Di tengah arus modernisasi yang deras, budaya Sunda Wiwitan sebagai salah satu warisan leluhur masyarakat Sunda di Jawa Barat semakin terpinggirkan. Para ahli budaya dan tokoh masyarakat setempat mengingatkan bahwa pengenalan nilai-nilai Sunda Wiwitan sejak dini kepada generasi muda menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini. Tanpa langkah cepat, warisan spiritual dan kearifan lokal ini bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.
Sunda Wiwitan, yang dikenal juga sebagai agama asli Sunda, menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Praktiknya meliputi upacara adat seperti ngalaksa, sesajen, dan penghormatan kepada Sang Hyang Tunggal melalui ritual-ritual yang sarat makna. Namun, dengan masuknya pengaruh globalisasi, banyak anak muda lebih tertarik pada gaya hidup urban daripada mempelajari ajaran leluhur mereka.
Menurut Ira Indrawardana, seorang antropolog dari Universitas Padjadjaran, "Sunda wiwitan adalah kepercayaan adat asli masyrakat sunda yang belum familiar secara luas dan seringkali dibedakan oleh negara dengan agama-agama lain. Sunda Wiwitan mengajarkan kebaikan, perhormatan terhadap alam dan harmoni hidup bersama."
Kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu

Melihat hal tersebut, mahasiswa Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tergabung dalam Paguyuban Project mengadakan kunjungan sekaligus observasi lapangan pada festival adat kampung cireundeu, kota Cimahi. Untuk melihat dan mendengar secara langsung bagaimana praktik filosofi sunda wiwitan dari para praktisi dan pengunjung yang hadir di acara tersebut.
Pada 15 November 2025, Di Kampung Cirendeu, Cimahi, lokasi Festival Cirendeu yang diselenggarakan oleh masyarakat adat dan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Cimahi, praktisi Sunda Wiwitan seperti Kang Ogi menjelaskan lebih dalam. "Sunda Wiwitan sangat erat hubungannya dengan budaya Sunda. Tidak mungkin ada acara seperti ini kalau kita tidak menjaga tradisi itu. Acara ini bertujuan mengangkat dan melestarikan tata nilai di kampung kami," kata Kang Ogi saat wawancara dengan Sendi Maulana pada Sabtu lalu.
Mahasiswi Maria Elza, yang turut hadir, menambahkan pandangan generasi muda. "Sebenarnya, Sunda Wiwitan itu lebih tepatnya ke adat. Kita harus mempertahankan adat itu, tapi juga ikuti zaman sekarang yang makin canggih. Sebagai anak muda Gen-Z, kita harus lebih open-minded, jangan cuma tahu yang gaul-gaul, tapi juga dalami adat-adat ini."
Salah satu elemen kunci yang masih bertahan adalah penggunaan sesajen sebagai simbolis. "Setau aku, masih ada sampai sekarang, terutama di beberapa daerah yang masih pakai sesajen seperti nampan berisi kelapa, bunga, dan lainnya. Itu dibawa ke tempat yang mereka percaya sebagai sumber kepercayaan leluhur," jelas Maria Elza.
Menurut Kang Ogi, "Ini bukan sekadar ritual, tapi fondasi identitas budaya. Jika kita tidak perkenalkan sejak anak-anak, generasi berikutnya akan kehilangan akar. Sekolah dan keluarga harus mulai mengintegrasikan pendidikan budaya ini ke dalam kurikulum, seperti melalui cerita rakyat, lagu daerah, dan kunjungan ke situs-situs suci."
Tantangan Terhadap Penganut Sunda Wiwitan
Dari pegalaman pribadi Ira, Ia sempat merasakan bagaimana tindakan diskriminasi dilayangkan kepada komunitas penganut sunda wiwitan lebih tepatnya pada komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur pada masa pemerintahan Orde Baru. Saat itu komunitas Sunda Wiwitan yang hendak merayakan upacara adat seren taun, sempat dilarang oleh aparat negara, karena dianggap bukan bagian dari agama resmi yang diakui negara.
Menurut, Ira Indrawardana. konsep agama yang dipahami di Indonesia cenderung mengacu kepada konsep agama-agama Ibrahamik yang mengaruskan adanya Nabi atau utusan dan kitab suci, sehingga kepercayaan lokal seperti sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. sehingga sampai sekarang, para pemeluk Sunda Wiwitan masih dianggap sebatas sebagai penghayat bukan suatu agama yang dapat tercantum di dalam identitas seperti KTP.
Baca Juga: Longser Sunda 'Kabayan Ngalalana' Menampilkan Figur yang Berbeda dari Mang Kabayan
Padahal sama dengan sistem kepercayaan lainnya, Sunda Wiwitan yang merupakan kepercayaan sekaligus kebudayaan yang sampai saat ini masih banyak diamalkan mengajarkan hal yang sama dengan misi agama-agama yang telah mapan lainnya yakni ajaran kebaikan, penghormatan terhadap alam dan harmoni hidup berdampingan.
Upaya Menumbuhkan Kesadaran Toleransi Kolektif
Sebagai langkah lanjut dari kunjungan ke kampung adat tersebut, Paguyuban Project mengundang Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si. seorang Antropolog Sunda Wiwitan dari Universitas Padjajaran untuk menjadi narasumber dalam podcast yang diunggah pada laman youtube Paguyuban Project. Tujuannya sederhana: mendidik generasi muda soal nilai-nilai budaya Sunda Wiwitan, mengatasi kesenjangan pengetahuan karena globalisasi, mendorong diskusi interaktif antara praktisi adat dan pendengar muda, serta meningkatkan toleransi terhadap penghayat kepercayaan.
Dengan podcast ini, mereka berharap bisa tingkatkan kesadaran kolektif, dorong partisipasi aktif dalam pelestarian budaya, dan hasilkan dampak jangka panjang seperti minat pemuda yang lebih besar terhadap kearifan lokal. Melalui langkah-langkah seperti ini, diharapkan kearifan lokal bisa kembali bersinar, bukan sebagai fosil masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk masa depan yang lebih harmonis. (*)
