Dari 'Vrijman' Jadi 'Premanisme', Warisan Kolonial yang Susah Diberantas

5 menit baca
Gadika Yathur
Ditulis oleh Gadika Yathur diterbitkan Kamis 04 Jun 2026, 12:37 WIB
ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)

ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)

Premanisme bukanlah fenomena baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, terutama kawasan pasar tradisional, terminal, pusat perdagangan, hingga lingkungan padat penduduk, kehadiran preman sering kali dianggap sebagai bagian dari realitas sehari-hari. Masyarakat yang hidup dan memiliki usaha di wilayah-wilayah tersebut kerap dihadapkan pada praktik pungutan yang dibungkus dengan dalih “uang keamanan” atau “jasa pengamanan”.

Meski terdengar seperti bentuk perlindungan, praktik tersebut pada dasarnya merupakan pemerasan yang dilakukan melalui tekanan dan intimidasi. Banyak pedagang kecil memilih membayar bukan karena membutuhkan jasa tersebut, melainkan karena khawatir usahanya terganggu apabila menolak. Berbagai kasus yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik semacam ini masih berlangsung di sejumlah pasar dan pusat ekonomi rakyat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa premanisme tidak hanya berkaitan dengan tindakan kriminal semata, tetapi juga menyangkut persoalan kekuasaan, penguasaan ruang publik, dan kerentanan masyarakat kecil yang sering kali memiliki pilihan terbatas untuk melindungi mata pencahariannya. Fenomena yang saat ini terlihat dalam bentuk pungutan liar, intimidasi, maupun penguasaan ruang-ruang ekonomi informal merupakan bagian dari perkembangan historis yang telah berlangsung sejak masa kolonial. 

Menariknya, keberadaan preman telah menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda sejak akhir abad ke-19, sebagaimana tercermin dalam berbagai laporan dan pemberitaan surat kabar pada masa itu.

Jejak keberadaan preman sudah terekam dalam surat kabar kolonial tahun 1870-an sampai dengan tahun 1890-an. Seperti dalam surat kabar Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, terbitan 26 November 1870, disebutkan bahwa vrijeman/preman merupakan golongan orang-orang yang berada di luar kontrol atau pengawasan resmi pemerintah kolonial yang biasanya tidak memiliki tempat tinggal tetap dan sumber penghasilannya tidak pasti (“...men heeft hier te lande een klasse van personen, die niet onder het geregeld toezicht van het gouvernement staan, en die men gewoonlijk met den naam van vrijlieden of ook vrijmannen aanduidt; deze lieden bewegen zich veelal zonder vaste woonplaats en zonder geregelde middelen van bestaan...”.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah kolonial telah mengidentifikasi keberadaan kelompok sosial yang hidup di luar struktur formal negara dan sulit dikontrol oleh otoritas resmi. Lalu di surat kabar yang sama, terbitan 27 November 1878, disebutkan bahwa para vrijman ini terkadang menjadi ancaman bagi ketertiban umum, yang berarti, pemerintah kolonial pada saat itu sudah melihat preman sebagai ancaman sosial (“De vrijman vormt niet zelden een gevaar voor de openbare orde…”).

Selain itu juga, masih di surat kabar yang sama terbitan 9 Mei 1892, ditegaskan bahwa pemerintah kolonial perlu memperketat pengawasan terhadap para preman guna mencegah tindak kejahatan (“...de controle op vrijmannen dient te worden verscherpt ter voorkoming van misdrijven...”). Dari surat-surat kabar tersebut dapat kita lihat bahwa sejak akhir abad ke-19 preman sudah menjadi perhatian pemerintah kolonial yang sikapnya meresahkan di kalangan masyarakat.

Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Jika dibandingkan dengan preman masa kini, preman pada masa Hindia Belanda sebenarnya memiliki sejumlah kesamaan sekaligus perbedaan. Mereka sama-sama memanfaatkan pengaruh dan kekuatan yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Namun, dalam beberapa kasus, preman pada masa kolonial tidak selalu dipandang negatif oleh masyarakat. Sebagian dari mereka dikenal membela rakyat kecil, melindungi penduduk dari tindakan sewenang-wenang aparat kolonial, atau membantu buruh menghadapi tekanan para pengusaha perkebunan.

Karena itu, tidak mengherankan jika sejumlah tokoh jago atau preman lokal pada masa tersebut justru memperoleh simpati dan dukungan dari masyarakat. Meski demikian, tidak semua preman berdiri di pihak rakyat. Sebagian lainnya justru bekerja sebagai centeng perusahaan atau kaki tangan penguasa kolonial yang bertugas mengawasi dan menekan para buruh. Dengan kata lain, preman pada masa Hindia Belanda memainkan peran yang bertolak belakang: ada yang menjadi pelindung masyarakat, ada pula yang menjadi alat penindasan.

Akan tetapi, terlepas dari perbedaan peran tersebut, baik preman masa kolonial maupun masa kini tetap memiliki satu kesamaan, yakni memanfaatkan posisi dan pengaruh yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat di sekitarnya. 

