Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

7 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Jawa Barat memiliki kekayaan alam yang lsangat uar biasa, dari pegunungan hijau hingga hutan tropis yang lebat. Namun, tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan terus mengancam kelestariannya. Kehadiran kawasan konservasi baru, baik taman nasional maupun taman hutan raya (tahura), menjadi benteng pertahanan terakhir untuk melindungi keanekaragaman hayati yang tersisa di wilayah ini.

Jika ada penambahan taman baru yang diwujudkan, dampaknya tentu sangat besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai rumah bagi flora dan fauna langka. Lebih dari itu, area hijau tersebut bisa menjadi sumber resapan air serta pusat ekowisata yang mampu mendongkrak ekonomi warga lokal secara berkelanjutan.

Namun, proses mewujudkan kawasan konservasi baru bukanlah hal yang mudah. Tantangan seperti konflik lahan, pendanaan dan komitmen pengawasan sering kali menghadang di tengah jalan. Artikel ini akan mengupas peluang serta tantangan nyata jika Jawa Barat menambah daftar taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru di masa depan secara komprehensif dan juga menarik.

Sejarah Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di Indonesia

  • 1870-1909 – Awal Mula Kebijakan Konservasi Alam
  • 1909-1934 – Awal Mula Lembaga Konservasi Alam
  • 1934-1951 – Jawatan Kehutanan
  • 1951-1968 – Jawatan Penyelidikan Alam
  • 1968-1971 – Dinas Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA)
  • ·1971-1983 – Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA)
  • 1983-1999 – Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA)
  • 1999-2002 – Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA)
  • 2002-2014 – Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
  • 2014-2024 – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
  • 2024 – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan

Taman Nasional dan Taman Hutan Raya (Tahura).

Beberapa kawasan di Jawa Barat sedang diproses atau dibidik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan kawasan konservasi baru seperti taman nasional dan taman hutan raya (tahura).

 Daftar Taman Nasional di Jawa Barat

  • Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), terletak di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Terkenal dengan konservasi ekosistem sub-montana, montana dan bunga edelweiss Jawa.

  • Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), terletak di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi (hingga Kabupaten Lebak, Banten). Memiliki hutan hujan dataran rendah terluas di Jawa, yang menjadi habitat owa Jawa dan macan tutul Jawa.

  • Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), terletak di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Melindungi kawasan sekitar gunung tertinggi di Jawa Barat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Daftar Taman Hutan Raya (Tahura) di Jawa Barat

  • Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, terletak di Bandung, kawasan ini memadukan hutan pinus dan tanaman lain dengan objek wisata sejarah seperti Gua Belanda dan Gua Jepang serta air terjun seperti Curug Omas.
  • Taman Hutan Raya Pancoran Mas, terletak di Depok, kawasan ini merupakan salah satu cagar alam tertua di Indonesia peninggalan masa kolonial.
  • Taman Hutan Raya Gunung Palasari-Gunung Kunci, terletak di Kabupaten Sumedang, kawasan pelestarian alam yang kaya akan sejarah benteng pertahanan Jepang.

Daftar Cagar Alam di Jawa Barat

  • Cagar Alam Pangandaran, terletak di Kabupaten Pangandaran, terkenal dengan goa-goa sejarah, pantai pasir putih serta flora dan fauna seperti rusa.
  • Cagar Alam Gunung Papandayan, terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, berfungsi melindungi ekosistem pegunungan dan hutan sekunder.
  • Cagar Alam Leuweung Sancang, terletak di pantai Selatan Garut, berupa hutan tropis dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia.
  • Cagar Alam Gunung Tangkuban Perahu, terletak di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, melindungi kawasan hutan di sekitar gunung berapi aktif.

Bakal Kawasan Konservasi Baru di Jawa Barat

  • Pegunungan Sanggabuana, membentang di Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta, diproses menjadi kawasan konservasi dan sempat diarahkan menjadi taman nasional.

  • Gunung Cikuray (Kabupaten Garut), dibidik dan diusulkan untuk menjadi taman hutan raya (tahura) baru.

  • Gunung Wayang (Kabupaten Bandung), diusulkan masuk dalam skema perlindungan menjadi taman hutan raya (tahura).

  • ·Kawasan Cibungur (Kabupaten Purwakarta), masuk dalam rencana usulan pengembangan taman hutan raya (tahura).

Jika Ada Lagi Taman Nasional Baru di Jawa Barat

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jika ada taman nasional lagi di Jawa Barat, maka kawasan pegunungan di Bandung Raya layak menjadi taman nasional, misalnya Taman Nasional Pegunungan Bandung Raya, terutama di wilayah Bandung Selatan.

Sejak pengusulan, perencanaan, pengujian dan analisa mengenai dampak lingkungan, pengujian kepatutan dan kelayakan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan hingga penetapannya tentu saja melibatkan banyak pihak (stakeholder) dengan kelengkapan perangkat hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari tingkat pusat hingga ke daerah (provinsi, kabupaten dan kota).

