Setelah desas desus kalahnya Jepang dalam Perang Dunia II ini kian merebak, maka para anggota PETA di Bandung melakukan rapat apabila terjadi pembubaran PETA maka apa yang harus dilakukan. Sebab sudah jelas bahwa suatu negara tanpa alat pertahanan dan keamanan merupakan hal yang tidak mungkin. Mereka mempersiapkan diri untuk meneruskan perjuangan demi terwujudnya Indonesia yang berpemerintahan sendiri.
Lalu mereka para anggota PETA kota Bandung menghubungi Daidan di Cimahi, Garut, Tasikmalaya dan Pangandaran melalui para bekas perwira PETA (data ini saya peroleh dari sebuah buku yang diterbitkan Pemkot Bandung pada 1981 dan merupakan wawancara lisan bersama bapak Sukanda Bratamanggala pada 15 Februari 1980 di Bandung). Demikian pula ada hubungannya antara pimpinan Seinendan (organisasi barisan pemuda semi–militer yang dibentuk oleh pemerintah Jepang pada 9 Maret 1943) dengan PETA di Bandung yaitu Mashudi, A.H. Nasution dengan PETA di Cimahi di bawah kepemimpinan Aruji Kartawinata, karena hanya merekalah yang berani menangkap siaran radio dari luar negeri dan mereka juga mendengar kabar dari radio luar negeri tersebut bahwa pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki telah dijatuhi bom Atom.
Pada tanggal 18 Juli 1945, angkatan muda Indonesia mengadakan pertemuan di gedung Isola (sekarang rektorat UPI). Di bawah pimpinan Jamal Ali, Hiswara Darmaputra dan Isya Ansyari. Hadir dalam pertemuan itu wakil-wakil angkatan muda dari Cirebon, Pekalongan, Semarang dan dari Jakarta dipimpin oleh Chaerul Saleh (nantinya beliau menjadi wakil Perdana Menteri era kepemimpinan Soekarno) dan Sukarni (tokoh pejuang yang membentuk Comite Van Aksi untuk menyebarkan kemerdekaan Indonesia, karena akses informasi masih berpaku pada radio dan surat kabar). Rapat tersebut menghasilkan gagasan untuk mempercepat penyebaran informasi mengenai kekalahan Jepang dan persiapan kemerdekaan Indonesia.
Para pegawai stasiun radio Bandung pun telah mengetahui tentang berita kekalahan Jepang tersebut, pihak Jepang akan segera menandatangani naskah tanda menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Para pegawai radio pun langsung menyebarkan berita melalui siaran dan dengan menggebu-gebu mereka semua menyampaikan bahwa sudah saatnya kita merdeka dan berdaulat.
Para pekerja surat kabar Tjahaja, PTT, Jawatan Kereta Api, Kelompok bekas PETA, Heiho (pasukan militer pembantu yang dibentuk tentara kekaisaran Jepang di Indonesia pada Perang Dunia II), Barisan Pemuda, Barisan Pembantu Prajurit, telah dibekali apa-apa saja yang harus mereka lakukan apabila Jepang benar-benar telah kalah dari Sekutu. Tidak hanya itu saja, di Bandung bapak Otto Iskandar Dinata pun sibuk mempersiapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dan hal ini menjadi perhatian para pemimpin perjuangan kemerdekaan lainnya. Mobilisasi masyarakat di kota Bandung terlihat sangat sibuk dengan pergerakan demi pergerakan, namun harus tetap kondusif, seperti pasar dan pusat ekonomi yang tetap berjalan di tengah perpindahan kekuasaan, keadaan Bandung memang sedikit mencekam, para warga membuat palang-palang di jalan raya dan memeriksa setiap kendaraan yang keluar masuk gedung–gedung penting di Bandung, dan mereka semua selalu berjaga di setiap gardu di penjuru kota Bandung, semua warga bahu membahu untuk menciptakan situasi kota yang tetap kondusif.
Setelah itu para pemuda dan warga pun menyiapkan rencana untuk pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang terhadap seluruh Jawatan-Jawatan yang ada di Kota Bandung. Di setiap Jawatan-Jawatan itu para pimpinan dan pegawai pribumi merasakan bahwa hawa mulai berbeda di kantor-kantor mereka.
Pengambilalihan itu pun akhirnya terlaksana dengan cara damai karena pihak Jepang ternyata sangatlah kooperatif di lapangan. Namun, ada satu dua kejadian yang harus menggunakan kekerasan terutama ketika pengambilalihan aset-aset militer. Jawatan Radio Bandung, tiga hari sebelum menerima berita tentang proklamasi, mereka semua para pegawainya telah mengambil alih kekuasaan atas jawatan tersebut, tanpa adanya perlawanan dari pihak pengurus radio lama (pengurus pegawai orang Jepang).
Di Daidan Cimahi pada 14 Agustus 1945, diadakan pertemuan untuk menerima pengumuman bahwa akan mendapat tambahan senjata berat, karena itu senjata lama harus dikumpulkan. Lalu pada 16 Agustus 1945 diadakan pertemuan juga di Daidan Cimahi untuk membahas pembubaran PETA kota Bandung dan sekitarnya, walau kompi Daidan Sukajadi, Bandung sebagian masih berada di Pameungpeuk.
Tak lama para anggota Daidan Sukajadi, kota Bandung kembali dari Pameungpeuk, mereka sekitar 200 orang dengan senjata lengkap serta pakaian seragam coklat, lalu mereka melakukan pengambilalihan jawatan-jawatan dan kantor-kantor vital di Bandung seperti kantor Keresidenan, kantor Kotapradja, Kabupaten Bandung, Jawatan Kereta Api, Kantor Pos, telepon dan telegraf dan instansi lainnya.

Di markas polisi Tegalega, para polisi melakukan perampasan senjata dari para prajurit Jepang, dan lagi-lagi mereka pihak Jepang tidak melakukan perlawanan sama sekali. Pasukan Suhari memimpin perampasan senjata di Gudang Senjata ACW (Pindad, sekarang) dan pasukan Sumarsono merampas senjata di gudang senjata Jepang di Dayeuhkolot, lalu para pemuda dari Andir pun melakukan perampasan senjata kepada pasukan Jepang yang ada di Lapangan terbang Andir.
Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati, agar tidak terjadi kaos dan hal-hal yang merugikan warga masyarakat Bandung. Kita sebagai warga Bandung kiwari, seharusnya bangga dan mengisi kemerdekaan dengan semangat yang sama, memegang teguh kejujuran dan nilai luhur agar wujud rasa syukur ini tidak hanya tertuang dalam seremonial tahunan saja menjelang 17-an, namun harus selamanya melekat pada diri dan hati sanubari kita. (*)