Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

3 menit baca
Wahyu
Ditulis oleh Wahyu diterbitkan
Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)

Sebuah tugu berwarna putih yang terletak di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tugu tersebut mengingatkan bahwa sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, telah terjadi pembacaan teks proklamasi di Cirebon.

Peristiwa tersebut terjadi  pada 15 Agustus 1945 di Alun-alun Kejaksan. Pada saat itu, dr. Sudarsono membacakanteks proklamasi di hadapan masyarakat yang berkumpul. Peristiwa ini menunjukkan bahwa semangat untuk menyatakan kemerdekaan sudah muncul di berbagai daerah, termasuk Cirebon, bahkan sebelum proklamasi resmi pada 17 Agustus 1945.

Pembacaan teks proklamasi di Cirebon tersebut dihadiri oleh sekitar 150 orang yang berkumpul di Alun-alun Kejaksan. Mereka datang untuk menyaksikan peristiwa yang dianggap penting bagi perjuangan bangsa Indonesia, sebagian besar orang yang hadir pada saat itu merupakan anggota PNI Baru atau orang-orang yang memiliki hubungan dengan kelompok Sutan Sjahrir.

Pada masa itu, kelompok tersebut dikenal memiliki pandangan bahwa Indonesia harus segera memanfaatkan situasi setelah Jepang menyerah kepada Sekutu untuk menyatakan kemerdekaan. Oleh karena itu, pembacaan proklamasi di Cirebon dapat dilihat sebagai salah satu bentuk keberanian masyarakat dan kelompok pergerakan dalam menyambut berakhirnya kekuasaan Jepang dan munculnya kesempatan untuk membangun Indonesia yang merdeka.

Tokoh yang membacakan teks proklamasi tersebut adalah dr. Sudarsono. Ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki keterlibatan dalam pergerakan politik pada masa menjelang kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, dr. Sudarsono juga dipercaya untuk masuk dalam pemerintahan dan pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Sjahrir II. Ia juga merupakan ayah dari Juwono Sudarsono, yang kemudian dikenal sebagai Menteri Pertahanan Indonesia.

Dengan demikian, nama Sudarsono tidak hanya berkaitan dengan peristiwa pembacaan proklamasi di Cirebon, tetapi juga memiliki hubungan dengan perkembangan pemerintahan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Tugu Proklamasi tercatat mulai dibangun pada 17 Agustus 1946 sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Peletakan batu pertama tugu tersebut dilakukan oleh Presiden Soekarno dengan dibantu oleh para pejuang daerah Cirebon yang ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan. Keberadaan tugu ini menjadi salah satu pengingat bahwa masyarakat Cirebon juga memiliki sejarah dan peran dalam perjalanan awal kemerdekaan Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, Tugu Proklamasi tidak hanya menjadi sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sejarah Kota Cirebon yang perlu dijaga keberadaannya. Saat ini, tugu tersebut dikelola dan dirawat oleh Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Lingkungan Hidup. Perawatan tersebut dilakukan agar kondisi tugu tetap terjaga dan nilai sejarah yang ada di dalamnya dapat terus dikenang oleh masyarakat, terutama oleh generasi muda.

Meskipun di Cirebon pernah terjadi peristiwa pembacaan proklamasi pada 15 Agustus 1945, peristiwa tersebut tidak menjadi proklamasi kemerdekaan yang diakui secara resmi oleh negara. Proklamasi yang secara resmi menjadi dasar berdirinya Negara Indonesia adalah pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta. Peristiwa di Cirebon pada 15 Agustus 1945 tetap memiliki nilai sejarah karena menunjukkan adanya semangat perjuangan dan keinginan masyarakat untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, peristiwa tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari rangkaian perjuangan menuju kemerdekaan, sedangkan Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi peristiwa utama yang menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)