Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

7 menit baca
Toni Hermawan Halwa Raudhatul Ilham Maulana Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Toni Hermawan , Halwa Raudhatul , Ilham Maulana , Nisrina Nuraini diterbitkan Sabtu 28 Feb 2026, 07:56 WIB
Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Kota Bandung. Sejak pagi hingga larut malam, ribuan pengendara ojek online menyusuri ruas-ruas jalan kota, mengantar penumpang dan pesanan makanan dengan waktu yang terus dikejar. Bagi mereka, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah ruang kerja, sekaligus ruang risiko.

Di satu sisi, pembangunan dan proyek penataan kabel tanam tengah berjalan di berbagai titik. Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Dari pusat kota hingga pinggiran, cerita tentang jalanan Bandung hadir dengan wajah yang beragam—antara rusak dan membaik, antara harap dan pasrah.

Lubang yang menganga lebar dan dalam di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lubang yang menganga lebar dan dalam di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jalan Berlubang dan Risiko yang Mengintai

Di kawasan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, tepatnya di Jalan Rumah Sakit, lubang-lubang di badan jalan menjadi keluhan utama. Pengendara ojek online Maul Maulana (44) mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitasnya saat mengantar penumpang.

“Mengganggu, membahayakan, jadi resikonya kurang leluasa saja,” ucapnya.

Menurut Maul, lubang kerap tak terlihat saat ia berada di belakang kendaraan lain.

“Iya, kalau kita pas mengikuti mobil dari belakang, otomatis si jalan yang berlubang kan nggak kelihatan, otomatis kena gitu, kan kalau direm malah lebih bahaya,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada ruas-ruas utama.

“Jalan utamanya, jalan-jalan gedenya diperhatikan lagi, lebih rapih lagi, terus ditambah pakai hotmix saja,” ujarnya.

Kondisi di sebagian Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung yang bergelombang dan berlubang, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kondisi di sebagian Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung yang bergelombang dan berlubang, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Keluhan serupa datang dari Riswandi (26). Ia menyebut sejumlah titik lain juga kerap bermasalah.

“Lumbayan sering, kalau bawa penumpang haru hati-hati dan pilih-pilih jalan kalu ada jalan yang berlubang,” ucapnya.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika penumpang sedang terburu-buru.

“Harus hati-hati aja palagi kalau ada penumpang yang kejar jam tiket mereta atau apa harus buru-buru dan itu jadi tantantangan nya,” tutupnya.

Gambaran yang lebih luas disampaikan Doni Hermawan (33), pengemudi ojol sejak 2017. Hampir satu dekade berkeliling kota membuatnya merasakan perubahan kondisi jalan secara langsung.

“Kalau jalan di Bandung sekarang hancur terus terang. Hancur, banyak yang jelek-jelek,” kata Doni.

Ia menyoroti beberapa titik seperti Taman Sari dekat ITB, Dago, hingga Kircon. Menurutnya, saat hujan turun, lubang menjadi semakin sulit dikenali.

“Kalau hujan kena air, lubangnya nggak kelihatan,” ucap Doni.

Meski belum pernah mengalami kecelakaan serius, ia kerap melihat pengendara lain terjatuh. Bahkan ia menilai kondisi tahun ini yang terburuk sepanjang kariernya.

“Tahun sekarang paling buruk terus terang. Saya jarang lihat pembangunan jalan kota atau kabupaten,” keluhnya.

Pekerja sedang membereskan galian kabel di Jalan Otista, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pekerja sedang membereskan galian kabel di Jalan Otista, Jumat (27/2). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Bekas Galian dan Jalan Bergelombang

Selain lubang lama, proyek galian kabel tanam menambah daftar persoalan baru. Di sejumlah ruas seperti Otista, Lengkong Besar, hingga Tamblong, badan jalan dipersempit, debu beterbangan, dan bekas galian belum seluruhnya rata.

Irfan Hermawan (29), yang kerap mangkal di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), mengaku terdampak langsung.

“Oh iya jelas ganggu banget, ya. Apalagi kalau lagi narik malem-malem, wah saya takut jatuh ke lubangnya. Terus kalau menurut saya sih, debu dari tanah galian-nya itu beresiko masuk ya ke mata saya. Jadi memang berbahaya bagi kami,” ungkapnya.

Epi Wahyudin (34) yang sering melintas di sekitar Lengkong Besar juga merasakan hal serupa.

“Berpengaruh banget, saya jadi harus ekstra hati-hati. Apalagi jika saya malem-malem melintasi Jalan Taman Sari, aduh,” keluhnya.

Meski demikian, ia tak bisa sepenuhnya menghindari ruas-ruas tersebut.

