3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

18 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Selama ini kita mengenal KH Anwar Musaddad, penggagas berdirinya perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) di Indonesia, Rektor pertama (IAIN), Gedung Auditorium (Aula) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Pendiri Pondok Pesantren dan Yayasan Pendidikan Al-Musaddadiyah di Garut.

Justru ditangan "dingin" Iip D. Yahya, Direktur Media Center NU Jawa Barat yang ulet, terus bergelut dengan (pendekatan) sejarah yang bersumber pada khazanah klasik, khususnya warta harian Pemandangan yang terbit di Jakarta dan Tjahaja di Bandung. 

Dalam buku terbarunya, KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (Cetakan 1, 1 Maret 2025), hadir sebagai upaya penting untuk menelusuri dan merekonstruksi jejak intelektual, kemanusiaan, dan perjuangan tokoh sentral bersahaja ini dalam lintasan sejarah Indonesia.

Sejumlah fakta ini dengan sendirinya menjadi novelty (kebaruan) dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan kemanusiaan sebagai Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan. 

Saat senja hari di depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kampus I, Selasa (10/2/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Saat senja hari di depan Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kampus I, Selasa (10/2/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Pejuang Kemanusiaan, Teladan yang Menginspirasi 

Dalam tradisi pesantren dikenal suatu perilaku menyembunyikan prestasi, karya, amal baik (kebaikan), yang disebut tawadlu. Bersikap rendah hati dan menghindari untuk menyombongkan diri.

Orang Sunda menyebutnya tara nabeuh maneh, tidak pernah menyebutkan karya dan jasa diri sendiri. Ia hanya menjelaskan apa yang sudah dilakukannya pada suatu masa, saat ada yang bertanya, baik itu peneliti maupun wartawan, bahkan anak-anaknya sendiri. Selebihnya ia memilih diam.

Di sisi lain, dalam tradisi Sunda dikenal pula perilaku menyembunyikan sesuatu, yang sekalipun faktual, tetapi dianggap akan menyakitkan hati pihak lain. 

Sikap ngaragangan batur, menghargai (perasaan) orang lain. Dalam istilah lainnya, pilihan untuk tidak menceritakan itu karena teu wasa, tidak tega untuk menuturkannya kepada publik, suatu sikap untuk melupakan masa-masa kelam dalam kehidupan seseorang dan lingkungan sekitarnya.

KH Anwar Musaddad, tampaknya mengambil sikap tawadlu, terkait banyak peristiwa di masa askhir penjajahan Belanda dan era pendudukan tentara Jepang. Sikap ini tidak unik, pilihan yang lazim ngaragangan batur dan teu wasa, terkait banyak peristiwa di masa akhir penjajahan tetapi sebatas pada hal-hal yang ditanyakan. 

Padahal, pada masa antara 1940 hingga saja di antara para ulama pesantren. Beberapa kejadian memang dijelaskannya, 1941 peristiwa Kokesin dan mukimin menjadi berita (istilah sekarang viral, fyp) di media massa, antara Juli 1943 hingga Mei 1945.

Namanya hampir selalu muncul dalam pemberitaan media massa yang terbit di Bandung, baik karena kedudukannya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Priangan, perwakilan Masyumi, maupun karena ketokohannya sebagai penceramah keliling yang terkenal di wilayah Priangan.

Buku kecil yang berjumlah (xii+73 halaman) ini, mencoba untuk memaparkan sejumlah kiprah Anwar Musaddad pada akhir masa penjajahan Belanda dan selama pendudukan bala tentara Jepang, berdasarkan pemberitaan media sezaman, khususnya warta harian Pemandangan yang terbit di Jakarta dan Tjahaja yang terbit di Bandung, yang diperkuat dengan sejumlah kajian sarjana luar dan dalam negeri. 

Untuk kajian atas peristiwa Kokesin, nyaris belum pernah ditulis dalam sebuah buku khusus. Sekalipun itu merupakan peristiwa besar yang menarik perhatian seluruh penduduk muslim Hindia Belanda. Baru ada satu buku yang menuturkan soal Kokesin, yaitu R.H.O. Djoenaidi Pejuang Pengusaha dan Perintis Pers, Menuju Indonesia Merdeka Selintas Kilas Pemandangan', disusun oleh Badruzzaman Busyairi dan diterbitkan oleh Yayasan R.H.O. Djoenaidi Manonjaya, Tasikmalaya, pada 1982. 

