Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

5 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)

*Ditulis oleh Diah Fatma Sjoraida

Setiap kali musim pemilu tiba, perhatian publik hampir selalu tertuju pada satu pertanyaan: siapa yang menang? Partai mana yang meraih suara terbanyak? Siapa yang akhirnya duduk di kursi kekuasaan? Pertanyaan itu wajar, tetapi ia hanya menangkap permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna. Dan sebelum warga mempercayai seorang pemimpin, ada hubungan yang dibangun, dinegosiasikan, bahkan kadang diwariskan lewat budaya. 

Pertanyaan yang menurut saya lebih penting bukan sekadar “siapa yang berkuasa”, melainkan: bagaimana komunikasi membuat seseorang, kelompok, atau institusi politik dianggap layak dipercaya?

Pertanyaan itulah yang menuntun sejumlah penelitian saya belakangan ini tentang partai politik, perempuan dalam politik, dan masyarakat adat Sunda di Jawa Barat. Ketiganya bermuara pada satu benang merah: kepercayaan.

Kampanye yang Ramai, Kepercayaan yang Sunyi

Riset pertama menelusuri strategi komunikasi partai politik pasca-pemilu dan Pilkada 2024 di Jawa Barat. Hasilnya cukup menegaskan tren yang sudah kita duga, politik memang semakin digital. Dari 117 responden yang disurvei, 76,9% mengaku mengakses pesan politik lewat media sosial, dengan Instagram sebagai kanal utama (61,5%), disusul TikTok (14,5%).

Namun yang menarik justru bukan angka, melainkan apa yang terjadi di baliknya. Partai-partai politik di Jawa Barat ternyata tidak sepenuhnya berpindah ke dunia digital. Mereka justru mengembangkan pola komunikasi hibrida, media sosial berjalan beriringan dengan pertemuan komunitas, dialog tatap muka, dan kunjungan langsung ke masyarakat. 

Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca keberhasilan komunikasi politik. Kita terbiasa mengukurnya dari likes, views, atau jumlah pengikut, padahal viral belum tentu dipercaya. Sebuah unggahan bisa dibagikan jutaan kali tanpa mengubah satu pun keyakinan orang, sementara satu percakapan sederhana di sebuah kampung bisa membangun ikatan emosional yang jauh lebih kuat. Semakin digital politik kita, ternyata, semakin berharga pula keaslian hubungan antarmanusia.

Ketika Perempuan Memilih Mendengarkan

Jalur riset kedua membawa saya pada persoalan gender dalam komunikasi politik dengan menyoroti politisi perempuan dari PKS, PDIP, Gerindra, dan PPP di Jawa Barat. Perhatian riset dialihkan dari sekadar jumlah perempuan di kursi politik menuju cara mereka berkomunikasi, ditemukan sesuatu yang menarik.

Politisi perempuan yang diteliti cenderung membangun komunikasi dua arah yang intim, terbuka, dan kolaboratif. Mereka mendekati warga bukan semata sebagai target suara, melainkan sebagai kelompok sosial yang persoalannya perlu didengar lewat silaturahmi, forum warga, pengajian, komunitas olahraga, hingga pertemuan informal. Media sosial tetap dipakai, tetapi perannya lebih sebagai penguat dari hubungan yang sudah lebih dulu terbangun secara langsung.

Ada pelajaran penting di sini: kekuatan komunikasi politik tidak selalu terletak pada siapa yang paling keras bersuara, tetapi pada siapa yang paling dalam mendengarkan. Di tengah ruang politik yang makin bising oleh pernyataan cepat dan potongan video, kemampuan membangun dialog yang empatik justru menjadi semakin langka dan berharga. Demokrasi butuh suara, tetapi ia juga butuh kesediaan untuk mendengar suara yang lain.

Petugas membawa bilik suara untuk pemilu 2024 di gudang logistik pemilu Kecamatan Sumur Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung pada Kamis, 25 Januari 2024.
Petugas membawa bilik suara untuk pemilu 2024 di gudang logistik pemilu Kecamatan Sumur Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung pada Kamis, 25 Januari 2024.

Ketika Demokrasi Berbicara lewat Siloka

Jalur riset ketiga menuntun saya pada sesuatu yang lebih mendasar: komunikasi simbolik di komunitas adat Sunda, di Cigugur, Talaga, Cigumentong, Ciptagelar, Pulo, Cireundeu, dan Dukuh. Di sini, model komunikasi politik yang biasa kita pakai, yakni partai sebagai pengirim pesan dan masyarakat sebagai pemilih, ternyata tidak sepenuhnya berlaku.

Di komunitas-komunitas ini, tokoh adat menjadi mediator penting antara masyarakat, kandidat politik, dan pemerintah. Tetapi pilihan politik tidak selalu disampaikan lewat instruksi terbuka. Pesan sering muncul lewat siloka seperti petunjuk tak langsung, ritual, pilihan kata, bahkan sikap diam seorang pemimpin adat. 

Masyarakat memahaminya karena mereka berbagi sistem makna dan pengalaman budaya yang sama. Kekuasaan, dalam konteks ini, tidak selalu bekerja lewat perintah, melainkan lewat legitimasi moral yang dipercaya masyarakat.

Yang menarik, masyarakat adat tidak menutup diri dari teknologi. WhatsApp dan media sosial hadir, digunakan untuk koordinasi dan bertukar informasi. Tetapi teknologi tidak menggantikan tradisi, mereka tetap hidup berdampingan. Forum seperti Panggih Lemah Cai atau Tawasulan tetap menjadi ruang komunikasi utama, sementara WhatsApp memperkuat keterhubungan di antaranya. Modernisasi, tidak selalu berarti penggantian yang lama oleh yang baru, ia bisa berarti keduanya hidup bersama dalam satu sistem yang baru.

Tiga Lapisan Kepercayaan

Saat ketiga temuan ini ditelaah, saya melihat komunikasi politik di Jawa Barat bekerja lewat tiga lapisan legitimasi yang saling menopang. Pertama, legitimasi institusional: struktur, kader, dan platform yang disediakan partai politik. Kedua, legitimasi relasional: kepercayaan yang tumbuh karena politisi hadir, mendengar, dan membangun kedekatan. Ketiga, legitimasi simbolik dan kultural: kepercayaan yang lahir karena pesan dibawa lewat tokoh, nilai, dan simbol yang bermakna bagi komunitasnya.

Ketiga lapisan ini bertemu dengan dunia digital dan membentuk ekosistem komunikasi politik yang hibrida dan berakar pada budaya. Dan dari pertemuan itu, saya meyakini satu hal: masa depan komunikasi politik Indonesia tidak akan cukup hanya mengandalkan kecepatan digital. Ia harus tetap dialogis, relasional, dan kontekstual dengan budaya masyarakatnya.

Dari riset yang saya lakukan, satu pelajaran sederhana didapat: demokrasi tidak hidup hanya di dalam kotak suara. Pekerjaan rumah kita bukan sekadar mencari media apa yang paling efektif untuk berkampanye, melainkan komunikasi seperti apa yang membuat warga merasa dihargai sebagai bagian dari negara ini. 

Pada akhirnya, kepercayaan publik adalah mata uang paling berharga dalam politik kita hari ini. Refleksi ini pula yang ingin saya bawa sebagai catatan kecil pada momentum Dies Natalis ke-66 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran: selamat merayakan usia yang matang! Semoga ilmu komunikasi yang kita rawat bersama terus berakar melayani masyarakat. (*)

*Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)