Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)
Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)

Banyak pengguna Whoosh mengeluhkan bahwa total perjalanan Jakarta–Bandung terasa tidak jauh berbeda dibanding menggunakan travel. Keluhan ini mungkin terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin kereta dengan kecepatan ratusan kilometer per jam masih dianggap belum jauh lebih cepat?

Jawabannya terletak pada satu hal penting yang sering luput dalam diskusi transportasi: pengalaman perjalanan pengguna tidak hanya ditentukan oleh kecepatan kendaraan, tetapi oleh keseluruhan perjalanan dari titik asal hingga tujuan akhir (door-to-door journey).

Kereta Cepat Sangat Cepat, tetapi Hanya di Inti Perjalanan

Secara teknis, perjalanan inti Whoosh memang sangat cepat. Waktu tempuh dari Stasiun Halim menuju Stasiun Padalarang hanya berlangsung dalam hitungan puluhan menit.

Namun bagi banyak pengguna, perjalanan sesungguhnya dimulai jauh sebelum naik kereta. Pengguna dari Tangerang, Depok, Jakarta Utara, atau Jakarta Barat sering kali harus menghadapi kemacetan panjang hanya untuk mencapai Stasiun Halim. Dalam kondisi lalu lintas padat, perjalanan menuju stasiun dapat menghabiskan waktu hingga dua jam.

Setelah tiba di stasiun, penumpang juga masih perlu menghadapi proses perpindahan moda, pemeriksaan, antrean, dan waktu tunggu keberangkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan tinggi di atas rel tidak otomatis membuat perjalanan menjadi efisien jika akses menuju stasiun masih menyita banyak waktu dan energi.

Tantangan akses menuju stasiun juga terlihat dari persoalan ruang parkir dan sirkulasi kendaraan di kawasan Stasiun Halim. Sebagian pengguna mengeluhkan berkurangnya kapasitas parkir reguler karena adanya alokasi area bagi taksi maupun layanan parkir dengan tarif premium (Rp 100.000). Selain itu, sistem drop-off berbayar juga kerap dipersepsikan menambah beban perjalanan, terutama bagi pengguna yang hanya mengantar penumpang dalam waktu singkat.

Konsep first mile sendiri merujuk pada perjalanan awal pengguna dari titik asal menuju simpul transportasi utama. Menurut Shaheen dan Chan (2016), keberhasilan transportasi publik sangat dipengaruhi oleh kualitas akses menuju moda utama, terutama dari sisi konektivitas dan kemudahan perpindahan moda.

Area parkir premium di Stasiun Halim. (Sumber: Thread/imankuntu)
Area parkir premium di Stasiun Halim. (Sumber: Thread/imankuntu)

Tantangan Setelah Tiba di Bandung

Persoalan tidak berhenti setelah kereta tiba. Penumpang yang turun di Stasiun Padalarang atau Stasiun Tegalluar masih harus melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Bandung atau kawasan tujuan lainnya.

Sebagian penumpang perlu menggunakan kereta feeder, shuttle, taksi, atau kendaraan pribadi. Pada jam sibuk, perjalanan lanjutan ini juga tidak lepas dari kemacetan. Akibatnya, keuntungan waktu yang dimiliki kereta cepat menjadi berkurang ketika dihitung secara keseluruhan.

Kondisi di kawasan Stasiun Padalarang juga menunjukkan bahwa aspek pendukung perjalanan masih menjadi tantangan. Kapasitas parkir yang sangat terbatas membuat area stasiun terasa padat oleh parkir kendaraan sewa dan kendaraan penjemput rombongan VIP. Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transportasi publik modern tidak hanya bergantung pada layanan utama, tetapi juga pada pengelolaan ruang akses dan sirkulasi di kawasan stasiun.

Menurut Geurs dan van Wee (2004), aksesibilitas transportasi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan perjalanan, tetapi juga oleh kemudahan mencapai lokasi tujuan secara menyeluruh. Dalam konteks ini, kualitas last mile menjadi sama pentingnya dengan kecepatan perjalanan utama.

