Legenda dari Citatah: Kisah Harry Suliztiarto Menaklukkan Tebing Utara Gunung Eiger

5 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Haryy Suliztiarto orang Indonesia pertama yang memanjat tebing utara gunung Eiger Swiss. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Haryy Suliztiarto orang Indonesia pertama yang memanjat tebing utara gunung Eiger Swiss. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

AYOBANDUNG.ID – Di tebing batu kapur Citatah, Kabupaten Bandung Barat, seorang mahasiswa muda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menggantungkan tubuhnya di antara cadas dan semak. Tahun itu, awal 1970-an, belum ada yang tahu apa itu panjat tebing. Namun, dari tempat sepi itulah nama Harry Suliztiarto kelak menggema hingga ke tebing paling berbahaya di dunia: Gunung Eiger di Swiss.

Harry Suliztiarto, pria kelahiran 1955, bukan sekadar pendaki biasa. Ia adalah sosok yang memperkenalkan olahraga panjat tebing ke Indonesia dan kemudian menjadi orang Indonesia pertama yang menaklukkan tebing utara Eiger—jalur maut yang telah menelan banyak korban jiwa dari berbagai negara.

Kisahnya bukan tentang keberanian semata, melainkan tentang kegigihan, kesepian, dan cinta yang tak pernah padam terhadap dinding batu. Semuanya berawal dari rasa penasaran dan sebuah buku ensiklopedia.

Saat itu, panjat tebing belum dikenal di Indonesia. Harry muda menemukan istilah “rock climbing” di sebuah buku dan terpikat oleh gambar-gambar manusia yang menggantung di tebing curam. Ia tak punya pelatih, tak punya komunitas, bahkan tak punya peralatan yang layak.

Peralatan panjatnya ia buat sendiri, seadanya, dari bahan-bahan yang bisa ia temukan di sekitar kampus. Tali yang dipakai bukan tali khusus, melainkan tali tambang yang biasanya dipakai tukang. Pengamannya pun sederhana. Namun semangatnya besar.

Karena tidak ada siapa pun yang bisa diajak berlatih, Harry akhirnya berlatih seorang diri di tebing Citatah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus ITB, sehingga setiap akhir pekan ia datang ke sana untuk menaklukkan dinding batu kapur.

“Awal-awalnya hanya ditemani tukang batu yang sedang memecahkan batu-batu di Citatah,” tutur Harry kepada Ayobandung.id saat pemutaran film Tebing, Tuhan, dan Aku, Kamis 2 Oktober 2025.

Dari latihan-latihan sepi itu, ia mulai memupuk kecintaan mendalam terhadap tebing. Namun kesepian itu lama-kelamaan terasa berat. Ia mulai berpikir, jika ia ingin terus memanjat, maka ia harus mengajak orang lain agar tidak sendiri.

“Saya merasa kesepian. Akhirnya berpikir bagaimana caranya supaya mengajarkan panjat tebing kepada orang agar tidak kesepian,” ungkapnya dengan senyum yang masih menyimpan kenangan masa lalu.

Ia pun mulai mengajak teman-temannya di kampus untuk ikut mencoba olahraga ini. Ia mengajari mereka teknik dasar panjat tebing dengan alat seadanya. Dari situlah cikal bakal komunitas panjat tebing pertama di Indonesia terbentuk.

Semakin lama, jumlah pemanjat bertambah. Mereka mulai menjelajahi berbagai tebing di Jawa Barat dan daerah lain. Dari sinilah lahir semangat ekspedisi—keinginan untuk menaklukkan tebing di luar negeri, menantang batas kemampuan manusia Indonesia.

Pilihan mereka jatuh pada Gunung Eiger, gunung setinggi 3.967 meter di Pegunungan Alpen, Swiss. Tebing utaranya terkenal berbahaya, sering disebut The Murder Wall karena banyak pendaki tewas di sana.

Keputusan itu dianggap gila. Pengalaman mereka masih terbatas di tebing-tebing tropis, belum pernah berhadapan dengan salju atau es. Tapi bagi Harry dan timnya, tantangan itulah yang membuat hidup berarti.

“Kalau pun gagal, ya tempat gagalnya di Eiger—tebing paling ekstrem. Tapi kalau berhasil, tentu akan tercatat dalam sejarah,” katanya dengan nada penuh tekad.