Ketimpangan ekonomi merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya dan bertahannya premanisme di kalangan masyarakat. Namun, fenomena ini tidak hanya lahir dari persoalan kemiskinan, melainkan juga berkaitan dengan lemahnya kontrol sosial, terbatasnya akses terhadap pekerjaan formal, serta adanya ruang-ruang ekonomi yang tidak sepenuhnya dijangkau oleh negara.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian kelompok memanfaatkan pemerasan, pemalakan, dan berbagai bentuk pungutan sebagai cara untuk memperoleh penghasilan dan mempertahankan pengaruhnya. Sejumlah sejarawan, seperti Denys Lombard dan Anthony Reid, menunjukkan bahwa ketika kontrol negara melemah dan kesenjangan sosial-ekonomi melebar, sering muncul tokoh-tokoh kuat lokal yang beroperasi di luar struktur kekuasaan resmi. 

Pada masa Orde Baru, negara tidak berupaya menghapus premanisme sepenuhnya, melainkan mengkanalisasi dan mengintegrasikan sebagian kelompok preman ke dalam berbagai organisasi massa. Melalui cara ini, aktivitas mereka dapat dikendalikan sekaligus dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas politik dan keamanan rezim. Setelah Reformasi, pola hubungan tersebut tidak sepenuhnya hilang. Dalam berbagai bentuk dan konteks yang berbeda, kelompok-kelompok preman masih kerap dimanfaatkan oleh elite politik maupun ekonomi sebagai alat mobilisasi massa, pengamanan kepentingan bisnis, dan kontrol sosial di tingkat lokal. 

Pada akhirnya, premanisme bukanlah fenomena yang baru muncul dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejak masa Hindia Belanda hingga era modern, keberadaan kelompok-kelompok preman terus hadir dalam berbagai bentuk dan peran yang berbeda-beda, menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.

Meski sebagian di antaranya pernah dipandang sebagai pelindung kelompok masyarakat tertentu, keberadaan preman pada umumnya lebih sering dikaitkan dengan praktik pemerasan, intimidasi, dan penguasaan ruang-ruang ekonomi informal yang merugikan masyarakat. Tidak mengherankan jika banyak warga merasa terganggu dan tidak aman akibat aktivitas mereka.

Namun, dalam banyak kasus, masyarakat juga memilih untuk hidup berdampingan dengan para preman karena keterbatasan pilihan dan posisi tawar yang mereka miliki. Fenomena ini menunjukkan bahwa premanisme bukan sekadar persoalan kriminalitas, melainkan juga cerminan dari persoalan sosial yang lebih luas, mulai dari ketimpangan ekonomi, lemahnya penegakan hukum, hingga hubungan antara kekuasaan formal dan informal yang telah berlangsung sepanjang sejarah Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gadika Yathur
Tentang Gadika Yathur
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 16:16

Kilas Balik Kepopuleran Mobil Toyota Corolla di Indonesia Era 70-an

Mengulik masa lalu dan daya tarik Toyota Corolla pada sebagian generasi awal, sedan legendaris di Indonesia yang kini menjadi memori kolektif generasi lawas

Toyota Corolla 1970-1975. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:53

Bencana Kebakaran, Masalah Tata Ruang dan Mesin Damkar Otonom

Mitigasi penanggulangan kebakaran perlu platform digital informasi perkotaan yang mampu menyajikan data-data fisik bangunan

Kebakaran kios di terminal Leuwipanjang Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:06

Perkembangan Film Genre Horor pada Masa Orde Baru dan Masa Kini di Indonesia

Mengulik perjalanan film horor Indonesia pada masa orde baru hingga masa kini.

ilustrasi film horor. (Sumber: Unsplash | Foto: Syarafina Yusof)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 14:16

Panduan Wisata ke Kepulauan Seribu, Surga Tropis di Utara Jakarta

Panduan lengkap wisata Kepulauan Seribu mulai dari pilihan pulau, harga kapal, snorkeling, penginapan, hingga waktu terbaik berkunjung dari Jakarta.

Kepulauan Seribu. (Sumber: Facebook Taman Nasional Kepulauan Seribu)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 12:37

Dari 'Vrijman' Jadi 'Premanisme', Warisan Kolonial yang Susah Diberantas

Jejak premanisme di Indonesia, dari arsip kolonial hingga kehidupan masa kini.

ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 11:34

Jejak Kenikmatan Kopi Pulau Jawa yang Tumbuh pada Masa Kolonial

Perkembangan penanaman dan penyebaran kopi di pulau jawa sekaligus dampaknya bagi perekonomian Hindia Belanda.

Kebun Kopi Karanganyar (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 10:56

Perjalanan Pempek sebagai Makanan Tradisional yang Tetap Populer di Era Modern

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan yang memiliki sejarah panjang dan mengakar dalam budaya masyarakat.

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 09:04

Peran Komunitas dalam Perkembangan Skena Musik Indie di Kota Kembang

Bagi kota ini arti musik lebih dari sekedar hiburan, lebih dari sekadar komunitas.

Event musik yang diselenggarakan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Naufal Dzaki)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 08:25

Melacak Asal-usul Mainan Tradisional Gasing dari Indonesia

Apa itu gasing, jenis dan bentuk, dan bagaimana mainan ini bisa bertahan hingga sekarang?

Macam-macam bentuk mainan gasing. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Nazril Ihsan Fadillah)
Bandung 03 Jun 2026, 22:07

Strategi 4K Diuji, Inflasi Mei 2026 Jawa Barat Tembus di Angka 3,07 Persen

Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya.

Ilustrasi. Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya. (Sumber: Ist)
Bandung 03 Jun 2026, 21:37

Wajah Ganda Keuangan Jabar: Cetak Rekor Investor Saham, tapi BPR Megap-Megap dan Terjerat Pinjol

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional.

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)