Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

4 menit baca
Aldita Andiani Rahayu
Ditulis oleh Aldita Andiani Rahayu diterbitkan
Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)

Ada satu stereotip yang melekat kepada Generasi Z: mereka adalah generasi yang pragmatis, mengejar kenyamanan, gaji, fleksibilitas, dan work-life balance. Dalam stereotip itu, menjadi aparatur sipil negara (ASN) dinilai sebagai pilihan rasional untuk mendapatkan pekerjaan yang aman.

Data justru menyajikan cerita yang lebih menarik.

Dalam Policy Paper tentang preferensi karier ASN Generasi Z menunjukkan temuan yang menarik. Dari 4.561 responden, 97,22% menyatakan bahwa mereka menjadi ASN karena ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat dan negara. Artinya, di balik pertimbangan mengenai keamanan kerja dan penghasilan, ternyata masih banyak generasi muda yang memiliki semangat pengabdian yang sangat kuat.

Pada saat yang sama, 43,50% responden merasa budaya kerja ASN terlalu birokratis dan kaku. Angka ini memang belum menunjukkan bahwa mayoritas ASN Gen Z mengalami birokrasi yang kaku. Tetapi hampir empat dari sepuluh orang merasakan hal tersebut. Ini cukup besar untuk menjadi alarm bahwa pengalaman bekerja di birokrasi perlu mendapat perhatian.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik: bagaimana jika semangat pengabdian yang besar justru bertemu dengan cara kerja yang membuat mereka sulit berbuat banyak?

Ketika niat baik bertemu prosedur yang Panjang

Selama ini perdebatan mengenai Gen-Z di birokrasi kerap diarahkan pada tuntutan agar generasi muda “menyesuaikan diri”. Mereka dianggap harus belajar memahami hierarki, prosedur, ritme kerja, dan tradisi lama organisasi pemerintahan.

Tentu saja birokrasi membutuhkan aturan. Pelayanan publik tidak dapat dijalankan hanya berdasarkan spontanitas. Akuntabilitas, kepatuhan, dan kepastian prosedur merupakan fondasi pemerintahan yang tidak boleh ditinggalkan.

Namun, ada persoalan ketika prosedur berubah dari instrumen menjadi tujuan.

Seorang ASN muda mungkin datang dengan gagasan untuk memperbaiki pelayanan, memanfaatkan teknologi, atau menyederhanakan pekerjaan. Namun, jika setiap perubahan harus melewati terlalu banyak tahapan, terlalu banyak persetujuan, atau selalu dijawab dengan “dari dulu memang seperti ini”, semangat tersebut lama-kelamaan bisa kehilangan tenaga.

Bukan karena mereka tidak mau bekerja.

Bisa jadi justru karena mereka ingin bekerja lebih baik, tetapi ruang untuk melakukannya terlalu sempit.

Temuan Policy Paper tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang kemampuan Gen Z. Sebanyak 98,40% responden menyatakan siap mempelajari hal baru dan mengembangkan kompetensi, sementara 97,72% merasa memiliki kemampuan dasar yang memadai untuk menjalankan pekerjaan ASN.

Jadi, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat ASN Gen Z semakin pintar. Tantangannya adalah memastikan organisasi tempat mereka bekerja mampu menggunakan kepintaran tersebut.

Jangan hanya mengubah teknologinya

Selama ini, pembaruan birokrasi sering identik dengan digitalisasi. Formulir kertas dibuat menjadi formulir digital. Surat yang dulu berpindah dari meja ke meja kini dikirim melalui aplikasi.

Tetapi jika prosesnya tetap panjang, hasilnya tidak banyak berubah. Kita hanya memindahkan birokrasi dari kertas ke layar.

