Awal mula batik di Desa Trusmi berasal dari salah satu tokoh berpengaruh, yaitu Ki Buyut Trusmi. Beliau merupakan murid Sunan Gunung Jati, Ki Buyut Trusmi bersama Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam khususnya Kawasan di Desa Trusmi. Selain menyebarkan agama Islam, Ki Buyut Trusmi bersama Sunan Gunung Jati juga mengajarkan keterampilan membatik kepada penduduk setempat.
Dari pengajaran membatik ini, penduduk setempat mampu menghasilkan batik yang berkualitas dan rapi. Kemudian suatu waktu Sultan Keraton Cirebon meminta warga Trusmi untuk membuat batik seperti yang dimilikinya dengan hanya menunjukkan motifnya saja, tanpa membawa batik aslinya sebagai acuan pembuatan, lalu penduduk setempat membuat batik sesuai perintah Sultan.
Kemudian, setelah penduduk setempat selesai membuat batik yang diperintahkan oleh Sultan, penduduk setempat segera menghadap ke Sultan dengan membawa batik yang diperintahkan, sultan pun melihat buatan batiknya. Setelah sultan melihatnya ia pun mengakui bahwa kemampuan warga Trusmi dalam membuat batik sangatlah baik dan sesuai dengan yang diperintahkan. Dari sinilah asal-usul batik di Desa Trusmi terus berkembang sampai saat ini.
Kampung Batik Trusmi memiliki peran penting sebagai pusat utama produksi batik yang mendorong perkembangan budaya sekaligus perekonomian di Desa Trusmi. Sebagai pusat produksi, daerah ini bukan hanya tempat berjualan, tetapi juga menjadi sentral manufaktur tradisional yang menghasilkan ribuan helai kain hasil dari para pengrajin lokal.
Aktivitas produksi di satu titik ini menciptakan distribusi yang mandiri, di mana proses mulai dari menggambar pola pada kain putih hingga pewarnaan terakhir dilakukan secara terpadu oleh pengrajinnya. Hal ini menjadikan Trusmi menjadi pemasok utama batik untuk para pedagang besar serta kolektor, yang secara otomatis memperkuat perannya sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang menyediakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat sekitar.
Saat ini di Desa Trusmi 1.435 pengrajin batik yang tersebar di beberapa desa. Pengrajin-pengrajinnya ini kebanyakan merupakan warga sekitar yang menjadikan batik ini sebagai mata pencaharian utama. Dahulu, pembuatan batik hanya dilakukan secara tulis tradisional, yaitu menggunakan canting dan lilin. Teknik tulis menggunakan canting merupakan teknik yang paling membutuhkan waktu yang cukup lama dan harganya pun paling mahal.
Seiring dengan perkembangan zaman, kini pembuatan batik dilakukan dengan 5 teknik yaitu diantaranya, teknik canting tulis, teknik cap, teknik celup kilat, teknik printing, dan teknik colet. Selain itu batik Trusmi juga memiliki ciri khas pada dasar kain atau latar belakang yang berwarna lebih muda daripada warna motif utamanya. Dan warna dasar kain ini umumnya bersih dari noda hitam atau warna lain akibat pecahnya lilin yang menempel pada kain saat proses pewarnaan.
Terdapat ratusan showroom batik di Desa Trusmi. Setiap showroom memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari desain motif yang dibuat, variasi yang beragam, hingga bahan yang digunakan. Beberapa showroom batik yang terkenal di antarnya yaitu “Batik Salma, Batik Hafiyan, Batik Nofa, Batik Asofa, dan Batik Kenza, tetapi batik yang terkenal dan yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan dari beberapa daerah adalah BT (Batik Trusmi), karena BT sendiri memiliki misi untuk menjadikan showroom batik ini bukan hanya sekadar profit oriented, tetapi juga memiliki tanggung jawab budaya dengan melestarikan seni batik.
