Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

8 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)

PERSIS tanggal 18 September tahun ini, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) -- yang baheula bernama Fakultas Djurnalistik dan Publisistik (FDP) -- genap memasuki usia enam puluh enam tahun. Capaian usia tersebut datang ketika objek yang selama ini dipelajarinya telah berubah sangat cepat. 

Betapa tidak. Dulu, komunikasi terutama mmbincang tentang manusia yang berbicara kepada manusia. Kemudian, manusia berbicara melalui media kepada manusia lain. Nah, kiwari mulai terbentuk pola nan baru, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, dan mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Yang sekarang berubah adalah posisi mesin dalam keseluruhan proses komunikasi. Mesin tidak lagi saukur alat pengantar pesan seperti kertas, mikrofon atau layar televisi. Dengan kehadiran teknologi akal imitasi (AI), sistem AI dapat membantu menyusun pesan, menerjemahkan, merangkum, membuat gambar dan video, menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi bahkan melakukan serangkaian tugas secara relatif mandiri. 

Karena itu, pertanyaan lama ilmu komunikasi -- siapa komunikatornya, apa pesannya, siapa khalayaknya, melalui saluran apa -- mulai membutuhkan tambahan satu pertanyaan sekarang ini, yaitu seberapa besar mesin ikut menentukan isi dan arah komunikasi?

Kita tentu bisa melihat pergeseran itu dari kehidupan sehari-hari kita. Contohnya, seseorang bertanya kepada chatbot tentang gejala penyakit. Contoh lain, orang meminta AI menyusun surat lamaran pekerjaan. Lalu, sebuah perusahaan menggunakan chatbot untuk melayani pelanggan. Platform digital menggunakan sistem rekomendasi untuk menentukan konten yang muncul di layar pengguna. 

Dalam semua contoh-contoh tersebut, manusia tidak hanya berkomunikasi dengan manusia melalui teknologi. Manusia berkomunikasi pula dengan sistem yang juga memproses dan menghasilkan bahasa. Dan kemampuan mesin pun meningkat dengan cepat. 

Tingkat performa manusia

Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa model AI terdepan mengalami kenaikan besar pada berbagai benchmark sepanjang tahun 2025. Pada sejumlah tugas yang sebelumnya digunakan untuk mengukur kemampuan manusia, model AI kini telah mencapai atau melampaui tingkat performa manusia. 

Namun, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa kemampuan AI tidak merata. Pada beberapa tugas kompleks, terutama yang membutuhkan penggunaan komputer secara otonom dan penalaran tertentu, masih terdapat keterbatasan. Jadi persoalannya bukan apakah mesin sudah “pinter” atau belum. Persoalannya adalah: pada pekerjaan apa mesin dapat diandalkan, pada bagian mana ia masih harus diawasi, dan bagaimana manusia menilai perbedaannya.

Maka, ilmu komunikasi pun mendapat persoalan baru. Selama ini, komunikator biasanya diasumsikan mempunyai maksud. Wartawan memilih kata, misalnya, karena memiliki pertimbangan tertentu. Politisi menyusun pidato dengan tujuan tertentu. Humas membuat siaran pers dengan kepentingan tertentu. 

Lha, sekarang, bagaimana dengan mesin? Coba saja, AI dapat menghasilkan kalimat yang sangat meyakinkan. Padahal ia tidak memiliki pengalaman hidup, tidak memiliki kepentingan pribadi. Juga tidak memiliki kesadaran seperti manusia. Toh ia dapat menghasilkan pesan tanpa menjadi manusia yang memiliki pengalaman seperti penghasil pesan manusia.

Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)
Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)

Perbedaan itu penting lantaran manusia ternyata cukup mudah memperlakukan teknologi yang berbicara seperti manusia sebagai aktor sosial. Hal ini sudah lama dibahas dalam teori Computers Are Social Actors atau CASA. 

Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa teori lama tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja pada semua teknologi. Studi replikasi yang terbit di Scientific Reports pada tahun 2023 silam menemukan bahwa orang tidak lagi secara otomatis memperlakukan komputer desktop seperti manusia, sehingga konteks teknologi dan pengalaman pengguna ternyata ikut menentukan respons sosial terhadap mesin.

