Polusi Cahaya Bandung Tak Terkendali: Potret Boros Energi bikin Bima Sakti dan Fauna Malam Lenyap

7 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID -- Pengendalian polusi cahaya di cekungan Bandung belum jadi fokus utama pemerintah meski dampak dari paparan binar artifisial ini terus meningkat tiap tahun. Kondisi itu jadi ancaman serius terhadap kegiatan pengamatan benda langit di bidang ilmu astronomi, ruang hidup hewan malam atau nokturnal, serta secara perlahan mengganggu kesehatan manusia.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung atau ITB, Irwan Meilano, menjelaskan isu polusi cahaya bukan semata urusan bidang astronomi. Dampaknya juga terasa bagi keseimbangan ekosistem malam terhadap hewan-hewan serta manusia.

Dirinya menerangkan peningkatan intensitas cahaya buatan dari cekungan Bandung beberapa tahun terakhir menyebabkan kualitas langit malam di Lembang menurun signifikan. Hal ini berdampak pada kemampuan teleskop dalam menangkap cahaya bintang.

“Polusi cahaya yang tidak terkendali bisa mengurangi kualitas observasi, mengganggu satwa malam, dan mengikis identitas Lembang sebagai kawasan wisata ilmiah,” jelas Irwan saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Kisah Para Pelindung Pegunungan Karst dari Cidadap

Irwan menekankan bahwa penataan cahaya bukan berarti mematikan aktivitas ekonomi, melainkan memastikan penggunaan cahaya sesuai fungsi. Lebih jauh, penataan cahaya merupakan upaya masyarakat menerapkan hemat energi.

“Cahaya itu penting untuk kegiatan ekonomi dan pendidikan. Tapi arah dan waktunya harus diatur. Solusinya sederhana, gunakan tudung lampu, batasi jam operasional, dan hindari lampu yang menyorot ke langit," jelasnya

Ia juga mengungkapkan data historis Observatorium Bosscha yang menunjukkan penurunan drastis kualitas langit sejak tahun 1990.

Peta polusi cahaya cekungan Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Peta polusi cahaya cekungan Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

“Kami punya data deret waktu sejak era 1930-an. Perubahan besar terjadi sejak tahun 90-an seiring pertumbuhan ekonomi. Ini positif, tapi saat itu belum dikelola dengan benar. Sekarang saatnya kita tata," papar dia.

Irwan menegaskan bahwa pembatasan cahaya juga penting bagi kesehatan manusia dan kelestarian satwa malam, bukan hanya untuk kepentingan astronomi.

“Jika polusi cahaya dapat dikendalikan, kualitas pengamatan akan kembali meningkat. Lingkungan hidup juga terjaga,” tegas Irwan.

Baca Juga: Insinerator Digencarkan, Tapi Bukan Solusi Tuntas Atasi Krisis Sampah di Kota Bandung

Polusi Cahaya di Bandung Naik Tiap Tahun

Kualitas langit malam di cekungan Bandung terus mengalami penurunan akibat meningkatnya polusi cahaya. Berdasarkan hasil penelitian tingkat polusi cahaya di area langit Observatorium Bosscha, selama tujuh tahun yang dilakukan tim astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hampir 31 kilometer persegi langit Bandung tercemar polusi cahaya tiap tahun.

Penelitian berjudul “Measurements of Sky Brightness at Bosscha Observatory, Indonesia” yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Heliyon (2020), menunjukkan bahwa cahaya buatan manusia dari cekungan Bandung dan Lembang semakin memperterang langit malam, sehingga mengganggu aktivitas pengamatan bintang dan penelitian astronomi.

Ketua tim peneliti, Dhani Herdiwijaya, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pengukuran kecerlangan langit menggunakan alat Sky Quality Meter (SQM) yang dipasang menghadap zenit dan merekam data otomatis setiap malam dari tahun 2011 hingga 2018. Sebanyak 1.692 catatan malam dianalisis dalam penelitian tersebut.