Pada halaman 209-244, pada bagian kedelapan, memuat sub judul Pemandangan Menolong Mukimin. Tulisan ini merupakan ringkasan dari liputan Pemandangan sejak awal peristiwa mukimin menjadi perhatian publik, hingga kedatangan kapal terakhir yang dipimpin oleh Anwar Musaddad.

Kendati kajian atas periode pendudukan tentara Jepang di Indonesia sudah cukup banyak dilakukan dengan fokus yang beragam. Aspek sosial politik, kajian pada aspek keagamaan menjadi pilihan, termasuk soal Masyumi dan Hizbullah. Namun, dokumen mengenai periode ini rupanya tersebar dan tidak semuanya dapat ditemukan pada saat para peneliti melakukan risetnya.

Sejumlah pustaka penting yang dijadikan rujukan, misalnya, tidak menyebutkan secara pasti tanggal pendirian Masyumi dan Hizbullah. Dalam catatan intelijen Belanda yang dihimpun pada 1946, masih menyatakan bahwa, de juiste datum van oprichting is onbekend, tanggal pasti pendiriannya tidak diketahui. (h. 1-2)

Paling tidak buku ini menangkat tema Kepemimpinan Kemanusiaan, Musaddad sebagai penggerak penyelamatan mukimin Indonesia di masa perang; Diplomasi Sejarah, kemampuan negosiasi dan advokasi di tengah situasi internasional yang rumit; Keagamaan dan Kewarganegaraan, yang berusaha menjadi perpaduan nilai agama dan cinta tanah air dalam tindakan nyata perjuangan. Militer Pesantren, terutama peran Hizbullah Priangan sebagai barisan militan berbasis pesantren yang berusaha  memperkokoh semangat, perjuangan, pembelaan kemerdekaan.

Cover depan dan belakang buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Cover depan dan belakang buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Berikut inilah 3 Jejak Heroik Anwar Musaddad yang Terlupakan 

1. Ketua Kokesin di Makkah, Diplomat Sejati yang Berhasil Menyelamatkan Nyawa 2.504 Manusia pada Perang Dunia II.

Sebagai Ketua Komite Kesengsaraan Indonesia di Makkah (1940-1941), KH Anwar Musaddad telah turut aktif menyelamatkan ribuan Mukimin Indonesia dari berbagai suku, yang terlantar di seputar Hijaz, akibat perang dunia kedua. Ia bersama pengurus Kokesin mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya agar mereka bisa kembali ke tanah air dengan selamat.

Keterlibatan Kiai Anwar dalam Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin), organisasi yang dibentuk pada 18 Februari 1940 di Hijaz awal Perang Dunia II (1940–1941) untuk membantu ribuan mukimin Indonesia yang terlantar di Arab Saudi akibat gangguan transportasi dan perang.

Anjuran itu dilaksanakan oleh enam orang dan Abdoelkadir. Namun, karena Konsul Cornelis Adriaanse sedang cuti ke Belanda, perwakilan mukimn, yaitu Abodel Meohaimin, Moersal, Madjidi, Hoesin, Moesaddad diserahkan kepada wakilnya.

Kokesin berupaya memfasilitasi bantuan, komunikasi diplomatik, yang pada akhirnya berhasil pemulangan mukimin ke tanah air. Kiai Musaddad dikenal bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, melainkan diplomat ulung yang menjalin komunikasi produktif antara Kokesin, Konsulat Hindia Belanda, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan pihak berwenang lainnya. Pendekatan yang sangat penting demi keselamatan orang-orang yang terlantar.

Atas saran Wakil Konsul, keenam orang itu ditambah Abdoel Djalil Moekaddasi, pada 18 Maret 1940, mengirimkan surat kepada MIAI dan kalangan media massa di Indonesia. Begitu surat sampai di Indonesia, pada 10 Mei 1940, Belanda mendapat serangan mendadak oleh Jerman. 

Lumpuhnya pemerintahan Belanda sangat berpengaruh pada situasi di Hijaz, terutama pada menunrunnya nilai tukar mata uang Belanda yang ikut jatuh. Akibatnya harga-harga menjadi mahal, sementara hubungan Hijaz dan tanah air sama sekali terputus. Karena tidak ada yang bisa diperbuat, sekitar 300 mukimin melakukan salat hajat di Masjid Al-Haram, memohon doa keselamatan bagi mereka dan tanah air Indonesia.

