Gus Dur, Toleransi, dan Harmoni

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
"Dialog adalah budaya perdamaian" - Abdurrahman Wahid (Sumber: Instagram | Foto: @pamerandialogperadaban)
"Dialog adalah budaya perdamaian" - Abdurrahman Wahid (Sumber: Instagram | Foto: @pamerandialogperadaban)

Saat sedang asyik membaca Pikiran Rakyat, tiba-tiba seorang kawan bertanya, “Kenapa setiap Natal atau acara keagamaan lain selalu dijaga Banser, dan bagaimana hukumnya?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Justru pikiranku melayang pada tulisan lama Gus Dur berjudul “Harlah, Natal, dan Maulid” yang buat di Yerusalem dan pertama kali dimuat di Harian Suara Pembaruan (20 Desember 2003) dan kisah dialog Gus Dur dengan anggota Ansor Jawa Timur. Percakapan yang hingga kini terasa masih berkesan dan relevan.

Suasana dan keunikan Kampung Toleransi RW 02 Kelurahan Paledang, Kota Bandung pada Jumat (14/6/2019) (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Jaka Jamalludin Yusuf)
Suasana dan keunikan Kampung Toleransi RW 02 Kelurahan Paledang, Kota Bandung pada Jumat (14/6/2019) (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Jaka Jamalludin Yusuf)

Menjaga Indonesia

Menjelang Natal 1996, Gus Dur pernah ditanya oleh seorang anggota Ansor Jawa Timur tentang hukum seorang Muslim dalam menjaga gereja (rumah ibadah). Jawaban Gus Dur kira-kira begini,

Kamu niatkan jaga Indonesia bila kamu enggak mau jaga gereja. Sebab gereja itu ada di Indonesia, tanah air kita. Tidak boleh ada yang mengganggu tempat ibadah agama apa pun di bumi Indonesia.

Pernyataan ini ditirukan oleh Nusron Wahid, saat itu masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia yang kelak menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor (NU Online, Ahad, 27 Desember 2020).

Natal, dalam kitab suci Al-Qur’an disebut sebagai “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip,

kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada Nabi Daud.

Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa yang “dijadikan” Anak Tuhan oleh umat Kristiani. Ada suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Natal memang diakui oleh kitab suci Al-Qur’an,  sebagai kata penunjuk hari kelahirannya, termasuk yang harus dihormati oleh umat Islam.

Hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam format yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda. Ini yang tidak perlu dipersoalkan. Jika merayakan Natal adalah penghormatan atas Isa sebagai Nabi Allah Swt.

Kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sering disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama.

Gus Dur dengan tegas menuliskan menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersamkaum Kristiani merayakannnya bersama-sama.

Dalam literatur fikih, seorang Muslim diperkenankan duduk bersama pemeluk agama lain yang tengah melaksanakan peribadatan, selama ini tidak turut serta dalam ritual ibadah suci. Namun, dalam praktiknya, masih ada kegelisahan di kalangan umat Islam sebab kekhawatiran akan dianggap ikut berkebaktian.

Padahal sering kali umat Islam menunggu di ruangan terpisah, lalu bergabung kembali setelah ritual selesai, sebagai bentuk penghormatan terhadap kelahiran Isa al-Masih. Dalam kenyataan sosial, agama tidak mempersoalkan apakah seorang pejabat negara hadir (tidak) dalam perayaan keagamaan. Jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada kewajiban teologis di dalamnya.

Kendati, dalam praktik sosial, seorang pejabat sering dianggap mewakili agama yang dianutnya. Walhasil, ketidakhadirannya dalam perhelatan keagamaan kerap dipersepsikan sebagai sikap mengecilkan arti makna agama. Bagi Gus Dur, ini adalah proses sejarah yang wajar atas relasi panjang antara agama, negara, dan masyarakat. (NU Online, Ahad, 25 Desember 2022; gusdur.net).

"Berbicara dari hati menciptakan kepercayaan" - Abdurrahman Wahid (Sumber: Instagram | Foto: pamerandialogperadaban)
"Berbicara dari hati menciptakan kepercayaan" - Abdurrahman Wahid (Sumber: Instagram | Foto: pamerandialogperadaban)

Meneladani Gus Dur

Indonesia merupakan negara multikultur yang terdiri dari berbagai agama. Konflik karena perbedaan dapat muncul kapan saja. Terlebih ketika momen-momen perayaan hari besar seperti Natal di penghujung tahun ini. Perdebatan tentang hukum bagi umat Islam mengucapkan Natal dan ikut larut dalam merayakan euforianya masih menjadi problem yang belum terselesaikan sampai sekarang.

