Tulungagung merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang dilintasi oleh jaringan kereta api. Jaringan kereta api di Tulungagung telah ada sejak masa Hindia Belanda dan terus mengalami perkembangan hingga kini. Keberadaan jaringan kereta api sangat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan maupun distribusi barang.
Pada awalnya, kereta api di Tulungagung digunakan untuk mengangkut hasil bumi yang akan didistribusikan ke kota-kota besar, seperti Surabaya. Seiring berjalannya waktu, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh kondisi pada setiap masa.
Kisah mengenai jaringan kereta api di Tulungagung bermula pada masa Hindia Belanda. Pada masa ini, pemerintah kolonial melalui perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS), mulai membangun jalur kereta api di Tulungagung. Berdasarkan buku Nederlandsch Indische Staatsspoor- en Tramwegen, jalur yang pertama kali dibangun ialah rute Kediri-Tulungagung. Ruas jalur ini diresmikan pada 2 Juni 1883.

Pembangunan kemudian dilanjutkan menuju Blitar dan diresmikan satu tahun kemudian. Sementara itu, jalur Tulungagung-Trenggalek dibangun secara bertahap dan dibuka pertama kali pada 15 Juni 1921 untuk ruas Tulungagung-Campurdarat. Jalur lintas Tulungagung-Trenggalek sempat mengalami penurunan operasional hingga akhirnya ditutup.
Pada masa Pendudukan Jepang, tidak banyak jalur kereta api yang dibangun. Sebaliknya, banyak jalur ditutup dan relnya dibongkar untuk dipindahkan ke jalur lain yang lebih strategis.
Jalur Tulungagung-Trenggalek yang telah ditutup sebelumnya juga terdampak kebijakan tersebut, meskipun tidak seluruh ruas jalurnya. Pada masa ini, kereta api dimanfaatkan sebagai sarana pergerakan militer dan pengangkutan hasil bumi.

Setelah kemerdekaan, kereta api berada di bawah naungan Djawatan Kereta Api. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, jalur kereta api ruas Tulungagung-Campurdarat dibuka kembali guna mendukung angkutan barang, terutama hasil olahan tebu dari Pabrik Gula Mojopanggung. Hal ini membuat Stasiun Tulungagung memiliki peran penting sebagai stasiun percabangan, yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, seperti menara air, jembatan timbang, maupun meja putar lokomotif. Namun, pada era 1970-an jalur tersebut resmi ditutup.
Sejak era 1980-an, jaringan kereta api di Tulungagung mengalami penyederhanaan dan penurunan fungsi stasiun. Setelah jalur Tulungagung-Campurdarat ditutup, kini tersisa jalur utama yang menghubungkan Kertosono, Kediri, Blitar, hingga Malang. Stasiun Tulungagung pun mulai kehilangan prasarana yang sebelumnya ada, misalnya meja putar lokomotif yang hilang, jembatan timbang yang sudah tidak digunakan, maupun menara air yang sudah tidak difungsikan. Meski tidak seoptimal pada masa sebelumnya, Stasiun Tulungagung kini terlihat lebih modern dan kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat Tulungagung.

Jaringan kereta api di Tulungagung telah mengalami perubahan fungsi dari masa ke masa sesuai kondisi pada tiap periode. Pada masa kolonial Belanda, jaringan kereta api mulai dibangun yang ditandai dengan pembangunan jalur utama dan jalur cabang. Kemudian pada masa Jepang, terjadi perubahan dan penurunan fungsi jaringan kereta api.
Setelah Indonesia merdeka hingga masa Orde Baru, dilakukan perbaikan dan penyesuaian jalur kereta api. Sementara itu, pada masa modern, jaringan kereta api di Tulungagung menjadi lebih sederhana, tetapi tetap memiliki peran penting sebagai salah satu pilihan transportasi utama bagi masyarakat. Diharapkan ke depannya jaringan kereta api di Tulungagung dapat lebih berkembang dan meningkat, sehingga akan lebih memudahkan masyarakat dalam melakukan mobilitas. (*)
Referensi:
- Hafid Pradana. 2025. Antara Ada dan Tiada: Sejarah Jalur Trem Tulungagung–Trenggalek–Tugu. Kompasiana.
- Adhar Muttaqin. 2022. Tulungagung–Trenggalek Pernah Punya Jalur Kereta Api, Ini Buktinya. Detik Jatim.
- RailFans Ina. 2015. Stasiun Tulungagung: Kenangan Tempo Dulu.