“Langit setelah tengah malam masih lebih gelap dibanding sebelum tengah malam, tetapi tren kegelapan langit terus menurun setiap tahun akibat peningkatan aktivitas cahaya kota,” ujar Dhani dalam laporan penelitian.

Hasil pengukuran menunjukkan, pada malam tanpa bulan, rata-rata tingkat kegelapan langit mencapai 19,70 mag/arcsec² pada periode setelah tengah malam (AM) dan 19,01 mag/arcsec² pada periode sebelum tengah malam (PM). Langit paling gelap hanya terjadi saat puncak musim kemarau pada bulan Juli, sejalan dengan temperatur, curah hujan, dan kelembapan yang berada pada titik terendah.

Baca Juga: Konservasi Saninten, Benteng Hidup di Bandung Utara

Penelitian juga mengungkap bahwa Bandung, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Observatorium Bosscha, menghasilkan polusi cahaya hingga ketinggian 40 derajat, sementara Lembang berdampak hingga 30 derajat. Analisis data satelit memperlihatkan bahwa area langit yang masih tergolong gelap berkurang rata-rata 31,7 kilometer persegi per tahun akibat ekspansi urban dan pertumbuhan populasi.

Selain faktor perkotaan, kecerlangan langit juga dipengaruhi oleh musim, fase bulan, dan siklus aktivitas matahari. Namun, peneliti menegaskan bahwa jarak bulan tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan intensitas cahaya langit.

Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Temuan ini menjadi peringatan serius bagi komunitas astronomi di Indonesia. Tanpa intervensi kebijakan, Bosscha sebagai observatorium tertua di Asia Tenggara terancam kehilangan kualitas langit gelap yang sangat penting untuk penelitian astronomi.

Upaya pengendalian sudah mulai diinisiasi melalui regulasi pengelolaan cahaya di radius 2,5 kilometer dari Bosscha. Namun para peneliti menilai implementasi dan penegakan aturan masih perlu diperkuat.

Baca Juga: Seabad Lebih Tanpa Nasi, Kampung Cireundeu Pertahankan Kemandirian dan Ketahanan Pangan Lokal Lewat Singkong

“Menjaga langit gelap bukan hanya untuk astronomi, tapi juga ekologi, kesehatan, dan warisan budaya manusia untuk melihat bintang dengan mata telanjang,” tulis pria yang juga Wakil Kepala Observatorium Bosscha itu.

Penataan Cahaya jadi Kunci

Terus meningkatnya polusi cahaya mengakibatkan sejumlah hewan nokturnal terancam punah. Di cekungan Bandung misalnya, warga mulai kesulitan melihat keindahan kunang-kunang, laron saat musim hujan, serta serangga raksasa yakni kupu-kupu gajah.

"Dibandingkan tahun 80 an, sekarang kita makin sulit temukan kunang-kunang. Itu dampak paling nyata dari polusi cahaya. Kalau dulu tiap musim hujan selalu ada laron, sekarang juga makin jarang ditemui," kata Dhani Herdiwijaya.

Pada manusia, kata Dhani, beberapa studi menyebutkan paparan cahaya berlebih akan mengacaukan ritme sirkadian manusia. Ritme sirkadian merupakan siklus biologi pada tubuh manusia sepanjang 24 jam yang mengatur pola tidur dan bangun, serta proses tubuh lainnya seperti pelepasan hormon, nafsu makan, dan suhu tubuh.

"Paparan cahaya menghambat produksi melatonin, mengurangi penglihatan, serta stres dan mudah kelelahan," jelasnya.

Baca Juga: Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

Di bidang astronomi, polusi cahaya cekungan Bandung mengakibatkan benda-benda langit tak bisa lagi dilihat dengan mata telanjang. Misalnya, Galaksi Bima Sakti atau Milky Way tak lagi terlihat oleh warga Bandung. Aktivitas peneropongan menggunakan teleskop juga harus naik hingga 40 derajat dari garis cakrawala.

