Cireundeu: Menyelami Filosofi Keyakinan, Tradisi Identik, dan Toleransi dalam sebuah Kampung Adat

calya pratista maheswari
Ditulis oleh calya pratista maheswari diterbitkan Rabu 03 Des 2025, 17:34 WIB
Papan sambutan di depan Kampung Adat Cireundeu, bertuliskan sambutan hangat : 'Wilujeng Sumping Di Kampung Cireundeu Rukun Warga 10', pada tanggal 30/10/2025. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Calya Pratista)

Papan sambutan di depan Kampung Adat Cireundeu, bertuliskan sambutan hangat : 'Wilujeng Sumping Di Kampung Cireundeu Rukun Warga 10', pada tanggal 30/10/2025. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Calya Pratista)

Melangkahkan kaki ke sebuah Kampung Adat diiringi dengan rintik hujan yang mulai turun, seolah memasuki dimensi kehidupan yang berbeda. Di tengah hiruk pikuk kota dengan segala modernisasi yang ada, mereka tetap teguh untuk memegang sebuah pandangan hidup yang kaya akan keunikan, nilai, serta filosofis yaitu Sunda Wiwitan. Kampung adat itu adalah Kampung Adat Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Yana sebagai pengelola Kampung Adat Cireundeu menceritakan sejarah mengenai salah satu keunikan yang melekat pada Kampung Adat ini, yaitu mengkonsumsi singkong.

“Awalnya, mengonsumsi singkong bukanlah bagian dari ritual kami, akan tetapi sejarah mengubahnya menjadi sebuah ritual baru yaitu Ngayun,” ungkapnya.

Ngayun sendiri adalah upacara memindahkan roh dari beras yang disimbolkan oleh Dewi Pohaci Sangiang Asri ke sumber pangan lain, yaitu singkong.

Semua ini berawal dari kesulitan pangan pada tahun 1918, sesepuh adat saat itu melahirkan ide protes untuk tidak lagi menanam dan mengkonsumsi padi. Setelah transisi selama enam tahun, akhirnya pada tahun 1924 sesepuh adat menemukan singkong sebagai alternatif pangan mereka. 

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu sedang mengolah singkong menjadi Beras Singkong sebagai kebutuhan pangan utama mereka.
(30/10/2025)(Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Calya Pratista)

Hingga kini, masyarakat Kampung Adat Cireundeu mengolah singkong secara berdikari mulai menanam, memanen, dan mengolahnya hingga menjadi beras singkong atau rasi. Masyarakat Kampung Adat Cireundeu percaya bahwa sejarah harus dihormati bagi mereka mengkonsumsi beras adalah pamali. Hal ini juga merupakan bentuk perjuangan spiritual untuk menahan nafsu agar tidak mencoba makan nasi. 

Yana yang juga sebagai masyarakat asli Kampung Adat Cireundeu juga banyak menceritakan dan menjelaskan terkait asal mula kepercayaan Sunda Wiwitan.

"Sunda Wiwitan mempunyai arti asal atau permulaan yang maksudnya, kesadaran untuk menghayati nilai dan asal-usul kehidupan,” ucapnya pada Kamis (30/10/2025).

Inti dari kepercayaan Sunda Wiwitan adalah bagaimana tata krama dan cara ciri manusia menjadi nilai utama. 

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang juga penganut kepercayaan Sunda Wiwitan memaknai Sunda sebagai 3 hal mendasar. Pertama, Sunda yang bersifat etnis dimana diperlukan kesadaran terhadap bahasa, budaya, dan adat istiadat Sunda. Kedua, Sunda yang berarti tempat tinggal atau tempat lahir, yang terakhir Sunda yang bersifat batiniah, maksudnya terlahir sebagai orang sunda sudah menjadi kodrat. 

Dalam pandangan Sunda Wiwitan Tuhan disebut sebagai Gusti Nu Maha Tunggal, maksudnya adalah Yang Maha Satu. Bagi penganut Sunda Wiwitan ibadah mereka bukanlah berdoa atau meminta, melainkan berserah diri atau bersemedi sebelum tidur. Hal ini dilakukan untuk merenungkan perbuatan mereka pada hari itu, apakah mereka sudah berbuat baik atau justru sebaliknya.