“Ya mau gimana lagi, resiko. Lumayan juga nominalnya kalau ada orderan yang nggak diambil,” ucapnya.

Lubang galian di kawasan Tamansari Kota Bandung pada Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lubang galian di kawasan Tamansari Kota Bandung pada Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengalaman lebih panjang datang dari Dian Eka (45), yang mulai menarik ojol sejak awal layanan itu hadir di Bandung.

“Saya mulai ti awal Gojek asup Bandung, Waktu kantorna di BKR keneh,” ujarnya.

Hampir sebelas tahun mengelilingi kota membuatnya hafal titik-titik bermasalah, terutama di Buah Batu.

Ti stopan Buah Batu setelah stopan pizza, nepi ka dieu mah loba nu bolong, loba nu ngelupas. Kadang teu karasa mun teu ati-ati,” ujarnya.

Ia pernah hampir terjatuh akibat bekas galian kabel.

“Gara-gara galian kabel. Kuduna mah pas ngegali langsung diberesan. Ieu mah sok ditumpuk di sisi jalan, ngaganggu ka nu ngaliwat,” katanya.

Menurutnya, tambalan yang tidak rata justru lebih berbahaya.

Lamun beres digali, langsung diaspal deui anu rata. Tong diantepkeun kitu. Mun beda tinggi, urang nu mawa motor bisa kagok, bisa oleng,” ucapnya.

Sandi Sopian, pengemudi yang kerap “ngalong” hingga dini hari, menyebut kondisi serupa di Lengkong Besar.

“Kalau dari Tamblong mah sebenarnya aman. Cuma yang jadi masalah itu bekas galiannya. Nah, pas masuk ke Jalan Lengkong Besar, itu aspalnya mengelupas. Lubang ada, terus jalannya bergelombang,” ujarnya.

“Kalau siang mungkin masih kelihatan, tapi kalau malam kan nggak terlalu kelihatan jelas. Apalagi saya narik sampai jam dua, jam tiga pagi. Pernah hampir jatuh juga karena lubangnya gede sama jalannya nggak rata. Alhamdulillah belum sampai kecelakaan parah, tapi hampir-hampir ada,” katanya.

Jalan Taman Sari yang gelp akibat minim pencahayaan dari JPU, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Jalan Taman Sari yang gelp akibat minim pencahayaan dari JPU, Kamis (26/2) malam. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Penerangan Minim dan Rasa Aman

Persoalan jalan tak berhenti pada aspal. Penerangan jalan umum yang mati atau redup juga menjadi perhatian.

Dian menyoroti kawasan BKR yang menurutnya tidak merata cahayanya.

Di BKR loba nu pareum. Nu ieu hurung, nu ieu pareum. Jadi teu rata cahayana,” tukas Dian.

Ia bahkan mengingat kejadian pembegalan di dini hari.

“Jam dua malam kemarin ada kejadian pembegalan untung ada warga dan linmas,” katanya.

Ngaruh pisan ka rasa aman. Mun poek jeung jalanna rusak, urang kudu leuwih waspada,” ujarnya.

Sandi pun menyebut Palasari dan sebagian Dago masih gelap.

“Kalau gelap itu bukan cuma takut lubang, tapi juga takut begal atau hal-hal yang nggak diinginkan. Penumpang juga kadang suka was-was. Jadi memang ngaruh ke rasa aman,” ujarnya.

Ai Sarifah (35), yang kerap mengambil order di Buah Batu hingga Dago, menambahkan persoalan lampu lalu lintas.

“Lampu merah yang mati itu bikin semrawut, harusnya diperbaiki,” katanya.

Dampak pada Penghasilan dan Kendaraan

Bagi sebagian pengemudi, kondisi jalan tak selalu berdampak langsung pada jumlah order, tetapi terasa pada kendaraan.

Ari pendapatan mah intina mah keselamatan. Nu penting urang aman,” kata Dian.

Namun ia mengakui ban menjadi komponen yang paling cepat aus.

Ban mah paling karasa. Karep anyar ge, teu lila sok karasa deui. Jalanna kieu nya,” ujarnya.

Sandi pun merasakan hal serupa.

“Kalau pendapatan sih normal-normal aja, tergantung order. Tapi motor jadi lebih sering diservis. pelek, shockbreaker, ban, itu cepat aus,” katanya.

Di sisi lain, Doni menyoroti kemacetan yang memakan waktu dan mengurangi potensi pendapatan.

“Kalau macet sih berpengaruh, waktunya lama. Paling kita cari jalan tikus buat ngatasinnya,” katanya.

Meski begitu, tidak semua pengemudi bersuara keras. Jaenudin (55) memilih bersikap lebih tenang.

