Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 28 Apr 2026, 09:25 WIB
Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Angin sore berhembus kencang melewati Wawan yang sedang berdiri di salah satu lantai paling tinggi di rumah deret Tamansari, Kota Bandung.

Rokok di tangan terbakar angin, sambil sesekali berjalan menyusuri lorong. Di sebelah kanan, tepat Wawan berdiri, terlihat pemandangan jembatan layang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja atau Surapati yang membentang sepanjang 2.147 meter, menghubungkan kawasan Pasteur dengan Surapati.

Jika berdiri menatap ke depan atau arah Selatan, terlihat hamparan permukiman kota dengan beberapa bangunan tinggi di Bandung. Beberapa pintu rumah terbuka, terlihat aktivitas warga yang sedang berkumpul di dalam atau sekadar beberapa anak yang sedang lari-larian sambil tertawa mengejar temannya yang lain.

Rumah deret yang terdiri dari tujuh lantai ini menjadi ‘nilai tukar akhir’ dari pemerintah kepada warganya. Dari kacamata warga, rumah deret ini adalah bentuk penggusuran yang berdalih revitalisasi penataan kawasan kota.

Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bayang-bayang konflik penggusuran di kawasan Tamansari RW 11, Kota Bandung ini masih membekas di ingatan warganya. Sebanyak 198 kepala keluarga terdampak proyek rumah deret yang dicanangkan Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil.

Sejak tahun 2007, daerah ini menjadi bagian dari rencana perbaikan tata kota melalui pembangunan hunian vertikal, yang akhirnya berubah menjadi proyek rumah deret.

Pemerintah menyebutkan ini sebagai upaya ‘membangun tanpa menggusur’, dengan rencana relokasi sementara sebelum warga kembali ke tempat tinggal baru mereka.

Namun, rencana itu tak berjalan mulus. Sejak sosialisasi resmi berlangsung pada 2017, sebagian warga mulai mempertanyakan status tanah, cara relokasi, dan transparansi komunikasi yang dianggap tidak konsisten.

Ketegangan semakin meningkat pada 12 Desember 2019, saat aparat melakukan penggusuran di RW 11 yang menyebabkan bentrokan dan meninggalkan trauma bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat.

Proyek tetap berjalan meski menuai kritik, bahkan disebut sebagai bentuk maladministrasi oleh Ombudsman Jawa Barat.

Sampai saat ini, rumah deret telah dibangun. Proyek yang dijanjikan rampung dalam enam bulan ini pada kenyataannya memakan waktu selama tujuh tahun hingga benar-benar terbangun. Namun, bagi sebagian warga, janji terkait hunian yang layak, ruang usaha, dan pemulihan kehidupan belum sepenuhnya terpenuhi.

Dalam situasi ini, kehidupan baru warga dimulai, termasuk Yanti dan Wawan, sepasang suami istri dengan dua orang anak yang sejak 2025 tinggal di salah satu unit tersebut.

Yanti menghadapi keterbatasan ruang dan hilangnya sumber penghasilan sejak pindah ke rumah deret. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Yanti menghadapi keterbatasan ruang dan hilangnya sumber penghasilan sejak pindah ke rumah deret. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ruang Sempit, Hidup yang Menyempit

Di salah satu unit rumah deret, Yanti dan Wawan menjalani hari dengan ritme yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya.

Unit tempat tinggal mereka kini jauh lebih kecil, dengan luas 2,5 x 7,5 meter atau sekitar 18,75 meter persegi. Tipe lainnya ada yang seluas 33 meter persegi dan 39 meter persegi, termasuk mezzanine.

Perubahan ini bukan hanya sekadar soal luasnya ruang, tetapi juga cara hidup yang harus mereka sesuaikan kembali.

“Begitu masuk langsung dapur, kamar kelihatan. Jadi teu aya sekat,” kata Yanti saat ditemui di kursi depan huniannya.

Dulu, mereka tinggal di rumah yang lebih besar, lengkap dengan tujuh kamar serta sumber pendapatan dari usaha jualan yang berasal dari rumah tersebut. Saat ini, keterbatasan ruang menyebabkan rumah hanya berfungsi sebagai tempat tinggal.

“Kan bilangnya sama UPT nggak boleh jualan di dalam rumah. Tapi kan nggak dikasih ruang usaha,” ucap Yanti.

“Kalaupun tetep maksain jualan juga di mana? Di dalam juga sudah penuh sama barang rumah,” lanjutnya dengan penuh keluh.

