Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Reska Okta Nur Saputra
Ditulis oleh Reska Okta Nur Saputra diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 07:53 WIB
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)

Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)

Di tengah arus modernisasi yang deras, budaya Sunda Wiwitan sebagai salah satu warisan leluhur masyarakat Sunda di Jawa Barat semakin terpinggirkan. Para ahli budaya dan tokoh masyarakat setempat mengingatkan bahwa pengenalan nilai-nilai Sunda Wiwitan sejak dini kepada generasi muda menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini. Tanpa langkah cepat, warisan spiritual dan kearifan lokal ini bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.

Sunda Wiwitan, yang dikenal juga sebagai agama asli Sunda, menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Praktiknya meliputi upacara adat seperti ngalaksa, sesajen, dan penghormatan kepada Sang Hyang Tunggal melalui ritual-ritual yang sarat makna. Namun, dengan masuknya pengaruh globalisasi, banyak anak muda lebih tertarik pada gaya hidup urban daripada mempelajari ajaran leluhur mereka.

Menurut Ira Indrawardana, seorang antropolog dari Universitas Padjadjaran, "Sunda wiwitan adalah kepercayaan adat asli masyrakat sunda yang belum familiar secara luas dan seringkali dibedakan oleh negara dengan agama-agama lain. Sunda Wiwitan mengajarkan kebaikan, perhormatan terhadap alam dan harmoni hidup bersama."

Kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu

Kunjungan ke festival Cireundeu, Kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Paguyuban Project)
Kunjungan ke festival Cireundeu, Kampung adat Cireundeu, Kota Cimahi. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Paguyuban Project)

Melihat hal tersebut, mahasiswa Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tergabung dalam Paguyuban Project mengadakan kunjungan sekaligus observasi lapangan pada festival adat kampung cireundeu, kota Cimahi. Untuk melihat dan mendengar secara langsung bagaimana praktik filosofi sunda wiwitan dari para praktisi dan pengunjung yang hadir di acara tersebut.

Pada 15 November 2025, Di Kampung Cirendeu, Cimahi, lokasi Festival Cirendeu yang diselenggarakan oleh masyarakat adat dan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Cimahi, praktisi Sunda Wiwitan seperti Kang Ogi menjelaskan lebih dalam. "Sunda Wiwitan sangat erat hubungannya dengan budaya Sunda. Tidak mungkin ada acara seperti ini kalau kita tidak menjaga tradisi itu. Acara ini bertujuan mengangkat dan melestarikan tata nilai di kampung kami," kata Kang Ogi saat wawancara dengan Sendi Maulana pada Sabtu lalu.

Mahasiswi Maria Elza, yang turut hadir, menambahkan pandangan generasi muda. "Sebenarnya, Sunda Wiwitan itu lebih tepatnya ke adat. Kita harus mempertahankan adat itu, tapi juga ikuti zaman sekarang yang makin canggih. Sebagai anak muda Gen-Z, kita harus lebih open-minded, jangan cuma tahu yang gaul-gaul, tapi juga dalami adat-adat ini."

Salah satu elemen kunci yang masih bertahan adalah penggunaan sesajen sebagai simbolis. "Setau aku, masih ada sampai sekarang, terutama di beberapa daerah yang masih pakai sesajen seperti nampan berisi kelapa, bunga, dan lainnya. Itu dibawa ke tempat yang mereka percaya sebagai sumber kepercayaan leluhur," jelas Maria Elza.

Menurut Kang Ogi, "Ini bukan sekadar ritual, tapi fondasi identitas budaya. Jika kita tidak perkenalkan sejak anak-anak, generasi berikutnya akan kehilangan akar. Sekolah dan keluarga harus mulai mengintegrasikan pendidikan budaya ini ke dalam kurikulum, seperti melalui cerita rakyat, lagu daerah, dan kunjungan ke situs-situs suci."

Tantangan Terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Dari pegalaman pribadi Ira, Ia sempat merasakan bagaimana tindakan diskriminasi dilayangkan kepada komunitas penganut sunda wiwitan lebih tepatnya pada komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur pada masa pemerintahan Orde Baru. Saat itu komunitas Sunda Wiwitan yang hendak merayakan upacara adat seren taun, sempat dilarang oleh aparat negara, karena dianggap bukan bagian dari agama resmi yang diakui negara.

Menurut, Ira Indrawardana. konsep agama yang dipahami di Indonesia cenderung mengacu kepada konsep agama-agama Ibrahamik yang mengaruskan adanya Nabi atau utusan dan kitab suci, sehingga kepercayaan lokal seperti sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. sehingga sampai sekarang, para pemeluk Sunda Wiwitan masih dianggap sebatas sebagai penghayat bukan suatu agama yang dapat tercantum di dalam identitas seperti KTP.

Baca Juga: Longser Sunda 'Kabayan Ngalalana' Menampilkan Figur yang Berbeda dari Mang Kabayan

Padahal sama dengan sistem kepercayaan lainnya, Sunda Wiwitan yang merupakan kepercayaan sekaligus kebudayaan yang sampai saat ini masih banyak diamalkan mengajarkan hal yang sama dengan misi agama-agama yang telah mapan lainnya yakni ajaran kebaikan, penghormatan terhadap alam dan harmoni hidup berdampingan.

Upaya Menumbuhkan Kesadaran Toleransi Kolektif

Sebagai langkah lanjut dari kunjungan ke kampung adat tersebut, Paguyuban Project mengundang Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si. seorang Antropolog Sunda Wiwitan dari Universitas Padjajaran untuk menjadi narasumber dalam podcast yang diunggah pada laman youtube Paguyuban Project. Tujuannya sederhana: mendidik generasi muda soal nilai-nilai budaya Sunda Wiwitan, mengatasi kesenjangan pengetahuan karena globalisasi, mendorong diskusi interaktif antara praktisi adat dan pendengar muda, serta meningkatkan toleransi terhadap penghayat kepercayaan.

Dengan podcast ini, mereka berharap bisa tingkatkan kesadaran kolektif, dorong partisipasi aktif dalam pelestarian budaya, dan hasilkan dampak jangka panjang seperti minat pemuda yang lebih besar terhadap kearifan lokal. Melalui langkah-langkah seperti ini, diharapkan kearifan lokal bisa kembali bersinar, bukan sebagai fosil masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk masa depan yang lebih harmonis. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Reska Okta Nur Saputra
Suka Ayam Geprek

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)