Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)

SEORANG pejabat memarahi bawahannya di ruang publik. Videonya beredar. Lalu, publik ikut menjadi saksi kemarahan itu. 

Peristiwa yang sebelumnya mungkin hanya terjadi di dalam ruang rapat sekarang bisa berlangsung di pinggir jalan, di tengah masyarakat, dan beberapa jam kemudian sudah menjadi bahan perbincangan jutaan orang. Semua bisa dengan mudah terjadi di era digital kiwari.

Video Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menegur Camat Coblong, Ratna Rahayu, dalam sebuah inspeksi mendadak di kawasan Jalan Suci, Bandung, beberapa waktu lalu, berada dalam pola seperti itu, di mana sebuah hubungan kerja antara atasan dan bawahan tiba-tiba berubah menjadi peristiwa publik.

Pertanyaannya adalah: untuk siapa sebenarnya sebuah teguran secara publik itu dilakukan? Untuk memperbaiki pekerjaan? Untuk memberi pesan kepada birokrasi? Untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah sedang bekerja? Atau semuanya sekaligus?

Ketika teguran dilakukan di ruang terbuka dan terekam kamera lalu tersiar ke publik, ia memiliki dua fungsi sekaligus. Fungsi pertama adalah fungsi administratif, yakni atasan memberi koreksi kepada bawahannya. Fungsi kedua adalah fungsi komunikasi,yakni publik melihat bahwa atasan sedang mengawasi bawahannya.

Dulu, seorang kepala daerah bisa turun ke lapangan, menemukan persoalan, memanggil pejabat yang bertanggung jawab. Lalu, persoalan selesai di dalam struktur birokrasi. Sekarang zamannya sudah berbeda. Kamera hampir selalu ada di mana-mana. Dan ketika kamera ada, apapun tindakan yang dilakukan berpotensi bisa langsung menjadi konsumsi publik.

Percakapan nasional

Masyarakat Indonesia sudah menjadi masyarakat yang sangat terkoneksi. Pada awal 2025 terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Angka itu menjelaskan mengapa sebuah kejadian lokal tidak lagi benar-benar lokal. Peristiwa di satu sudut Bandung bisa berubah menjadi percakapan nasional dalam hitungan jam.

Media sosial sendiri tidak dirancang untuk mengukur kualitas pemerintahan. Ia dirancang untuk mempertahankan perhatian manusia. Karena itu, peristiwa yang memiliki konflik, kemarahan, kejutan, tokoh kuat, dan drama personal jauh lebih mudah viral daripada rapat koordinasi yang berlangsung tiga jam dan menghasilkan keputusan administratif yang sangat baik.

Penelitian terhadap jutaan unggahan politik di media sosial bahkan menunjukkan bahwa bahasa yang menyerang kelompok lain merupakan salah satu prediktor kuat keterlibatan pengguna. Dalam sebuah studi terhadap sekitar 2,7 juta unggahan Facebook dan Twitter, unggahan yang menyebut kelompok politik lawan dibagikan jauh lebih sering daripada unggahan yang membicarakan kelompok sendiri.

Artinya sederhana. Kemarahan mempunyai nilai ekonomi dalam ekosistem perhatian. Konflik lebih mudah ditonton daripada prosedur. Pertengkaran lebih mudah dipotong menjadi video 60 detik daripada penjelasan mengenai standar operasional prosedur (SOP). Dan seorang pejabat yang terlihat sedang marah kepada aparat di bawahnya jauh lebih mudah menjadi konten daripada seorang pejabat yang diam-diam memperbaiki sistem pengawasan selama enam bulan.

Pada era media sosial, seorang pemimpin menghadapi dilema yang tidak sederhana. Jika ia selalu bekerja diam-diam, masyarakat mungkin tidak tahu apa yang sedang dikerjakan. Pemerintah bisa sangat sibuk tetapi bisa dianggap terlihat pasif. Sebaliknya, jika setiap tindakan pemerintahan dipentaskan di ruang publik, ada risiko bahwa apa yang mudah dilihat justru dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan pemerintahan.

Padahal, pemerintahan tidak bekerja seperti media sosial. Birokrasi membutuhkan prosedur, pembagian kewenangan, dokumentasi, evaluasi, koordinasi, dan kesinambungan. Banyak pekerjaan pemerintah yang paling penting justru tidak menarik untuk ditonton publik. Perbaikan sistem pengadaan, pembenahan data, peningkatan kompetensi aparatur, pengawasan anggaran, integrasi layanan, sampai perbaikan SOP tidak pernah menghasilkan adegan dramatis.

Masalahnya, kamera dan viralitas menyukai kejadian. Adapun tata kelola negara membutuhkan sistem.

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan. Dalam situasi ketika warga merasa pejabat tidak peduli, melihat seorang pemimpin turun langsung dan meminta pertanggungjawaban bawahannya dapat menghasilkan rasa bahwa negara masih bekerja.