Pada AI generatif, persoalannya menjadi lebih menarik karena mesin tidak sekadar menampilkan menu atau memberikan tombol pilihan. Ia menjawab dengan bahasa yang terasa personal. Contohnya, ia bisa berkata “saya memahami” atau “mari kita coba” -- persis seperti manusia. 

Bagi pengguna, percakapan itu terasa seperti interaksi personal. Penelitian terhadap 462 pengguna chatbot layanan pelanggan pada 2024 menemukan bahwa persepsi terhadap sifat manusiawi, empati dan kualitas interaksi berkaitan dengan keberlanjutan kepercayaan pengguna bahkan setelah chatbot melakukan kegagalan layanan.

Artinya, cara mesin berbicara dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan manusia. Ini sudah bukan sekadar persoalan ilmu komputer. Ia menjadi persoalan komunikasi. Mengapa sebuah jawaban terdengar meyakinkan? Mengapa pengguna percaya kepada satu chatbot tetapi curiga kepada chatbot lain? Apakah bahasa yang terlalu manusiawi lantas membuat orang lupa bahwa mereka sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan mesin? Dan apakah mesin harus selalu mengingatkan bahwa ia sejatinya adalah mesin?

Pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga ikut menyaring informasi. Selama puluhan tahun, kita mengenal editor sebagai gatekeeper, yakni seseorang atau lembaga yang memilih informasi mana yang layak diterbitkan. 

Sekarang algoritma juga berperan sebagai gatekeeper. Tidak percaya? Faktanya, ia memilih berita yang muncul di linimasa, video yang direkomendasikan, iklan yang ditampilkan dan bahkan urutan informasi yang kita lihat lewat akun media sosial kita. Ketika AI semakin terintegrasi dengan mesin pencari dan platform informasi, proses penyaringan itu menjadi semakin sulit dilihat oleh pengguna.

Maka, pola komunikasi yang sederhana—manusia → media → manusia—berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit, yakni manusia → AI → manusia, atau manusia → AI → platform → manusia. 

Dalam sistem yang menggunakan beberapa agen AI, proses antarmesin juga dapat terjadi sebelum manusia melihat hasil akhirnya. Tidak perlu membayangkan robot berbicara satu sama lain seperti dalam film fiksi ilmiah. Cukup melihat bagaimana perangkat lunak dapat menghasilkan output, mengirimkannya ke sistem lain, memprosesnya kembali, lalu memberikan hasil akhir kepada pengguna.

Yang menarik, manusia sering hanya melihat ujungnya. Kita membaca jawaban, bukan seluruh proses yang menghasilkan jawaban. Kita melihat rekomendasi, bukan seluruh pertimbangan algoritmik di belakangnya. Kita menerima ringkasan, bukan seluruh dokumen yang diringkas. Di sinilah muncul persoalan komunikasi yang sangat mendasar, yakni bagaimana memahami pesan jika sebagian proses pembentuk pesan tidak terlihat?

Perlu diperluas

Dalam komunikasi tradisional, kita masih bisa bertanya, seperti siapa penulisnya, medianya apa, sumbernya siapa? Dalam komunikasi berbasis AI, pertanyaan itu perlu diperluas. Data apa yang menjadi dasar? Sistem mana yang menghasilkan jawaban? Apakah sumber primer diperiksa? Apa yang dihilangkan ketika informasi diringkas? Siapa yang bertanggung jawab jika jawaban itu salah? Dan, yang paling sederhana, apakah pengguna tahu bahwa pesan tersebut dibuat atau dimodifikasi oleh mesin?

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sudah mengingatkan persoalan tersebut dalam panduannya mengenai generative AI untuk pendidikan dan penelitian. Lembaga itu menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perlindungan data, validasi etis dan pedagogis, serta penguatan kapasitas manusia.

Peringatan UNESCO itu masuk di akal karena perkembangan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak lembaga pendidikan untuk membangun aturan penggunaannya.

