Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)

Ada alibi pembenaran dari masyarakat, bahwa penyimpangan kondisi sosial kini adalah bagian dari perubahan zaman, dan dengan konteks serupa membenarkan “memang sudah zamannya”. Sikap apatis ini seakan membuka ruang pertunjukan lebih luas yang dianggap hiburan, tetapi di lain sisi kita kehilangan prinsip-prinsip humanistik.

Ada sesuatu yang perlahan berubah dalam cara masyarakat memandang kekerasan. Dahulu, kekerasan merupakan peristiwa yang membuat orang menutup mata, berteriak meminta pertolongan, atau berusaha menyelamatkan korban. Kini, sebuah perkelahian, pengeroyokan, penganiayaan, kecelakaan, bahkan penderitaan manusia dapat berubah menjadi tontonan hanya dalam hitungan detik.

Seseorang mengeluarkan telepon genggam. Kamera diarahkan kepada korban. Video direkam. Kemudian diunggah ke media sosial. Dalam beberapa menit, peristiwa yang semula terjadi di sebuah tempat kecil dapat menjadi konsumsi ribuan bahkan jutaan orang. Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius daripada sekadar pertanyaan apakah seseorang boleh merekam sebuah kejadian.

Apa yang terjadi ketika penderitaan manusia berubah menjadi tontonan? Persoalannya adalah pergeseran batas moral: antara melihat dan mengeksploitasi, antara mendokumentasikan dan mempertontonkan, antara mencari informasi dan menikmati penderitaan.

Kekerasan tidak berhenti ketika peristiwa selesai. Kekerasan memiliki konsekuensi fisik dan psikologis bagi korban. Namun ketika kekerasan direkam dan disebarluaskan, penderitaan tersebut memperoleh kehidupan kedua di ruang digital.

Korban bukan hanya mengalami kekerasan secara langsung, tetapi berpotensi harus menghadapi penyebaran wajah, identitas, suara, tubuh, atau situasi traumatisnya berulang kali. Internet membuat sebuah peristiwa sulit benar-benar selesai karena rekaman dapat disalin, dipotong, diberi komentar, dan disebarkan kembali.

WHO memasukkan kekerasan yang difasilitasi teknologi sebagai salah satu bentuk kekerasan yang berkaitan dengan kekerasan anak dan remaja. Organisasi tersebut juga menekankan bahwa kekerasan daring dan kekerasan luring sering kali saling berhubungan sehingga pencegahannya tidak dapat dipisahkan.

Dengan demikian, video kekerasan bukan sekadar “konten”. Ia adalah representasi dari penderitaan manusia yang memiliki konsekuensi sosial. Ketika algoritma bertemu dengan naluri manusia. Ada persoalan lain yang lebih rumit: media sosial bekerja berdasarkan perhatian.

Konten yang membuat orang berhenti menggulir, penasaran, terkejut, marah, takut, atau ingin berkomentar memiliki kemungkinan mendapatkan interaksi tinggi. Dalam ekosistem digital yang mengejar engagement, konten ekstrem dapat memperoleh ruang yang lebih besar.

American Academy of Pediatrics dalam kebijakan terbarunya mengenai ekosistem digital anak dan remaja mengingatkan bahwa desain digital yang berorientasi pada engagement dapat memperkuat atau mengamplifikasi konten negatif. AAP juga mencatat adanya hubungan antara paparan konten kekerasan dan agresivitas pada anak serta remaja, meskipun penelitian mengenai media dan anak sebagian besar masih bersifat observasional dan tidak berarti bahwa setiap anak yang melihat kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan. Artinya, persoalannya tidak sederhana.

Bukan berarti media sosial otomatis membuat manusia menjadi brutal. Tetapi ketika seseorang terus-menerus berhadapan dengan kekerasan sebagai tontonan, batas psikologis terhadap kekerasan dapat berubah.

Dalam kajian psikologi media dikenal persoalan desensitisasi, yakni berkurangnya respons emosional terhadap stimulus yang sebelumnya menimbulkan reaksi kuat setelah seseorang berulang kali terpapar.