Pada 19 Juni 1940, di kediaman Madjidi, dilangsungkan pertemuan yang diikuti 20 orang perwakilan mukimin yang sepakat untuk membentuk Komite Kesengsaraan Indonesia yang kemudian populer dengan singkatan Kokesin. Susunan awal Kokesin adalah Moersal Aziz (Ketua), Rifai (Wakil Ketua), Imran Rosyadi (Sekretaris 1), Abdoelkadir (Sekretaris 2), Madjidi (Bendahara), Abdul Hamid dan Madani (Anggota). 

Sebagai Ketua Kokesin terakhir, Musaddad memimpin rombongan terakhir pulang dengan kapal S.S. Garoet-Rotterdam pada 15 September 1941.  Proses pemulangan yang panjang, dramatis dan penuh tantangan.

Begitulah cerita dramatis perjalanan Anwar Musaddad memimpin kafilah orang-orang Indonesia yang terlantar di Hijaz. Kedudukannya sebagai Ketua Kokesin memperlihatkan kepemimpinannya yang kuat dan kharismatis. Kefasihannya berbahasa Arab, membuatnya berwibawa di antara para Mukimin. Sementara kemahirannya berbahasa Belanda, menjadikannya mudah berkomunikasi dengan kapten kapal dan sebagian awaknya.

Dalam sejarah Indonesia modern, apa yang dilakukan oleh Kokesin dengan bantuan MIAI adalah penyelamatan warga Indonesia terbesar di luar negeri. Sejumlah 2.320 orang dewasa dan 184 anak-anak berhasil kembali pulang ke kampung halamannya di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai Ketua Kokesin di Makkah, Anwar Musaddad pulang dengan kapal pengangkut terakhir yang membawa 630 orang. (h. 10-16).

Foto kantor urusan agama Garut tahun 1926 yang terdapat dalam souvenir Raad Agama Garoet untuk RA. Kern (Sumber: Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden)
Foto kantor urusan agama Garut tahun 1926 yang terdapat dalam souvenir Raad Agama Garoet untuk RA. Kern (Sumber: Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden)

2. Kepala Syuumuka (Kantor Urusan Agama) Karesidenan Priangan, Pelatihan Ulama Angkatan I, Berbadan Bugar, Pandai Bahasa, Ketokohan dan Permintaan Residen Ichibangase Yosio.

Pada tanggal 8 Maret 1942, begitu tentara Jepang berhasil menguasai Jawa, langsung mengumumkan Undang-Undang No. 2 dari PBTJ. UU tersebut dimuat dalam Kan Po nomor istimewa yang terbit pada 9 Maret 1942. Pada pasal 2 UU tersebut dinyatakan:

"Sementara waktu dilarang keras berbuat seperti tersebut di bawah ini: a) Berserikat, berkumpul, berpropaganda bagi musuh dan menempel kertas gambar atau tulisan ...."

Pasal inilah yang inilah menjadi dasar dibubarkannya semua partai politik dan organisasi massa, termasuk Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Paguyuban Pasundan, dan lain-lain. Pembubaran terhadap Nahdlatul Ulama, diakui dalam Riwayat Singkat Partai Nahdlatul Ulama dalam Kepartaian dan Parlementaria Indonesia (1954: 411),

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, dimana semua partai dan organisasi rakyat Indonesia dibubarkan oleh Jepang, maka Nahdlatul Ulama pun termasuk sebagai salah satu organisasi yang dibubarkan.

Dengan pembubaran ini maka para tokoh organisasi massa dan partai politik memiliki dua pilihan; segera menyesuaikan diri dengan kebijakan PBTJ atau bergerak di bawah tanah.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, yang berlaku adalah hukum militer. Setiap lapisan warga Indonesia dikondisikan dalam suasana bersiap untuk menghadapi pertempuran. Berbagai pelatihan semacam wajib militer dilaksanakan dan diikuti berbagai kalangan, termasuk oleh para tokoh nasional untuk memberikan contoh kepada masyarakat luas.

Untuk kalangan kiai, diselenggrakan pelatihan ulama (Kyai Kyosyukai). Pelatihan pertama ini dilaksanakan selama tiga minggu yang bertempat kantor Syuumubu dan MIAI di kawasan Gambir Timur, Jakarta. K.H. Anwar Musaddad termasuk Kiai yang mengikuti pelatihan ulama ini pada angkatan pertama, mewakili karesidenan Priangan, bersama K.H. Muhamad Syatibi dari Sumedang dan K.H. Muhammad Siddik dari Bandung.

