Polusi Cahaya Bandung Tak Terkendali: Potret Boros Energi bikin Bima Sakti dan Fauna Malam Lenyap

7 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 14:32 WIB
Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID -- Pengendalian polusi cahaya di cekungan Bandung belum jadi fokus utama pemerintah meski dampak dari paparan binar artifisial ini terus meningkat tiap tahun. Kondisi itu jadi ancaman serius terhadap kegiatan pengamatan benda langit di bidang ilmu astronomi, ruang hidup hewan malam atau nokturnal, serta secara perlahan mengganggu kesehatan manusia.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung atau ITB, Irwan Meilano, menjelaskan isu polusi cahaya bukan semata urusan bidang astronomi. Dampaknya juga terasa bagi keseimbangan ekosistem malam terhadap hewan-hewan serta manusia.

Dirinya menerangkan peningkatan intensitas cahaya buatan dari cekungan Bandung beberapa tahun terakhir menyebabkan kualitas langit malam di Lembang menurun signifikan. Hal ini berdampak pada kemampuan teleskop dalam menangkap cahaya bintang.

“Polusi cahaya yang tidak terkendali bisa mengurangi kualitas observasi, mengganggu satwa malam, dan mengikis identitas Lembang sebagai kawasan wisata ilmiah,” jelas Irwan saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Kisah Para Pelindung Pegunungan Karst dari Cidadap

Irwan menekankan bahwa penataan cahaya bukan berarti mematikan aktivitas ekonomi, melainkan memastikan penggunaan cahaya sesuai fungsi. Lebih jauh, penataan cahaya merupakan upaya masyarakat menerapkan hemat energi.

“Cahaya itu penting untuk kegiatan ekonomi dan pendidikan. Tapi arah dan waktunya harus diatur. Solusinya sederhana, gunakan tudung lampu, batasi jam operasional, dan hindari lampu yang menyorot ke langit," jelasnya

Ia juga mengungkapkan data historis Observatorium Bosscha yang menunjukkan penurunan drastis kualitas langit sejak tahun 1990.

Peta polusi cahaya cekungan Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Peta polusi cahaya cekungan Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

“Kami punya data deret waktu sejak era 1930-an. Perubahan besar terjadi sejak tahun 90-an seiring pertumbuhan ekonomi. Ini positif, tapi saat itu belum dikelola dengan benar. Sekarang saatnya kita tata," papar dia.

Irwan menegaskan bahwa pembatasan cahaya juga penting bagi kesehatan manusia dan kelestarian satwa malam, bukan hanya untuk kepentingan astronomi.

“Jika polusi cahaya dapat dikendalikan, kualitas pengamatan akan kembali meningkat. Lingkungan hidup juga terjaga,” tegas Irwan.

Baca Juga: Insinerator Digencarkan, Tapi Bukan Solusi Tuntas Atasi Krisis Sampah di Kota Bandung

Polusi Cahaya di Bandung Naik Tiap Tahun

Kualitas langit malam di cekungan Bandung terus mengalami penurunan akibat meningkatnya polusi cahaya. Berdasarkan hasil penelitian tingkat polusi cahaya di area langit Observatorium Bosscha, selama tujuh tahun yang dilakukan tim astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hampir 31 kilometer persegi langit Bandung tercemar polusi cahaya tiap tahun.

Penelitian berjudul “Measurements of Sky Brightness at Bosscha Observatory, Indonesia” yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Heliyon (2020), menunjukkan bahwa cahaya buatan manusia dari cekungan Bandung dan Lembang semakin memperterang langit malam, sehingga mengganggu aktivitas pengamatan bintang dan penelitian astronomi.

Ketua tim peneliti, Dhani Herdiwijaya, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pengukuran kecerlangan langit menggunakan alat Sky Quality Meter (SQM) yang dipasang menghadap zenit dan merekam data otomatis setiap malam dari tahun 2011 hingga 2018. Sebanyak 1.692 catatan malam dianalisis dalam penelitian tersebut.

