Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

8 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Yang sekarang berubah adalah posisi mesin dalam keseluruhan proses komunikasi. Mesin tidak lagi saukur alat pengantar pesan seperti kertas, mikrofon atau layar televisi.

  • Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa model AI terdepan mengalami kenaikan besar pada berbagai benchmark sepanjang tahun 2025.

  • Mahasiswa jurusan jurnalistik, misalnya, perlu tahu cara menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi juga harus mampu memeriksa output AI terhadap sumber primer.

PERSIS tanggal 18 September tahun ini, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) -- yang baheula bernama Fakultas Djurnalistik dan Publisistik (FDP) -- genap memasuki usia enam puluh enam tahun. Capaian usia tersebut datang ketika objek yang selama ini dipelajarinya telah berubah sangat cepat. 

Betapa tidak. Dulu, komunikasi terutama mmbincang tentang manusia yang berbicara kepada manusia. Kemudian, manusia berbicara melalui media kepada manusia lain. Nah, kiwari mulai terbentuk pola nan baru, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, dan mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Yang sekarang berubah adalah posisi mesin dalam keseluruhan proses komunikasi. Mesin tidak lagi saukur alat pengantar pesan seperti kertas, mikrofon atau layar televisi. Dengan kehadiran teknologi akal imitasi (AI), sistem AI dapat membantu menyusun pesan, menerjemahkan, merangkum, membuat gambar dan video, menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi bahkan melakukan serangkaian tugas secara relatif mandiri. 

Karena itu, pertanyaan lama ilmu komunikasi -- siapa komunikatornya, apa pesannya, siapa khalayaknya, melalui saluran apa -- mulai membutuhkan tambahan satu pertanyaan sekarang ini, yaitu seberapa besar mesin ikut menentukan isi dan arah komunikasi?

Kita tentu bisa melihat pergeseran itu dari kehidupan sehari-hari kita. Contohnya, seseorang bertanya kepada chatbot tentang gejala penyakit. Contoh lain, orang meminta AI menyusun surat lamaran pekerjaan. Lalu, sebuah perusahaan menggunakan chatbot untuk melayani pelanggan. Platform digital menggunakan sistem rekomendasi untuk menentukan konten yang muncul di layar pengguna. 

Dalam semua contoh-contoh tersebut, manusia tidak hanya berkomunikasi dengan manusia melalui teknologi. Manusia berkomunikasi pula dengan sistem yang juga memproses dan menghasilkan bahasa. Dan kemampuan mesin pun meningkat dengan cepat. 

Tingkat performa manusia

Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa model AI terdepan mengalami kenaikan besar pada berbagai benchmark sepanjang tahun 2025. Pada sejumlah tugas yang sebelumnya digunakan untuk mengukur kemampuan manusia, model AI kini telah mencapai atau melampaui tingkat performa manusia. 

Namun, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa kemampuan AI tidak merata. Pada beberapa tugas kompleks, terutama yang membutuhkan penggunaan komputer secara otonom dan penalaran tertentu, masih terdapat keterbatasan. Jadi persoalannya bukan apakah mesin sudah “pinter” atau belum. Persoalannya adalah: pada pekerjaan apa mesin dapat diandalkan, pada bagian mana ia masih harus diawasi, dan bagaimana manusia menilai perbedaannya.

Maka, ilmu komunikasi pun mendapat persoalan baru. Selama ini, komunikator biasanya diasumsikan mempunyai maksud. Wartawan memilih kata, misalnya, karena memiliki pertimbangan tertentu. Politisi menyusun pidato dengan tujuan tertentu. Humas membuat siaran pers dengan kepentingan tertentu. 

Lha, sekarang, bagaimana dengan mesin? Coba saja, AI dapat menghasilkan kalimat yang sangat meyakinkan. Padahal ia tidak memiliki pengalaman hidup, tidak memiliki kepentingan pribadi. Juga tidak memiliki kesadaran seperti manusia. Toh ia dapat menghasilkan pesan tanpa menjadi manusia yang memiliki pengalaman seperti penghasil pesan manusia.

Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)
Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)

Perbedaan itu penting lantaran manusia ternyata cukup mudah memperlakukan teknologi yang berbicara seperti manusia sebagai aktor sosial. Hal ini sudah lama dibahas dalam teori Computers Are Social Actors atau CASA. 

Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa teori lama tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja pada semua teknologi. Studi replikasi yang terbit di Scientific Reports pada tahun 2023 silam menemukan bahwa orang tidak lagi secara otomatis memperlakukan komputer desktop seperti manusia, sehingga konteks teknologi dan pengalaman pengguna ternyata ikut menentukan respons sosial terhadap mesin.

Pada AI generatif, persoalannya menjadi lebih menarik karena mesin tidak sekadar menampilkan menu atau memberikan tombol pilihan. Ia menjawab dengan bahasa yang terasa personal. Contohnya, ia bisa berkata “saya memahami” atau “mari kita coba” -- persis seperti manusia. 

Bagi pengguna, percakapan itu terasa seperti interaksi personal. Penelitian terhadap 462 pengguna chatbot layanan pelanggan pada 2024 menemukan bahwa persepsi terhadap sifat manusiawi, empati dan kualitas interaksi berkaitan dengan keberlanjutan kepercayaan pengguna bahkan setelah chatbot melakukan kegagalan layanan.

Artinya, cara mesin berbicara dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan manusia. Ini sudah bukan sekadar persoalan ilmu komputer. Ia menjadi persoalan komunikasi. Mengapa sebuah jawaban terdengar meyakinkan? Mengapa pengguna percaya kepada satu chatbot tetapi curiga kepada chatbot lain? Apakah bahasa yang terlalu manusiawi lantas membuat orang lupa bahwa mereka sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan mesin? Dan apakah mesin harus selalu mengingatkan bahwa ia sejatinya adalah mesin?

Pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga ikut menyaring informasi. Selama puluhan tahun, kita mengenal editor sebagai gatekeeper, yakni seseorang atau lembaga yang memilih informasi mana yang layak diterbitkan. 

Sekarang algoritma juga berperan sebagai gatekeeper. Tidak percaya? Faktanya, ia memilih berita yang muncul di linimasa, video yang direkomendasikan, iklan yang ditampilkan dan bahkan urutan informasi yang kita lihat lewat akun media sosial kita. Ketika AI semakin terintegrasi dengan mesin pencari dan platform informasi, proses penyaringan itu menjadi semakin sulit dilihat oleh pengguna.

Maka, pola komunikasi yang sederhana—manusia → media → manusia—berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit, yakni manusia → AI → manusia, atau manusia → AI → platform → manusia. 

Dalam sistem yang menggunakan beberapa agen AI, proses antarmesin juga dapat terjadi sebelum manusia melihat hasil akhirnya. Tidak perlu membayangkan robot berbicara satu sama lain seperti dalam film fiksi ilmiah. Cukup melihat bagaimana perangkat lunak dapat menghasilkan output, mengirimkannya ke sistem lain, memprosesnya kembali, lalu memberikan hasil akhir kepada pengguna.

Yang menarik, manusia sering hanya melihat ujungnya. Kita membaca jawaban, bukan seluruh proses yang menghasilkan jawaban. Kita melihat rekomendasi, bukan seluruh pertimbangan algoritmik di belakangnya. Kita menerima ringkasan, bukan seluruh dokumen yang diringkas. Di sinilah muncul persoalan komunikasi yang sangat mendasar, yakni bagaimana memahami pesan jika sebagian proses pembentuk pesan tidak terlihat?

Perlu diperluas

Dalam komunikasi tradisional, kita masih bisa bertanya, seperti siapa penulisnya, medianya apa, sumbernya siapa? Dalam komunikasi berbasis AI, pertanyaan itu perlu diperluas. Data apa yang menjadi dasar? Sistem mana yang menghasilkan jawaban? Apakah sumber primer diperiksa? Apa yang dihilangkan ketika informasi diringkas? Siapa yang bertanggung jawab jika jawaban itu salah? Dan, yang paling sederhana, apakah pengguna tahu bahwa pesan tersebut dibuat atau dimodifikasi oleh mesin?

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sudah mengingatkan persoalan tersebut dalam panduannya mengenai generative AI untuk pendidikan dan penelitian. Lembaga itu menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perlindungan data, validasi etis dan pedagogis, serta penguatan kapasitas manusia.

