Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung saban tahun merilis data dan indikator mengenai kependudukan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, perumahan, dan konsumsi. 

Dalam penyusunan data dan indikator itu, penduduk dikelompokkan berdasarkan umur, pekerjaan, pendidikan, pengeluaran, tempat tinggal dan berbagai karakteristik lainnya. Cara itu diperlukan agar jutaan orang bisa dibaca secara sistematis. Tanpa kategorisasi, pemerintah bakal kesulitan dalam mengambil keputusan dan kebijakan.

Namun, masalah muncul ketika kehidupan seseorang berubah lebih cepat ketimbang data dan berbagai indikator yang dimiliki pemerintah. Seorang pekerja informal, misalnya, bisa kehilangan penghasilan dalam beberapa minggu. 

Sebuah keluarga yang sebelumnya relatif aman dapat ujug-ujug jatuh miskin karena PHK, sakit atau kecelakaan. 

Sebaliknya, seseorang yang dulu menerima bantuan mungkin sudah tidak lagi berada dalam kondisi yang sama lantaran kehidupannya telah meningkat tajam. 

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens. Mereka bisa saja memiliki KTP, tercatat dalam administrasi kependudukan dan tinggal di alamat yang jelas. Namun, kebutuhan sosial-ekonominya mungkin tidak terbaca dengan baik oleh sistem. Jadi, mereka ada secara administratif, tetapi tidak selalu terlihat secara kebijakan.

Didapakan pada persoalan

Kota besar macam Bandung dihadapkan pada persoalan mobilitas penduduk yang tinggi, pekerjaan informal besar, hunian beragam, dan perubahan kondisi ekonomi rumah tangga berlangsung cepat. Orang dapat berpindah kontrakan, tinggal di kamar kos, bekerja tanpa hubungan kerja formal atau memperoleh pendapatan yang tidak tetap. 

Dalam statistik, mereka tetap merupakan bagian dari populasi. Tetapi, dalam sistem kebijakan dan pelayanan, perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menentukan apakah mereka terbaca sebagai kelompok yang membutuhkan intervensi atau tidak.

Hal seperti itu menjelaskan mengapa salah sasaran terkait sebuah program kebijakan tidak selalu berarti pemerintah memiliki data yang buruk. Ada dua kemungkinan kesalahan yang bisa saja terjadi.

Pertama, inclusion error: Orang yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria justru masuk sebagai penerima program. Kedua, exclusion error: orang yang membutuhkan justru tidak masuk dalam program. 

Dalam politik kebijakan dan pelayanan publik, yang kedua sering lebih sulit terlihat karena mereka tidak ada dalam daftar.

Pemerintah sebenarnya sudah bergerak ke arah yang lebih terintegrasi melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. 

BPS menjelaskan bahwa DTSEN dibangun dengan mengintegrasikan data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS), pensasaran percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE), dan regristrasi sosial ekonomi (Regsosek). Data terpadu itu lantas diperkaya dengan berbagai data administratif serta disinkronkan dengan data kependudukan. Pada Agustus 2026, BPS menyebut DTSEN telah menjadi rujukan bersama untuk perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program.

Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melakukan pendataan terhadap pemudik yang baru tiba di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melakukan pendataan terhadap pemudik yang baru tiba di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Namun, satu data tidak sama dengan data yang selalu benar. Data yang semakin terintegrasi tetap membutuhkan pemutakhiran. BPS sendiri menyebut pembaruan DTSEN dilakukan melalui berbagai sumber, termasuk data administrasi, sensus dan survei, pembaruan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, pengecekan lapangan serta informasi dari masyarakat. Per 10 Juli 2026, DTSEN versi 3 mencakup 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar pekerjaan menjaga data sosial. Pasalnya, masyarakat bukan benda mati yang cukup didata sekali. Status ekonomi berubah, anggota keluarga bertambah atau berkurang, pekerjaan berganti, orang pindah rumah, kebutuhan kesehatan muncul, dan kemampuan membayar biaya hidup berubah. 

