AYOBANDUNG.ID - Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Kota Bandung. Sejak pagi hingga larut malam, ribuan pengendara ojek online menyusuri ruas-ruas jalan kota, mengantar penumpang dan pesanan makanan dengan waktu yang terus dikejar. Bagi mereka, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah ruang kerja, sekaligus ruang risiko.
Di satu sisi, pembangunan dan proyek penataan kabel tanam tengah berjalan di berbagai titik. Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.
Dari pusat kota hingga pinggiran, cerita tentang jalanan Bandung hadir dengan wajah yang beragam—antara rusak dan membaik, antara harap dan pasrah.

Jalan Berlubang dan Risiko yang Mengintai
Di kawasan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, tepatnya di Jalan Rumah Sakit, lubang-lubang di badan jalan menjadi keluhan utama. Pengendara ojek online Maul Maulana (44) mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitasnya saat mengantar penumpang.
“Mengganggu, membahayakan, jadi resikonya kurang leluasa saja,” ucapnya.
Menurut Maul, lubang kerap tak terlihat saat ia berada di belakang kendaraan lain.
“Iya, kalau kita pas mengikuti mobil dari belakang, otomatis si jalan yang berlubang kan nggak kelihatan, otomatis kena gitu, kan kalau direm malah lebih bahaya,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada ruas-ruas utama.
“Jalan utamanya, jalan-jalan gedenya diperhatikan lagi, lebih rapih lagi, terus ditambah pakai hotmix saja,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari Riswandi (26). Ia menyebut sejumlah titik lain juga kerap bermasalah.
“Lumbayan sering, kalau bawa penumpang haru hati-hati dan pilih-pilih jalan kalu ada jalan yang berlubang,” ucapnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika penumpang sedang terburu-buru.
“Harus hati-hati aja palagi kalau ada penumpang yang kejar jam tiket mereta atau apa harus buru-buru dan itu jadi tantantangan nya,” tutupnya.
Gambaran yang lebih luas disampaikan Doni Hermawan (33), pengemudi ojol sejak 2017. Hampir satu dekade berkeliling kota membuatnya merasakan perubahan kondisi jalan secara langsung.
“Kalau jalan di Bandung sekarang hancur terus terang. Hancur, banyak yang jelek-jelek,” kata Doni.
Ia menyoroti beberapa titik seperti Taman Sari dekat ITB, Dago, hingga Kircon. Menurutnya, saat hujan turun, lubang menjadi semakin sulit dikenali.
“Kalau hujan kena air, lubangnya nggak kelihatan,” ucap Doni.
Meski belum pernah mengalami kecelakaan serius, ia kerap melihat pengendara lain terjatuh. Bahkan ia menilai kondisi tahun ini yang terburuk sepanjang kariernya.
“Tahun sekarang paling buruk terus terang. Saya jarang lihat pembangunan jalan kota atau kabupaten,” keluhnya.

Bekas Galian dan Jalan Bergelombang
Selain lubang lama, proyek galian kabel tanam menambah daftar persoalan baru. Di sejumlah ruas seperti Otista, Lengkong Besar, hingga Tamblong, badan jalan dipersempit, debu beterbangan, dan bekas galian belum seluruhnya rata.
Irfan Hermawan (29), yang kerap mangkal di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), mengaku terdampak langsung.
“Oh iya jelas ganggu banget, ya. Apalagi kalau lagi narik malem-malem, wah saya takut jatuh ke lubangnya. Terus kalau menurut saya sih, debu dari tanah galian-nya itu beresiko masuk ya ke mata saya. Jadi memang berbahaya bagi kami,” ungkapnya.
Epi Wahyudin (34) yang sering melintas di sekitar Lengkong Besar juga merasakan hal serupa.
“Berpengaruh banget, saya jadi harus ekstra hati-hati. Apalagi jika saya malem-malem melintasi Jalan Taman Sari, aduh,” keluhnya.
Meski demikian, ia tak bisa sepenuhnya menghindari ruas-ruas tersebut.
“Ya mau gimana lagi, resiko. Lumayan juga nominalnya kalau ada orderan yang nggak diambil,” ucapnya.

