Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

4 menit baca
Reska Okta Nur Saputra
Ditulis oleh Reska Okta Nur Saputra diterbitkan
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)

Di tengah arus modernisasi yang deras, budaya Sunda Wiwitan sebagai salah satu warisan leluhur masyarakat Sunda di Jawa Barat semakin terpinggirkan. Para ahli budaya dan tokoh masyarakat setempat mengingatkan bahwa pengenalan nilai-nilai Sunda Wiwitan sejak dini kepada generasi muda menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini. Tanpa langkah cepat, warisan spiritual dan kearifan lokal ini bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.

Sunda Wiwitan, yang dikenal juga sebagai agama asli Sunda, menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Praktiknya meliputi upacara adat seperti ngalaksa, sesajen, dan penghormatan kepada Sang Hyang Tunggal melalui ritual-ritual yang sarat makna. Namun, dengan masuknya pengaruh globalisasi, banyak anak muda lebih tertarik pada gaya hidup urban daripada mempelajari ajaran leluhur mereka.

Menurut Ira Indrawardana, seorang antropolog dari Universitas Padjadjaran, "Sunda wiwitan adalah kepercayaan adat asli masyrakat sunda yang belum familiar secara luas dan seringkali dibedakan oleh negara dengan agama-agama lain. Sunda Wiwitan mengajarkan kebaikan, perhormatan terhadap alam dan harmoni hidup bersama."

Kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu

Kunjungan ke festival Cireundeu, Kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Paguyuban Project)
Kunjungan ke festival Cireundeu, Kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Paguyuban Project)

Melihat hal tersebut, mahasiswa Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tergabung dalam Paguyuban Project mengadakan kunjungan sekaligus observasi lapangan pada festival adat kampung cireundeu, kota Cimahi. Untuk melihat dan mendengar secara langsung bagaimana praktik filosofi sunda wiwitan dari para praktisi dan pengunjung yang hadir di acara tersebut.

Pada 15 November 2025, Di Kampung Cirendeu, Cimahi, lokasi Festival Cirendeu yang diselenggarakan oleh masyarakat adat dan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Cimahi, praktisi Sunda Wiwitan seperti Kang Ogi menjelaskan lebih dalam. "Sunda Wiwitan sangat erat hubungannya dengan budaya Sunda. Tidak mungkin ada acara seperti ini kalau kita tidak menjaga tradisi itu. Acara ini bertujuan mengangkat dan melestarikan tata nilai di kampung kami," kata Kang Ogi saat wawancara dengan Sendi Maulana pada Sabtu lalu.

Mahasiswi Maria Elza, yang turut hadir, menambahkan pandangan generasi muda. "Sebenarnya, Sunda Wiwitan itu lebih tepatnya ke adat. Kita harus mempertahankan adat itu, tapi juga ikuti zaman sekarang yang makin canggih. Sebagai anak muda Gen-Z, kita harus lebih open-minded, jangan cuma tahu yang gaul-gaul, tapi juga dalami adat-adat ini."

Salah satu elemen kunci yang masih bertahan adalah penggunaan sesajen sebagai simbolis. "Setau aku, masih ada sampai sekarang, terutama di beberapa daerah yang masih pakai sesajen seperti nampan berisi kelapa, bunga, dan lainnya. Itu dibawa ke tempat yang mereka percaya sebagai sumber kepercayaan leluhur," jelas Maria Elza.

Menurut Kang Ogi, "Ini bukan sekadar ritual, tapi fondasi identitas budaya. Jika kita tidak perkenalkan sejak anak-anak, generasi berikutnya akan kehilangan akar. Sekolah dan keluarga harus mulai mengintegrasikan pendidikan budaya ini ke dalam kurikulum, seperti melalui cerita rakyat, lagu daerah, dan kunjungan ke situs-situs suci."

Tantangan Terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Dari pegalaman pribadi Ira, Ia sempat merasakan bagaimana tindakan diskriminasi dilayangkan kepada komunitas penganut sunda wiwitan lebih tepatnya pada komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur pada masa pemerintahan Orde Baru. Saat itu komunitas Sunda Wiwitan yang hendak merayakan upacara adat seren taun, sempat dilarang oleh aparat negara, karena dianggap bukan bagian dari agama resmi yang diakui negara.

Menurut, Ira Indrawardana. konsep agama yang dipahami di Indonesia cenderung mengacu kepada konsep agama-agama Ibrahamik yang mengaruskan adanya Nabi atau utusan dan kitab suci, sehingga kepercayaan lokal seperti sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. sehingga sampai sekarang, para pemeluk Sunda Wiwitan masih dianggap sebatas sebagai penghayat bukan suatu agama yang dapat tercantum di dalam identitas seperti KTP.

Baca Juga: Longser Sunda 'Kabayan Ngalalana' Menampilkan Figur yang Berbeda dari Mang Kabayan

Padahal sama dengan sistem kepercayaan lainnya, Sunda Wiwitan yang merupakan kepercayaan sekaligus kebudayaan yang sampai saat ini masih banyak diamalkan mengajarkan hal yang sama dengan misi agama-agama yang telah mapan lainnya yakni ajaran kebaikan, penghormatan terhadap alam dan harmoni hidup berdampingan.

Upaya Menumbuhkan Kesadaran Toleransi Kolektif

Sebagai langkah lanjut dari kunjungan ke kampung adat tersebut, Paguyuban Project mengundang Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si. seorang Antropolog Sunda Wiwitan dari Universitas Padjajaran untuk menjadi narasumber dalam podcast yang diunggah pada laman youtube Paguyuban Project. Tujuannya sederhana: mendidik generasi muda soal nilai-nilai budaya Sunda Wiwitan, mengatasi kesenjangan pengetahuan karena globalisasi, mendorong diskusi interaktif antara praktisi adat dan pendengar muda, serta meningkatkan toleransi terhadap penghayat kepercayaan.

Dengan podcast ini, mereka berharap bisa tingkatkan kesadaran kolektif, dorong partisipasi aktif dalam pelestarian budaya, dan hasilkan dampak jangka panjang seperti minat pemuda yang lebih besar terhadap kearifan lokal. Melalui langkah-langkah seperti ini, diharapkan kearifan lokal bisa kembali bersinar, bukan sebagai fosil masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk masa depan yang lebih harmonis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)