apa yang akan terjadi pada lapak mereka.

Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja (63), Wakil Ketua PKL Cicadas, mengatakan penolakan yang disuarakan para pedagang bukan tanpa alasan. Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan menyeluruh terkait dampak pembangunan jalur BRT terhadap keberadaan PKL.

“Pedagang di sini bukan nolak pembangunan. Yang kami khawatirkan itu nasib kami ke depan. Sampai sekarang belum ada penjelasan jelas, kami mau ditempatkan di mana, bagaimana kelanjutannya,” ujar Jaja.

Ia menuturkan, sebagian besar PKL di kawasan Cicadas menggantungkan hidup sepenuhnya dari lapak yang mereka tempati saat ini. Jika lapak tersebut hilang tanpa solusi jangka panjang, dampaknya akan langsung terasa pada penghasilan harian.

“Kalau cuma dikasih uang kompensasi, itu kan habis. Usaha kami ini buat makan tiap hari. Yang kami butuhkan itu kepastian tempat usaha, bukan sekadar uang,” katanya.

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP. Tak lama berselang, petugas dari Dinas Perhubungan juga terlihat mengukur badan jalan dan memasang patok-patok, yang diduga sebagai penanda awal pembangunan jalur BRT.

Langkah-langkah tersebut dilakukan di tengah ketiadaan sosialisasi resmi kepada PKL. Hingga kini, para pedagang mengaku belum mendapat penjelasan terkait rencana relokasi, lokasi pengganti usaha, maupun skema kompensasi yang akan diberikan. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya tulisan-tulisan penolakan di sepanjang kawasan Cicadas.

Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kekhawatiran serupa disampaikan Sunesi (47), salah satu pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Ia menilai kondisi ekonomi pedagang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19, sehingga rencana pembangunan justru menambah beban baru.

“Sejak Covid sampai sekarang dagangan masih sepi. Baru pelan-pelan bangkit, eh sekarang ada rencana BRT. Kami bingung, kalau harus pindah, terus jualan di mana,” ujar Bu Sunesi.

Menurutnya, informasi terkait pembangunan jalur BRT masih terasa samar di kalangan pedagang. Sosialisasi yang jelas dan menyeluruh dinilai belum pernah dirasakan oleh PKL di lapangan.

“Kami pengennya diajak ngomong. Jangan tahu-tahu digusur atau disuruh pindah, disuruh pindah mau pindah ke mana, di sini aja sedikit apalagi nanti pindah. Kami ini cari makan, bukan mau menghalangi pembangunan,” katanya.

Jaja juga menegaskan bahwa PKL di kawasan Cicadas bukan pedagang liar. Menurutnya, sebagian besar PKL telah lama berjualan dan memiliki legalitas dari Pemerintah Kota Bandung, termasuk surat keputusan (SK) yang mengakui keberadaan mereka.

Spanduk-spanduk yang terpasang di sepanjang jalan Cicadas pun menjadi ekspresi dari kegelisahan tersebut. Ada yang ditulis dalam bahasa Sunda dengan nada satir, ada pula yang secara tegas menyatakan penolakan. Di balik kata-kata keras itu, tersimpan pesan tentang jarak antara kebijakan pembangunan dan realitas hidup pedagang kecil.

Rencana pembangunan jalur BRT merupakan bagian dari pengembangan transportasi massal perkotaan. Namun bagi PKL Cicadas, proyek berskala besar itu dinilai berpotensi menggerus ruang hidup mereka jika tidak disertai solusi yang berpihak pada keberlanjutan usaha.

Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja menegaskan, PKL tidak menutup mata terhadap kebutuhan transportasi publik. Namun ia berharap pembangunan dilakukan dengan pendekatan yang adil dan melibatkan pihak-pihak yang terdampak langsung.

“Pembangunan silakan jalan, tapi jangan ada yang dikorbankan. Kami juga bagian dari kota ini,” ujarnya.

Nada yang sama tergambar dari tulisan-tulisan di spanduk: kebutuhan akan kepastian, rasa aman, dan keberlangsungan hidup. Di tengah arus pembangunan, para PKL berharap tidak ditinggalkan begitu saja.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)