Dalam biodatanya, Kiai Musaddad menjelaskan profesinya sebagai guru mengaji dan muballig keliling di wilayah Priangan serta pengurus Madrasah Al-Falah Campaka Garut. Pada tahap pertama, pelatihan ulama ini diadakan sebanyak tiga gelombang, yang dilaksanakan pada 1 Juli, 1 Agustus, dan 2 Desember 1943. Setiap angkatan diikuti oleh 60 ulama dari 20 karesidenan seluruh Jawa dan Madura. Diikuti oleh tiga orang ulama dari setiap karesidenan.

Pelatihan ini di bawah koordinasi Syuumubucho Kolonel Hori'e. Pelatihan ini ditawarkan secara terbuka dan para kiai yang berminat mendaftarkan diri di karesidenan masing-masing. Beaya selama pelatihan, ditanggung oleh pemerintah, termasuk tunjangan untuk keluarga selama ditinggalkan.

Pelatihan dilaksanakan di Gedung MIAI di kawasan Gambir, sementara untuk penginapan disediakan rumah besar di Jalan Kramat No. 45 dan 47 yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Anwar Musaddad seangkatan dengan sejumlah kiai terkenal, di antaranya Kiai Siroj Muntilan, Magelang, Kiai Muhammad Ilyas Pekalongan, Kiai Hamid Dimyati Tremas Pacitan, Kiai Harun Banyuwangi, dan Kiai Abdulchalim Siddik dari Jember. 

Terdapat empat syarat untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut: Pertama, berpengaruh besar dan berwatak baik. Kedua, berbadan sehat dan bertenaga kuat untuk mengerjakan semua yang perlu dilakukan. Ketiga, harus paham bahasa Indonesia dan salah satu bahasa daerah seperti Sunda, Jawa dan Madura, serta bisa menulis. Keempat, berkesempatan mengikuti pelatihan selama sebulan.

Keempat persyaratan itu dianggap telah dipenuhi oleh Anwar Musaddad. Dengan demikian, ia diakui memiliki pengaruh di kalangan umat Islam di Garut. la berbadan bugar dan pandai memelihara kesehatan tubuhnya. Selain dapat menulis dalam bahasa Arab, ia juga bisa menulis dalam bahasa Indonesia. Ia bahkan termasuk peserta yang berpendidikan formal karena lulus dari HIS, MULO dan hampir lulus dari AMS. (h. 21-22)

Pada saat Syuumuka dibentuk, K.H. Anwar Musaddad dipercaya menjadi Kepala Syuumuka Priangan yang membawahi Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Sumedang. Dalam penetapan jabatannya, sebagaimana dimuat dan Kan Ponomor 40 tahun 1944, ia digolongkan sebagai Tihoo Yontoo Gyooseikan atau pejabat publik tingkat empat.

Kiai Musaddad didampingi oleh R. Akis Kartadinata, Moech. Sjafei, M. Nakao, dan Morinaga. Mereka ikut berkantor di kantor karesdienan. Pengurus Syuumuka bertugas untuk mengkoordinasikan semua urusan keagamaan di tingkat karesidenan, termasuk hal-hal yang selama ini diurusi oleh para penghulu.

Lalu setelah K.H. Hasjim Asy'ari menjabat Kepala Syuumubu, maka pengurus Syuumuka menjadi representasi dari Masyumi dimana Kiai Hasjim menjadi Ketua Besar. Oleh karena itulah, ketika tiba saatnya Masyumi membentuk Barisan Hizbullah, Kiai Musaddad karena jabatannya memimpin pembentukan untuk wilayah Priangan. (h. 24-25)

Aiko Kurasawa, peneliti asing asal Jepang yang belajar di Universitas Cornell, Amerika Serikat menilai Kiai Musaddad sebagai peserta terbaik dalam pelatihan ulama itu, yang dibuktikan dengan sebuah artikel berjudul Pendapatan Selama Latihan Oelama, yang ditulisanya dan dimuat dalam Majalah Soeara MIAI, No. 17, 1 September 1943. Satu-satunya peserta pelatihan yang menuliskan tanggapan dalam majalah resmi MIAI yang kemudian berganti menjadi Soeara Masyumi.

Fakta bahwa dari 20 Kepala Syuumuka di Jawa dan Madura, tiga di antaranya adalah peserta pelatihan ulama angkatan pertama; Kiai Musaddad di Priangan, Kiai Dhofir di Besuki dan Kiai Abdoelmanab Moektadir di Surabaya. Khusus soal Kiai Musaddad, Aiko menuturkan informasi lain, dasar penetapannya sebagai Kepala Syuumuka Priangan adalah atas permintaan Residen Ichibangase Yosio.