Karena itu, reformasi birokrasi perlu menyentuh cara kerja sehari-hari. Proses yang tidak perlu perlu disederhanakan. Data harus benar-benar digunakan untuk mengambil keputusan. Kerja lintas unit perlu dibuat lebih mudah. Teknologi harus membantu pekerjaan, bukan menambah pekerjaan. Pegawai juga perlu diberi ruang untuk belajar, mencoba, dan memperbaiki cara kerja.

Ini bukan berarti birokrasi harus menjadi bebas aturan.

Justru sebaliknya, aturan tetap penting, tetapi aturan harus membantu orang mencapai hasil, bukan menghalangi hasil tersebut.

Kalau ingin Gen Z bertahan, berikan ruang untuk tumbuh

Persoalan ini semakin penting karena fase awal karier merupakan masa yang menentukan. Data BKN yang dikutip dalam Policy Paper menunjukkan bahwa pada semester I 2026 terdapat 2.722 ASN yang mengundurkan diri, dan 58% di antaranya memiliki masa kerja maksimal lima tahun. Angka tersebut memang tidak dapat langsung dianggap sebagai pengunduran diri ASN Gen Z. Namun, data itu menunjukkan bahwa tahun-tahun awal menjadi ASN merupakan periode penting dalam perjalanan karier.

Angka tersebut memang tidak dapat serta-merta dibaca sebagai fenomena khusus Gen-Z. Namun, ia memberikan pesan kebijakan yang jelas: tahun-tahun awal karier adalah masa kritis untuk membentuk keterikatan pegawai dengan organisasi.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya bertanya, “Bagaimana kita merekrut anak-anak muda terbaik?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah mereka masuk, apakah kita memberikan alasan bagi mereka untuk tetap berkembang di sini?”

Pengembangan kompetensi juga tidak seharusnya berhenti pada pelatihan dan sertifikat. Kompetensi harus berlanjut menjadi pengalaman nyata: belajar, mendapat penugasan, mencoba menerapkan kemampuan, memperoleh umpan balik, lalu melihat adanya peluang untuk berkembang dalam karier.

Dengan cara itu, ASN muda tidak hanya menjadi pegawai yang mengikuti pekerjaan yang sudah ada, tetapi menjadi talenta yang terus berkembang.

Birokrasi perlu belajar beradaptasi

Policy Paper tersebut menawarkan gagasan yang lebih luas melalui integrasi ASN Gen Z ke dalam Mobilitas Talenta Nasional. Mobilitas dalam konteks ini bukan sekadar memindahkan pegawai dari satu unit ke unit lain. Mobilitas dapat menjadi cara untuk memberikan pengalaman, penugasan, pembelajaran, job enrichment, proyek strategis, hingga kesempatan bekerja lintas unit atau instansi.

Dengan begitu, kemampuan dan minat ASN dapat dipertemukan dengan kebutuhan organisasi.

Pemerintah bahkan didorong untuk membangun talent pool dan talent marketplace internal, sehingga penempatan pegawai tidak semata-mata berdasarkan posisi yang tersedia, tetapi juga mempertimbangkan kompetensi, potensi, kinerja, dan aspirasi karier.

Gagasannya sederhana: jangan hanya mencari orang untuk mengisi kursi. Cari ruang yang tepat agar orang bisa memberikan kontribusi terbaiknya.

Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat Gen Z sebagai generasi yang “tidak tahan birokrasi”. Bisa jadi yang mereka persoalkan bukan birokrasi itu sendiri, melainkan birokrasi yang sulit memberi ruang untuk berkembang.

Birokrasi masa depan tidak membutuhkan ASN Gen-Z yang kehilangan idealisme agar cocok dengan sistem lama. Birokrasi justru membutuhkan sistem baru yang cukup adaptif untuk mengubah idealisme mereka menjadi kinerja dan pelayanan publik.

Karena pengabdian yang baik bukan hanya membutuhkan orang-orang yang mau bekerja untuk negara. Ia juga membutuhkan birokrasi yang tidak menghalangi mereka untuk melakukannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aldita Andiani Rahayu
CPNS di Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)