Kepercayaan tinggi

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam survei terbarunya mengenai kepercayaan terhadap institusi publik menempatkan responsivitas, reliabilitas, integritas, keterbukaan, dan fairness sebagai faktor penting yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Di negara-negara OECD, hanya sekitar 40 persen responden yang menyatakan memiliki kepercayaan tinggi atau cukup tinggi kepada pemerintah nasional, sementara 43 persen menyatakan kepercayaan rendah atau tidak ada.

Jadi, publik memang membutuhkan bukti bahwa pemerintah merespons. Tetapi, respons bukan hanya soal terlihat marah. Respons adalah kemampuan menemukan masalah, mengambil keputusan, memperbaiki layanan, dan memastikan masalah yang sama tidak akan pernah berulang. Dalam kaitan inilah, maka kita akhirnya sampai pada soal perbedaan penting antara akuntabilitas dan penghukuman simbolik.

Akuntabilitas memiliki ujung yang jelas, yakni siapa bertanggung jawab, apa kesalahannya, apa standar yang dilanggar, apa perbaikannya, siapa mengawasi, dan apakah hasilnya berubah. Sedangkan penghukuman simbolik berhenti lebih cepat. Ia selesai ketika publik sudah melihat seseorang ditegur, dimarahi, dipermalukan, atau dijadikan contoh.

Seorang camat yang ditegur keras di depan masyarakat bisa saja benar-benar sedang dimintai pertanggungjawaban. Tetapi, jika setelah videonya viral, lantas tidak ada perubahan pada sistem pelayanan, tidak ada evaluasi, tidak ada tindak lanjut, dan masalah yang sama kembali muncul, maka publik hanya memperoleh tontonan tentang akuntabilitas, bukan akuntabilitas itu sendiri.

Bentuk keterbukaan

Teguran secara publik sendiri tidak selalu berarti penghinaan. Ada situasi tertentu ketika transparansi memang diperlukan. Jika seorang pejabat secara terbuka mengabaikan kepentingan masyarakat, menjelaskan kesalahan di depan masyarakat dapat menjadi bentuk keterbukaan. Publik berhak tahu bahwa pemerintah tidak membiarkan pelanggaran berlalu begitu saja.

Karena itu, persoalannya mungkin bukan soal teguran publik atau privat secara hitam-putih. Persoalannya adalah proporsionalitas. Apa kesalahannya? Seberapa besar dampaknya? Apakah teguran terbuka diperlukan? Apakah orang yang ditegur diberi kesempatan menjelaskan? Dan yang paling penting, yakni apakah setelah kamera dimatikan, setelah viralitas berhenti, sistem benar-benar diperbaiki.

Birokrat yang takut dipermalukan mungkin akan menjadi sangat patuh. Tetapi, patuh belum tentu sama dengan berani mengambil keputusan yang benar. Dalam strukut organisasi yang sangat takut terhadap atasan, orang bisa belajar satu keterampilan baru, yaitu bukan bagaimana menyelesaikan masalah, melainkan bagaimana agar tidak terlihat salah. Dan ini berbahaya bagi pemerintahan.

Pasalnya, masalah publik sering kali tidak memiliki jawaban yang sempurna. Petugas lapangan membutuhkan ruang untuk melaporkan masalah, mengakui kesalahan, meminta bantuan, dan mengatakan bahwa sebuah kebijakan tidak bekerja. Jika setiap pengakuan kesalahan berpotensi menjadi tontonan publik, birokrasi bisa terdorong menjadi defensif. Akhirnya, bawahan belajar untuk menyembunyikan masalah sampai masalah itu terlalu besar untuk disembunyikan.

Teguran terbuka bisa saja membuat birokrasi lebih disiplin sekaligus berpotensi membuat birokrasi lebih takut. Ia bisa meningkatkan rasa tanggung jawab sekaligus mengurangi keberanian untuk berbicara. Dan dampaknya sangat tergantung pada budaya organisasi yang dibangun setelahnya.

Ukuran kepemimpinan sendiri tidak seharusnya berhenti pada seberapa keras seorang pejabat menegur bawahannya. Ukurannya adalah apa yang terjadi setelah teguran tersebut. Apakah pelayanan warga membaik? Apakah standar dan prosedurnya diperbaiki? Apakah kejadian serupa berkurang? Apakah masyarakat mendapatkan layanan yang lebih baik?

Kalau jawabannya iya, teguran terbuka memiliki konsekuensi administratif yang nyata. Kalau tidak, ia berisiko menjadi dramaturgi pemerintahan: ada aktor, ada konflik, ada kamera, ada penonton, lalu selesai ketika perhatian publik berpindah ke video viral berikutnya. Agaknya itulah salah satu tantangan terbesar pemimpin di era media sosial sekarang ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.