Dulu Debu Pasir Kini Kapur

5 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Awal warsa 1980-an, masyarakat Bandung Raya pernah mengalami fenomena alam yang sulit dilupakan, yaitu hujan abu vulkanik akibat letusan Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dari empat puluh tahun kemudian, sebagian wilayah Bandung Barat kembali menghadapi fenomena serupa, meskipun berasal dari sumber yang berbeda. Jika dahulu debu berasal dari aktivitas vulkanik, kini warga di sekitar Cipatat menghadapi hujan debu kapur yang bersumber dari aktivitas penambangan dan pengolahan batu kapur.

Gunung Galunggung meletus hebat pada 5 Mei 1982 dan aktivitasnya berlangsung hingga tanggal 8 Januari 1983. Letusan berupa dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar tersebut juga mengeluarkan jutaan ton material vulkanik berupa abu, pasir, dan batuan pijar ke atmosfer. Angin membawa abu vulkanik hingga ratusan kilometer dari pusat letusan sehingga wilayah Bandung Raya turut merasakan dampaknya.

Galunggung melontarkan materi berupa abu halus sampai batu dengan diamater sampai puluhan centimeter. Lontaran itu bahkan menyebabkan pesawat milik British Airways melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Pesawat menempuh perjalanan London-Auckland (Selandia Baru). Saat kejadian, pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Di saat itulah satu per satu dari ke-4 mesin jetnya mati akibat kemasukan abu Galunggung.

Pada masa itu, langit Bandung sering tampak kelabu meskipun tidak setiap hari. Abu vulkanik jatuh seperti gerimis halus yang menutupi jalan, atap rumah, kendaraan, pepohonan, dan lahan pertanian. Aktivitas masyarakat terganggu karena jarak pandang menurun dan udara menjadi tidak nyaman untuk dihirup. Banyak warga menggunakan masker sederhana atau kain penutup hidung ketika beraktivitas di luar rumah. Setelah siang hari lewat langitpun terang kembali, masyarakatpun segera membersihkan halaman, kaca-kaca rumah dan genting-genting yang tebal oleh debu Galunggung.

Meski menimbulkan gangguan, abu vulkanik Galunggung memiliki kandungan mineral yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Oleh karena itu, beberapa tahun setelah letusan, lahan pertanian di sekitar kawasan terdampak justru menjadi lebih produktif. Dikutip dari berbagai sumber, letusan ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, menghancurkan permukiman serta bangunan umum, bahkan memaksa sebagian penduduk untuk ditransmigrasikan ke luar Pulau Jawa. Besarnya dampak tersebut menjadikan letusan Galunggung 1982 berstatus sebagai bencana nasional.

Walaupun banyak kerusakan yang ditimbulkan, letusan Galunggung juga meninggalkan material letusan dengan nilai ekonomi tinggi. Pasir hasil muntahan gunung ini dikenal memiliki kualitas baik dan dimanfaatkan tidak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga untuk berbagai proyek pembangunan di kota-kota lain, Ratusan juta meter kubik material vulkanik dari Galunggung inilah yang membentuk kontur wilayah sekitarnya menjadi ribuan bukit pasir setinggi lima hingga lima puluh meter. Bentuknya bergelombang, menyerupai lautan bukit. Fenomena letusan Gunung Galunggung, dengan demikian, tidak hanya dipahami sebagai rangkaian bencana alam, tetapi juga sebagai bagian dari proses panjang pembentukan ruang hidup masyarakat. Kekayaan alam yang melimpah serta pola kehidupan yang tumbuh di atas material vulkanik.

Berbeda dengan peristiwa Galunggung yang merupakan bencana alam, hujan debu yang kini terjadi di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, sebagian besar disebabkan oleh aktivitas industri pengolahan dan penambangan batu kapur. Dalam beberapa waktu terakhir, warga mengeluhkan debu putih yang menyelimuti rumah, jalan, kendaraan, hingga tanaman setiap hari. Fenomena ini bahkan dijuluki masyarakat sebagai "hujan salju" karena warna debunya yang putih.

Debu kapur berukuran sangat kecil sehingga mudah terbawa angin. Ketika musim kemarau atau cuaca kering, partikel debu beterbangan dan mengendap di lingkungan permukiman. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan serta Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan pemantauan terhadap kondisi tersebut.

Hasil pengujian lingkungan bahkan menunjukkan beberapa parameter pencemaran udara seperti TSP, PM10, dan PM2,5 melebihi baku mutu yang ditetapkan. Partikel-partikel tersebut berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan gangguan kesehatan apabila terpapar dalam waktu lama. Sekilas, hujan abu Galunggung dan hujan debu kapur Cipatat memiliki kemiripan. Keduanya menyebabkan udara menjadi keruh, lingkungan tertutup lapisan debu, serta menimbulkan gangguan pernapasan.

Foto udara pada Jumat 17 Juli 2026 memperlihatkan kawasan industri pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat yang memutih tertutup debu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Foto udara pada Jumat 17 Juli 2026 memperlihatkan kawasan industri pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat yang memutih tertutup debu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Paparan debu dalam jangka pendek dapat menyebabkan:

· Batuk dan bersin

· Iritasi mata

· Tenggorokan kering

· Sesak napas

· Alergi kulit

Sementara dalam jangka panjang, paparan partikel debu halus dapat meningkatkan risiko gangguan paru-paru dan infeksi saluran pernapasan (ISPA), terutama bagi kelompok rentan.

Untuk melindungi diri dari dampak hujan debu, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Menggunakan Masker

Masker, terutama jenis N95 atau setara, dapat membantu menyaring partikel debu halus sebelum masuk ke saluran pernapasan.

  • Menutup Ventilasi Saat Debu Tinggi

Pintu dan jendela sebaiknya ditutup ketika konsentrasi debu sedang tinggi untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam rumah.

  • Membersihkan Rumah Secara Rutin

Gunakan kain lembap saat membersihkan lantai, meja, dan perabot agar debu tidak kembali beterbangan.

  • Mencuci Tangan dan Wajah

Setelah beraktivitas di luar ruangan, segera cuci tangan, wajah, dan bagian tubuh yang terkena debu.

  • Menanam Pohon

Pepohonan dan tanaman dapat membantu menangkap partikel debu sehingga kualitas udara menjadi lebih baik.

  • Memeriksa Kesehatan Secara Berkala

Apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi mata yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

  • Pengendalian oleh Industri

Perusahaan pengolahan kapur perlu memasang sistem penyaring debu, melakukan penyiraman jalan secara rutin, serta memastikan aktivitas produksi memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

Fenomena hujan debu di Bandung Raya menunjukkan bahwa kualitas lingkungan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat. Jika pada tahun 1980-an warga menghadapi hujan abu akibat letusan Gunung Galunggung, kini sebagian warga Bandung Barat harus berhadapan dengan hujan debu kapur yang berasal dari aktivitas industri. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat agar generasi mendatang dapat menikmati udara yang segar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)