Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Minggu 10 Mei 2026, 18:08 WIB
Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)

Banyak pengguna Whoosh mengeluhkan bahwa total perjalanan Jakarta–Bandung terasa tidak jauh berbeda dibanding menggunakan travel. Keluhan ini mungkin terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin kereta dengan kecepatan ratusan kilometer per jam masih dianggap belum jauh lebih cepat?

Jawabannya terletak pada satu hal penting yang sering luput dalam diskusi transportasi: pengalaman perjalanan pengguna tidak hanya ditentukan oleh kecepatan kendaraan, tetapi oleh keseluruhan perjalanan dari titik asal hingga tujuan akhir (door-to-door journey).

Kereta Cepat Sangat Cepat, tetapi Hanya di Inti Perjalanan

Secara teknis, perjalanan inti Whoosh memang sangat cepat. Waktu tempuh dari Stasiun Halim menuju Stasiun Padalarang hanya berlangsung dalam hitungan puluhan menit.

Namun bagi banyak pengguna, perjalanan sesungguhnya dimulai jauh sebelum naik kereta. Pengguna dari Tangerang, Depok, Jakarta Utara, atau Jakarta Barat sering kali harus menghadapi kemacetan panjang hanya untuk mencapai Stasiun Halim. Dalam kondisi lalu lintas padat, perjalanan menuju stasiun dapat menghabiskan waktu hingga dua jam.

Setelah tiba di stasiun, penumpang juga masih perlu menghadapi proses perpindahan moda, pemeriksaan, antrean, dan waktu tunggu keberangkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan tinggi di atas rel tidak otomatis membuat perjalanan menjadi efisien jika akses menuju stasiun masih menyita banyak waktu dan energi.

Tantangan akses menuju stasiun juga terlihat dari persoalan ruang parkir dan sirkulasi kendaraan di kawasan Stasiun Halim. Sebagian pengguna mengeluhkan berkurangnya kapasitas parkir reguler karena adanya alokasi area bagi taksi maupun layanan parkir dengan tarif premium (Rp 100.000). Selain itu, sistem drop-off berbayar juga kerap dipersepsikan menambah beban perjalanan, terutama bagi pengguna yang hanya mengantar penumpang dalam waktu singkat.

Konsep first mile sendiri merujuk pada perjalanan awal pengguna dari titik asal menuju simpul transportasi utama. Menurut Shaheen dan Chan (2016), keberhasilan transportasi publik sangat dipengaruhi oleh kualitas akses menuju moda utama, terutama dari sisi konektivitas dan kemudahan perpindahan moda.

Area parkir premium di Stasiun Halim. (Sumber: Thread/imankuntu)
Area parkir premium di Stasiun Halim. (Sumber: Thread/imankuntu)

Tantangan Setelah Tiba di Bandung

Persoalan tidak berhenti setelah kereta tiba. Penumpang yang turun di Stasiun Padalarang atau Stasiun Tegalluar masih harus melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Bandung atau kawasan tujuan lainnya.

Sebagian penumpang perlu menggunakan kereta feeder, shuttle, taksi, atau kendaraan pribadi. Pada jam sibuk, perjalanan lanjutan ini juga tidak lepas dari kemacetan. Akibatnya, keuntungan waktu yang dimiliki kereta cepat menjadi berkurang ketika dihitung secara keseluruhan.

Kondisi di kawasan Stasiun Padalarang juga menunjukkan bahwa aspek pendukung perjalanan masih menjadi tantangan. Kapasitas parkir yang sangat terbatas membuat area stasiun terasa padat oleh parkir kendaraan sewa dan kendaraan penjemput rombongan VIP. Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transportasi publik modern tidak hanya bergantung pada layanan utama, tetapi juga pada pengelolaan ruang akses dan sirkulasi di kawasan stasiun.

Menurut Geurs dan van Wee (2004), aksesibilitas transportasi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan perjalanan, tetapi juga oleh kemudahan mencapai lokasi tujuan secara menyeluruh. Dalam konteks ini, kualitas last mile menjadi sama pentingnya dengan kecepatan perjalanan utama.

Stasiun Whoosh Padalarang: stasiun elit, parkiran sulit. (Sumber: Tiktok/harisubakti4382)
Stasiun Whoosh Padalarang: stasiun elit, parkiran sulit. (Sumber: Tiktok/harisubakti4382)

Mengapa Travel Masih Dianggap Kompetitif?

Di sisi lain, travel masih dianggap kompetitif karena menawarkan perjalanan langsung dari titik asal ke titik tujuan. Meskipun lebih lambat di jalan tol, moda ini meminimalkan perpindahan moda dan terasa lebih praktis bagi sebagian pengguna.

Dalam banyak kasus, kenyamanan, kesederhanaan, dan kepastian perjalanan justru lebih menentukan dibanding kecepatan maksimum kendaraan. Pengguna tidak perlu memikirkan akses menuju stasiun maupun perjalanan lanjutan setelah tiba.

Hal ini sejalan dengan konsep generalized travel cost, yaitu bahwa pengguna transportasi mempertimbangkan keseluruhan beban perjalanan, termasuk waktu tunggu, perpindahan moda, kenyamanan, dan ketidakpastian perjalanan, bukan hanya waktu tempuh kendaraan semata.

Integrasi Menjadi Pekerjaan Rumah Utama

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia transportasi. Keberhasilan sistem kereta cepat di Jepang, Tiongkok, maupun Eropa tidak hanya ditentukan oleh rel berkecepatan tinggi, tetapi juga oleh integrasi transportasi perkotaan yang kuat.

Stasiun kereta cepat di negara-negara tersebut umumnya terhubung langsung dengan metro, kereta komuter, bus kota, jalur pejalan kaki, hingga kawasan berbasis transit-oriented development (TOD). Perjalanan antarmoda dibuat sesingkat dan semudah mungkin.

Menurut Cervero (1998), integrasi tata guna lahan dan transportasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas sistem transportasi publik massal. Karena itu, tantangan utama transportasi modern bukan hanya membangun infrastruktur besar, tetapi juga memastikan konektivitas antarmoda berjalan dengan baik.

Penguatan feeder menuju stasiun, integrasi tarif antarmoda, sinkronisasi jadwal perjalanan, penyediaan park and ride, hingga peningkatan akses pejalan kaki dan pesepeda dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan pengalaman perjalanan pengguna. Dengan demikian, kecepatan tinggi kereta cepat dapat benar-benar diterjemahkan menjadi efisiensi perjalanan sehari-hari.

Pada akhirnya, masa depan transportasi bukan hanya soal seberapa cepat kendaraan dapat bergerak, melainkan seberapa mudah masyarakat mencapai tujuan akhirnya. Dalam konteks ini, first mile dan last mile bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan penentu utama apakah kereta cepat benar-benar terasa cepat bagi penggunanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)