“Ya pasti kalau untuk cara saya berkendara sampai enak atau enggaknya bawa motor, jelas berpengaruh. Tapi ya, saya serahkan aja-lah proses penyelesaian dan penanganan itu langsung ke pemerintah,” ucapnya.

Harapan

Di tengah keluhan, ada pula pengakuan bahwa beberapa ruas telah membaik. Doni menyebut jalur menuju Lembang kini lebih nyaman.

“Kalau Lembang dari bawah sampai atas sudah bagus, enak sekarang,” katanya.

Ai juga merasakan perbaikan di Batu Nunggal setelah sempat hampir terjatuh.

“Saya hampir jatuh waktu itu di Batu Nunggal karena lubang, malam dan hujan. Tapi sekarang jalannya sudah diperbaiki,” ujarnya.

Perbedaan pengalaman ini menunjukkan wajah jalanan Bandung yang tidak tunggal. Ada aspal yang pecah, ada pula yang telah diperbarui. Namun bagi para pengemudi ojol, satu hal yang sama: mereka menggantungkan hidup di atasnya.

“Kalau jalannya bagus, orang luar kota juga tertarik datang. UMKM sama ojol juga kebantu,” ungkap Doni.

Bagi mereka, jalan bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah ruang kerja, wajah kota, sekaligus arena tempat keselamatan dipertaruhkan setiap hari. Di antara proyek galian, lubang yang belum tertutup sempurna, dan lampu jalan yang redup, para pengemudi tetap melaju—menjemput rezeki yang tak bisa ditunda, sembari berharap suatu hari nanti aspal yang mereka lintasi benar-benar rata dan aman.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 16:16

Kilas Balik Kepopuleran Mobil Toyota Corolla di Indonesia Era 70-an

Mengulik masa lalu dan daya tarik Toyota Corolla pada sebagian generasi awal, sedan legendaris di Indonesia yang kini menjadi memori kolektif generasi lawas

Toyota Corolla 1970-1975. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:53

Bencana Kebakaran, Masalah Tata Ruang dan Mesin Damkar Otonom

Mitigasi penanggulangan kebakaran perlu platform digital informasi perkotaan yang mampu menyajikan data-data fisik bangunan

Kebakaran kios di terminal Leuwipanjang Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:06

Perkembangan Film Genre Horor pada Masa Orde Baru dan Masa Kini di Indonesia

Mengulik perjalanan film horor Indonesia pada masa orde baru hingga masa kini.

ilustrasi film horor. (Sumber: Unsplash | Foto: Syarafina Yusof)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 14:16

Panduan Wisata ke Kepulauan Seribu, Surga Tropis di Utara Jakarta

Panduan lengkap wisata Kepulauan Seribu mulai dari pilihan pulau, harga kapal, snorkeling, penginapan, hingga waktu terbaik berkunjung dari Jakarta.

Kepulauan Seribu. (Sumber: Facebook Taman Nasional Kepulauan Seribu)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 12:37

Dari 'Vrijman' Jadi 'Premanisme', Warisan Kolonial yang Susah Diberantas

Jejak premanisme di Indonesia, dari arsip kolonial hingga kehidupan masa kini.

ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 11:34

Jejak Kenikmatan Kopi Pulau Jawa yang Tumbuh pada Masa Kolonial

Perkembangan penanaman dan penyebaran kopi di pulau jawa sekaligus dampaknya bagi perekonomian Hindia Belanda.

Kebun Kopi Karanganyar (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 10:56

Perjalanan Pempek sebagai Makanan Tradisional yang Tetap Populer di Era Modern

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan yang memiliki sejarah panjang dan mengakar dalam budaya masyarakat.

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 09:04

Peran Komunitas dalam Perkembangan Skena Musik Indie di Kota Kembang

Bagi kota ini arti musik lebih dari sekedar hiburan, lebih dari sekadar komunitas.

Event musik yang diselenggarakan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Naufal Dzaki)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 08:25

Melacak Asal-usul Mainan Tradisional Gasing dari Indonesia

Apa itu gasing, jenis dan bentuk, dan bagaimana mainan ini bisa bertahan hingga sekarang?

Macam-macam bentuk mainan gasing. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Nazril Ihsan Fadillah)
Bandung 03 Jun 2026, 22:07

Strategi 4K Diuji, Inflasi Mei 2026 Jawa Barat Tembus di Angka 3,07 Persen

Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya.

Ilustrasi. Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya. (Sumber: Ist)
Bandung 03 Jun 2026, 21:37

Wajah Ganda Keuangan Jabar: Cetak Rekor Investor Saham, tapi BPR Megap-Megap dan Terjerat Pinjol

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional.

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)