Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

7 menit baca
Toni Hermawan Halwa Raudhatul Ilham Maulana Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Toni Hermawan , Halwa Raudhatul , Ilham Maulana , Nisrina Nuraini diterbitkan
Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Kota Bandung. Sejak pagi hingga larut malam, ribuan pengendara ojek online menyusuri ruas-ruas jalan kota, mengantar penumpang dan pesanan makanan dengan waktu yang terus dikejar. Bagi mereka, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah ruang kerja, sekaligus ruang risiko.

Di satu sisi, pembangunan dan proyek penataan kabel tanam tengah berjalan di berbagai titik. Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Dari pusat kota hingga pinggiran, cerita tentang jalanan Bandung hadir dengan wajah yang beragam—antara rusak dan membaik, antara harap dan pasrah.

Lubang yang menganga lebar dan dalam di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lubang yang menganga lebar dan dalam di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jalan Berlubang dan Risiko yang Mengintai

Di kawasan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, tepatnya di Jalan Rumah Sakit, lubang-lubang di badan jalan menjadi keluhan utama. Pengendara ojek online Maul Maulana (44) mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitasnya saat mengantar penumpang.

“Mengganggu, membahayakan, jadi resikonya kurang leluasa saja,” ucapnya.

Menurut Maul, lubang kerap tak terlihat saat ia berada di belakang kendaraan lain.

“Iya, kalau kita pas mengikuti mobil dari belakang, otomatis si jalan yang berlubang kan nggak kelihatan, otomatis kena gitu, kan kalau direm malah lebih bahaya,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada ruas-ruas utama.

“Jalan utamanya, jalan-jalan gedenya diperhatikan lagi, lebih rapih lagi, terus ditambah pakai hotmix saja,” ujarnya.

Kondisi di sebagian Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung yang bergelombang dan berlubang, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kondisi di sebagian Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung yang bergelombang dan berlubang, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Keluhan serupa datang dari Riswandi (26). Ia menyebut sejumlah titik lain juga kerap bermasalah.

“Lumbayan sering, kalau bawa penumpang haru hati-hati dan pilih-pilih jalan kalu ada jalan yang berlubang,” ucapnya.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika penumpang sedang terburu-buru.

“Harus hati-hati aja palagi kalau ada penumpang yang kejar jam tiket mereta atau apa harus buru-buru dan itu jadi tantantangan nya,” tutupnya.

Gambaran yang lebih luas disampaikan Doni Hermawan (33), pengemudi ojol sejak 2017. Hampir satu dekade berkeliling kota membuatnya merasakan perubahan kondisi jalan secara langsung.

“Kalau jalan di Bandung sekarang hancur terus terang. Hancur, banyak yang jelek-jelek,” kata Doni.

Ia menyoroti beberapa titik seperti Taman Sari dekat ITB, Dago, hingga Kircon. Menurutnya, saat hujan turun, lubang menjadi semakin sulit dikenali.

“Kalau hujan kena air, lubangnya nggak kelihatan,” ucap Doni.

Meski belum pernah mengalami kecelakaan serius, ia kerap melihat pengendara lain terjatuh. Bahkan ia menilai kondisi tahun ini yang terburuk sepanjang kariernya.

“Tahun sekarang paling buruk terus terang. Saya jarang lihat pembangunan jalan kota atau kabupaten,” keluhnya.

Pekerja sedang membereskan galian kabel di Jalan Otista, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pekerja sedang membereskan galian kabel di Jalan Otista, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Bekas Galian dan Jalan Bergelombang

Selain lubang lama, proyek galian kabel tanam menambah daftar persoalan baru. Di sejumlah ruas seperti Otista, Lengkong Besar, hingga Tamblong, badan jalan dipersempit, debu beterbangan, dan bekas galian belum seluruhnya rata.

Irfan Hermawan (29), yang kerap mangkal di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), mengaku terdampak langsung.

“Oh iya jelas ganggu banget, ya. Apalagi kalau lagi narik malem-malem, wah saya takut jatuh ke lubangnya. Terus kalau menurut saya sih, debu dari tanah galian-nya itu beresiko masuk ya ke mata saya. Jadi memang berbahaya bagi kami,” ungkapnya.

Epi Wahyudin (34) yang sering melintas di sekitar Lengkong Besar juga merasakan hal serupa.

“Berpengaruh banget, saya jadi harus ekstra hati-hati. Apalagi jika saya malem-malem melintasi Jalan Taman Sari, aduh,” keluhnya.

Meski demikian, ia tak bisa sepenuhnya menghindari ruas-ruas tersebut.

“Ya mau gimana lagi, resiko. Lumayan juga nominalnya kalau ada orderan yang nggak diambil,” ucapnya.

Lubang galian di kawasan Tamansari Kota Bandung pada Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lubang galian di kawasan Tamansari Kota Bandung pada Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengalaman lebih panjang datang dari Dian Eka (45), yang mulai menarik ojol sejak awal layanan itu hadir di Bandung.

“Saya mulai ti awal Gojek asup Bandung, Waktu kantorna di BKR keneh,” ujarnya.

Hampir sebelas tahun mengelilingi kota membuatnya hafal titik-titik bermasalah, terutama di Buah Batu.

“Ti stopan Buah Batu setelah stopan pizza, nepi ka dieu mah loba nu bolong, loba nu ngelupas. Kadang teu karasa mun teu ati-ati,” ujarnya.