Persiapan panjang pun dilakukan. Mereka melatih fisik dan mental, mengasah kekompakan tim, sekaligus mencari sponsor untuk membiayai ekspedisi. Salah satu rekan setianya adalah Mamay Salim, sesama pemanjat yang ikut dalam tim.

Awalnya, banyak pihak menolak menjadi sponsor. Mereka menilai Eiger bukan gunung populer seperti Everest. Namun setelah dijelaskan bahwa Eiger merupakan tebing paling menantang di dunia, akhirnya ada juga yang bersedia mendukung mereka.

Pada 1985, ekspedisi Eiger pertama berangkat. Mereka berangkat dengan keyakinan bahwa musim panas akan membuat salju menipis. Namun, sesampainya di Swiss, cuaca justru memburuk. Salju tebal menutupi jalur, suhu membekukan.

Gunung Eiger bukan sekadar curam, tapi juga berbahaya. Batuan yang rapuh sering runtuh. “Batu yang jatuh dari atas itu kalau mengenai tubuh pasti menyebabkan luka parah. Helm juga tidak akan bisa menahannya, akan tembus,” ucapnya mengenang.

Hujan batu sempat mengguyur mereka di tengah pemanjatan. Meski tak ada yang terkena langsung, pengalaman itu membuat jantung berdegup kencang. Namun mereka terus mendaki, menantang maut dengan tekad baja.

Sampai suatu ketika, longsoran salju besar menerjang dan menyeret mereka. Nyawa serasa melayang. Setelah selamat, tim berkumpul dan berdiskusi panjang di tengah badai dingin. Keputusan pahit pun diambil: mereka harus mundur.

“Kami putuskan untuk saat ini gagal. Tapi tahun depan harus kembali lagi dan berhasil,” ujar Harry.

Sekembalinya ke Indonesia, banyak yang menganggap mereka gagal karena tidak kompak. Namun justru sebaliknya—mereka makin solid. Harry dan timnya berlatih lebih keras. Mereka mendatangi berbagai tebing di Indonesia, bahkan berlatih membawa kayu di hutan untuk memperkuat fisik dan kebersamaan.

Setahun kemudian, 1986, mereka kembali ke Eiger. Tim dan sponsor masih sama, semangat pun tetap menyala. Dengan pengalaman dan tekad yang lebih matang, mereka kembali menapaki jalur utara yang ganas itu.

Kali ini, keberuntungan berpihak. Walaupun Mamay Salim harus berhenti karena sakit, Harry berhasil menuntaskan pendakian legendaris itu. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di puncak Eiger melalui jalur utara.

Berita keberhasilan itu tersiar luas di tanah air. Ida, istri Harry yang berprofesi sebagai jurnalis, menulis kisah tersebut hingga menjadi perbincangan nasional. Nama Harry pun melejit menjadi simbol ketangguhan dan inspirasi generasi muda.

Sejak saat itu, panjat tebing di Indonesia berkembang pesat. Banyak pemuda terinspirasi mengikuti jejaknya. Gunung Eiger pun menjadi nama yang akrab di telinga pecinta alam negeri ini.

Atas prestasinya, Harry menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat saat itu, Yogi S.M. Namun bagi Harry, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang ia cari hanyalah kepuasan batin saat menatap tebing dan mendengar desir angin di ketinggian.

Kini, di usianya yang telah menginjak 70 tahun, Harry masih setia pada tebing. Ia memang tak lagi mengejar ekspedisi, tapi tetap aktif memanjat—biasanya untuk misi kemanusiaan, seperti penyelamatan korban di alam terbuka.

Pria yang dulu merasa kesepian di Citatah itu kini menjadi legenda. Ia tak pernah benar-benar berhenti memanjat, seolah nadinya menolak tua. Bagi Harry Suliztiarto, hidup adalah soal menatap tebing, menggenggam batu, dan terus mendaki—sampai Tuhan sendiri yang memintanya berhenti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 11:15

Budaya NG.O.P.I Anak Muda Sekarang: NGeluarin Opini 'Pragmatis vs Idealis'

Ketika pola pikir pragmatis dan idealis pada generasi muda yang memengaruhi orientasi dalam proses beropini.

Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 10:59

Pengaruh Pembangunan Rel Kereta di Ciwidey untuk Mata Pencaharian Pribumi (1917-1924)

Sedikit gambaran mengenai mata pencaharian masyarakat ketika pembangunan rel kereta di Ciwidey.

 (Sumber: ebay.com | Foto: ebay.com)