Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Jumat 12 Jun 2026, 15:32 WIB
Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)

Di dalam toples kaca berukuran jumbo berkapasitas lima liter, terlihat butiran-butiran bulat seperti kelereng dengan warna merah menyala. Toples jumbo itu bukan satu, berjajar di meja kayu yang panjang, dengan isi yang berbeda. Itulah manisan buah malaka (Phyllantus embica LINN.) atau Indian gooseberry, amla, di toko oleh-oleh khas Cianjur.

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m. Besar batangnya antara 15 cm sampai 28 cm, sehingga dapat dikategorikan pohon berukuran kecil sampai sedang. 

Saya pernah melihatnya di dua tempat. Pertama yang tumbuh liar di lereng bukit yang terjal di Ciletuh, Kabupaten Sukabumi. Pohonnya sebesar paha orang dewasa. Kedua, melihatnya di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, besar pohonnya tak jauh berbeda.

Keadaan lingkungan kedua tempat tumbuh pohon malaka itu termasuk lahan berbatu. Malaka termasuk pohon yang sangat toleran dengan keadaan tanah yang miskin hara. Pertumbuhannya sangat lambat. Pada zaman kolonial, banyak masyarakat yang memanfaatkan batang malaka untuk dijadikan arang. Boleh jadi, selain karena rasanya yang kurang enak sehingga malaka menjadi pohon yang jarang untuk ditanam. Akibatnya, jumlah pohon malaka dari waktu ke waktu semakin berkurang, bahkan di beberapa tempat sudah tidak ada lagi.

Pohon ini tumbuh dengan baik di lereng terjal dengan kandungan hara yang minim, Karena sistem perakarannya yang Panjang, sehingga dapat menyelusup jauh ke dalam bebatuan, dan kuat mencengkeram tanah. Pohon malaka dapat beradaptasi dengan mudah di berbagai lingkungan. Banyak tumbuh di semak-belukar di dataran rendah, di hutan sabana, di lereng bukit yang curam, dan di lereng pinggir sungai. Kehadiran pohon malaka di suatu tempat, dapat memperbaiki struktur tanah dan mengikat tanah dari gerusan air.

Pohon malaka tersebar di Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Banyak terdapat di India, Nepal, Sri Lanka, Tiongkok Selatan, Tailan, dan di Indonesia. Di Indonesia, malaka banyak terdapat di Jawa Barat, Sumatra Barat, dan di Nusa Tenggara. 

Pada masa lalu, tumbuhan malaka tersebar dengan baik di Jawa Barat. Di beberapa tempat yang ditumbuhi pohon malaka, karena kekhasannya, sering dijadikan penanda kawasan, kemudian menjadi toponim. Di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, terdapat Desa Malakasari. Di Kabupaten Garut ada Kampung Cimalaka di Kecamatan Wanaraja. Di Kabupaten Sumedang ada toponim Kecamatan Cimalaka. Di Kota Bandung ada Gang Cimalaka, dan di Kabupaten Majalengka ada Pasir Cimalaka.

Buah malaka itu bentuknya hampir bulat, besarnya antara 1,5 cm sampai 2 cm. Pada saat muda, warnanya hijau kekuningan, kemudian berangsur menguning cerah setelah matang. Kulit buahnya lembut, licin, dan memiliki enam garis. Di dalam buahnya terdapat satu biji yang keras.

Buahnya banyak mengandung air, dengan rasanya yang masam seperti buah cereme, tapi ada lebihnya, sepat, dan sedikit pahit. Mungkin karena alasan inilah yang menyebabkan buah malaka dijadikan manisan. Di tempat lain, buah malaka dijadikan selai, asinan, jus, dan dikeringkan menjadi serbuk yang siap seduh bila akan diminum.

Buahnya yang sudah direndam, kemudian dilumatkan sedikit halus, lalu dioleskan ke kepala yang sedang mengalami sakit kepala-pusing karena terik matahari.

Pada zaman kolonial, buah malaka dikumpulkan dalam jumlah banyak, bijinya dikeluarkan, lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah mencapai pengeringan yang sempurna, daging buah malaka kering diekspor ke India. Di sana, kulit kayunya pun dijadikan sebagai bahan untuk penyamakan kulit.

Ciri yang menonjol saat melihat pohon malaka adalah daunnya yang kecil-kecil. Panjang daun antara 7 mm sampai 10 mm, lebarnya sekitar 3 mm, sedikit lebih besar dari daun asam. Daunnya berjajar menyirip di tulang daun. Daun malaka yang direbus selama satu jam bersamaan dengan wadah dari anyaman bambu yang akan diwarnai, akan menjadi berwarna kecoklat-coklatan. Bila menginginkan warnanya menjadi hitam, wadah tadi harus direndam dalam lumpur selama 12 jam. 

Kulit pohon malaka yang sudah diiris-iris lalu direbus, orang Sunda menyebutnya katiya, dapat menjadi bahan pencelup kain, untuk menghasilkan warna biru tua.

Dalam sistem pengobatan holistik ayurveda, yang semula berkembang di India, bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara tubuh – pikiran – jiwa, banyak memanfaatkan tumbuhan, di antaranya buah malaka. Buah malaka dijuluki superfood, karena kandungan nutrisinya yang kaya, sehingga dikenal menjadi sumber antioksidan alami yang paling kaya. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi, dapat merangsang produksi sel darah putih, sehingga tubuh menjadi lebih kuat saat melawan berbagai infeksi dan penyakit. Kandungan vitamin C-nya yang banyak mendukung pembentukan kolagen, demikian juga kandungan seratnya, sehingga dapat mencegah sembelit, mendukung keseimbangan bakteri yang baik di dalam usus, menjaga elastisitas kulit, dan menguatkan akar rambut, serta banyak manfaat lainnya.

Lahan dengang kandungan hara yang miskin, berada di lereng berbatu dan curam, dari pada dibiarkan menjadi lahan kritis, ada baiknya ditanami pohon malaka. Buahnya yang sudah sejak lama diketahui sebagai superfood yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk terapi kesehatan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.
Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:36

Memahami Konsep Iklan 'Mie Nyemek': Perlukah Inovasi Kuliner Lokal dan Warmindo?

Membedah peluncuran Indomie Hype Abis Mie Nyemek melalui tiga platform yaitu website, Instagram, dan news online.

Penulis menganalisis teknik penulisan PT. Indofood dari ketiga platform yaitu website, media sosial, dan news online untuk melihat konsistensi pesan.