Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

3 menit baca
Aditya Sheva Putra Indrawan
Ditulis oleh Aditya Sheva Putra Indrawan diterbitkan Rabu 03 Jun 2026, 14:26 WIB
Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)

Tulungagung merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang dilintasi oleh jaringan kereta api. Jaringan kereta api di Tulungagung telah ada sejak masa Hindia Belanda dan terus mengalami perkembangan hingga kini. Keberadaan jaringan kereta api sangat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan maupun distribusi barang.

Pada awalnya, kereta api di Tulungagung digunakan untuk mengangkut hasil bumi yang akan didistribusikan ke kota-kota besar, seperti Surabaya. Seiring berjalannya waktu, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh kondisi pada setiap masa.

Kisah mengenai jaringan kereta api di Tulungagung bermula pada masa Hindia Belanda. Pada masa ini, pemerintah kolonial melalui perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS), mulai membangun jalur kereta api di Tulungagung. Berdasarkan buku Nederlandsch Indische Staatsspoor- en Tramwegen, jalur yang pertama kali dibangun ialah rute Kediri-Tulungagung. Ruas jalur ini diresmikan pada 2 Juni 1883.

Daftar tanggal peresmian jalur kereta api di Pulau Jawa, termasuk jalur kereta api di Tulungagung. (Sumber: Delpher)
Daftar tanggal peresmian jalur kereta api di Pulau Jawa, termasuk jalur kereta api di Tulungagung. (Sumber: Delpher)

Pembangunan kemudian dilanjutkan menuju Blitar dan diresmikan satu tahun kemudian. Sementara itu, jalur Tulungagung-Trenggalek dibangun secara bertahap dan dibuka pertama kali pada 15 Juni 1921 untuk ruas Tulungagung-Campurdarat. Jalur lintas Tulungagung-Trenggalek sempat mengalami penurunan operasional hingga akhirnya ditutup.

Pada masa Pendudukan Jepang, tidak banyak jalur kereta api yang dibangun. Sebaliknya, banyak jalur ditutup dan relnya dibongkar untuk dipindahkan ke jalur lain yang lebih strategis.

Jalur Tulungagung-Trenggalek yang telah ditutup sebelumnya juga terdampak kebijakan tersebut, meskipun tidak seluruh ruas jalurnya. Pada masa ini, kereta api dimanfaatkan sebagai sarana pergerakan militer dan pengangkutan hasil bumi.

Peta jalur kereta api di Tulungagung pada tahun 1925. (Sumber: KITLV)
Peta jalur kereta api di Tulungagung pada tahun 1925. (Sumber: KITLV)

Setelah kemerdekaan, kereta api berada di bawah naungan Djawatan Kereta Api. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, jalur kereta api ruas Tulungagung-Campurdarat dibuka kembali guna mendukung angkutan barang, terutama hasil olahan tebu dari Pabrik Gula Mojopanggung. Hal ini membuat Stasiun Tulungagung memiliki peran penting sebagai stasiun percabangan, yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, seperti menara air, jembatan timbang, maupun meja putar lokomotif. Namun, pada era 1970-an jalur tersebut resmi ditutup.

Sejak era 1980-an, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami penyederhanaan dan penurunan fungsi stasiun. Setelah jalur Tulungagung-Campurdarat ditutup, kini tersisa jalur utama yang menghubungkan Kertosono, Kediri, Blitar, hingga Malang. Stasiun Tulungagung pun mulai kehilangan prasarana yang sebelumnya ada, misalnya meja putar lokomotif yang hilang, jembatan timbang yang sudah tidak digunakan, maupun menara air yang sudah tidak difungsikan. Meski tidak seoptimal pada masa sebelumnya, Stasiun Tulungagung kini terlihat lebih modern dan kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat Tulungagung.

Jaringan kereta api di Tulungagung telah mengalami perubahan fungsi dari masa ke masa sesuai kondisi pada tiap periode. Pada masa kolonial Belanda, jaringan kereta api mulai dibangun yang ditandai dengan pembangunan jalur utama dan jalur cabang. Kemudian pada masa Jepang, terjadi perubahan dan penurunan fungsi jaringan kereta api.

Setelah Indonesia merdeka hingga masa Orde Baru, dilakukan perbaikan dan penyesuaian jalur kereta api. Sementara itu, pada masa modern, jaringan kereta api di Tulungagung menjadi lebih sederhana, tetapi tetap memiliki peran penting sebagai salah satu pilihan transportasi utama bagi masyarakat. Diharapkan ke depannya jaringan kereta api di Tulungagung dapat lebih berkembang dan meningkat, sehingga akan lebih memudahkan masyarakat dalam melakukan mobilitas. (*)

Referensi:

  • Hafid Pradana. 2025. Antara Ada dan Tiada: Sejarah Jalur Trem Tulungagung–Trenggalek–Tugu. Kompasiana.
  • Adhar Muttaqin. 2022. Tulungagung–Trenggalek Pernah Punya Jalur Kereta Api, Ini Buktinya. Detik Jatim.
  • RailFans Ina. 2015. Stasiun Tulungagung: Kenangan Tempo Dulu.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aditya Sheva Putra Indrawan
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:18

Jelajah Puncak Mega Gunung Puntang, Favorit Para Pendaki Tektok yang Eksotis

Puncak Mega di Gunung Puntang menawarkan jalur tektok, lautan kabut, dan panorama eksotis Bandung Selatan.