Stasiun Whoosh Padalarang: stasiun elit, parkiran sulit. (Sumber: Tiktok/harisubakti4382)
Stasiun Whoosh Padalarang: stasiun elit, parkiran sulit. (Sumber: Tiktok/harisubakti4382)

Mengapa Travel Masih Dianggap Kompetitif?

Di sisi lain, travel masih dianggap kompetitif karena menawarkan perjalanan langsung dari titik asal ke titik tujuan. Meskipun lebih lambat di jalan tol, moda ini meminimalkan perpindahan moda dan terasa lebih praktis bagi sebagian pengguna.

Dalam banyak kasus, kenyamanan, kesederhanaan, dan kepastian perjalanan justru lebih menentukan dibanding kecepatan maksimum kendaraan. Pengguna tidak perlu memikirkan akses menuju stasiun maupun perjalanan lanjutan setelah tiba.

Hal ini sejalan dengan konsep generalized travel cost, yaitu bahwa pengguna transportasi mempertimbangkan keseluruhan beban perjalanan, termasuk waktu tunggu, perpindahan moda, kenyamanan, dan ketidakpastian perjalanan, bukan hanya waktu tempuh kendaraan semata.

Integrasi Menjadi Pekerjaan Rumah Utama

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia transportasi. Keberhasilan sistem kereta cepat di Jepang, Tiongkok, maupun Eropa tidak hanya ditentukan oleh rel berkecepatan tinggi, tetapi juga oleh integrasi transportasi perkotaan yang kuat.

Stasiun kereta cepat di negara-negara tersebut umumnya terhubung langsung dengan metro, kereta komuter, bus kota, jalur pejalan kaki, hingga kawasan berbasis transit-oriented development (TOD). Perjalanan antarmoda dibuat sesingkat dan semudah mungkin.

Menurut Cervero (1998), integrasi tata guna lahan dan transportasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas sistem transportasi publik massal. Karena itu, tantangan utama transportasi modern bukan hanya membangun infrastruktur besar, tetapi juga memastikan konektivitas antarmoda berjalan dengan baik.

Penguatan feeder menuju stasiun, integrasi tarif antarmoda, sinkronisasi jadwal perjalanan, penyediaan park and ride, hingga peningkatan akses pejalan kaki dan pesepeda dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan pengalaman perjalanan pengguna. Dengan demikian, kecepatan tinggi kereta cepat dapat benar-benar diterjemahkan menjadi efisiensi perjalanan sehari-hari.

Pada akhirnya, masa depan transportasi bukan hanya soal seberapa cepat kendaraan dapat bergerak, melainkan seberapa mudah masyarakat mencapai tujuan akhirnya. Dalam konteks ini, first mile dan last mile bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan penentu utama apakah kereta cepat benar-benar terasa cepat bagi penggunanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jun 2026, 20:33

Menggerakkan Idealisme Mahasiswa Berprestasi

Apa yang membuat mahasiswa semangat menjalani hari-hari dan mengubah dirinya?

Ilustrasi gerakan mahasiswa berprestasi. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 19:38

Cek Kesehatan Gratis dan Investasi SDM Indonesia Emas 2045

Menganalisa manfaat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Kesehatan Gratis (Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis | Foto: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 18:39

Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks .

Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 17:25

Panduan Berkunjung ke Pantai Sawarna: Delapan Pantai, Gua, dan Lanskap Pesisir di Selatan Banten

Jelajahi Pantai Sawarna di Lebak, Banten, dengan deretan pantai indah, gua karst, spot surfing, dan panorama Samudra Hindia yang memukau.

Sunset Pantai Tanjung Layar Sawarna. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:30

Perempuan dan Polarisasi Modern

Perubahan zaman modern terkadang masih diselimuti oleh isu-isu kaum marjinal, terutama kaum perempuan.

Ilustrasi perempuan Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Ruly Nurul Ihsan)
Linimasa 26 Jun 2026, 16:25

Hikayat Pelatih Kuda Renggong, Bisa Berganti Ratusan Kuda Karena Tidak Cocok

Menjadi pelatih kuda renggong tak hanya butuh keahlian, tetapi juga chemistry. Usep telah berganti ratusan kuda demi menemukan pasangan terbaik.

