Longser Sunda 'Kabayan Ngalalana' Menampilkan Figur yang Berbeda dari Mang Kabayan

3 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Dalam Longser Sunda “Kabayan Ngalalana”, Mang Kabayan ditampilkan sebagai sosok Profesor Kabayan, seorang penemu mesin waktu. (Sumber: Istimewa)
Dalam Longser Sunda “Kabayan Ngalalana”, Mang Kabayan ditampilkan sebagai sosok Profesor Kabayan, seorang penemu mesin waktu. (Sumber: Istimewa)

MANG KABAYAN adalah tokoh legendaris masyarakat Sunda. Ia sering digambarkan sebagai manusia lugu, cerdik, jenaka, tetapi bijak. Akan tetapi, bagaimana jika tokoh legendaris itu ditampilkan dengan figur yang berbeda? Mungkinkah?

Dalam dunia fiksi, hal itu boleh dan sah-sah saja. Kekuatan dunia fiksi adalah berfantasi dan berimajinasi. Nah, dalam Longser Sunda “Kabayan Ngalalana”, Mang Kabayan ditampilkan sebagai sosok Profesor Kabayan, seorang penemu mesin waktu.

Dengan mesin ciptaannya, Mang Kabayan terseret ke berbagai masa: dari zaman Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Bandung Purba, ke Batavia era Kompeni, hingga melesat jauh ke Tatar Sunda tahun 2750 Masehi, ketika Bandung kembali menjadi danau akibat bencana.

Narasi di atas bukan sekadar petualangan fantasi. Ia menyuguhkan refleksi tentang ingatan kolektif, tentang bagaimana orang Sunda melihat masa lalu, kini, dan masa depan. Ada kritik sosial, ada satire, ada humor, tapi juga ada nostalgia dan harapan.

Dimulai Selasa, 16 September 2025, setiap Selasa sepanjang September hingga Desember 2025, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung akan menggelar Longser Sunda “Kabayan Ngalalana”--produksi Longser Bandung (LOBA)--karya sutradara Rosyid E. Abby, dan asisten sutradara Agus Injuk.

Longser Sunda “Kabayan Ngalalana” adalah sebuah karya yang tidak sekadar mementaskan longser atau sandiwara Sunda, tetapi menafsir ulang, menumbuhkan, dan menyalakan kembali energi tradisi di tengah Bandung hari ini.

Baca Juga: Lamsijan, Mang Kabayan, dan Langkanya Ilustrator Karakter Kesundaan

Longser dan Sandiwara Sunda: Dua Warisan, Satu Panggung

Longser tumbuh dari rakyat, cair, improvisatif, egaliter. Ia selalu memberi ruang partisipasi, sekaligus menjadi wadah kritik sosial yang dikemas dengan tawa.

Sandiwara Sunda, di sisi lain, lahir dengan struktur dramatik yang lebih tertata, menghadirkan narasi moral, romantika, dan konflik sosial dalam bingkai estetika Sunda.

Dalam “Kabayan Ngalalana”, keduanya tidak dihadirkan sebagai rekonstruksi. Ia lebih mirip teks hidup yang terbuka pada tafsir baru. Improvisasi longser dipadukan dengan disiplin dramatik sandiwara Sunda.

Lalu ditambah musik karawitan yang bertemu bunyi kontemporer, tari tradisi yang berbaur dengan gerak teatrikal, dan silat yang berjumpa koreografi modern. Hasilnya adalah sebuah pengalaman multisensorial: tradisi dan modernitas berdialog di atas panggung.

Baca Juga: Sejarah Dongeng Si Kabayan, Orang Kampung Pemalas yang Licin dan Jenaka

Dramaturgi Kolase

Alih-alih berjalan linear, dramaturgi “Kabayan Ngalalana” dibangun dengan pendekatan kolase. Fragmen-fragmen cerita disusun seperti mosaik: ada adegan, improvisasi, tarian, musik, hingga humor rakyat yang muncul bergantian.

Semua itu membentuk narasi besar tentang perjalanan budaya Sunda—tentang bagaimana masa lalu selalu menyapa masa kini, dan bagaimana masa kini selalu membayangkan masa depan.

Longser bukan sekadar nostalgia. Ia adalah gerak yang terus bergerak. Cara hidup yang menumbuhkan energi kreatif lintas generasi.

Salah satu daya tarik “Kabayan Ngalalana” adalah keterlibatan lintas komunitas seni: sanggar tari, kelompok musik, komunitas teater, hingga pesilat muda, mereka hadir bersama di atas panggung. Ada energi regenerasi yang mengalir.

Di sini, longser tidak hanya dipahami sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai “cara hidup bersama”. Ia memberi ruang bagi kritik sekaligus kebersamaan, bagi tawa sekaligus kesadaran sosial.

Mereka yang terlibat adalah komunitas dari Sanggar Sawarna Bandung, Sanggar Senapati, Lamda Art Production, Sanggar Alam Purnama, Komunitas Bumi Sastra, Sanggar Pratala Tandang, Creamerbox, Kotak Hitam Audiomotif, dan Kelompok 282.

Baca Juga: Stereotipe 'si Kabayan' Masih Menempel Laki-Laki Keturunan Sunda

Tradisi yang Menyala

Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya instan, “Kabayan Ngalalana” menjadi penanda penting: bahwa seni tradisi tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga bisa berkembang, bergerak, dan relevan.

Ia tidak sekadar nostalgia masa lalu, tetapi penegasan bahwa budaya Sunda hidup di sini dan kini, dan akan terus menyala di masa depan.

Maka setiap Selasa malam di Rumentang Siang, Kabayan akan terus “ngalalana”— menyusuri waktu, menertawakan dunia, dan mengingatkan kita bahwa tradisi adalah perjalanan, bukan titik akhir. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)