Cireundeu: Menyelami Filosofi Keyakinan, Tradisi Identik, dan Toleransi dalam sebuah Kampung Adat

3 menit baca
calya pratista maheswari
Ditulis oleh calya pratista maheswari diterbitkan
Papan sambutan di depan Kampung Adat Cireundeu, bertuliskan sambutan hangat : 'Wilujeng Sumping Di Kampung Cireundeu Rukun Warga 10', pada tanggal 30/10/2025. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Calya Pratista)
Papan sambutan di depan Kampung Adat Cireundeu, bertuliskan sambutan hangat : 'Wilujeng Sumping Di Kampung Cireundeu Rukun Warga 10', pada tanggal 30/10/2025. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Calya Pratista)

Melangkahkan kaki ke sebuah Kampung Adat diiringi dengan rintik hujan yang mulai turun, seolah memasuki dimensi kehidupan yang berbeda. Di tengah hiruk pikuk kota dengan segala modernisasi yang ada, mereka tetap teguh untuk memegang sebuah pandangan hidup yang kaya akan keunikan, nilai, serta filosofis yaitu Sunda Wiwitan. Kampung adat itu adalah Kampung Adat Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Yana sebagai pengelola Kampung Adat Cireundeu menceritakan sejarah mengenai salah satu keunikan yang melekat pada Kampung Adat ini, yaitu mengkonsumsi singkong.

“Awalnya, mengonsumsi singkong bukanlah bagian dari ritual kami, akan tetapi sejarah mengubahnya menjadi sebuah ritual baru yaitu Ngayun,” ungkapnya.

Ngayun sendiri adalah upacara memindahkan roh dari beras yang disimbolkan oleh Dewi Pohaci Sangiang Asri ke sumber pangan lain, yaitu singkong.

Semua ini berawal dari kesulitan pangan pada tahun 1918, sesepuh adat saat itu melahirkan ide protes untuk tidak lagi menanam dan mengkonsumsi padi. Setelah transisi selama enam tahun, akhirnya pada tahun 1924 sesepuh adat menemukan singkong sebagai alternatif pangan mereka. 

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu sedang mengolah singkong menjadi Beras Singkong sebagai kebutuhan pangan utama mereka.
(30/10/2025)(Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Calya Pratista)

Hingga kini, masyarakat Kampung Adat Cireundeu mengolah singkong secara berdikari mulai menanam, memanen, dan mengolahnya hingga menjadi beras singkong atau rasi. Masyarakat Kampung Adat Cireundeu percaya bahwa sejarah harus dihormati bagi mereka mengkonsumsi beras adalah pamali. Hal ini juga merupakan bentuk perjuangan spiritual untuk menahan nafsu agar tidak mencoba makan nasi. 

Yana yang juga sebagai masyarakat asli Kampung Adat Cireundeu juga banyak menceritakan dan menjelaskan terkait asal mula kepercayaan Sunda Wiwitan.

"Sunda Wiwitan mempunyai arti asal atau permulaan yang maksudnya, kesadaran untuk menghayati nilai dan asal-usul kehidupan,” ucapnya pada Kamis (30/10/2025).

Inti dari kepercayaan Sunda Wiwitan adalah bagaimana tata krama dan cara ciri manusia menjadi nilai utama. 

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang juga penganut kepercayaan Sunda Wiwitan memaknai Sunda sebagai 3 hal mendasar. Pertama, Sunda yang bersifat etnis dimana diperlukan kesadaran terhadap bahasa, budaya, dan adat istiadat Sunda. Kedua, Sunda yang berarti tempat tinggal atau tempat lahir, yang terakhir Sunda yang bersifat batiniah, maksudnya terlahir sebagai orang sunda sudah menjadi kodrat. 

Dalam pandangan Sunda Wiwitan Tuhan disebut sebagai Gusti Nu Maha Tunggal, maksudnya adalah Yang Maha Satu. Bagi penganut Sunda Wiwitan ibadah mereka bukanlah berdoa atau meminta, melainkan berserah diri atau bersemedi sebelum tidur. Hal ini dilakukan untuk merenungkan perbuatan mereka pada hari itu, apakah mereka sudah berbuat baik atau justru sebaliknya.

Proses wawancara bersama Kang Yana (kanan) selaku pengelola dan masyarakat asli Kampung Adat Cireundeu. 
(30/10/2025) (Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Rafy Lovinka)

Adapun falsafah kepercayaan Sunda Wiwitan yang selalu dikatakan dan di ingatkan oleh sesepuh Kampung Adat Cireundeu. Falsafah itu adalah “Gusti Nu Asih, Alam Nu Ngasah, Manusa Nu Ngasuh”. Falsafah ini menjelaskan tentang bagaimana Tuhan, alam, dan manusia memiliki peran dan tugasnya masing-masing.

Yana juga menceritakan terlepas dari sejarah dan adat istiadatnya, hidup berdampingan dengan komunitas diluar kepercayaan Sunda Wiwitan, telah berjalan sejak lama.

"Dalam konteks urusan spiritual itu masing-masing, tapi dalam menjaga adat Sunda kami bersama dan berdampingan agar toleransinya agar tetap terjaga,” ujarnya. Hal ini menjadi nilai toleransi yang selama ini dijaga oleh Masyarakat Kampung Adat Cireundeu.  

Kampung Adat Cireundeu adalah bukti nyata dari keteguhan tradisi pangan keindahan filosofi Sunda Wiwitan yang melampaui zaman. Mereka dengan teguh mempertahankan identitas luhur dan keharmonisan di tengah derasnya laju modernisasi yang terus bergerak. Cireundeu juga mengajarkan kita arti penting toleransi, penghormatan terhadap alam, dan kekayaan sejati sebuah kebudayaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

calya pratista maheswari
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)