Pengalaman Pemuda Asal Cimahi, dari Telur Rebus di Kawah Tangkubanparahu Hingga Menjejakkan Kaki di Puncak Everest

4 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Sofyan Arif Fesa dan ketiga temannya di Camp III Gunung Everest di ketinggian 7.300 meter di atas permukaan laut. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)
Sofyan Arif Fesa dan ketiga temannya di Camp III Gunung Everest di ketinggian 7.300 meter di atas permukaan laut. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)

AYOBANDUNG.ID – Perjalanan menuju puncak dunia tidak selalu dimulai dari rencana besar. Kadang, ia berawal dari rasa penasaran sederhana seorang bocah yang ingin membuktikan cerita teman sebaya. Itulah yang dialami Sofyan Arif Fesa, atau yang akrab disapa Ian, pendaki asal Cimahi yang berhasil menorehkan namanya dalam sejarah pendakian Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh orang yang menaklukkan 7 Summits.

Ian mengenang kembali momen kecil yang mengubah jalan hidupnya. Saat duduk di kelas 4 SD, ia mendaki Gunung Tangkubanparahu melalui jalur Ciater. Bukan untuk berkemah, apalagi mencari sensasi, melainkan membuktikan kabar bahwa kawah Tangkubanparahu bisa merebus telur hingga matang.

“Pertama kali mendaki itu kelas 4 SD. Mendaki Gunung Tangkubanparahu. Di atas masak telur sampai matang, turun lagi. Hanya menghabiskan rasa penasaran,” tutur Ian sambil tersenyum.

Sofyan Arif Fesa menorehkan namanya dalam sejarah pendakian Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh orang yang menaklukkan 7 Summits. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Sofyan Arif Fesa menorehkan namanya dalam sejarah pendakian Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh orang yang menaklukkan 7 Summits. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Namun siapa sangka, rasa penasaran itu menumbuhkan kecanduan baru. Sejak saat itu, Ian mulai rutin mendaki setiap akhir pekan. Beruntung, Bandung dan sekitarnya memiliki banyak gunung yang bisa dijajal. Semakin lama, kegiatan itu bukan sekadar iseng, tetapi menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Saat menginjak SMP, Ian mulai terbiasa berkemah di puncak gunung. Hobi itu terus berlanjut hingga SMA, hingga akhirnya ia melanjutkan pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Di kampus inilah, jalannya semakin jelas ketika ia bergabung dengan Mahitala, unit kegiatan pecinta alam.

“Sejak tahun 2005-an saya serius menekuni pendakian. Waktu itu saya sudah mendaki Rinjani, Argopuro, dan bahkan Calvatar di Nepal,” katanya.

Mahitala memberinya bekal ilmu tentang navigasi, manajemen tim, hingga survival. Dukungan komunitas itu pula yang mendorong Ian untuk menatap tantangan yang lebih besar: menaklukkan 7 puncak tertinggi di 7 benua dunia.

Tahun 2009 menjadi langkah awal. Ian menjejakkan kaki di Puncak Carstensz Pyramid, Papua, sebagai pintu gerbang menuju 7 Summits. Setahun kemudian, ia menapaki Gunung Kilimanjaro di Afrika, lalu melanjutkan ke Gunung Elbrus di Rusia.

Sofyan Arif Fesa bersama kawan-kawannya menaklukan puncak Elbrus dengan membuat jalur sendiri dan dinamakan Indonesian Route. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)
Sofyan Arif Fesa bersama kawan-kawannya menaklukan puncak Elbrus dengan membuat jalur sendiri dan dinamakan Indonesian Route. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)

“2009 ke Cartenz. Pulang dulu ke Indonesia, kuliah. Desember 2010 ke Antartika Kutub Selatan, dilanjutkan ke Argentina,” ujar pria kelahiran 1983 itu.

Rangkaian ekspedisi terus berlanjut. Di Kutub Selatan, ia mendaki Vinson Massif, kemudian melanjutkan ke Aconcagua, Argentina. Setiap pendakian meninggalkan cerita, baik tentang medan yang berat, persahabatan dengan tim, hingga perjumpaan dengan masyarakat setempat.

“Banyak yang bisa diambil dari pendakian, tapi bagi saya kerjasama di lapangan sangat penting. Selain karena saya ditunjuk sebagai leader, saya belajar banyak soal manajemen dan kepemimpinan. Saya juga belajar budaya, bahasa negara lain, dan berdiskusi dengan penduduk setempat,” jelas Ian.

Namun dari semua gunung yang ia taklukkan, Everest tetap menjadi ujian terberat. Pada Maret 2011, ia memulai pendakian dengan persiapan fisik dan mental yang matang. Nyatanya, tantangan di gunung tertinggi dunia jauh melampaui bayangannya.

“Butuh waktu dua bulan di base camp Everest. Kondisi mental dan fisik benar-benar drop. Dan waktu mendaki puncak, kami berempat terkena Kumbhu Cough, batuk darah karena ketinggian. Semakin tinggi, batuknya semakin parah,” kisahnya.

Selain penyakit khas Himalaya itu, suhu ekstrem hingga minus 30 derajat Celcius membuat perjuangan makin berat. Oksigen tipis membuat setiap langkah terasa begitu lambat. Hanya lima hari terakhir menuju puncak yang menentukan segalanya.

“Setiap pendakian pasti ada yang menegangkan, tapi yang paling menegangkan ya waktu di Everest. Perjuangannya luar biasa,” ujarnya.

Pada akhirnya, semua kerja keras itu terbayar lunas. Ian berhasil menapakkan kaki di puncak Everest, 8.848 meter di atas permukaan laut. Momen itu masih membekas kuat di hatinya.

“Rasanya terharu, bangga, dan menangis. Waktu di puncak Everest kita bisa melihat gunung setinggi 8.000 meter lain terlihat kecil. Selama 45 menit di sana, kita mengibarkan Merah Putih, foto-foto, dan menelepon ke Sekretariat Mahitala di Bandung,” kata Ian penuh emosi.

Setelah Everest, perjalanannya belum usai. Juli 2011, ia menutup ekspedisi dengan menaklukkan Denali di Amerika Utara. Dengan itu, ia resmi menuntaskan 7 Summits hanya dalam waktu dua tahun.

Tim ISSEMU yang terdiri dari Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing, dan Janatan Ginting di puncak Gunung Denali, Alaska. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)
Tim ISSEMU yang terdiri dari Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing, dan Janatan Ginting di puncak Gunung Denali, Alaska. (Sumber: Dokumen pribadi Sofyan Arif Fesa.)

Kini, Ian masih aktif mendaki, baik di Indonesia maupun luar negeri. Meski telah mencatatkan prestasi besar, semangatnya tidak pernah padam. Baginya, mendaki bukan hanya soal menaklukkan puncak, melainkan menaklukkan diri sendiri.

“Bagi saya, mendaki itu bukan sekadar sampai di puncak. Yang terpenting adalah perjalanan, pengalaman, dan pelajaran yang bisa kita bawa pulang,” ujarnya.

Dari sekadar merebus telur di kawah Tangkubanparahu, hingga mengibarkan Merah Putih di atap dunia, perjalanan Ian adalah bukti bahwa langkah kecil bisa membawa seseorang menuju capaian besar, asalkan dijalani dengan konsistensi, kerjasama, dan tekad yang kuat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)