Pengalaman lebih panjang datang dari Dian Eka (45), yang mulai menarik ojol sejak awal layanan itu hadir di Bandung.
“Saya mulai ti awal Gojek asup Bandung, Waktu kantorna di BKR keneh,” ujarnya.
Hampir sebelas tahun mengelilingi kota membuatnya hafal titik-titik bermasalah, terutama di Buah Batu.
“Ti stopan Buah Batu setelah stopan pizza, nepi ka dieu mah loba nu bolong, loba nu ngelupas. Kadang teu karasa mun teu ati-ati,” ujarnya.
Ia pernah hampir terjatuh akibat bekas galian kabel.
“Gara-gara galian kabel. Kuduna mah pas ngegali langsung diberesan. Ieu mah sok ditumpuk di sisi jalan, ngaganggu ka nu ngaliwat,” katanya.
Menurutnya, tambalan yang tidak rata justru lebih berbahaya.
“Lamun beres digali, langsung diaspal deui anu rata. Tong diantepkeun kitu. Mun beda tinggi, urang nu mawa motor bisa kagok, bisa oleng,” ucapnya.
Sandi Sopian, pengemudi yang kerap “ngalong” hingga dini hari, menyebut kondisi serupa di Lengkong Besar.
“Kalau dari Tamblong mah sebenarnya aman. Cuma yang jadi masalah itu bekas galiannya. Nah, pas masuk ke Jalan Lengkong Besar, itu aspalnya mengelupas. Lubang ada, terus jalannya bergelombang,” ujarnya.
“Kalau siang mungkin masih kelihatan, tapi kalau malam kan nggak terlalu kelihatan jelas. Apalagi saya narik sampai jam dua, jam tiga pagi. Pernah hampir jatuh juga karena lubangnya gede sama jalannya nggak rata. Alhamdulillah belum sampai kecelakaan parah, tapi hampir-hampir ada,” katanya.

Penerangan Minim dan Rasa Aman
Persoalan jalan tak berhenti pada aspal. Penerangan jalan umum yang mati atau redup juga menjadi perhatian.
Dian menyoroti kawasan BKR yang menurutnya tidak merata cahayanya.
“Di BKR loba nu pareum. Nu ieu hurung, nu ieu pareum. Jadi teu rata cahayana,” tukas Dian.
Ia bahkan mengingat kejadian pembegalan di dini hari.
“Jam dua malam kemarin ada kejadian pembegalan untung ada warga dan linmas,” katanya.
“Ngaruh pisan ka rasa aman. Mun poek jeung jalanna rusak, urang kudu leuwih waspada,” ujarnya.
Sandi pun menyebut Palasari dan sebagian Dago masih gelap.
“Kalau gelap itu bukan cuma takut lubang, tapi juga takut begal atau hal-hal yang nggak diinginkan. Penumpang juga kadang suka was-was. Jadi memang ngaruh ke rasa aman,” ujarnya.
Ai Sarifah (35), yang kerap mengambil order di Buah Batu hingga Dago, menambahkan persoalan lampu lalu lintas.
“Lampu merah yang mati itu bikin semrawut, harusnya diperbaiki,” katanya.

Dampak pada Penghasilan dan Kendaraan
Bagi sebagian pengemudi, kondisi jalan tak selalu berdampak langsung pada jumlah order, tetapi terasa pada kendaraan.
“Ari pendapatan mah intina mah keselamatan. Nu penting urang aman,” kata Dian.
Namun ia mengakui ban menjadi komponen yang paling cepat aus.
“Ban mah paling karasa. Karep anyar ge, teu lila sok karasa deui. Jalanna kieu nya,” ujarnya.
Sandi pun merasakan hal serupa.
“Kalau pendapatan sih normal-normal aja, tergantung order. Tapi motor jadi lebih sering diservis. pelek, shockbreaker, ban, itu cepat aus,” katanya.
Di sisi lain, Doni menyoroti kemacetan yang memakan waktu dan mengurangi potensi pendapatan.
“Kalau macet sih berpengaruh, waktunya lama. Paling kita cari jalan tikus buat ngatasinnya,” katanya.
Meski begitu, tidak semua pengemudi bersuara keras. Jaenudin (55) memilih bersikap lebih tenang.
“Ya pasti kalau untuk cara saya berkendara sampai enak atau enggaknya bawa motor, jelas berpengaruh. Tapi ya, saya serahkan aja-lah proses penyelesaian dan penanganan itu langsung ke pemerintah,” ucapnya.
Harapan
Di tengah keluhan, ada pula pengakuan bahwa beberapa ruas telah membaik. Doni menyebut jalur menuju Lembang kini lebih nyaman.
“Kalau Lembang dari bawah sampai atas sudah bagus, enak sekarang,” katanya.
Ai juga merasakan perbaikan di Batu Nunggal setelah sempat hampir terjatuh.
“Saya hampir jatuh waktu itu di Batu Nunggal karena lubang, malam dan hujan. Tapi sekarang jalannya sudah diperbaiki,” ujarnya.
Perbedaan pengalaman ini menunjukkan wajah jalanan Bandung yang tidak tunggal. Ada aspal yang pecah, ada pula yang telah diperbarui. Namun bagi para pengemudi ojol, satu hal yang sama: mereka menggantungkan hidup di atasnya.
“Kalau jalannya bagus, orang luar kota juga tertarik datang. UMKM sama ojol juga kebantu,” ungkap Doni.
Bagi mereka, jalan bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah ruang kerja, wajah kota, sekaligus arena tempat keselamatan dipertaruhkan setiap hari. Di antara proyek galian, lubang yang belum tertutup sempurna, dan lampu jalan yang redup, para pengemudi tetap melaju—menjemput rezeki yang tak bisa ditunda, sembari berharap suatu hari nanti aspal yang mereka lintasi benar-benar rata dan aman.
