Bangkong Dikongkorong Kujang: Titik Pertemuan antara Ambisi Politik dan Kebanalan Akademik

2 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)
Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)

Dalam khazanah Sunda, terdapat ungkapan bangkong dikongkorong kujang—katak yang dikalungi kujang. Sebuah sindiran terhadap sesuatu yang tampak gagah dan agung di permukaan, tetapi kehilangan kesesuaian antara simbol dan hakikatnya. Ungkapan itu terasa relevan untuk membaca polemik yang mengiringi penetapan Hari Lahir Tatar Sunda.

Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada upaya menghormati sejarah atau merawat identitas budaya Sunda. Setiap masyarakat berhak merawat ingatan kolektifnya. Namun masalah muncul ketika sebuah narasi sejarah yang masih menyisakan perdebatan akademik diperlakukan sebagai kebenaran yang nyaris final, lalu dijadikan fondasi bagi proyek politik dan seremonial kebudayaan.

Di titik inilah kita menyaksikan pertemuan antara ambisi politik dan kebanalan akademik.

Politik membutuhkan simbol. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat—ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, krisis pendidikan, menyempitnya ruang partisipasi warga—simbol budaya menawarkan sesuatu yang jauh lebih mudah dikelola: kebanggaan kolektif. Simbol mampu membangkitkan emosi, menciptakan rasa memiliki, dan menghadirkan kesan kedekatan antara penguasa dan masyarakat. Karena itu, kebudayaan sering menjadi panggung yang efektif untuk membangun legitimasi.

Namun ambisi politik semacam itu tidak akan berjalan tanpa dukungan pengetahuan yang memberinya pembenaran. Di sinilah muncul apa yang saya sebut sebagai kebanalan akademik: ketika fungsi kritis ilmu pengetahuan perlahan digantikan oleh hasrat untuk mengukuhkan narasi yang telah ditentukan sebelumnya. Perdebatan yang seharusnya tetap terbuka berubah menjadi kesimpulan administratif. Keraguan metodologis dianggap hambatan. Pertanyaan kritis dipandang sebagai gangguan terhadap proyek yang sedang berjalan.

Akibatnya, sejarah tidak lagi diperlakukan sebagai ruang pencarian kebenaran yang dinamis, melainkan sebagai sumber legitimasi yang harus menyediakan jawaban-jawaban pasti. Akademisi tidak lagi menjaga jarak dari kekuasaan, melainkan ikut menjadi bagian dari mesin yang memproduksi kepastian.

Ironisnya, ketika energi begitu besar dicurahkan untuk memperdebatkan tanggal lahir Tatar Sunda, persoalan kebudayaan yang lebih nyata justru sering luput dari perhatian. Bahasa Sunda terus kehilangan ruang di tengah generasi muda. Komunitas seni dan literasi bertahan dengan sumber daya yang terbatas. Ruang-ruang belajar kebudayaan semakin sedikit. Lahan pertanian yang selama berabad-abad membentuk watak masyarakat Sunda terus terdesak oleh ekspansi pembangunan.

Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah semata-mata kapan Tatar Sunda lahir, melainkan bagaimana kebudayaan Sunda dapat terus hidup.

Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari seremoni. Ia tumbuh dari pengetahuan, praktik hidup, daya kritis, dan kemampuan masyarakat merawat nilai-nilai yang diwarisinya. Kebudayaan yang sehat bukan kebudayaan yang sibuk memproduksi simbol, melainkan kebudayaan yang mampu melahirkan kesadaran.

Karena itu, polemik Hari Lahir Tatar Sunda seharusnya menjadi momentum untuk menguji kembali hubungan antara kekuasaan, akademisi, dan kebudayaan. Ketika simbol lebih penting daripada substansi, ketika proyek lebih penting daripada pencarian kebenaran, dan ketika seremoni lebih meriah daripada kehidupan kebudayaan itu sendiri, maka yang tersisa hanyalah sebuah kujang yang kehilangan makna di leher seekor bangkong. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)