Dari 'Vrijman' Jadi 'Premanisme', Warisan Kolonial yang Susah Diberantas

5 menit baca
Gadika Yathur
Ditulis oleh Gadika Yathur diterbitkan
ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)
ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)

Premanisme bukanlah fenomena baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, terutama kawasan pasar tradisional, terminal, pusat perdagangan, hingga lingkungan padat penduduk, kehadiran preman sering kali dianggap sebagai bagian dari realitas sehari-hari. Masyarakat yang hidup dan memiliki usaha di wilayah-wilayah tersebut kerap dihadapkan pada praktik pungutan yang dibungkus dengan dalih “uang keamanan” atau “jasa pengamanan”.

Meski terdengar seperti bentuk perlindungan, praktik tersebut pada dasarnya merupakan pemerasan yang dilakukan melalui tekanan dan intimidasi. Banyak pedagang kecil memilih membayar bukan karena membutuhkan jasa tersebut, melainkan karena khawatir usahanya terganggu apabila menolak. Berbagai kasus yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik semacam ini masih berlangsung di sejumlah pasar dan pusat ekonomi rakyat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa premanisme tidak hanya berkaitan dengan tindakan kriminal semata, tetapi juga menyangkut persoalan kekuasaan, penguasaan ruang publik, dan kerentanan masyarakat kecil yang sering kali memiliki pilihan terbatas untuk melindungi mata pencahariannya. Fenomena yang saat ini terlihat dalam bentuk pungutan liar, intimidasi, maupun penguasaan ruang-ruang ekonomi informal merupakan bagian dari perkembangan historis yang telah berlangsung sejak masa kolonial. 

Menariknya, keberadaan preman telah menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda sejak akhir abad ke-19, sebagaimana tercermin dalam berbagai laporan dan pemberitaan surat kabar pada masa itu.

Jejak keberadaan preman sudah terekam dalam surat kabar kolonial tahun 1870-an sampai dengan tahun 1890-an. Seperti dalam surat kabar Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, terbitan 26 November 1870, disebutkan bahwa vrijeman/preman merupakan golongan orang-orang yang berada di luar kontrol atau pengawasan resmi pemerintah kolonial yang biasanya tidak memiliki tempat tinggal tetap dan sumber penghasilannya tidak pasti (“...men heeft hier te lande een klasse van personen, die niet onder het geregeld toezicht van het gouvernement staan, en die men gewoonlijk met den naam van vrijlieden of ook vrijmannen aanduidt; deze lieden bewegen zich veelal zonder vaste woonplaats en zonder geregelde middelen van bestaan...”.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah kolonial telah mengidentifikasi keberadaan kelompok sosial yang hidup di luar struktur formal negara dan sulit dikontrol oleh otoritas resmi. Lalu di surat kabar yang sama, terbitan 27 November 1878, disebutkan bahwa para vrijman ini terkadang menjadi ancaman bagi ketertiban umum, yang berarti, pemerintah kolonial pada saat itu sudah melihat preman sebagai ancaman sosial (“De vrijman vormt niet zelden een gevaar voor de openbare orde…”).

Selain itu juga, masih di surat kabar yang sama terbitan 9 Mei 1892, ditegaskan bahwa pemerintah kolonial perlu memperketat pengawasan terhadap para preman guna mencegah tindak kejahatan (“...de controle op vrijmannen dient te worden verscherpt ter voorkoming van misdrijven...”). Dari surat-surat kabar tersebut dapat kita lihat bahwa sejak akhir abad ke-19 preman sudah menjadi perhatian pemerintah kolonial yang sikapnya meresahkan di kalangan masyarakat.

Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Jika dibandingkan dengan preman masa kini, preman pada masa Hindia Belanda sebenarnya memiliki sejumlah kesamaan sekaligus perbedaan. Mereka sama-sama memanfaatkan pengaruh dan kekuatan yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Namun, dalam beberapa kasus, preman pada masa kolonial tidak selalu dipandang negatif oleh masyarakat. Sebagian dari mereka dikenal membela rakyat kecil, melindungi penduduk dari tindakan sewenang-wenang aparat kolonial, atau membantu buruh menghadapi tekanan para pengusaha perkebunan.

Karena itu, tidak mengherankan jika sejumlah tokoh jago atau preman lokal pada masa tersebut justru memperoleh simpati dan dukungan dari masyarakat. Meski demikian, tidak semua preman berdiri di pihak rakyat. Sebagian lainnya justru bekerja sebagai centeng perusahaan atau kaki tangan penguasa kolonial yang bertugas mengawasi dan menekan para buruh. Dengan kata lain, preman pada masa Hindia Belanda memainkan peran yang bertolak belakang: ada yang menjadi pelindung masyarakat, ada pula yang menjadi alat penindasan.

Akan tetapi, terlepas dari perbedaan peran tersebut, baik preman masa kolonial maupun masa kini tetap memiliki satu kesamaan, yakni memanfaatkan posisi dan pengaruh yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat di sekitarnya. 

Ketimpangan ekonomi merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya dan bertahannya premanisme di kalangan masyarakat. Namun, fenomena ini tidak hanya lahir dari persoalan kemiskinan, melainkan juga berkaitan dengan lemahnya kontrol sosial, terbatasnya akses terhadap pekerjaan formal, serta adanya ruang-ruang ekonomi yang tidak sepenuhnya dijangkau oleh negara.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian kelompok memanfaatkan pemerasan, pemalakan, dan berbagai bentuk pungutan sebagai cara untuk memperoleh penghasilan dan mempertahankan pengaruhnya. Sejumlah sejarawan, seperti Denys Lombard dan Anthony Reid, menunjukkan bahwa ketika kontrol negara melemah dan kesenjangan sosial-ekonomi melebar, sering muncul tokoh-tokoh kuat lokal yang beroperasi di luar struktur kekuasaan resmi. 

Pada masa Orde Baru, negara tidak berupaya menghapus premanisme sepenuhnya, melainkan mengkanalisasi dan mengintegrasikan sebagian kelompok preman ke dalam berbagai organisasi massa. Melalui cara ini, aktivitas mereka dapat dikendalikan sekaligus dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas politik dan keamanan rezim. Setelah Reformasi, pola hubungan tersebut tidak sepenuhnya hilang. Dalam berbagai bentuk dan konteks yang berbeda, kelompok-kelompok preman masih kerap dimanfaatkan oleh elite politik maupun ekonomi sebagai alat mobilisasi massa, pengamanan kepentingan bisnis, dan kontrol sosial di tingkat lokal. 

Pada akhirnya, premanisme bukanlah fenomena yang baru muncul dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejak masa Hindia Belanda hingga era modern, keberadaan kelompok-kelompok preman terus hadir dalam berbagai bentuk dan peran yang berbeda-beda, menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.

Meski sebagian di antaranya pernah dipandang sebagai pelindung kelompok masyarakat tertentu, keberadaan preman pada umumnya lebih sering dikaitkan dengan praktik pemerasan, intimidasi, dan penguasaan ruang-ruang ekonomi informal yang merugikan masyarakat. Tidak mengherankan jika banyak warga merasa terganggu dan tidak aman akibat aktivitas mereka.

Namun, dalam banyak kasus, masyarakat juga memilih untuk hidup berdampingan dengan para preman karena keterbatasan pilihan dan posisi tawar yang mereka miliki. Fenomena ini menunjukkan bahwa premanisme bukan sekadar persoalan kriminalitas, melainkan juga cerminan dari persoalan sosial yang lebih luas, mulai dari ketimpangan ekonomi, lemahnya penegakan hukum, hingga hubungan antara kekuasaan formal dan informal yang telah berlangsung sepanjang sejarah Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)