PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Deretan spanduk putih dengan cat merah menyala membentang di sepanjang kawasan Cicadas, Kota Bandung. Tulisan-tulisan bernada protes itu terpasang di depan lapak pedagang kaki lima (PKL), menempel di dinding kios, hingga pagar besi yang menghadap langsung ke jalan utama. Pesannya beragam, namun mengerucut pada satu suara: penolakan terhadap rencana pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT).

“Kami tidak butuh BRT. Kami butuh makan. Kami butuh kepastian,” demikian bunyi salah satu spanduk yang mencantumkan identitas PKL Cicadas. Spanduk lain menyinggung kondisi usaha yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi, menyiratkan kegelisahan pedagang kecil yang kembali merasa berada di posisi rawan.

Di balik spanduk-spanduk itu, aktivitas jual beli di sepanjang Cicadas tetap berjalan seperti biasa. Pedagang membuka lapak, pembeli datang silih berganti. Namun di balik rutinitas tersebut, tersimpan kekhawatiran tentang masa depan ruang usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.

Tak semua pedagang bersedia memberikan keterangan. Sejumlah PKL memilih diam, mengaku bingung dan khawatir karena belum pernah menerima sosialisasi resmi terkait rencana pembangunan. Dari pantauan di lapangan, hanya dua pedagang yang berkenan berbicara terbuka, sementara sebagian lainnya menyatakan belum memahami secara utuh apa yang akan terjadi pada lapak mereka.

Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja (63), Wakil Ketua PKL Cicadas, mengatakan penolakan yang disuarakan para pedagang bukan tanpa alasan. Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan menyeluruh terkait dampak pembangunan jalur BRT terhadap keberadaan PKL.

“Pedagang di sini bukan nolak pembangunan. Yang kami khawatirkan itu nasib kami ke depan. Sampai sekarang belum ada penjelasan jelas, kami mau ditempatkan di mana, bagaimana kelanjutannya,” ujar Jaja.

Ia menuturkan, sebagian besar PKL di kawasan Cicadas menggantungkan hidup sepenuhnya dari lapak yang mereka tempati saat ini. Jika lapak tersebut hilang tanpa solusi jangka panjang, dampaknya akan langsung terasa pada penghasilan harian.

“Kalau cuma dikasih uang kompensasi, itu kan habis. Usaha kami ini buat makan tiap hari. Yang kami butuhkan itu kepastian tempat usaha, bukan sekadar uang,” katanya.

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP. Tak lama berselang, petugas dari Dinas Perhubungan juga terlihat mengukur badan jalan dan memasang patok-patok, yang diduga sebagai penanda awal pembangunan jalur BRT.

Langkah-langkah tersebut dilakukan di tengah ketiadaan sosialisasi resmi kepada PKL. Hingga kini, para pedagang mengaku belum mendapat penjelasan terkait rencana relokasi, lokasi pengganti usaha, maupun skema kompensasi yang akan diberikan. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya tulisan-tulisan penolakan di sepanjang kawasan Cicadas.

Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kekhawatiran serupa disampaikan Sunesi (47), salah satu pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Ia menilai kondisi ekonomi pedagang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19, sehingga rencana pembangunan justru menambah beban baru.

“Sejak Covid sampai sekarang dagangan masih sepi. Baru pelan-pelan bangkit, eh sekarang ada rencana BRT. Kami bingung, kalau harus pindah, terus jualan di mana,” ujar Bu Sunesi.

Menurutnya, informasi terkait pembangunan jalur BRT masih terasa samar di kalangan pedagang. Sosialisasi yang jelas dan menyeluruh dinilai belum pernah dirasakan oleh PKL di lapangan.

“Kami pengennya diajak ngomong. Jangan tahu-tahu digusur atau disuruh pindah, disuruh pindah mau pindah ke mana, di sini aja sedikit apalagi nanti pindah. Kami ini cari makan, bukan mau menghalangi pembangunan,” katanya.

Jaja juga menegaskan bahwa PKL di kawasan Cicadas bukan pedagang liar. Menurutnya, sebagian besar PKL telah lama berjualan dan memiliki legalitas dari Pemerintah Kota Bandung, termasuk surat keputusan (SK) yang mengakui keberadaan mereka.

Spanduk-spanduk yang terpasang di sepanjang jalan Cicadas pun menjadi ekspresi dari kegelisahan tersebut. Ada yang ditulis dalam bahasa Sunda dengan nada satir, ada pula yang secara tegas menyatakan penolakan. Di balik kata-kata keras itu, tersimpan pesan tentang jarak antara kebijakan pembangunan dan realitas hidup pedagang kecil.

Rencana pembangunan jalur BRT merupakan bagian dari pengembangan transportasi massal perkotaan. Namun bagi PKL Cicadas, proyek berskala besar itu dinilai berpotensi menggerus ruang hidup mereka jika tidak disertai solusi yang berpihak pada keberlanjutan usaha.

Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja menegaskan, PKL tidak menutup mata terhadap kebutuhan transportasi publik. Namun ia berharap pembangunan dilakukan dengan pendekatan yang adil dan melibatkan pihak-pihak yang terdampak langsung.

“Pembangunan silakan jalan, tapi jangan ada yang dikorbankan. Kami juga bagian dari kota ini,” ujarnya.

Nada yang sama tergambar dari tulisan-tulisan di spanduk: kebutuhan akan kepastian, rasa aman, dan keberlangsungan hidup. Di tengah arus pembangunan, para PKL berharap tidak ditinggalkan begitu saja.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)