Kepada Aiko, Kiai Musaddad mengakui bahwa delapan bulan setelah mengikuti pelatihan ulama, ia dipanggil oleh Residen Ichibangase yang memintanya untuk menjadi Kepala Syuumuka Priangan. Hal itu bisa dimaklumi dari susunan Syuumuka Priangan yang sedikit berbeda dengan karesidenan lain, dengan adanya dua orang Jepang di dalamnya. Sementara di Karesidenan lain, susunan pimpinan Syuumuka adalah gabungan dari ulama NU, Muhammadiyah dan Penghulu. (h. 26).

Pelatihan Hizbullah di Cibarusah (Sumber: buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025) | Foto: Istimewa)
Pelatihan Hizbullah di Cibarusah (Sumber: buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025) | Foto: Istimewa)

3. Pendiri Hizbullah Priangan, Berjuang dalam Jala Allah, Bela Nusa Bangsa, Latihan di Cibarusah yang diikuti 500 peserta.

Pembentukan Hizbullah di Karesidenan Priangan, dilaksanakan pada 10 Januari 1945, melalui rapat yang dipimpin oleh K.H. Anwar Musaddad. Rapat tersebut tersebut dihadiri oleh Ketua Pusat Pimpinan Barisan Hizbullah K.H. Zainul Arifin dan Ketua Muda 2 Masyumi K.H. Faried Ma'ruf. Hadir pula perwakilan pemerintahan se-Karedidenan Priangan, , para ulama, dan ratusan calon tentara Hizbullah. Rapat dilaksanak di Gedung Dai Tooa Kaikan atau Gedung Merdeka di Bandung (Tjahaja, 11-01-1945, Asia Raya, 12-01-1945).

Sebelum rapat pembentukan tersebut, di Priangan sudah dilaksanakan kampanye mengenai Hizbullah di berbagai tempat. Misalnya di Bandung diselenggarakan Rapat Besar Islam di Gedung Merdeka pada 14 Desember 1944. Anwar Musaddad bersama M. Natsir menyampaikan ceramah terkait Hizbullah.

Setelah terbentuk pada 10 Januari 1945, panitia Hizbullah Priangan lalu menyeleksi ratusan pemuda yang layak mengikuti latihan. Untuk angkatan pertama terpilih 50 orang pemuda yang kemudian disaring lagi menjadi 25 orang. Pada Kamis malam, 15 Februari 1945, bertempat di kediaman tokoh NU H. Wiratmana (Haji Swarha), di Jalan Kopo Bandung, diadakan upacara pelepasan calon Barisan Hizbullah yang dihadiri para ulama dan banyak orang.

Setelah pembacaan tahlil dan barzanji, Kepala Syuumuka Kiai Musaddad membagikan kain dan peralatan sehari-hari kepada para calon prajurit. Semuanya merupakan bantuan dari pemerintah dan sumbangan para dermawan.

Sejumlah tokoh lalu menyampaikan nasehat, M. Natsir, Kiai Hidajat, dan tuan rumah H. Wiratmana. Memasuki dini hari, para calon prajurit itu berjalan menuju stasiun Bandung, diantarkan oleh barisan Seinendan dan Keibodan. Sesampainya di stasiun mereka disambut oleh pasukan tentara PETA yang dipimpin oleh Daidancho Priangan.

Harian Tjahaja, 16-02-1945, melukiskan peristiwa itu dalam laporannya.

Dengan 'Bismillah' dan doa salam dari K.H. Musaddad kepada yang pergi berlatih untuk berjuang dalam jalan Allah dan membela Nusa-Bangsa, kemudian ucapan terima kasih oleh Tuan H. Wiratmana atas para pemuda itu dan bacaan surat Al-Fatihah oleh hadirin bersama-sama, kereta api bergerak ke arah Jakarta disertai suara takbir 'Allahu Akbar...

Pada awalnya, dalam berbagai pemberitaan media massa, tak pernah disebutkan dimana lokasi pelatihan Barisan Hizbullah ini dilakukan. Termasuk dalam foto upacara pembukaan latihan pada 18 Februari 1945, yang dimuat dalam warta dilatih. Dalam foto tersebut tampak Ketua Muda Masyumi K.H. Wachid Hasjim harian Tjahaja dua hari kemudian, masih disebutkan, menuju ke suatu tempat untuk dilatih.