Yanti merasakan perubahan paling signifikan dalam aspek ekonomi. Ia kehilangan ruang usaha yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan keluarganya, sedangkan di tempat baru, fasilitas yang dijanjikan tidak kunjung hadir.

“Kalau buat saya di sini malah jadi ngedrop kalau dari segi ekonomi,” ucap Yanti, disusul Wawan yang mengangguk.

Ia menceritakan bahwa dulunya warga dijanjikan adanya ruang usaha sebagai bagian dari proses relokasi. Namun hingga kini, janji itu belum terpenuhi, sementara kegiatan ekonomi di dalam unit sangat terbatas.

“Katanya dikasih ruang usaha di bawah, tapi sampai sekarang nggak ada,” tambahnya.

Dalam situasi tersebut, Yanti dan Wawan harus mencari alternatif untuk bertahan hidup. Wawan bekerja serabutan, sedangkan Yanti terkadang menerima pesanan kue atau membantu pekerjaan lain jika ada kesempatan.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ruang dalam rumah deret Tamansari yang tanpa sekat memperlihatkan dapur, kamar, dan area tinggal dalam satu pandangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ruang dalam rumah deret Tamansari yang tanpa sekat memperlihatkan dapur, kamar, dan area tinggal dalam satu pandangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hidup di Antara Janji dan Realita

Kondisi hunian di rumah deret Tamansari yang belum sepenuhnya siap saat Yanti dan Wawan berpindah ke sini pada 2025 membuat proses adaptasi menjadi jauh lebih sulit. Ketika pertama kali menempati unit tersebut, mereka justru menghadapi fasilitas dasar yang tidak berfungsi.

“Awal ke sini masih gelap, lampu belum nyala, lift juga belum nyala,” ucap Wawan sambil menunjuk beberapa fasilitas di ujung lorong dan di atas hunian.

Alih-alih tinggal di rumah yang seharusnya siap huni seperti yang dijanjikan, Yanti dan keluarganya terpaksa melakukan banyak perbaikan sendiri agar tempat itu bisa benar-benar dihuni.

“Harus ngecat sendiri, harus perbaiki sendiri,” ucap Yanti.

“Saya sampai mengecat rumah orang lain dulu agar bisa mengecat rumah sendiri,” lanjut Yanti pelan sambil menatap ke depan.

Seiring berjalannya waktu dan keluhan yang disampaikan, terdapat beberapa perbaikan fasilitas di rumah deret Tamansari ini, seperti akses air bersih dan penerangan di lantai atas. Namun, tidak semua warga merasakan hal yang serupa. Yanti mengungkapkan bahwa kondisi di lantai bawah justru minim sinar matahari, yang berdampak buruk bagi kesehatan.

“Kalau yang di lantai bawah mah banyak yang sakit paru-paru, katanya karena nggak kena sinar matahari,” ujar Yanti.

Di samping itu, perubahan model hunian juga memengaruhi kenyamanan hidup. Jarak antarunit yang terlalu dekat membuat privasi menjadi sangat terbatas, suatu hal yang tidak mereka rasakan di rumah yang lama.

Bangunan rumah deret Tamansari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bangunan rumah deret Tamansari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Kalau sekarang tuh kayak nggak punya privasi, kedengaran semua,” kata Yanti.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, Yanti tetap berharap bahwa janji yang pernah diberikan pemerintah akan dipenuhi.

“Kan itu ada di Perwal. Walaupun ganti wali kota, kan itu bukan atas nama Ridwan Kamil pribadi sebagai wali kota. Harusnya ganti wali kota pun kebijakannya tetap turun,” ujar Yanti.

“Kita warga nggak pernah minta yang lain selain yang sudah dijanjikan,” tegas Yanti dan Wawan di akhir obrolan.

Revitalisasi sering kali digunakan sebagai diksi kepada warga atas nama perbaikan tata kota. Namun, di Tamansari, upaya ini memunculkan pertanyaan: seberapa jauh perbaikan ruang berjalan beriringan dengan pemulihan kehidupan warga?

Dinding dapat dibangun kembali, cat dapat dipoles kembali, dan lampu bisa dinyalakan kembali. Namun, menciptakan rasa aman dan ketersediaan hunian layak tidak selalu mudah didapati lagi.

Di rumah deret Tamansari, Yanti dan Wawan terus berusaha menata huniannya, bukan hanya soal fisik rumah, tetapi juga harapan yang sempat runtuh.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)