Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan Sabtu 04 Okt 2025, 14:20 WIB
Haryy Suliztiarto orang Indonesia pertama yang memanjat tebing utara gunung Eiger Swiss. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Haryy Suliztiarto orang Indonesia pertama yang memanjat tebing utara gunung Eiger Swiss. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

AYOBANDUNG.ID – Di tebing batu kapur Citatah, Kabupaten Bandung Barat, seorang mahasiswa muda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menggantungkan tubuhnya di antara cadas dan semak. Tahun itu, awal 1970-an, belum ada yang tahu apa itu panjat tebing. Namun, dari tempat sepi itulah nama Harry Suliztiarto kelak menggema hingga ke tebing paling berbahaya di dunia: Gunung Eiger di Swiss.

Harry Suliztiarto, pria kelahiran 1955, bukan sekadar pendaki biasa. Ia adalah sosok yang memperkenalkan olahraga panjat tebing ke Indonesia dan kemudian menjadi orang Indonesia pertama yang menaklukkan tebing utara Eiger—jalur maut yang telah menelan banyak korban jiwa dari berbagai negara.

Kisahnya bukan tentang keberanian semata, melainkan tentang kegigihan, kesepian, dan cinta yang tak pernah padam terhadap dinding batu. Semuanya berawal dari rasa penasaran dan sebuah buku ensiklopedia.

Saat itu, panjat tebing belum dikenal di Indonesia. Harry muda menemukan istilah “rock climbing” di sebuah buku dan terpikat oleh gambar-gambar manusia yang menggantung di tebing curam. Ia tak punya pelatih, tak punya komunitas, bahkan tak punya peralatan yang layak.

Peralatan panjatnya ia buat sendiri, seadanya, dari bahan-bahan yang bisa ia temukan di sekitar kampus. Tali yang dipakai bukan tali khusus, melainkan tali tambang yang biasanya dipakai tukang. Pengamannya pun sederhana. Namun semangatnya besar.

Karena tidak ada siapa pun yang bisa diajak berlatih, Harry akhirnya berlatih seorang diri di tebing Citatah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus ITB, sehingga setiap akhir pekan ia datang ke sana untuk menaklukkan dinding batu kapur.

“Awal-awalnya hanya ditemani tukang batu yang sedang memecahkan batu-batu di Citatah,” tutur Harry kepada Ayobandung.id saat pemutaran film Tebing, Tuhan, dan Aku, Kamis 2 Oktober 2025.

Dari latihan-latihan sepi itu, ia mulai memupuk kecintaan mendalam terhadap tebing. Namun kesepian itu lama-kelamaan terasa berat. Ia mulai berpikir, jika ia ingin terus memanjat, maka ia harus mengajak orang lain agar tidak sendiri.

“Saya merasa kesepian. Akhirnya berpikir bagaimana caranya supaya mengajarkan panjat tebing kepada orang agar tidak kesepian,” ungkapnya dengan senyum yang masih menyimpan kenangan masa lalu.

Ia pun mulai mengajak teman-temannya di kampus untuk ikut mencoba olahraga ini. Ia mengajari mereka teknik dasar panjat tebing dengan alat seadanya. Dari situlah cikal bakal komunitas panjat tebing pertama di Indonesia terbentuk.

Semakin lama, jumlah pemanjat bertambah. Mereka mulai menjelajahi berbagai tebing di Jawa Barat dan daerah lain. Dari sinilah lahir semangat ekspedisi—keinginan untuk menaklukkan tebing di luar negeri, menantang batas kemampuan manusia Indonesia.

Pilihan mereka jatuh pada Gunung Eiger, gunung setinggi 3.967 meter di Pegunungan Alpen, Swiss. Tebing utaranya terkenal berbahaya, sering disebut The Murder Wall karena banyak pendaki tewas di sana.

Keputusan itu dianggap gila. Pengalaman mereka masih terbatas di tebing-tebing tropis, belum pernah berhadapan dengan salju atau es. Tapi bagi Harry dan timnya, tantangan itulah yang membuat hidup berarti.