Peringatan UNESCO itu masuk di akal karena perkembangan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak lembaga pendidikan untuk membangun aturan penggunaannya.

Karena itu, tantangan Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar memasukkan satu mata kuliah “AI” ke dalam kurikulum. Yang lebih mendasar adalah mengajarkan literasi komunikasi dalam lingkungan yang dihuni manusia dan mesin sekaligus. 

Mahasiswa jurusan jurnalistik, misalnya, perlu tahu cara menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi juga harus mampu memeriksa output AI terhadap sumber primer.  Mahasiswa jurusan hubungan masyarakat perlu memahami bagaimana AI dapat mempercepat produksi pesan, sekaligus bagaimana kesalahan mesin dapat menjadi persoalan reputasi. Adapun mahasiswa jurusan komunikasi digital perlu memahami bukan hanya cara membuat konten, tetapi juga bagaimana algoritma menentukan siapa yang kemungkinan melihat konten tersebut.

Boleh jadi kompetensi-kompetensi lama justru bisa kembali bernilai. Wawancara yang baik, observasi lapangan, kemampuan membaca konteks, verifikasi fakta, memahami budaya, mengenali bias dan mengajukan pertanyaan yang tepat tidak menjadi tidak penting hanya karena AI bisa membuat paragraf ciamik dalam tempo beberapa detik. 

Sebaliknya, ketika produksi teks semakin murah, kemampuan menentukan pertanyaan yang layak diajukan bisa menjadi semakin bernilai pula. Mesin dapat membantu menjawab. Tetapi, manusia tetap harus menentukan ihwal pertanyaan apa yang penting dan mengapa pertanyaan itu penting diajukan.

Fakultas Ilmu Komunikasi juga memiliki alasan akademik untuk tidak menyerahkan kajian ini seluruhnya kepada Fakultas Teknik atau Fakultas Ilmu Komputer. AI memang dibangun dengan basis matematika, statistik dan ilmu komputer. Tetapi, dampaknya berlangsung di wilayah manusia, mulai dari kepercayaan, persuasi, identitas, budaya, opini publik, media, organisasi dan kekuasaan. 

Stanford AI Index 2025 menunjukkan hampir 90 persen model AI penting yang dicatat pada tahun 2024 berasal dari industri, sementara akademia tetap menjadi produsen utama penelitian yang sangat banyak dikutip. Ini menunjukkan bahwa ruang universitas bukan semata-mata berlomba membuat model AI terbesar, tetapi juga memahami, menguji dan menjelaskan dampak teknologi tersebut.

Mungkin karena itu, human-machine communication layak dipandang bukan sebagai mode akademik sementara. Bidang ini membuka pertanyaan yang cukup tua dengan objek yang baru, yakni bagaimana manusia memberi makna kepada sesuatu yang bukan manusia tetapi dapat berbicara seperti manusia, bagaimana kepercayaan terbentuk antara manusia dan agen AI, kapan mesin dianggap sekadar alat dan kapan ia diperlakukan sebagai partner komunikasi, bagaimana perbedaan bahasa, budaya dan tingkat literasi digital memengaruhi hubungan tersebut, serta siapa yang bertanggung jawab ketika komunikasi manusia dengan manusia sudah dimediasi oleh mesin yang ikut dalam mengambil keputusan.

Enam puluh enam tahun Fakultas Ilmu Komunikasi Univeristas Padjadjaran karena itu bukan hanya momentum untuk mengenang apa saja yang telah dipelajari. Ia juga kesempatan untuk bertanya ihwal apakah pertanyaan-pertanyaan lama masih cukup untuk membaca dan memahami dunia yang baru, manakala manusia menjadi semakin penting untuk dipahami karena mesin mulai turut berbicara. 

Tentu saja, Fakultas Ilmu Komunikasi tidak perlu berubah menjadi Fakultas Teknologi Komunikasi. Tetapi, ia perlu memahami teknologi cukup dalam untuk mengetahui kapan mesin sedang membantu komunikasi, kapan ia sedang mengubah komunikasi, dan kapan manusia mulai menyerahkan terlalu banyak keputusan komunikasi kepada mesin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)