Kemungkinan pembentukan taman nasional baru, seperti Taman Nasional Pegunungan Bandung Raya di Jawa Barat memiliki peluang yang cukup menantang namun sangat strategis secara ekologis. Berikut adalah analisis kemungkinannya berdasarkan kondisi wilayah dan kebijakan saat ini.

Tantangan Alih Fungsi Lahan yang Padat

  • Tekanan urbanisasi, kawasan Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi) mengalami pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang sangat masif.

  • Status lahan eksisting, sebagian besar kawasan pegunungan di sekitar Bandung (seperti Gunung Tangkubanparahu, Gunung Burangrang atau Gunung Malabar) saat ini berstatus terutama sebagai hutan lindung, bukan langsung berstatus hutan produksi yang mudah dikonversi dan bukan sebagai cagar alam atau taman hutan raya (tahura).

  • Fokus kebijakan pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat cenderung memilih meningkatkan status kawasan tertentu menjadi taman hutan raya (tahura) ketimbang langsung merintis taman nasional baru karena pengelolaan taman hutan raya (tahura) lebih fleksibel untuk wisata dan mitigasi bencana regional.

Peluang dan Urgensi Konservasi

  • Pentingnya Daerah Aliran Sungai (DAS), pegunungan di Bandung Raya merupakan hulu dari DAS Citarum. Menjadikannya kawasan konservasi berskala nasional dapat memperkuat perlindungan sumber air.
  • Keanekaragaman hayati, kawasan ini masih menjadi habitat bagi satwa langka khas Jawa seperti owa Jawa, surili dan macan tutul Jawa.
  • Mitigasi bencana, status konservasi yang lebih ketat dapat menekan risiko longsor dan banjir di Cekungan Bandung akibat alih fungsi lahan di kawasan Bandung Utara dan Selatan.

Namun, justru Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah membidik 3 (tiga) kawasan yang akan menjadi taman hutan raya (tahura) baru: Pegunungan Sanggabuana, membentang di Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta, diproses menjadi kawasan konservasi dan sempat diarahkan menjadi taman nasional; Gunung Cikuray (Kabupaten Garut), dibidik dan diusulkan untuk menjadi taman hutan raya (tahura) baru dan Gunung Wayang (Kabupaten Bandung), diusulkan masuk dalam skema perlindungan menjadi taman hutan raya (tahura).

Kehadiran taman nasional dan taman hutan raya (tahura) khusus di Jawa Barat untuk melindungi owa (seperti owa Jawa) dan celepuk (seperti celepuk Jawa) akan sangat membantu menyelamatkan satwa endemik langka dari ancaman kepunahan. Secara ekologis dan praktis, gagasan ini memiliki dampak dan pelaksanaan sebagai berikut:

Manfaat Perlindungan

  • Konservasi in-situ, melindungi satwa di dalam habitat aslinya dengan menjaga keutuhan hutan hujan pegunungan di Jawa Barat.
  • Penyelamatan spesies kunci, owa Jawa adalah pemencar biji hutan yang penting, sedangkan celepuk Jawa mengontrol populasi serangga dan tikus.
  • Pusat edukasi dan riset, menjadi tempat penelitian perilaku primata dan burung hantu endemik bagi akademisi serta masyarakat umum.

Tantangan Pengelolaan

  • Keterbatasan lahan, tekanan alih fungsi lahan dan kepadatan penduduk di Jawa Barat menuntut penetapan kawasan yang sangat ketat dan zonasi yang jelas.
  • Mitigasi konflik, perlu pendekatan sosial agar masyarakat sekitar dan masyarakat adat tidak merasa ruang hidupnya terganggu oleh batas kawasan konservasi.

Kehadiran taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru di Jawa Barat akan menjadi angin segar bagi penyelamatan ekosistem yang kian terancam. Kawasan konservasi ini tidak hanya melindungi kekayaan flora dan fauna endemik, tetapi juga berfungsi menjaga keseimbangan iklim mikro. Langkah nyata ini menjadi investasi lingkungan jangka panjang demi masa depan yang lebih hijau.

Selain menjaga kelestarian alam, penambahan kawasan lindung ini berpotensi besar menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal melalui ekowisata berkelanjutan. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam sekaligus belajar menghargai lingkungan. Transformasi ini membuktikan bahwa perlindungan hutan mampu berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan warga sekitar tanpa harus merusak ruang hidup satwa.

Pada akhirnya, keberhasilan ruang konservasi baru ini sepenuhnya bergantung pada komitmen bersama antara pemerintah, aktivis dan masyarakat luas. Menjaga hutan bukan sekadar tugas seremonial, melainkan tanggung jawab kolektif yang mendesak. Mari bersama-sama mendukung perluasan area hijau ini agar generasi mendatang tetap bisa menghirup udara bersih di Bumi Pasundan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

R.M.A. Ahmad Said Widodo
Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta, Subang dan Karawang (2001-sekarang) Penemu Besluit Hari Jadi Purwakarta, 20 Juli 1831. Penulis 27 judul buku.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)