Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)

Ada masa ketika sebuah lagu tidak bisa diputar kapan saja. Tidak ada YouTube, Spotify, media sosial, atau podcast. Jika ingin mendengar lagu favorit Iwan Fals, para penggemarnya harus sabar menunggu jarum jam bergerak menuju waktu siaran radio.

Bagi kalangan fans setia Iwan Fals di Bandung pada awal dekade 1990-an, satu nama selalu dinanti setiap pekan: Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF. Melalui suara khasnya yang hangat dan bersahabat, Kang Denny tidak sekadar memutarkan lagu-lagu Iwan Fals, tetapi juga menghadirkan berita terbaru, cerita di balik album, informasi konser, aktivitas komunitas, hingga membuka ruang dialog yang membuat para pendengar merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.

Program ini bukan sekadar acara musik. Ia adalah ruang berkumpul, tempat bertukar kabar, menitip salam, berdiskusi, bahkan menjalin persahabatan melalui gelombang udara. Di masa ketika telepon rumah masih menjadi barang mewah dan surat menjadi media komunikasi utama, GIF menjelma menjadi "rumah" bagi para pencinta musik balada.

Semua kenangan itu masih tersimpan rapi dalam Buku Harian yang Kin Sanubary tulis sepanjang tahun 1992. Catatan sederhana berisi daftar lagu, topik siaran, dan informasi komunitas tersebut kini berubah menjadi potongan sejarah kecil yang merekam denyut kehidupan para penggemar setia Iwan Fals di Bandung dan sekitarnya lebih dari tiga dekade silam.

Agustus 1992: Radio Menjadi Pusat Informasi Lagu Iwan Fals

Memasuki Agustus 1992, suasana GIF semakin hidup. Hampir setiap pekan Kang Denny GIF menghadirkan informasi terbaru seputar Iwan Fals, dunia musik, hingga berbagai peristiwa nasional yang sedang hangat diperbincangkan.

Edisi 6 Agustus misalnya, mengangkat beragam topik mulai dari WS Rendra, Tumbal Tour Sumatra, kabar Ian Antono, hingga peristiwa ledakan di Parkir Timur Senayan. Lagu-lagu seperti Antara Kau, Aku dan Bekas Pacarmu, Yang Tersendiri, Lonteku, Mata Dewa, dan Berikan Pijar Matahari menemani malam para pendengar.

Segmen Peta Perjalanan Iwan Fals menjadi favorit karena mengajak pendengar menelusuri perjalanan musikal Iwan melalui lagu-lagu seperti Oemar Bakrie, Opini, Sugali, Kesaksian, Willy, Yang Tersendiri, hingga Bento bersama Swami.

Pertengahan Agustus, deretan lagu seperti Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, Berkacalah Jakarta, Penantian, Jalan Panjang Yang Berliku, Kota, Ibu, dan Air Mata mengalun di udara. Rekaman Kantata Takwa Live 1990 pun menjadi sajian istimewa yang selalu ditunggu para pendengar.

Pada 19 Agustus, Kang Denny mengabarkan rencana shooting Iwan Fals di TVRI yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 1992. Informasi seperti ini sangat berharga karena radio menjadi salah satu sumber utama berita bagi para penggemar.

Segmen Anda Bicara semakin mempererat hubungan antara penyiar dan pendengar. Lagu-lagu seperti Panggilan Dari Gunung, Pesawat Tempur, Kuli Jalanan, Belum Ada Judul, hingga Mereka Ada di Jalan mengiringi obrolan yang akrab.

Menjelang akhir bulan, GIF menghadirkan wawancara bersama Sirkus Barock dan Sawung Jabo, kabar album baru Iwan Fals, serta informasi aktivitas berbagai komunitas seperti KSR, BKP, KPJ, KAKAPELLA, hingga Tembang Anak Pribumi. Radio benar-benar menjadi simpul pertemuan berbagai komunitas yang memiliki semangat yang sama.

September 1992: Ulang Tahun Iwan Fals dan Hangatnya Persaudaraan

Buku catatan milik Kin Sanubary yang berisi dokumentasi dan arsip kegiatan acara Ganesha Iwan Fals pada era 1990-an, yang disiarkan oleh Radio Ganesha Bandung. (Foto: Kin Sanubary)
Buku catatan milik Kin Sanubary yang berisi dokumentasi dan arsip kegiatan acara Ganesha Iwan Fals pada era 1990-an, yang disiarkan oleh Radio Ganesha Bandung. (Foto: Kin Sanubary)

Awal September selalu menjadi momen spesial karena bertepatan dengan hari lahir Iwan Fals.

Pada 3 September 1992, Radio Ganesha menggelar Iwan Fals Day, sebuah edisi khusus yang dipersembahkan untuk memperingati ulang tahun sang legenda. Keberadaan edisi tersebut menunjukkan besarnya perhatian Radio Ganesha terhadap sosok Iwan Fals.

Sepanjang September, lagu-lagu seperti Kumenanti Seorang Kekasih, Jendela Kelas 1, Untuk Yani, Pulang Kerja, Cikal, Sugali, Kereta Tiba Pukul Berapa, Kuda Lumping, Imitasi, Tolong Dengar Tuhan, hingga Kebaya Merah dari Swami menghiasi udara malam Bandung.

