Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Angin sore berhembus kencang melewati Wawan yang sedang berdiri di salah satu lantai paling tinggi di rumah deret Tamansari, Kota Bandung.

Rokok di tangan terbakar angin, sambil sesekali berjalan menyusuri lorong. Di sebelah kanan, tepat Wawan berdiri, terlihat pemandangan jembatan layang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja atau Surapati yang membentang sepanjang 2.147 meter, menghubungkan kawasan Pasteur dengan Surapati.

Jika berdiri menatap ke depan atau arah Selatan, terlihat hamparan permukiman kota dengan beberapa bangunan tinggi di Bandung. Beberapa pintu rumah terbuka, terlihat aktivitas warga yang sedang berkumpul di dalam atau sekadar beberapa anak yang sedang lari-larian sambil tertawa mengejar temannya yang lain.

Rumah deret yang terdiri dari tujuh lantai ini menjadi ‘nilai tukar akhir’ dari pemerintah kepada warganya. Dari kacamata warga, rumah deret ini adalah bentuk penggusuran yang berdalih revitalisasi penataan kawasan kota.

Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bayang-bayang konflik penggusuran di kawasan Tamansari RW 11, Kota Bandung ini masih membekas di ingatan warganya. Sebanyak 198 kepala keluarga terdampak proyek rumah deret yang dicanangkan Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil.

Sejak tahun 2007, daerah ini menjadi bagian dari rencana perbaikan tata kota melalui pembangunan hunian vertikal, yang akhirnya berubah menjadi proyek rumah deret.

Pemerintah menyebutkan ini sebagai upaya ‘membangun tanpa menggusur’, dengan rencana relokasi sementara sebelum warga kembali ke tempat tinggal baru mereka.

Namun, rencana itu tak berjalan mulus. Sejak sosialisasi resmi berlangsung pada 2017, sebagian warga mulai mempertanyakan status tanah, cara relokasi, dan transparansi komunikasi yang dianggap tidak konsisten.

Ketegangan semakin meningkat pada 12 Desember 2019, saat aparat melakukan penggusuran di RW 11 yang menyebabkan bentrokan dan meninggalkan trauma bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat.

Proyek tetap berjalan meski menuai kritik, bahkan disebut sebagai bentuk maladministrasi oleh Ombudsman Jawa Barat.

Sampai saat ini, rumah deret telah dibangun. Proyek yang dijanjikan rampung dalam enam bulan ini pada kenyataannya memakan waktu selama tujuh tahun hingga benar-benar terbangun. Namun, bagi sebagian warga, janji terkait hunian yang layak, ruang usaha, dan pemulihan kehidupan belum sepenuhnya terpenuhi.

Dalam situasi ini, kehidupan baru warga dimulai, termasuk Yanti dan Wawan, sepasang suami istri dengan dua orang anak yang sejak 2025 tinggal di salah satu unit tersebut.

Yanti menghadapi keterbatasan ruang dan hilangnya sumber penghasilan sejak pindah ke rumah deret. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Yanti menghadapi keterbatasan ruang dan hilangnya sumber penghasilan sejak pindah ke rumah deret. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ruang Sempit, Hidup yang Menyempit

Di salah satu unit rumah deret, Yanti dan Wawan menjalani hari dengan ritme yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya.

Unit tempat tinggal mereka kini jauh lebih kecil, dengan luas 2,5 x 7,5 meter atau sekitar 18,75 meter persegi. Tipe lainnya ada yang seluas 33 meter persegi dan 39 meter persegi, termasuk mezzanine.

Perubahan ini bukan hanya sekadar soal luasnya ruang, tetapi juga cara hidup yang harus mereka sesuaikan kembali.

“Begitu masuk langsung dapur, kamar kelihatan. Jadi teu aya sekat,” kata Yanti saat ditemui di kursi depan huniannya.

Dulu, mereka tinggal di rumah yang lebih besar, lengkap dengan tujuh kamar serta sumber pendapatan dari usaha jualan yang berasal dari rumah tersebut. Saat ini, keterbatasan ruang menyebabkan rumah hanya berfungsi sebagai tempat tinggal.

“Kan bilangnya sama UPT nggak boleh jualan di dalam rumah. Tapi kan nggak dikasih ruang usaha,” ucap Yanti.

“Kalaupun tetep maksain jualan juga di mana? Di dalam juga sudah penuh sama barang rumah,” lanjutnya dengan penuh keluh.