Puncak Mega Gunung Puntang. (Sumber: Pemkab Bandung)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:02

Kota Kembang Rawan Pohon Tumbang Sejak Masa Kolonial

Kota Bandung sering kali menghadirkan kesan romantis, baik bagi warga setempat maupun wisatawan.

Sudut fotogenik Jalan Asia Afrika di Kota Bandung yang menampilkan sebuah kutipan dari M.A.W. Brouwer sebagai ungkapan rasa cintanya kepada tanah Pasundan. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Kaneza Bani Aththoriah Hawami)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 18:10

Hadiah Fantastis Indonesia Open Super 1000, Siapa Pemain Paling Banyak Raih Gelar?

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno.

POLYTRON Indonesia Open 2026 pekan ini sedang digelar  di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 2 hingga 7 Juni mendatang. (Sumber: PBSI)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 17:32

Peran Penting Gedung Landraad dalam Sistem Peradilan Hindia Belanda

Gedung Landraad merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pengadilan pribumi.

 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Sani Damayanti)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 16:27

Rampog Macan: Tradisi, Kontrovesi, dan Akhir Sebuah Permainan Tradisional

Permainan Rampog Macan mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan tidak luput dari pandangan kaum Belanda.

Harimau pada permainan Rampog Macan. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 15:50

Jejak Rasa Kelezatan Doclang, Kuliner Legendaris Bogor dengan Lontong Daun Patat

Doclang menjadi salah satu kuliner khas Bogor yang kaya sejarah, terkenal dengan lontong pesor, bumbu kacang kencur, dan cita rasa tradisional.

Doclang khas Bogor. (Foto: AI generated image)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 14:26

Dari Masa Kolonial ke Modern: Perkembangan Jaringan Kereta Api di Tulungagung

Menengok historitas jaringan kereta api di Tulungagung, Jawa Timur, sejak awal dibangunnya pada masa kolonial Belanda.

Tampak depan Stasiun Tulungagung saat ini. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi/Aditya Sheva Putra Indrawan)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 13:15

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Dibawa kemana arah bisnis KDKMP akan tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 12:22

Membayangkan Persib tanpa Wa Haji Umuh

Siapapun Manajer Persib, diperlukan sosok yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang dinamika klub.

Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar. (Sumber: AyoPersib | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 11:26

Kembali Tenang dengan Ritual Grounding

Yuk, kenalan dengan somatic healing dan ritual grounding sederhana untuk kembali tenang.

Menyendiri (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 10:09

Saring Sebelum Pusing: Memutus Rantai Kepanikan Digital

Membekali masyarakat dengan literasi digital yang memadai adalah kunci pertama.

 (Sumber: AI Generated)
Beranda 03 Jun 2026, 09:06

Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

Meski edukasi dan kampanye terus digencarkan, banyak korban kekerasan terhadap perempuan masih memilih diam. Kurangnya empati dan kuatnya victim blaming.

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 08:33

Aspal, Antrean, dan Orang-Orang yang Tetap Bertahan

Kenapa harus melibatkan Gubernur Jawa Barat, padahal yang dinobatkan sebagai daerah termacet hanyalah Kota Bandung?

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 20:10

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Sebuah momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran Bung Karno dan cita-cita Indonesia yang terus diperjuangkan dari masa ke masa.

Bung Karno dan kelahiran Pancasila. (Sumber: Harian Umum Kompas edisi 1 Juni 2001. | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 02 Jun 2026, 19:23

Jelajah Rasa Cungkring, Sajian Kikil dan Bumbu Kacang Khas Bogor

Cungkring menawarkan cita rasa khas dari kikil, bibir sapi, lontong daun patat, dan bumbu kacang yang diwariskan lintas generasi.

Cungkring Bogor. (Sumber: Shutterstock)
Sejarah 02 Jun 2026, 18:18

Goa Peteng, Bunker Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Cicalengka

Goa Peteng di Cicalengka diduga bagian dari jaringan pertahanan militer Belanda yang terhubung dengan Nagreg.

Goa Peteng, bunker peninggalan Belanda di Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 18:08

Kota Kembang Kejang-Kejang

Heboh dan trennya tari kejang atau breakdance tahun 1980-an di Bandung serta momen penting breakdance bulan Juni tahun 2022

Ilustrasi breakdance tahun 1980-an di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Cu Trí)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 17:01

Tema Ayo Netizen Juni 2026: Bebas Bersuara, Ikuti Momentum

Mulai Juni 2026, format tema bulanan Ayo Netizen resmi dibebaskan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar seni tari tradisional di Museum Sri Baduga, Jalan BKR, Kota Bandung pada Selasa, 14 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)