Karena itu, tantangan Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar memasukkan satu mata kuliah “AI” ke dalam kurikulum. Yang lebih mendasar adalah mengajarkan literasi komunikasi dalam lingkungan yang dihuni manusia dan mesin sekaligus. 

Mahasiswa jurusan jurnalistik, misalnya, perlu tahu cara menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi juga harus mampu memeriksa output AI terhadap sumber primer.  Mahasiswa jurusan hubungan masyarakat perlu memahami bagaimana AI dapat mempercepat produksi pesan, sekaligus bagaimana kesalahan mesin dapat menjadi persoalan reputasi. Adapun mahasiswa jurusan komunikasi digital perlu memahami bukan hanya cara membuat konten, tetapi juga bagaimana algoritma menentukan siapa yang kemungkinan melihat konten tersebut.

Boleh jadi kompetensi-kompetensi lama justru bisa kembali bernilai. Wawancara yang baik, observasi lapangan, kemampuan membaca konteks, verifikasi fakta, memahami budaya, mengenali bias dan mengajukan pertanyaan yang tepat tidak menjadi tidak penting hanya karena AI bisa membuat paragraf ciamik dalam tempo beberapa detik. 

Sebaliknya, ketika produksi teks semakin murah, kemampuan menentukan pertanyaan yang layak diajukan bisa menjadi semakin bernilai pula. Mesin dapat membantu menjawab. Tetapi, manusia tetap harus menentukan ihwal pertanyaan apa yang penting dan mengapa pertanyaan itu penting diajukan.

Fakultas Ilmu Komunikasi juga memiliki alasan akademik untuk tidak menyerahkan kajian ini seluruhnya kepada Fakultas Teknik atau Fakultas Ilmu Komputer. AI memang dibangun dengan basis matematika, statistik dan ilmu komputer. Tetapi, dampaknya berlangsung di wilayah manusia, mulai dari kepercayaan, persuasi, identitas, budaya, opini publik, media, organisasi dan kekuasaan. 

Stanford AI Index 2025 menunjukkan hampir 90 persen model AI penting yang dicatat pada tahun 2024 berasal dari industri, sementara akademia tetap menjadi produsen utama penelitian yang sangat banyak dikutip. Ini menunjukkan bahwa ruang universitas bukan semata-mata berlomba membuat model AI terbesar, tetapi juga memahami, menguji dan menjelaskan dampak teknologi tersebut.

Mungkin karena itu, human-machine communication layak dipandang bukan sebagai mode akademik sementara. Bidang ini membuka pertanyaan yang cukup tua dengan objek yang baru, yakni bagaimana manusia memberi makna kepada sesuatu yang bukan manusia tetapi dapat berbicara seperti manusia, bagaimana kepercayaan terbentuk antara manusia dan agen AI, kapan mesin dianggap sekadar alat dan kapan ia diperlakukan sebagai partner komunikasi, bagaimana perbedaan bahasa, budaya dan tingkat literasi digital memengaruhi hubungan tersebut, serta siapa yang bertanggung jawab ketika komunikasi manusia dengan manusia sudah dimediasi oleh mesin yang ikut dalam mengambil keputusan.

Enam puluh enam tahun Fakultas Ilmu Komunikasi Univeristas Padjadjaran karena itu bukan hanya momentum untuk mengenang apa saja yang telah dipelajari. Ia juga kesempatan untuk bertanya ihwal apakah pertanyaan-pertanyaan lama masih cukup untuk membaca dan memahami dunia yang baru, manakala manusia menjadi semakin penting untuk dipahami karena mesin mulai turut berbicara. 

Tentu saja, Fakultas Ilmu Komunikasi tidak perlu berubah menjadi Fakultas Teknologi Komunikasi. Tetapi, ia perlu memahami teknologi cukup dalam untuk mengetahui kapan mesin sedang membantu komunikasi, kapan ia sedang mengubah komunikasi, dan kapan manusia mulai menyerahkan terlalu banyak keputusan komunikasi kepada mesin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)