Angka desil

Ada pula persoalan lain yang juga perlu diperhatikan, yakni angka tidak selalu berarti apa yang kita kira. BPS menjelaskan bahwa angka desil dalam DTSEN merupakan posisi relatif kesejahteraan keluarga, bukan ukuran tunggal kemiskinan, pendapatan atau kekayaan.

Bahkan, keluarga dalam desil yang sama belum tentu memiliki pendapatan, pengeluaran atau kondisi sosial ekonomi yang sama. Penentuan angka desil menggunakan sejumlah karakteristik melalui metode Proxy Means Test atau PMT.

Ketika sebuah keluarga berada pada desil tertentu, angka tersebut tidak boleh dipahami sebagai label permanen. Ia adalah posisi relatif berdasarkan informasi yang tersedia pada saat tertentu. Posisi itu dapat berubah ketika kondisi sosial-ekonomi berubah. Karena itu, BPS sendiri menekankan pentingnya pemutakhiran data secara berkelanjutan.

Sekadar ilustrasi, dalam pendidikan, misalnya, pemerintah perlu mengetahui bukan sekadar berapa jumlah anak usia sekolah, tetapi siapa yang berisiko keluar dari sekolah dan mengapa. Dalam penanganan sampah, bukan hanya jumlah penduduk yang penting, melainkan pola permukiman, kepadatan, perilaku, akses layanan dan perubahan aktivitas kawasan. Dalam transportasi, data jumlah penduduk belum cukup untuk mengetahui bagaimana warga benar-benar bergerak setiap hari.

Dengan kata lain, data pembangunan harus mulai bergeser dari sekadar menghitung orang menjadi memahami perubahan kehidupan orang. Ini bukan berarti semua keputusan dan kebijakan pemerintah harus dibuat berdasarkan wawancara langsung satu per satu dengan warga. Statistik tetap penting. Administrasi tetap penting. Teknologi tetap penting. Tetapi, semuanya perlu dilengkapi mekanisme untuk menangkap perubahan yang belum terlihat dalam angka.

Untuk itu, pemerintah kota dan kelurahan pegang perang nan strategis. Bagaimanapun, pemerintah daerah berada paling dekat dengan perubahan kehidupan warga. Mereka dapat menemukan kasus yang belum tertangkap oleh sistem pusat.

Contohnya, keluarga yang baru kehilangan pekerjaan, lansia yang hidup sendiri, warga yang berpindah tempat tinggal, anak yang mulai berhenti sekolah atau lingkungan yang mengalami perubahan kepadatan. Teknologi dapat menghubungkan data, tetapi mata manusia di lapangan tetap diperlukan untuk memeriksa dan memastikan apakah angka masih sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Karena itu, ukuran keberhasilan sistem data Kota Bandung seharusnya bukan hanya berapa banyak data yang berhasil dikumpulkan atau berapa aplikasi yang berhasil diintegrasikan. Persoalan krusialnya yaitu berapa cepat sistem mengetahui ketika kehidupan seorang warga berubah. Dan setelah perubahan itu diketahui, berapa cepat pemerintah dapat mengubah responsnya.

Pembagian sumber daya

Manakala data menjadi dasar pembagian sumber daya, data tidak lagi sekadar urusan teknis birokrasi. Ia menentukan siapa yang terlihat, siapa yang diprioritaskan, dan siapa yang mungkin terlewat. Inilah yang membuat politik data sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. 

Warga mungkin tidak pernah melihat algoritma, basis data atau tabel statistik, tetapi mereka bisa merasakan hasil akhirnya ketika bantuan sosial datang atau justru malah tidak datang, ketika sebuah sekolah mendapat perhatian atau tidak, ketika sampah diangkut atau dibiarkan, dan ketika angkutan umum tersedia atau tidak.

Kota yang semakin digital justru harus semakin manusiawi dalam membaca data warganya. Kenapa? Karena tujuan akhir data bukan membuat pemerintah memiliki daftar warga yang semakin panjang, melainkan memastikan semakin sedikit warga yang tidak terlihat ketika mereka membutuhkan kehadiran negara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)