"Orang Bandung tak lagi bisa lihat bima sakti menggunakan mata telanjang karena paparan polusi cahaya. Langit jadi makin terang, kami juga gak bisa mengamati area langit dibawah 40 derajat, karena area langit gelap cuma diatas 50 derajat ke atas," jelas Dhani.

Kawasan sekitar observatorium memiliki status strategis dan dilindungi dalam berbagai regulasi tata ruang. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, Bosscha ditetapkan sebagai kawasan Zona 5, yaitu zona cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan radius perlindungan 2,5 kilometer dari pusat observatorium.

Selain itu, Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bandung Barat Tahun 2024–2044 juga menyebutkan Observatorium Bosscha sebagai kawasan cagar budaya, wisata ilmiah serta Kawasan Strategis Nasional (KSN) dalam RDTR Lembang.

Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Baca Juga: Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

Untuk menjaga kualitas langit malam yang sangat penting bagi kegiatan pengamatan astronomi, Observatorium Bosscha menyampaikan lima rekomendasi penataan pencahayaan wilayah. Yakni implementasi peraturan, menerapkan regulasi pencahayaan tepat guna yakni dipakai jika diperlukan dan sesuai fungsi yang jelas, terarah yakni mengarahkan cahaya lampu ke bawah dan memakai tudung lampu untuk menghindari penyebaran cahaya ke area yang tidak dibutuhkan.

Memakai pencahayaan berwarna hangat yakni menggunakan warna cahaya yang ramah terhadap mata dan meminimalisasi cahaya biru yang menyebabkan polusi cahaya lebih tinggi, dan terakhir penggunaan cahaya terkendali yakni penerapan pembatasan waktu penggunaan lampu di ruang publik.

"Kalau langkah ini berhasil diterapkan, maka akan jadi percontohan di wilayah-wilayah lain dan menata pencahayaan," jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Bandung Barat berkomitmen menata penggunaan cahaya buatan di kawasan Lembang demi mengurangi polusi cahaya yang semakin mengganggu aktivitas penelitian astronomi di Observatorium Bosscha. Penataan pencahayaan tersebut juga menjadi langkah pelestarian situs cagar budaya serta perlindungan ekosistem malam.

Bupati Bandung Barat Jeje Richie Ismail menyatakan bahwa polusi cahaya masih belum dipahami banyak pihak, sehingga diperlukan edukasi dan aturan yang jelas agar penggunaan cahaya di malam hari tidak berdampak negatif pada kegiatan pengamatan bintang.

Baca Juga: Green Building: Isu yang Terabaikan dari Adaptasi Perubahan Iklim

“Bosscha bukan hanya kebanggaan Bandung Barat, tetapi aset nasional yang harus dilestarikan. Polusi cahaya yang memancar ke atas sangat mengganggu observasi astronomi dan berbahaya bagi lingkungan. Karena itu nanti akan ada regulasi, termasuk sosialisasi ke pelaku wisata dan masyarakat,” ujar Jeje.

Menurutnya, beberapa sumber utama polusi cahaya berasal dari destinasi wisata dan lampu sorot yang diarahkan ke langit. Ia menegaskan bahwa Pemkab Bandung Barat siap berkolaborasi dengan ITB, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah pusat untuk memperbaiki kondisi tersebut.

“Perekonomian memang membutuhkan cahaya, tapi penggunaannya harus diatur. Termasuk pencahayaan jalan umum (PJU) agar tidak menimbulkan pencemaran cahaya,” ucapnya.

Jeje juga menyebutkan lima rekomendasi awal yang akan disusun bersama tim teknis, antara lain memilih warna cahaya warm, membatasi waktu penggunaan lampu sorot hingga pukul 22.00, dan memastikan arah cahaya tidak mengarah ke atas.

“Setelah regulasi penataan cahaya berjalan, Bosscha harus makin sering dibuka untuk umum. Edukasi dan wisata ilmiah harus diperkuat," tandasnya. ***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)