Proses wawancara bersama Kang Yana (kanan) selaku pengelola dan masyarakat asli Kampung Adat Cireundeu. 
(30/10/2025) (Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Rafy Lovinka)

Adapun falsafah kepercayaan Sunda Wiwitan yang selalu dikatakan dan di ingatkan oleh sesepuh Kampung Adat Cireundeu. Falsafah itu adalah “Gusti Nu Asih, Alam Nu Ngasah, Manusa Nu Ngasuh”. Falsafah ini menjelaskan tentang bagaimana Tuhan, alam, dan manusia memiliki peran dan tugasnya masing-masing.

Yana juga menceritakan terlepas dari sejarah dan adat istiadatnya, hidup berdampingan dengan komunitas diluar kepercayaan Sunda Wiwitan, telah berjalan sejak lama.

"Dalam konteks urusan spiritual itu masing-masing, tapi dalam menjaga adat Sunda kami bersama dan berdampingan agar toleransinya agar tetap terjaga,” ujarnya. Hal ini menjadi nilai toleransi yang selama ini dijaga oleh Masyarakat Kampung Adat Cireundeu.  

Kampung Adat Cireundeu adalah bukti nyata dari keteguhan tradisi pangan keindahan filosofi Sunda Wiwitan yang melampaui zaman. Mereka dengan teguh mempertahankan identitas luhur dan keharmonisan di tengah derasnya laju modernisasi yang terus bergerak. Cireundeu juga mengajarkan kita arti penting toleransi, penghormatan terhadap alam, dan kekayaan sejati sebuah kebudayaan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

calya pratista maheswari
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:40 WIB

Sisi ‘Gelap’ Bandung di Batununggal

Keresahan masyarakat atas minimnya penerangan di area Jalan Batununggal, Kota Bandung.
Kondisi jalanan di Batununggal saat malam hari pada Rabu (3/12/25). (Sumber: Penulis | Foto: Adventia)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:22 WIB

Farhan Vs. KDM

Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung.
Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung. (Sumber: Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:15 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota Farhan: Lubang Jalan, Lubang Kepercayaan Publik

Masyarakat selalu dihantui oleh satu masalah paling klise yang tak ada habisnya yaitu jalan berlubang dimana-mana. 
Salah Satu titik jalan berlubang di Jl. Lombok, Merdeka, Kec.Sumur Bandung, Kota Bandung.(3/12/2025) (Sumber: Nabila Putri Wiritanaya)
Ayo Biz 07 Des 2025, 20:13 WIB

Bandung Menjadi Pusat Inovasi Hotel Ramah Lingkungan Bertaraf Internasional

Bandung kini menegaskan dirinya bukan hanya sebagai kota kreatif dan kuliner, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan di sektor pariwisata.
The Gaia Hotel Bandung membuktikan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan dapat menjadi sumber daya saing, peluang investasi, dan jalan menuju pariwisata yang lebih inklusif dan berdaya tahan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:07 WIB

Halte Bus Bandung: Wajah Buram Transportasi Publik

Halte menjadi salah satu fasilitas umum yang sangat terabaikan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Kondisi halte yang basah dan minim pencahayaan pada malam hari di Halte Tegalgea, Jl. Moch. Toha, Kec. Regol, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Tsaqifa Dhiyaul Hawa)
Ayo Jelajah 07 Des 2025, 19:54 WIB

Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Catatan kolonial menggambarkan Gunung Burangrang sebagai lanskap eksotik Priangan yang harus dipetakan dan ditaklukkan lewat wisata alam.
Gunung Burangrang.
Ayo Netizen 07 Des 2025, 19:46 WIB

Di Antara Ombak Buatan dan Tawa Keluarga di Bandung Barat

Wahoo Waterworld, taman air modern yang seru di Bandung Barat.
Area masuk Wahoo Waterworld yang menampilkan ikon roda kemudi besar di kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat, Senin (10/11/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Adifa Arsyad)
Beranda 07 Des 2025, 19:44 WIB