“Langit setelah tengah malam masih lebih gelap dibanding sebelum tengah malam, tetapi tren kegelapan langit terus menurun setiap tahun akibat peningkatan aktivitas cahaya kota,” ujar Dhani dalam laporan penelitian.

Hasil pengukuran menunjukkan, pada malam tanpa bulan, rata-rata tingkat kegelapan langit mencapai 19,70 mag/arcsec² pada periode setelah tengah malam (AM) dan 19,01 mag/arcsec² pada periode sebelum tengah malam (PM). Langit paling gelap hanya terjadi saat puncak musim kemarau pada bulan Juli, sejalan dengan temperatur, curah hujan, dan kelembapan yang berada pada titik terendah.

Baca Juga: Konservasi Saninten, Benteng Hidup di Bandung Utara

Penelitian juga mengungkap bahwa Bandung, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Observatorium Bosscha, menghasilkan polusi cahaya hingga ketinggian 40 derajat, sementara Lembang berdampak hingga 30 derajat. Analisis data satelit memperlihatkan bahwa area langit yang masih tergolong gelap berkurang rata-rata 31,7 kilometer persegi per tahun akibat ekspansi urban dan pertumbuhan populasi.

Selain faktor perkotaan, kecerlangan langit juga dipengaruhi oleh musim, fase bulan, dan siklus aktivitas matahari. Namun, peneliti menegaskan bahwa jarak bulan tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan intensitas cahaya langit.

Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Temuan ini menjadi peringatan serius bagi komunitas astronomi di Indonesia. Tanpa intervensi kebijakan, Bosscha sebagai observatorium tertua di Asia Tenggara terancam kehilangan kualitas langit gelap yang sangat penting untuk penelitian astronomi.

Upaya pengendalian sudah mulai diinisiasi melalui regulasi pengelolaan cahaya di radius 2,5 kilometer dari Bosscha. Namun para peneliti menilai implementasi dan penegakan aturan masih perlu diperkuat.

Baca Juga: Seabad Lebih Tanpa Nasi, Kampung Cireundeu Pertahankan Kemandirian dan Ketahanan Pangan Lokal Lewat Singkong

“Menjaga langit gelap bukan hanya untuk astronomi, tapi juga ekologi, kesehatan, dan warisan budaya manusia untuk melihat bintang dengan mata telanjang,” tulis pria yang juga Wakil Kepala Observatorium Bosscha itu.

Penataan Cahaya jadi Kunci

Terus meningkatnya polusi cahaya mengakibatkan sejumlah hewan nokturnal terancam punah. Di cekungan Bandung misalnya, warga mulai kesulitan melihat keindahan kunang-kunang, laron saat musim hujan, serta serangga raksasa yakni kupu-kupu gajah.

"Dibandingkan tahun 80 an, sekarang kita makin sulit temukan kunang-kunang. Itu dampak paling nyata dari polusi cahaya. Kalau dulu tiap musim hujan selalu ada laron, sekarang juga makin jarang ditemui," kata Dhani Herdiwijaya.

Pada manusia, kata Dhani, beberapa studi menyebutkan paparan cahaya berlebih akan mengacaukan ritme sirkadian manusia. Ritme sirkadian merupakan siklus biologi pada tubuh manusia sepanjang 24 jam yang mengatur pola tidur dan bangun, serta proses tubuh lainnya seperti pelepasan hormon, nafsu makan, dan suhu tubuh.

"Paparan cahaya menghambat produksi melatonin, mengurangi penglihatan, serta stres dan mudah kelelahan," jelasnya.

Baca Juga: Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

Di bidang astronomi, polusi cahaya cekungan Bandung mengakibatkan benda-benda langit tak bisa lagi dilihat dengan mata telanjang. Misalnya, Galaksi Bima Sakti atau Milky Way tak lagi terlihat oleh warga Bandung. Aktivitas peneropongan menggunakan teleskop juga harus naik hingga 40 derajat dari garis cakrawala.