“Kalau pun gagal, ya tempat gagalnya di Eiger—tebing paling ekstrem. Tapi kalau berhasil, tentu akan tercatat dalam sejarah,” katanya dengan nada penuh tekad.

Persiapan panjang pun dilakukan. Mereka melatih fisik dan mental, mengasah kekompakan tim, sekaligus mencari sponsor untuk membiayai ekspedisi. Salah satu rekan setianya adalah Mamay Salim, sesama pemanjat yang ikut dalam tim.

Awalnya, banyak pihak menolak menjadi sponsor. Mereka menilai Eiger bukan gunung populer seperti Everest. Namun setelah dijelaskan bahwa Eiger merupakan tebing paling menantang di dunia, akhirnya ada juga yang bersedia mendukung mereka.

Pada 1985, ekspedisi Eiger pertama berangkat. Mereka berangkat dengan keyakinan bahwa musim panas akan membuat salju menipis. Namun, sesampainya di Swiss, cuaca justru memburuk. Salju tebal menutupi jalur, suhu membekukan.

Gunung Eiger bukan sekadar curam, tapi juga berbahaya. Batuan yang rapuh sering runtuh. “Batu yang jatuh dari atas itu kalau mengenai tubuh pasti menyebabkan luka parah. Helm juga tidak akan bisa menahannya, akan tembus,” ucapnya mengenang.

Hujan batu sempat mengguyur mereka di tengah pemanjatan. Meski tak ada yang terkena langsung, pengalaman itu membuat jantung berdegup kencang. Namun mereka terus mendaki, menantang maut dengan tekad baja.

Sampai suatu ketika, longsoran salju besar menerjang dan menyeret mereka. Nyawa serasa melayang. Setelah selamat, tim berkumpul dan berdiskusi panjang di tengah badai dingin. Keputusan pahit pun diambil: mereka harus mundur.

“Kami putuskan untuk saat ini gagal. Tapi tahun depan harus kembali lagi dan berhasil,” ujar Harry.

Sekembalinya ke Indonesia, banyak yang menganggap mereka gagal karena tidak kompak. Namun justru sebaliknya—mereka makin solid. Harry dan timnya berlatih lebih keras. Mereka mendatangi berbagai tebing di Indonesia, bahkan berlatih membawa kayu di hutan untuk memperkuat fisik dan kebersamaan.

Setahun kemudian, 1986, mereka kembali ke Eiger. Tim dan sponsor masih sama, semangat pun tetap menyala. Dengan pengalaman dan tekad yang lebih matang, mereka kembali menapaki jalur utara yang ganas itu.

Kali ini, keberuntungan berpihak. Walaupun Mamay Salim harus berhenti karena sakit, Harry berhasil menuntaskan pendakian legendaris itu. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di puncak Eiger melalui jalur utara.

Berita keberhasilan itu tersiar luas di tanah air. Ida, istri Harry yang berprofesi sebagai jurnalis, menulis kisah tersebut hingga menjadi perbincangan nasional. Nama Harry pun melejit menjadi simbol ketangguhan dan inspirasi generasi muda.

Sejak saat itu, panjat tebing di Indonesia berkembang pesat. Banyak pemuda terinspirasi mengikuti jejaknya. Gunung Eiger pun menjadi nama yang akrab di telinga pecinta alam negeri ini.

Atas prestasinya, Harry menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat saat itu, Yogi S.M. Namun bagi Harry, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang ia cari hanyalah kepuasan batin saat menatap tebing dan mendengar desir angin di ketinggian.

Kini, di usianya yang telah menginjak 70 tahun, Harry masih setia pada tebing. Ia memang tak lagi mengejar ekspedisi, tapi tetap aktif memanjat—biasanya untuk misi kemanusiaan, seperti penyelamatan korban di alam terbuka.

Pria yang dulu merasa kesepian di Citatah itu kini menjadi legenda. Ia tak pernah benar-benar berhenti memanjat, seolah nadinya menolak tua. Bagi Harry Suliztiarto, hidup adalah soal menatap tebing, menggenggam batu, dan terus mendaki—sampai Tuhan sendiri yang memintanya berhenti.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 15:04

Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Menyoroti kemacetan Bandung saat Ramadhan.

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)