Yanti merasakan perubahan paling signifikan dalam aspek ekonomi. Ia kehilangan ruang usaha yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan keluarganya, sedangkan di tempat baru, fasilitas yang dijanjikan tidak kunjung hadir.

“Kalau buat saya di sini malah jadi ngedrop kalau dari segi ekonomi,” ucap Yanti, disusul Wawan yang mengangguk.

Ia menceritakan bahwa dulunya warga dijanjikan adanya ruang usaha sebagai bagian dari proses relokasi. Namun hingga kini, janji itu belum terpenuhi, sementara kegiatan ekonomi di dalam unit sangat terbatas.

“Katanya dikasih ruang usaha di bawah, tapi sampai sekarang nggak ada,” tambahnya.

Dalam situasi tersebut, Yanti dan Wawan harus mencari alternatif untuk bertahan hidup. Wawan bekerja serabutan, sedangkan Yanti terkadang menerima pesanan kue atau membantu pekerjaan lain jika ada kesempatan.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ruang dalam rumah deret Tamansari yang tanpa sekat memperlihatkan dapur, kamar, dan area tinggal dalam satu pandangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ruang dalam rumah deret Tamansari yang tanpa sekat memperlihatkan dapur, kamar, dan area tinggal dalam satu pandangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hidup di Antara Janji dan Realita

Kondisi hunian di rumah deret Tamansari yang belum sepenuhnya siap saat Yanti dan Wawan berpindah ke sini pada 2025 membuat proses adaptasi menjadi jauh lebih sulit. Ketika pertama kali menempati unit tersebut, mereka justru menghadapi fasilitas dasar yang tidak berfungsi.

“Awal ke sini masih gelap, lampu belum nyala, lift juga belum nyala,” ucap Wawan sambil menunjuk beberapa fasilitas di ujung lorong dan di atas hunian.

Alih-alih tinggal di rumah yang seharusnya siap huni seperti yang dijanjikan, Yanti dan keluarganya terpaksa melakukan banyak perbaikan sendiri agar tempat itu bisa benar-benar dihuni.

“Harus ngecat sendiri, harus perbaiki sendiri,” ucap Yanti.

“Saya sampai mengecat rumah orang lain dulu agar bisa mengecat rumah sendiri,” lanjut Yanti pelan sambil menatap ke depan.

Seiring berjalannya waktu dan keluhan yang disampaikan, terdapat beberapa perbaikan fasilitas di rumah deret Tamansari ini, seperti akses air bersih dan penerangan di lantai atas. Namun, tidak semua warga merasakan hal yang serupa. Yanti mengungkapkan bahwa kondisi di lantai bawah justru minim sinar matahari, yang berdampak buruk bagi kesehatan.

“Kalau yang di lantai bawah mah banyak yang sakit paru-paru, katanya karena nggak kena sinar matahari,” ujar Yanti.

Di samping itu, perubahan model hunian juga memengaruhi kenyamanan hidup. Jarak antarunit yang terlalu dekat membuat privasi menjadi sangat terbatas, suatu hal yang tidak mereka rasakan di rumah yang lama.

Bangunan rumah deret Tamansari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bangunan rumah deret Tamansari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Kalau sekarang tuh kayak nggak punya privasi, kedengaran semua,” kata Yanti.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, Yanti tetap berharap bahwa janji yang pernah diberikan pemerintah akan dipenuhi.

“Kan itu ada di Perwal. Walaupun ganti wali kota, kan itu bukan atas nama Ridwan Kamil pribadi sebagai wali kota. Harusnya ganti wali kota pun kebijakannya tetap turun,” ujar Yanti.

“Kita warga nggak pernah minta yang lain selain yang sudah dijanjikan,” tegas Yanti dan Wawan di akhir obrolan.

Revitalisasi sering kali digunakan sebagai diksi kepada warga atas nama perbaikan tata kota. Namun, di Tamansari, upaya ini memunculkan pertanyaan: seberapa jauh perbaikan ruang berjalan beriringan dengan pemulihan kehidupan warga?

Dinding dapat dibangun kembali, cat dapat dipoles kembali, dan lampu bisa dinyalakan kembali. Namun, menciptakan rasa aman dan ketersediaan hunian layak tidak selalu mudah didapati lagi.

Di rumah deret Tamansari, Yanti dan Wawan terus berusaha menata huniannya, bukan hanya soal fisik rumah, tetapi juga harapan yang sempat runtuh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)