"Orang Bandung tak lagi bisa lihat bima sakti menggunakan mata telanjang karena paparan polusi cahaya. Langit jadi makin terang, kami juga gak bisa mengamati area langit dibawah 40 derajat, karena area langit gelap cuma diatas 50 derajat ke atas," jelas Dhani.

Kawasan sekitar observatorium memiliki status strategis dan dilindungi dalam berbagai regulasi tata ruang. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, Bosscha ditetapkan sebagai kawasan Zona 5, yaitu zona cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan radius perlindungan 2,5 kilometer dari pusat observatorium.

Selain itu, Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bandung Barat Tahun 2024–2044 juga menyebutkan Observatorium Bosscha sebagai kawasan cagar budaya, wisata ilmiah serta Kawasan Strategis Nasional (KSN) dalam RDTR Lembang.

Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Observatorium Bosscha. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Baca Juga: Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

Untuk menjaga kualitas langit malam yang sangat penting bagi kegiatan pengamatan astronomi, Observatorium Bosscha menyampaikan lima rekomendasi penataan pencahayaan wilayah. Yakni implementasi peraturan, menerapkan regulasi pencahayaan tepat guna yakni dipakai jika diperlukan dan sesuai fungsi yang jelas, terarah yakni mengarahkan cahaya lampu ke bawah dan memakai tudung lampu untuk menghindari penyebaran cahaya ke area yang tidak dibutuhkan.

Memakai pencahayaan berwarna hangat yakni menggunakan warna cahaya yang ramah terhadap mata dan meminimalisasi cahaya biru yang menyebabkan polusi cahaya lebih tinggi, dan terakhir penggunaan cahaya terkendali yakni penerapan pembatasan waktu penggunaan lampu di ruang publik.

"Kalau langkah ini berhasil diterapkan, maka akan jadi percontohan di wilayah-wilayah lain dan menata pencahayaan," jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Bandung Barat berkomitmen menata penggunaan cahaya buatan di kawasan Lembang demi mengurangi polusi cahaya yang semakin mengganggu aktivitas penelitian astronomi di Observatorium Bosscha. Penataan pencahayaan tersebut juga menjadi langkah pelestarian situs cagar budaya serta perlindungan ekosistem malam.

Bupati Bandung Barat Jeje Richie Ismail menyatakan bahwa polusi cahaya masih belum dipahami banyak pihak, sehingga diperlukan edukasi dan aturan yang jelas agar penggunaan cahaya di malam hari tidak berdampak negatif pada kegiatan pengamatan bintang.

Baca Juga: Green Building: Isu yang Terabaikan dari Adaptasi Perubahan Iklim

“Bosscha bukan hanya kebanggaan Bandung Barat, tetapi aset nasional yang harus dilestarikan. Polusi cahaya yang memancar ke atas sangat mengganggu observasi astronomi dan berbahaya bagi lingkungan. Karena itu nanti akan ada regulasi, termasuk sosialisasi ke pelaku wisata dan masyarakat,” ujar Jeje.

Menurutnya, beberapa sumber utama polusi cahaya berasal dari destinasi wisata dan lampu sorot yang diarahkan ke langit. Ia menegaskan bahwa Pemkab Bandung Barat siap berkolaborasi dengan ITB, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah pusat untuk memperbaiki kondisi tersebut.

“Perekonomian memang membutuhkan cahaya, tapi penggunaannya harus diatur. Termasuk pencahayaan jalan umum (PJU) agar tidak menimbulkan pencemaran cahaya,” ucapnya.

Jeje juga menyebutkan lima rekomendasi awal yang akan disusun bersama tim teknis, antara lain memilih warna cahaya warm, membatasi waktu penggunaan lampu sorot hingga pukul 22.00, dan memastikan arah cahaya tidak mengarah ke atas.

“Setelah regulasi penataan cahaya berjalan, Bosscha harus makin sering dibuka untuk umum. Edukasi dan wisata ilmiah harus diperkuat," tandasnya. ***

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)