Kemerdekaan bagi Sastra

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)

Pertanyaan yang acapkali didengungkan adalah bagaimana merawat kejujuran, memerdekakan kehidupan sastrawan, yang saat ini seolah-olah tampak sedang baik-baik saja. Orang bertanya bagaimana masa depan puisi, tetapi tidak bertanya bagaimana masa depan penyair. Ini sangat prismatik, seolah-olah puisi jauh lebih berharga daripada penyairnya.

Setiap Agustus, langit Indonesia dipenuhi warna merah dan putih. Jalan-jalan menjadi panggung perayaan, pidato tentang kemerdekaan kembali menggema, sementara sejarah dibaca sebagai kisah kemenangan atas kolonialisme. Namun, di balik gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah sastra telah ikut merdeka?

Barangkali sastra telah lama merdeka dalam kata-kata, tetapi belum dalam kehidupan para pelakunya. Masih ditambah dengan persoalan yang sangat subjektif, tapi dengan gaya priyayi sastra, seolah-olah indikator karya sastra tergantung pada selera, atau bisa jadi siapa yang dekat dengan lingkaran.

Sastra adalah salah satu ruang terakhir tempat kejujuran masih berani berbicara. Ketika bahasa politik dipenuhi kompromi, bahasa ekonomi dipenuhi hitung-hitungan untung dan rugi, serta media sosial dipenuhi kegaduhan yang cepat berganti, sastra tetap memelihara kesunyian agar manusia mampu mendengar suara hati nuraninya sendiri. Di sanalah sastra menjadi lebih dari sekadar karya estetis; ia adalah kesaksian moral sebuah zaman.

Pramoedya Ananta Toer pernah menegaskan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan romantik, melainkan penegasan bahwa karya sastra memiliki umur yang sering kali melampaui kekuasaan. Pemerintahan dapat berganti, rezim dapat runtuh, tetapi kata-kata yang jujur akan tetap menemukan pembacanya. Sastra mengabadikan apa yang sering dilupakan oleh sejarah resmi: penderitaan manusia, harapan yang sederhana, dan suara mereka yang tidak memiliki mimbar.

Namun ironi terbesar justru lahir di negeri yang mengaku mencintai kebudayaan. Mereka yang menjaga keabadian melalui kata-kata sering kali hidup dalam ketidakpastian. Banyak penyair, cerpenis, novelis, maupun esais menghabiskan puluhan tahun membangun kebudayaan bangsa, tetapi tidak memperoleh jaminan kehidupan yang layak. Honorarium karya sastra kerap tidak sebanding dengan kerja intelektual yang dilakukan. Sebuah cerpen mungkin memerlukan berbulan-bulan pengendapan gagasan, tetapi penghargaan ekonominya sering kali bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Inilah paradoks kemerdekaan. Bangsa menghormati karya sastra sebagai warisan budaya, tetapi membiarkan penciptanya berjalan sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.

Jean-Paul Sartre menyebut sastra sebagai bentuk keterlibatan manusia terhadap zamannya. Seorang penulis, menurut Sartre, tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu memilih berpihak, entah kepada keadilan atau kepada kebungkaman. Dalam pengertian ini, setiap karya sastra adalah tindakan etis. Menulis bukan hanya menciptakan cerita, melainkan mengambil tanggung jawab atas kenyataan.

Sayangnya, keberanian semacam itu tidak selalu disambut dengan penghargaan. Tidak sedikit sastrawan yang justru harus memilih pekerjaan lain demi mempertahankan hidup. Mereka menulis pada malam hari setelah menghabiskan tenaga di siang hari. Mereka merawat sastra dengan sisa waktu yang dimiliki. Seolah-olah menjadi penulis adalah kemewahan, bukan profesi yang patut dihargai.

Antonio Gramsci menyebut kaum intelektual sebagai penggerak kesadaran masyarakat. Dalam konteks Indonesia, sastrawan merupakan bagian dari intelektual organik yang menjaga daya kritis bangsa. Mereka mengingatkan ketika masyarakat mulai lupa, mengkritik ketika kekuasaan menjadi terlalu nyaman, dan merawat empati ketika kehidupan semakin dikuasai logika pasar. Tanpa sastra, demokrasi berisiko kehilangan hati nuraninya.

Ironisnya, masyarakat lebih mudah mengagumi hasil daripada menghargai proses. Buku dibaca, puisi dikutip, cerpen dijadikan bahan diskusi, tetapi kehidupan penulisnya jarang menjadi perhatian. Seolah-olah karya lahir begitu saja, tanpa waktu, tanpa riset, tanpa pergulatan batin, dan tanpa pengorbanan ekonomi.

Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa dunia sastra memiliki modal simbolik yang sangat besar, tetapi sering kali miskin modal ekonomi. Seorang penyair dapat memperoleh penghormatan, penghargaan, bahkan tepuk tangan, tetapi belum tentu memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidup layak. Pengakuan sosial ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan sastra bukan semata-mata persoalan individu, melainkan persoalan ekosistem kebudayaan. Negara, lembaga pendidikan, penerbit, media massa, industri kreatif, hingga masyarakat pembaca memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa kreativitas tidak berakhir pada kemiskinan.

Kemerdekaan sastra tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan berekspresi. Kemerdekaan sastra juga berarti hadirnya perlindungan terhadap hak cipta yang efektif, sistem honorarium yang lebih adil, ruang publik yang menghargai karya, dukungan terhadap komunitas literasi, serta kebijakan kebudayaan yang berpihak kepada para pencipta. Sebab kemerdekaan tanpa kesejahteraan hanya akan melahirkan kebebasan yang rapuh.

Agustus seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna kemerdekaan. Bangsa yang benar-benar merdeka bukan hanya mampu membangun jalan raya, gedung pencakar langit, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bangsa yang merdeka juga mampu menjaga mereka yang membangun peradaban melalui bahasa.

Sebab sesungguhnya, para sastrawan adalah penjaga ingatan kolektif bangsa. Mereka merekam luka yang tidak masuk arsip negara, menyimpan harapan yang tidak tercatat dalam statistik, dan merawat kemanusiaan ketika dunia semakin bising oleh kepentingan.

Kemerdekaan bagi sastra pada akhirnya adalah kemerdekaan bagi kejujuran. Dan kejujuran selalu membutuhkan keberanian. Namun keberanian juga membutuhkan kehidupan yang layak. Sebab kita tidak dapat terus-menerus meminta para penyair menyalakan cahaya bagi bangsa, sementara mereka sendiri dibiarkan berjalan dalam gelap.

Jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang besar secara kebudayaan, maka sudah saatnya kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kemerdekaan harus hadir dalam keberpihakan yang nyata kepada para pencipta. Karena di tangan merekalah bahasa tetap hidup, nurani tetap menyala, dan masa depan bangsa terus ditulis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)