Bencana Alam Itu Tidak Jauh, Sudah di Depan Hidung Kita

Data bencana alam BNPB tahun 2024 menyatakan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling sering mengalami bencana, yakni sebanyak 461 kejadian.
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Biz 07 Des 2025, 19:30 WIB

Ekosistem Esports Bandung Menjadi Model Pertemuan Teknologi Komunitas dan Budaya

Industri esports Indonesia sedang berada di persimpangan penting dan tumbuh lebih besar menjadi ekosistem yang lebih dari sekadar tren hiburan.
Ilustrasi. Industri eSports telah berkembang dari sekadar hobi menjadi arena kompetitif yang melibatkan teknologi, komunitas, dan ekonomi kreatif. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 07 Des 2025, 19:02 WIB

Inklusiland 2025: Mewujudkan Indonesia Inklusif

Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia.
Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Beranda 07 Des 2025, 18:57 WIB

Braga Beken: Wajah Baru Braga yang Lebih Ramah Pejalan Kaki di Akhir Pekan

Tidak ada lagi klakson atau deru mesin kendaraan yang memecah riuh suasana. Para pejalan kaki mendominasi jalan sepanjang kurang lebih 380 meter itu
Pengunjung Jalan Braga menikmati suasana jalan yang terbebas dari kendaraan, Sabtu (6/7). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:40 WIB

Bila Gempa Terjadi Saat Berada di Mal

Apa yang akan dilakukan bila saat berada di dalam mal, di dalam stadion, di dalam gedung konser, terjadi gempa bumi?
Sebelum terjadi gempa, kenali kegunaan nomor dan tanda-tanda yang ada dalam panel di dinding litf. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:21 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota M. Farhan: Menata Arah Penanganan Pengangguran Bandung

Meningkatnya angka pengangguran di Kota Bandung dan menyoroti bagaimana ketidakseimbangan antara kebutuhan industri dan keterampilan warga.
Seorang pengendara motor melaju di jalan Kota Bandung siang hari. (29/10/2024) (Sumber: Khalidullah As Syauqi)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 07:27 WIB

Ketan Bakar Nurjaman: Cita Rasa Bandung ketika Malam

Di tengah dinginnya malam, ada satu kehangatan yang tetap hidup di sudut kota: Ketan Bakar Nurjaman.
Ketan Bakar Nurjaman. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Fikri Akmal)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:30 WIB

Tak Ada Teja Paku Alam, Fitrah Maulana pun Jadi

Fitrah Maulana—yang didapuk mendampingi pelatih Persib, Bojan Hodak-- menangis tersedu-sedu. Suasana pun menjadi haru. 
Fitrah Maulana, kiper muda Persib Bandung. (Sumber: Dok. Persib)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:06 WIB

Nasi Bakar Saparua, Hangatnya Malam Bandung dalam Sebungkus Rasa

Nasi Bakar Saparua adalah pilihan kuliner praktis di Bandung dengan cita rasa gurih pedas.
Di balik kepulan asap dan lampu kuning temaram, ada rasa yang bikin balik lagi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 06 Des 2025, 19:38 WIB

Gaya Hidup Sehat Anak Muda Bandung Tumbuh Bersama Treat a Cup

Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan.
Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 06 Des 2025, 11:45 WIB

Momentum Libur Natal dan Tahun Baru Jadi Peluang Emas Industri Hotel Bandung

Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan.
Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan. (Sumber: Four Points by Sheraton Bandung)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 21:20 WIB

Mewujudkan Asa Bandung Teknopolis 

Di kawasan industri Gedebage ada entitas industri yang masih memberikan asa Bandung teknopolis.
Hangar machining Pudak Group di kawasan industri Gedebage Bandung yang memproduksi komponen pesawat terbang pesanan Airbus dan Boeing (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 19:35 WIB

Dialog Menyentuh Kang Mus dan Kang Bahar di 'Preman Pensiun 1'

EPY KUSNANDAR alias Muslihat alias Kang Mus'i Rabu, 3 Desember 2025, lalu telah meninggalkan kita menghadap Yang Mahakuasa.
Ilustrasi Kang Mus. (Sumber: Istimewa)