Usep, salah seorang pelatih kuda renggong di Ujungberung, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:03

Publikasi Hasil Lisensi Klub Berhasil Menjaga Konsistensi Komunikasi pada Dua Platform Digital

Konsistensi komunikasi menjadi kunci kredibilitas sebuah perusahaan. Artikel ini menganalisis konsistensi komunikasi PT I.League pada dua platform digital.

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:24

Mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan salah satu figur Belanda yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia

Karel Albert Rudolf Bosscha. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Jodya Maulana)
Linimasa 26 Jun 2026, 15:18

Hikayat Kampung Pembuat Panci di Bandung, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Kampung Cikalang Kaler di Bandung telah puluhan tahun memproduksi panci. Kini mereka bertahan di tengah perubahan teknologi dapur modern.

Pengrajin di kampung pembuat panci Cileunyi, Kabupaten Bandung, bertahan di tengah perubahan zaman. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:04

Perkembangan Industri Perfilman Indonesia dari Tahun 1950-2026

Menelisik sejarah panjang perfilman di Indonesia dan karya-karya tersohor yang muncul sepanjang delapan dekade.

Judul film Darah dan Doa (1950). Film pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia (Sumber: Wikipedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:33

Eksistensi Arumba sebagai Musik Tradisional Sunda di Tengah Modernisasi

Arumba merupakan alat musik tradisional dari Sunda yang masih eksis hingga saat ini meskipun berada di tengah arus modernisasi.

Kegiatan siswa memainkan Arumba sebagai bentuj pelestarian seni musik tradisional Sunda di lingkungan sekolah (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:13

Kuy Ah ... ke Sekolah Swasta

Melihat sekolah swasta yang sekarang semakin banyak melahirkan pelajar berprestasi hebat.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 13:09

Perbankan di Indonesia Integrasikan UMKM dalam Membangun Citra Positif

Publikasi BSI terkait integrasi UMKM halal menarik dianalisis: website menggunakan kata kunci formal, sedangkan Instagram menggunakan bahasa yang lebih sederhana bagi audiens.

Kedai-kedai UMKM di Pasar Cihapit, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 12:50

Dari Patriarki ke Femisida: Membaca Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Warisan Struktur Historis

Bagaimana sistem kuasa yang diwariskan lintas generasi membentuk, menormalkan, dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan hingga titik terparahnya.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 11:25

Panduan Berkunjung ke Lembang Park and Zoo: Kebun Binatang Bergaya Eropa di Dataran Tinggi Bandung

Lembang Park and Zoo menawarkan kebun binatang modern, wahana bermain, safari mini, hingga cat café unik di kawasan sejuk Lembang.

Lembang Park and Zoo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:42

HANI dan Tren Modus Operandi Kasus Narkotika

Bandung Raya kian rawan narkoba dengan adanya industri rumahan tembakau sintetis.

Polda Jabar musnahkan narkotika. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan))
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:16

Peringatan Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

Mata dibutakan, bibir digunting: krisis keamanan berbasis gender yang mengancam perempuan.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 08:20

Memperjuangkan Representasi Anak-Anak Autis Bersama Komunitas Autistik

Peluncuran Boneka Barbie autis pada website dan instagram PT Mattel menunjukkan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada anak-anak penyandang autisme dalam bentuk boneka.

Ilustrasi anak autisme. (Sumber: Pexels | Foto: Mah mud)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 07:56

Makna Sejati Karangan Bunga KDM untuk Jakarta

Provinsi lain perlu belajar dari Jakarta terkait dengan keberhasilan mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM) dan sukses menata sistem pengembangan SDM.

Karangan bunga KDM untuk HUT Jakarta (Sumber: tangkapan layar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 20:12

Kembang Tanpa Dedaunan

Menjaga kondisi hawa atau cuaca di Kota Bandung agar tidak menjadi lebih panas di tahun-tahun berikiutnya sesuai dengan tema hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2026.

The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)