PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 11:20 WIB
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Deretan spanduk putih dengan cat merah menyala membentang di sepanjang kawasan Cicadas, Kota Bandung. Tulisan-tulisan bernada protes itu terpasang di depan lapak pedagang kaki lima (PKL), menempel di dinding kios, hingga pagar besi yang menghadap langsung ke jalan utama. Pesannya beragam, namun mengerucut pada satu suara: penolakan terhadap rencana pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT).

“Kami tidak butuh BRT. Kami butuh makan. Kami butuh kepastian,” demikian bunyi salah satu spanduk yang mencantumkan identitas PKL Cicadas. Spanduk lain menyinggung kondisi usaha yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi, menyiratkan kegelisahan pedagang kecil yang kembali merasa berada di posisi rawan.

Di balik spanduk-spanduk itu, aktivitas jual beli di sepanjang Cicadas tetap berjalan seperti biasa. Pedagang membuka lapak, pembeli datang silih berganti. Namun di balik rutinitas tersebut, tersimpan kekhawatiran tentang masa depan ruang usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.

Tak semua pedagang bersedia memberikan keterangan. Sejumlah PKL memilih diam, mengaku bingung dan khawatir karena belum pernah menerima sosialisasi resmi terkait rencana pembangunan. Dari pantauan di lapangan, hanya dua pedagang yang berkenan berbicara terbuka, sementara sebagian lainnya menyatakan belum memahami secara utuh apa yang akan terjadi pada lapak mereka.

Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jaja, Wakil Ketua PKL Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja (63), Wakil Ketua PKL Cicadas, mengatakan penolakan yang disuarakan para pedagang bukan tanpa alasan. Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan menyeluruh terkait dampak pembangunan jalur BRT terhadap keberadaan PKL.

“Pedagang di sini bukan nolak pembangunan. Yang kami khawatirkan itu nasib kami ke depan. Sampai sekarang belum ada penjelasan jelas, kami mau ditempatkan di mana, bagaimana kelanjutannya,” ujar Jaja.

Ia menuturkan, sebagian besar PKL di kawasan Cicadas menggantungkan hidup sepenuhnya dari lapak yang mereka tempati saat ini. Jika lapak tersebut hilang tanpa solusi jangka panjang, dampaknya akan langsung terasa pada penghasilan harian.

“Kalau cuma dikasih uang kompensasi, itu kan habis. Usaha kami ini buat makan tiap hari. Yang kami butuhkan itu kepastian tempat usaha, bukan sekadar uang,” katanya.

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP. Tak lama berselang, petugas dari Dinas Perhubungan juga terlihat mengukur badan jalan dan memasang patok-patok, yang diduga sebagai penanda awal pembangunan jalur BRT.

Langkah-langkah tersebut dilakukan di tengah ketiadaan sosialisasi resmi kepada PKL. Hingga kini, para pedagang mengaku belum mendapat penjelasan terkait rencana relokasi, lokasi pengganti usaha, maupun skema kompensasi yang akan diberikan. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya tulisan-tulisan penolakan di sepanjang kawasan Cicadas.

Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sunesi, pedagang kaki lima di kawasan Cicadas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kekhawatiran serupa disampaikan Sunesi (47), salah satu pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Ia menilai kondisi ekonomi pedagang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19, sehingga rencana pembangunan justru menambah beban baru.

“Sejak Covid sampai sekarang dagangan masih sepi. Baru pelan-pelan bangkit, eh sekarang ada rencana BRT. Kami bingung, kalau harus pindah, terus jualan di mana,” ujar Bu Sunesi.

Menurutnya, informasi terkait pembangunan jalur BRT masih terasa samar di kalangan pedagang. Sosialisasi yang jelas dan menyeluruh dinilai belum pernah dirasakan oleh PKL di lapangan.

“Kami pengennya diajak ngomong. Jangan tahu-tahu digusur atau disuruh pindah, disuruh pindah mau pindah ke mana, di sini aja sedikit apalagi nanti pindah. Kami ini cari makan, bukan mau menghalangi pembangunan,” katanya.

Jaja juga menegaskan bahwa PKL di kawasan Cicadas bukan pedagang liar. Menurutnya, sebagian besar PKL telah lama berjualan dan memiliki legalitas dari Pemerintah Kota Bandung, termasuk surat keputusan (SK) yang mengakui keberadaan mereka.

Spanduk-spanduk yang terpasang di sepanjang jalan Cicadas pun menjadi ekspresi dari kegelisahan tersebut. Ada yang ditulis dalam bahasa Sunda dengan nada satir, ada pula yang secara tegas menyatakan penolakan. Di balik kata-kata keras itu, tersimpan pesan tentang jarak antara kebijakan pembangunan dan realitas hidup pedagang kecil.

Rencana pembangunan jalur BRT merupakan bagian dari pengembangan transportasi massal perkotaan. Namun bagi PKL Cicadas, proyek berskala besar itu dinilai berpotensi menggerus ruang hidup mereka jika tidak disertai solusi yang berpihak pada keberlanjutan usaha.

Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Spanduk protes dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas soal pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jaja menegaskan, PKL tidak menutup mata terhadap kebutuhan transportasi publik. Namun ia berharap pembangunan dilakukan dengan pendekatan yang adil dan melibatkan pihak-pihak yang terdampak langsung.

“Pembangunan silakan jalan, tapi jangan ada yang dikorbankan. Kami juga bagian dari kota ini,” ujarnya.

Nada yang sama tergambar dari tulisan-tulisan di spanduk: kebutuhan akan kepastian, rasa aman, dan keberlangsungan hidup. Di tengah arus pembangunan, para PKL berharap tidak ditinggalkan begitu saja.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Mar 2026, 19:56

Mudik kepada 'Basa Lemes'

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial.

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)