Setiap daerah yang menghasilkan batik di Indonesia memiliki ciri khas serta motif batik yang berbeda termasuk juga Kampung Batik Trusmi dan Batik di Cirebon yang mempunyai salah satu motif terkenal yaitu motif Mega Mendung.

Keunikan utama dari Batik Trusmi dapat dilihat dari desain motifnya serta nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Berikut motif-motif Batik Trusmi:
1. Mega Mendung
Motif ini telah menjadi simbol khas batik Cirebon dan memiliki kaitan erat dengan sejarah kedatangan warga Tionghoa ke wilayah Cirebon. Mereka membawa berbagai benda seni seperti pring, kain, dan keramik yang memiliki motif berbentuk awan. Dari segi filosofi, gambar awan memiliki makna yang menunjukkan kebesaran kekuasaan tuhan. Motif awan dianggap sebagai simbol perasaan aman, rasa nyaman, serta kekuatan. Motif mega mendung ini biasanya digabungkan dengan motif lainnya, seperti motif keraton atau morif bunga.
2. Wadasan
Motif ini memiliki bentuk bebautan yang memiliki karakter kokoh (wadas). Dalam pengaplikasian ke kain, motif wadasan sering kali dipadukan dengan gambar bertema alam lainnya seperti bunga atau tanaman menjalar tujuannya untuk mendapatkan desain yang terstruktur dan dinamis. Motif ini sering kali dipakai oleh para petinggi keraton dan bangsawan untuk menghadiri upacara-upacara dan acara penting lainnya. Motif ini memiliki filosofi nilai-nilai kehidupan yang tangguh, seperti kegigihan, kesabaran, keberanian, dan ketabahan hati.
3. Paksi Naga Liman
Motif ini memiliki keterkaitan dengan histori Keraton Cirebon. Motif ini dilatarbelakangi oleh kereta yang ada di Keraton Cirebon yang bernama Paksi Naga Liman, konon karena kereta ini ditarik hewan burung Garuda (paksi), ular (naga), dan gajah (liman). Motif ini memiliki filosofi perpaduan yang harmonis antara kekuatan fisik dan kekuatan sikap melindungi dengan dasar kebijaksanaan.
4. Keraton
Motif Keraton juga menjadi salah satu motif yang identik dengan Kampung Batik Trusmi. Batik ini hanya menampilkan bentuk yang berkaitan dengan keraton seperti bentuk bangunan keraton, kaligrafi, dan ornamen-ornamen keraton lainnya. Motif ini menjadi simbol kekuasaan kerajaan dan menggambarkan kekayaan budaya yang ada di Keraton Cirebon.
5. Singa Barong
Motif ini umumnya menggambarkan kepala singa yang memiliki simbol kekuatan dan perlindungan. Batik dengan motif ini sering kali dipakai dalam acara formal karena memberikan kesan elegan dan menambah nilai estetika pada batik.

Kampung Batik Trusmi adalah sebuah ekosistem yang merupakan bagian dari warisan budaya, yang dimulai dari peran historis Ki Buyut Trusmi, seorang murid dari Sunan Gunung Jati, yang memperkenalkan keterampilan membatik sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ajaran Islam. Kemampuan masyarakat setempat sudah lama diakui secara luas, bahkan mendapat penghargaan langsung dari Sultan Cirebon karena keahlian mereka dalam meniru motif keraton dengan sangat tepat dan detail.
Saat ini, Trusmi telah berkembang menjadi pusat manufaktur tradisonal yang berperan sebagai pilar utama dalam sektor ekonomi kreatif, mendukung sekitar 1.435 pengrajin, dengan proses produksi yang dijalankan secara terpadu mulai dari pembuatan pola hingga tahap pewarnaan. Kehadiran showroom di kawasan Batik Trusmi tidak hanya menjadi pusat penggerak ekonomi, tetapi juga bertugas untuk melestarikan seni batik, sehingga menjadikannya sebagai produk budaya yang bernilai tinggi sekaligus menjadi penggerak perekonomian berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. (*)
