Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

3 menit baca
Aditya Sheva Putra Indrawan
Ditulis oleh Aditya Sheva Putra Indrawan diterbitkan
Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)

Tulungagung merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang dilintasi oleh jaringan kereta api. Jaringan kereta api di Tulungagung telah ada sejak masa Hindia Belanda dan terus mengalami perkembangan hingga kini. Keberadaan jaringan kereta api sangat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan maupun distribusi barang.

Pada awalnya, kereta api di Tulungagung digunakan untuk mengangkut hasil bumi yang akan didistribusikan ke kota-kota besar, seperti Surabaya. Seiring berjalannya waktu, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh kondisi pada setiap masa.

Kisah mengenai jaringan kereta api di Tulungagung bermula pada masa Hindia Belanda. Pada masa ini, pemerintah kolonial melalui perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS), mulai membangun jalur kereta api di Tulungagung. Berdasarkan buku Nederlandsch Indische Staatsspoor- en Tramwegen, jalur yang pertama kali dibangun ialah rute Kediri-Tulungagung. Ruas jalur ini diresmikan pada 2 Juni 1883.

Daftar tanggal peresmian jalur kereta api di Pulau Jawa, termasuk jalur kereta api di Tulungagung. (Sumber: Delpher)
Daftar tanggal peresmian jalur kereta api di Pulau Jawa, termasuk jalur kereta api di Tulungagung. (Sumber: Delpher)

Pembangunan kemudian dilanjutkan menuju Blitar dan diresmikan satu tahun kemudian. Sementara itu, jalur Tulungagung-Trenggalek dibangun secara bertahap dan dibuka pertama kali pada 15 Juni 1921 untuk ruas Tulungagung-Campurdarat. Jalur lintas Tulungagung-Trenggalek sempat mengalami penurunan operasional hingga akhirnya ditutup.

Pada masa Pendudukan Jepang, tidak banyak jalur kereta api yang dibangun. Sebaliknya, banyak jalur ditutup dan relnya dibongkar untuk dipindahkan ke jalur lain yang lebih strategis.

Jalur Tulungagung-Trenggalek yang telah ditutup sebelumnya juga terdampak kebijakan tersebut, meskipun tidak seluruh ruas jalurnya. Pada masa ini, kereta api dimanfaatkan sebagai sarana pergerakan militer dan pengangkutan hasil bumi.

Peta jalur kereta api di Tulungagung pada tahun 1925. (Sumber: KITLV)
Peta jalur kereta api di Tulungagung pada tahun 1925. (Sumber: KITLV)

Setelah kemerdekaan, kereta api berada di bawah naungan Djawatan Kereta Api. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, jalur kereta api ruas Tulungagung-Campurdarat dibuka kembali guna mendukung angkutan barang, terutama hasil olahan tebu dari Pabrik Gula Mojopanggung. Hal ini membuat Stasiun Tulungagung memiliki peran penting sebagai stasiun percabangan, yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, seperti menara air, jembatan timbang, maupun meja putar lokomotif. Namun, pada era 1970-an jalur tersebut resmi ditutup.

Sejak era 1980-an, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami penyederhanaan dan penurunan fungsi stasiun. Setelah jalur Tulungagung-Campurdarat ditutup, kini tersisa jalur utama yang menghubungkan Kertosono, Kediri, Blitar, hingga Malang. Stasiun Tulungagung pun mulai kehilangan prasarana yang sebelumnya ada, misalnya meja putar lokomotif yang hilang, jembatan timbang yang sudah tidak digunakan, maupun menara air yang sudah tidak difungsikan. Meski tidak seoptimal pada masa sebelumnya, Stasiun Tulungagung kini terlihat lebih modern dan kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat Tulungagung.

Jaringan kereta api di Tulungagung telah mengalami perubahan fungsi dari masa ke masa sesuai kondisi pada tiap periode. Pada masa kolonial Belanda, jaringan kereta api mulai dibangun yang ditandai dengan pembangunan jalur utama dan jalur cabang. Kemudian pada masa Jepang, terjadi perubahan dan penurunan fungsi jaringan kereta api.

Setelah Indonesia merdeka hingga masa Orde Baru, dilakukan perbaikan dan penyesuaian jalur kereta api. Sementara itu, pada masa modern, jaringan kereta api di Tulungagung menjadi lebih sederhana, tetapi tetap memiliki peran penting sebagai salah satu pilihan transportasi utama bagi masyarakat. Diharapkan ke depannya jaringan kereta api di Tulungagung dapat lebih berkembang dan meningkat, sehingga akan lebih memudahkan masyarakat dalam melakukan mobilitas. (*)

Referensi:

  • Hafid Pradana. 2025. Antara Ada dan Tiada: Sejarah Jalur Trem Tulungagung–Trenggalek–Tugu. Kompasiana.
  • Adhar Muttaqin. 2022. Tulungagung–Trenggalek Pernah Punya Jalur Kereta Api, Ini Buktinya. Detik Jatim.
  • RailFans Ina. 2015. Stasiun Tulungagung: Kenangan Tempo Dulu.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aditya Sheva Putra Indrawan
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)