Catatan 16 September bahkan merekam pengalaman yang sangat khas era radio: kualitas sinyal yang kurang baik. Gangguan suara, desis, hingga siaran yang kadang hilang muncul menjadi bagian dari romantika mendengarkan radio pada masa itu.

Kang Denny juga mengulas perjalanan album-album Iwan Fals, dari Frustasi, Celoteh, hingga album terbaru saat itu, Hijau. Obrolan santai tentang sepak bola internasional pun sesekali hadir, membuktikan bahwa GIF bukan sekadar acara musik, melainkan ruang berbagi cerita.

Oktober–November 1992: Menyusuri Jejak Album dan Karya

Memasuki Oktober, GIF semakin kaya dengan informasi sejarah perjalanan musik Iwan Fals.

Pada 8 Oktober, diputar lagu-lagu seperti Berkacalah Jakarta, PHK, Ya atau Tidak, Rog Rog Asem, Hatta, hingga 14-4-84. Kang Denny juga mengangkat fakta menarik bahwa God Bless pernah membawakan lagu ciptaan Iwan Fals seperti Damai Yang Hilang dan Trauma.

Keduanya berada dalam album Semut Hitam milik God Bless yang dirilis tahun 1988.

Melalui Peta Perjalanan Iwan Fals, pendengar diajak mengenang kolaborasi Iwan bersama Rita Ruby Hartland melalui lagu

Serenade karya Remy Sylado. Lagu-lagu yang diputar pada edisi ini yaitu : Panggilan dari Gunung, Maaf Cintaku, Aku Antar Kau, Berkacalah Jakarta, hingga Tak Biru Lagi Lautku.

November menghadirkan warna yang berbeda. Lagu-lagu Swami seperti Sangkala, Bunga Trotoar, Hio, hingga karya-karya dari album Hijau menjadi materi utama. Kang Denny GIF bersama Sofyan Ali, Panca, dan Joko menyuguhkan Lagu Kenangan yang selalu membawa pendengar bernostalgia.

Desember 1992: Menutup Tahun Bersama Lagu dan Persaudaraan

Kemal Ferdiansyah dan Kin Sanubary, dua pendengar setia acara Ganesha Iwan Fals. (Foto: Agus Wahyudi)
Kemal Ferdiansyah dan Kin Sanubary, dua pendengar setia acara Ganesha Iwan Fals. (Foto: Agus Wahyudi)

Desember menjadi penutup yang manis bagi perjalanan GIF sepanjang 1992.

Pada 16 Desember, lagu-lagu Willy, 3 Bulan, Pulang Kerja, Berandal Malam di Bangku Terminal, dan Ujung Aspal Pondok Gede mengalun menemani malam para pendengar.

Segmen Anda Bicara kembali menjadi ruang komunikasi yang hangat. Nama-nama pendengar seperti Arief dan rekan-rekan KSR tercatat dalam buku harian, memperlihatkan betapa akrab hubungan antara penyiar dan komunitas.

Edisi 23 Desember mengangkat diskusi sekaligus berbagi informasi mengenai kaset-kaset lama yang masih bisa diburu di Duta Swara Blok M maupun Cihapit. Informasi seperti alamat komunitas, buletin, poster, hingga media penggemar juga rutin dibagikan, menjadikan GIF sebagai pusat informasi OI pada masa itu.

Pada Hari Natal, 25 Desember 1992, GIF menutup tahun dengan lagu-lagu Oemar Bakrie, Aku Antar Kau, Berapa, Emak, dan Sugali. Sederhana, tetapi penuh makna.

Radio yang Tak Sekadar Mengudara

Kini, 34 tahun telah berlalu. Buku harian yang dahulu hanya berisi daftar lagu dan catatan kecil ternyata telah berubah menjadi arsip budaya yang merekam satu masa ketika radio menjadi media paling dekat dengan masyarakat.

Ganesha Iwan Fals bukan hanya program musik. Ia adalah ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang persaudaraan. Dari studio sederhana Radio Ganesha Bandung, Kang Denny GIF berhasil membangun kedekatan yang membuat ribuan pendengar merasa saling mengenal, meski hanya dipertemukan oleh frekuensi radio.

Bagi generasi OI era 1990-an, setiap malam bersama Ganesha Iwan Fals adalah sebuah perjumpaan. Lagu-lagu Iwan Fals menjadi pengikat, suara Kang Denny GIF menjadi penunjuk jalan, dan gelombang radio menjadi jembatan yang menyatukan ribuan hati.

Kini, ketika segala sesuatu dapat diakses hanya dengan sentuhan jari, kenangan tentang memutar tombol radio, menunggu lagu favorit diputar, mencatat daftar lagu di buku harian, dan mengirim salam melalui udara justru terasa semakin berharga. Sebab dari sanalah lahir sebuah persaudaraan yang tak lekang oleh waktu, persaudaraan yang hingga hari ini masih dikenang oleh para OI sebagai salah satu bab terindah dalam sejarah musik Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)