Bangkong Dikongkorong Kujang: Titik Pertemuan antara Ambisi Politik dan Kebanalan Akademik

2 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Selasa 02 Jun 2026, 09:33 WIB
Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)

Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)

Dalam khazanah Sunda, terdapat ungkapan bangkong dikongkorong kujang—katak yang dikalungi kujang. Sebuah sindiran terhadap sesuatu yang tampak gagah dan agung di permukaan, tetapi kehilangan kesesuaian antara simbol dan hakikatnya. Ungkapan itu terasa relevan untuk membaca polemik yang mengiringi penetapan Hari Lahir Tatar Sunda.

Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada upaya menghormati sejarah atau merawat identitas budaya Sunda. Setiap masyarakat berhak merawat ingatan kolektifnya. Namun masalah muncul ketika sebuah narasi sejarah yang masih menyisakan perdebatan akademik diperlakukan sebagai kebenaran yang nyaris final, lalu dijadikan fondasi bagi proyek politik dan seremonial kebudayaan.

Di titik inilah kita menyaksikan pertemuan antara ambisi politik dan kebanalan akademik.

Politik membutuhkan simbol. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat—ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, krisis pendidikan, menyempitnya ruang partisipasi warga—simbol budaya menawarkan sesuatu yang jauh lebih mudah dikelola: kebanggaan kolektif. Simbol mampu membangkitkan emosi, menciptakan rasa memiliki, dan menghadirkan kesan kedekatan antara penguasa dan masyarakat. Karena itu, kebudayaan sering menjadi panggung yang efektif untuk membangun legitimasi.

Namun ambisi politik semacam itu tidak akan berjalan tanpa dukungan pengetahuan yang memberinya pembenaran. Di sinilah muncul apa yang saya sebut sebagai kebanalan akademik: ketika fungsi kritis ilmu pengetahuan perlahan digantikan oleh hasrat untuk mengukuhkan narasi yang telah ditentukan sebelumnya. Perdebatan yang seharusnya tetap terbuka berubah menjadi kesimpulan administratif. Keraguan metodologis dianggap hambatan. Pertanyaan kritis dipandang sebagai gangguan terhadap proyek yang sedang berjalan.

Akibatnya, sejarah tidak lagi diperlakukan sebagai ruang pencarian kebenaran yang dinamis, melainkan sebagai sumber legitimasi yang harus menyediakan jawaban-jawaban pasti. Akademisi tidak lagi menjaga jarak dari kekuasaan, melainkan ikut menjadi bagian dari mesin yang memproduksi kepastian.

Ironisnya, ketika energi begitu besar dicurahkan untuk memperdebatkan tanggal lahir Tatar Sunda, persoalan kebudayaan yang lebih nyata justru sering luput dari perhatian. Bahasa Sunda terus kehilangan ruang di tengah generasi muda. Komunitas seni dan literasi bertahan dengan sumber daya yang terbatas. Ruang-ruang belajar kebudayaan semakin sedikit. Lahan pertanian yang selama berabad-abad membentuk watak masyarakat Sunda terus terdesak oleh ekspansi pembangunan.

Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah semata-mata kapan Tatar Sunda lahir, melainkan bagaimana kebudayaan Sunda dapat terus hidup.

Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari seremoni. Ia tumbuh dari pengetahuan, praktik hidup, daya kritis, dan kemampuan masyarakat merawat nilai-nilai yang diwarisinya. Kebudayaan yang sehat bukan kebudayaan yang sibuk memproduksi simbol, melainkan kebudayaan yang mampu melahirkan kesadaran.

Karena itu, polemik Hari Lahir Tatar Sunda seharusnya menjadi momentum untuk menguji kembali hubungan antara kekuasaan, akademisi, dan kebudayaan. Ketika simbol lebih penting daripada substansi, ketika proyek lebih penting daripada pencarian kebenaran, dan ketika seremoni lebih meriah daripada kehidupan kebudayaan itu sendiri, maka yang tersisa hanyalah sebuah kujang yang kehilangan makna di leher seekor bangkong. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Jun 2026, 10:27

Jejak Mahasiswa Pendidikan dalam Koordinasi Lintas Budaya di Negeri Jiran

Sebuah catatan perjalanan KKN Internasional di Negeri Jiran.

Makan bersama setelah kegiatan perayaan Hari Kartini. (Foto: Dokumen Penulis)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 09:33

Bangkong Dikongkorong Kujang: Titik Pertemuan antara Ambisi Politik dan Kebanalan Akademik

Ketika sejarah menjadi proyek dan kebudayaan menjadi panggung, ambisi politik dan kebanalan akademik menemukan titik temunya.

Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 08:48

Merawat Cinta Kasih, Menebar Sumber Perdamaian

Momentum tepat untuk menciptakan perdamaian di dunia ini.

Puncak peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. tahun 2026 di altar Candi Borobudur, Minggu (31/5/2026). (Sumber: Humas Kemenag)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)