American Academy of Pediatrics telah lama mencatat bahwa paparan kekerasan dalam media berkaitan dengan sejumlah risiko pada anak dan remaja, termasuk perilaku agresif dan desensitisasi terhadap kekerasan. Namun istilah ini harus dipahami secara hati-hati.

Melihat satu video kekerasan tidak serta-merta mengubah karakter seseorang. Yang menjadi perhatian adalah pola: paparan berulang, usia, kondisi psikologis, lingkungan keluarga, kelompok sebaya, jenis konten, serta bagaimana kekerasan tersebut dipresentasikan.

Kekerasan yang ditampilkan sebagai sesuatu yang lucu, heroik, keren, atau mendapatkan penghargaan sosial dapat memiliki makna yang berbeda dengan dokumentasi jurnalistik yang bertujuan menunjukkan fakta dan meminta pertanggungjawaban. Di sinilah literasi digital menjadi penting. Anak muda tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan media sosial. Mereka perlu diajarkan bagaimana membaca media sosial.

Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya belajar dari guru, orang tua, buku, dan lingkungan fisik, tetapi juga dari layar. Dan layar menjadi ruang belajar sosial. Di sana mereka melihat bagaimana manusia berbicara, bertengkar, menghina, mencintai, mempermalukan orang lain, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan korban.

WHO sendiri mencatat bahwa kekerasan pada kelompok usia muda dapat membawa konsekuensi psikologis dan sosial jangka panjang, sementara faktor hubungan dengan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, dan kondisi sosial turut berpengaruh terhadap risiko kekerasan.

Karena itu, persoalan karakter generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada media sosial. Keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, budaya masyarakat, dan desain platform semuanya memiliki peran.

Ada kecenderungan masyarakat dewasa mengatakan bahwa generasi sekarang “rusak karena media sosial”. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana.

Anak-anak dan remaja tidak menciptakan ekosistem digital seorang diri. Mereka masuk ke dalam sistem yang dirancang oleh perusahaan teknologi, dipengaruhi algoritma, dibentuk oleh budaya orang dewasa, dan dipenuhi berbagai macam konten.

AAP dalam kebijakan 2026 menekankan bahwa hubungan anak dengan media digital tidak tepat jika dilihat hanya sebagai persoalan “berapa jam menggunakan gawai”. Yang perlu dilihat adalah keseluruhan ekosistem: karakter anak, keluarga, lingkungan sosial, desain platform, jenis konten, dan struktur yang mengelilinginya.

Jika sebuah video memperlihatkan kekerasan terhadap seseorang, pertanyaan pertama bukan “apakah videonya viral?” tetapi “apakah penyebarannya memperbesar penderitaan korban?” Masyarakat perlu membedakan antara dokumentasi yang diperlukan untuk pelaporan atau penegakan hukum dengan penyebaran konten untuk hiburan, sensasi, atau mengejar jumlah penonton.

Literasi digital seharusnya tidak hanya mengajarkan cara mencari informasi atau menghindari penipuan daring. Anak perlu belajar tentang empati digital, privasi, persetujuan, jejak digital, manipulasi visual, algoritma, cyberbullying, kekerasan daring, serta etika ketika berhadapan dengan korban.

WHO merekomendasikan program pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan di sekolah, melibatkan anak muda secara aktif, sekaligus melibatkan orang tua. WHO juga menekankan pentingnya menghubungkan pencegahan kekerasan daring dengan pencegahan kekerasan di dunia nyata.

Tanggung jawab tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada pengguna. Platform memiliki kemampuan teknologi untuk mendeteksi, mengurangi distribusi, memberi peringatan, menyediakan mekanisme pelaporan, dan melindungi anak dari konten berbahaya.

Kita tidak mungkin menghapus seluruh kekerasan dari dunia. Tetapi kita dapat menentukan bagaimana memperlakukannya ketika kekerasan itu muncul di depan mata.

Generasi muda tidak membutuhkan dunia digital yang steril dari semua persoalan. Mereka membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan tanpa kehilangan kemanusiaan. Mereka harus belajar bahwa melihat bukan berarti menikmati, merekam bukan berarti berhak menyebarkan, dan memiliki akses terhadap sebuah peristiwa bukan berarti memiliki hak atas penderitaan orang lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)