Ia pernah hampir terjatuh akibat bekas galian kabel.

“Gara-gara galian kabel. Kuduna mah pas ngegali langsung diberesan. Ieu mah sok ditumpuk di sisi jalan, ngaganggu ka nu ngaliwat,” katanya.

Menurutnya, tambalan yang tidak rata justru lebih berbahaya.

“Lamun beres digali, langsung diaspal deui anu rata. Tong diantepkeun kitu. Mun beda tinggi, urang nu mawa motor bisa kagok, bisa oleng,” ucapnya.

Sandi Sopian, pengemudi yang kerap “ngalong” hingga dini hari, menyebut kondisi serupa di Lengkong Besar.

“Kalau dari Tamblong mah sebenarnya aman. Cuma yang jadi masalah itu bekas galiannya. Nah, pas masuk ke Jalan Lengkong Besar, itu aspalnya mengelupas. Lubang ada, terus jalannya bergelombang,” ujarnya.

“Kalau siang mungkin masih kelihatan, tapi kalau malam kan nggak terlalu kelihatan jelas. Apalagi saya narik sampai jam dua, jam tiga pagi. Pernah hampir jatuh juga karena lubangnya gede sama jalannya nggak rata. Alhamdulillah belum sampai kecelakaan parah, tapi hampir-hampir ada,” katanya.

Jalan Taman Sari yang gelp akibat minim pencahayaan dari JPU, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Jalan Taman Sari yang gelp akibat minim pencahayaan dari JPU, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Penerangan Minim dan Rasa Aman

Persoalan jalan tak berhenti pada aspal. Penerangan jalan umum yang mati atau redup juga menjadi perhatian.

Dian menyoroti kawasan BKR yang menurutnya tidak merata cahayanya.

“Di BKR loba nu pareum. Nu ieu hurung, nu ieu pareum. Jadi teu rata cahayana,” tukas Dian.

Ia bahkan mengingat kejadian pembegalan di dini hari.

“Jam dua malam kemarin ada kejadian pembegalan untung ada warga dan linmas,” katanya.

“Ngaruh pisan ka rasa aman. Mun poek jeung jalanna rusak, urang kudu leuwih waspada,” ujarnya.

Sandi pun menyebut Palasari dan sebagian Dago masih gelap.

“Kalau gelap itu bukan cuma takut lubang, tapi juga takut begal atau hal-hal yang nggak diinginkan. Penumpang juga kadang suka was-was. Jadi memang ngaruh ke rasa aman,” ujarnya.

Ai Sarifah (35), yang kerap mengambil order di Buah Batu hingga Dago, menambahkan persoalan lampu lalu lintas.

“Lampu merah yang mati itu bikin semrawut, harusnya diperbaiki,” katanya.

Dampak pada Penghasilan dan Kendaraan

Bagi sebagian pengemudi, kondisi jalan tak selalu berdampak langsung pada jumlah order, tetapi terasa pada kendaraan.

“Ari pendapatan mah intina mah keselamatan. Nu penting urang aman,” kata Dian.

Namun ia mengakui ban menjadi komponen yang paling cepat aus.

“Ban mah paling karasa. Karep anyar ge, teu lila sok karasa deui. Jalanna kieu nya,” ujarnya.

Sandi pun merasakan hal serupa.

“Kalau pendapatan sih normal-normal aja, tergantung order. Tapi motor jadi lebih sering diservis. pelek, shockbreaker, ban, itu cepat aus,” katanya.

Di sisi lain, Doni menyoroti kemacetan yang memakan waktu dan mengurangi potensi pendapatan.

“Kalau macet sih berpengaruh, waktunya lama. Paling kita cari jalan tikus buat ngatasinnya,” katanya.

Meski begitu, tidak semua pengemudi bersuara keras. Jaenudin (55) memilih bersikap lebih tenang.

“Ya pasti kalau untuk cara saya berkendara sampai enak atau enggaknya bawa motor, jelas berpengaruh. Tapi ya, saya serahkan aja-lah proses penyelesaian dan penanganan itu langsung ke pemerintah,” ucapnya.

Harapan

Di tengah keluhan, ada pula pengakuan bahwa beberapa ruas telah membaik. Doni menyebut jalur menuju Lembang kini lebih nyaman.

“Kalau Lembang dari bawah sampai atas sudah bagus, enak sekarang,” katanya.

Ai juga merasakan perbaikan di Batu Nunggal setelah sempat hampir terjatuh.

“Saya hampir jatuh waktu itu di Batu Nunggal karena lubang, malam dan hujan. Tapi sekarang jalannya sudah diperbaiki,” ujarnya.

Perbedaan pengalaman ini menunjukkan wajah jalanan Bandung yang tidak tunggal. Ada aspal yang pecah, ada pula yang telah diperbarui. Namun bagi para pengemudi ojol, satu hal yang sama: mereka menggantungkan hidup di atasnya.

“Kalau jalannya bagus, orang luar kota juga tertarik datang. UMKM sama ojol juga kebantu,” ungkap Doni.

Bagi mereka, jalan bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah ruang kerja, wajah kota, sekaligus arena tempat keselamatan dipertaruhkan setiap hari. Di antara proyek galian, lubang yang belum tertutup sempurna, dan lampu jalan yang redup, para pengemudi tetap melaju—menjemput rezeki yang tak bisa ditunda, sembari berharap suatu hari nanti aspal yang mereka lintasi benar-benar rata dan aman.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)