Menanggapi ini masyarakat perlu meneladani sosok Gus Dur yang terkenal dengan konsep pluralismenya. Mantan Presiden keempat RI ini tidak terlibat jauh atas pengharaman mengikuti perayaan Natal bagi umat Islam, meskipun ia merupakan ulama yangmenjadi tokoh sentral agama Islam. Alih-alih memihak dari salah satu kubu yang saling berseturu, Gus Dur sudah terlebih dahalu memberikan contoh tindakan mengenai permasalahan tersebut.

Peraktik ini bisa kita lihat saat Gus Dur hadir pada malam perayaan Natal tingkat nasional di Balai Sidang Senayan pada 27 Desember 1999 pasca dilantik menjadi presiden. Seolah-olah memberikan tamparan keras kepada orang-orang yang masih sibuk mendebatkan hitam-putih hukum perayaan Natal. Aktivitas ini dilakukan dengan tujuan menjaga kerukunan antarumat beragama dan demi terwujudnya persatuan Indonesia.

Ihwal Gus Dur dalam merawat toleransi menjadi proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Perbedaan yang ada harus disikapi dengan bijak agar mampu menciptakan keharmonisan dalam kehidupan.

Indonesia diibaratkan sebagai rumah besar dengan berbagai kamar. Kamar-kamar itu mewakili setiap agama yang ada. Namun, ketika setiap orang yang telah keluar kamar lalu masuk ruang keluarga, penghuni kamar itu harus melepaskan atribut dan label-labelnya untuk berusaha duduk melingkar dan bercengkrama layaknya keluarga yang harmonis.

Konsep pluralisme yang diwariskan Gus Dur mengingatkan kita akan pentingnya merawat persatuan di tengan perbedaan. Agama menjadi pedoman manusia untuk bisa hidup secara harmonis. Pintu ruang dialog antaragama perlu dibuka agar mampu saling memahami satu sama lain serta melahirkan komitmen untuk menegakkan kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Perayaan Hari Natal menjadi momentum untuk merenungkan kembali sejauh mana kita menjalankan esensi agama. Tujuan manusia dalam beragama ini dapat hidup secara damai dan harmonis. Toleransi menjadi kata kunci utama yang membuat bangsa Indonesia terus bersatu dan hidup berdampingan.

Maka masing-masing individu harus memiliki kesabaran akan tanggung jawabnya dalam merawat perdamaian di tengah peradaban. Dengan begitu kita akan benar-benar bisa melihat bagaimana indahnya kerukunan umat beragama di negara yang multikultural ini. (Dewi Arum Safitri [Editor], 2022:13-14)

Seorang warga saat akan menjalankan ibadah salat di Masjid Al Amanah, Gang Ruhana, Jalan Lengkong Kecil, Bandung. (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Ramdhani)
Seorang warga saat akan menjalankan ibadah salat di Masjid Al Amanah, Gang Ruhana, Jalan Lengkong Kecil, Bandung. (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Ramdhani)

Kecintaannya dalam memperjuangkan keadilan, menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama, membela nilai-nilai demokrasi, membuat Gus Dur diakui melampaui batas agama, suku, etnis, dan antargolongan. Menjaga keindonesiaan dan pluralisme merupakan harga mati bagi Indonesia. Itulah pesan Gus Dur yang terus relevan hingga hari ini.

Pasalnya, sosok Gus Dur harus tetap hidup di tengah-tengah bangsa Indonesia. Cara menghidupkan bukan sekadar dengan mengenang, melainkan dengan terus menjaga dan menerapkan gagasan-gagasannya dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.

Gus Dur hadir untuk memastikan martabat dan keutuhan negara tetap terpelihara dan terjaga. Perjuangannya dalam membela kemanusiaan, demokrasi, keadilan sosial, berbagai aspek kehidupan lainnya tidak pernah surut. Mari kita teladani sosok yang menginspirasi ini sebagai penjaga moral bangsa, perekat keutuhan negara, dan pembela kemanusiaan akan terus dikenang oleh semua kalangan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)