Dalam foto itu tampak Ketua Muda Masyumi K.H. Wachid Hasjim menyampaikan sambutan. Upacara dihadiri oleh para pembesar Jepang dan Indonesia, para kiai, dan 500 calon tentara Hizbullah.

Belakangan diketahui bahwa lokasi pelatihan itu di Cibarusah yang masuk ke wilayah Bekasi. Lokasi ini sesuai dengan aturan dalam ART Hizbullah, tempat yang terdapat asrama, langgar, dan lapangan.

Pelatihan militer dipimpin oleh Yanagawa, perwira yang melatih calon tentara PETA. la dibantu oleh para komandan PETA, yaitu Abdullah Sajad, Zaini Nuri, Abdul Rahman, Kemal Idris, dan lain-lain. Pada malam hari mereka mendapatkan pendidikan keruhanian yang disampaikan oleh K.H. A. Wachid Hasjim, K.H. Zarkasi (Ponorogo), K.H. Mustofa Kamil (Garut), K.H. Mawardi (Solo), K.H. Mursyid (Kediri), dan K.H. Abdul Halim (Majalengka). Kiai Abdul Halim  mengajarkan cara membuat peledak. (Moch. Faisol, 2018: 10)

Pelatihan ini direncanakan akan dilaksanakan secara bergelombang. Namun karena cita-cita Indonesia merdeka segera tercapai pada 17 Agustus 1945, maka hanya terselenggara satu angkatan, sejumlah 500 peserta latihan. (h. 30-31)

Dalam dokumen yang disita oleh NEFIS yang diterjemahkan yang tersimpan dalam bahasa Belanda dan didistribusikan ke berbagai pihak di bawah pengawasan Belanda yang berusaha menduduki tanah Jajahannya. Dokumen tersebut tersimpan dalam arsip Indische Collectie, Inventaris No. 2143. Periodiek nr 14: Doel en werkwijze van de Islamitische organisaties Hizboellah en Sabilillah.

Dokumen sebanyak 18 halaman ini menjelaskan soal tujuan dan metode organisasi tentara Hizbullah dan Sabilillah, dengan kualifikasi geheim atau rahasia. Otorisasi penyebaran dokumen ini ke berbagai pihak terkait, ditandatangi oleh Direktur NEFIS L.N.H. Jungschlager pada 21 September 1946.

Dokumen ini memuat nama Anwar Musaddad sebagai pemimpin tertinggi dalam struktur organisasi Hizbullah Priangan. Dengan demikian, dokumen NEFIS ini mengkonfirmasi kedudukan penting Anwar Musaddad dalam organi-siasi Hizbullah di Karesidenan Priangan. Posisinya tertulis sebagai Syuumukacho dan kemungkinan besar sebagai salah satu representasi Masyumi di Priangan.

Dokumen ini menerangkan bahwa ada empat bagian dalam organisasi Hizbullah, yaitu bagian umum, barisan, pendidikan dan keuangan. Struktur organsinya berjenjang mulai dari tingkat karesidenan (syuu), kabupaten (ken), barisan pesantren, madrasah, dan desa atau kelurahan. Setiap barisan sedikitnya kawedanaan (gun), dan son (kecamatan). Di tingkat kecamatan masih tebagi ke dalam beranggotakan 10 orang dan paling banyak 25 orang. Jika di sebuah pesantren (desa) mendapatkan anggota yang lebih banyak, maka dibentuk barisan kedua, ketiga dan seterusnya. (h. 34)

Penulis buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan (Sumber: Istimewa | Foto: Iip D. Yahya)
Penulis buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan (Sumber: Istimewa | Foto: Iip D. Yahya)

Proses Kreatif Penulisan

Dalam kata Pengantar Penulis, Kang Iip sapaan akrabnya menceritakan ketika KH Thontowi Jauhari Musaddad menghubungi  dan meminta waktu untuk bertemu, langsung mengiyakan dan menyepakati waktunya.

Saat ia menyampaikan permintaan keluarga Prof. KH Anwar Musaddad, agar saya dapat membantu melengkapi dokumen bukti kepahlawanan, saya menerimanya dengan senang hati. Awalnya, saya belum punya gambaran yang mendalam mengenai sosok ini, selain bahwa namanya cukup banyak ditemukan dalam media cetak pada periode pendudukan tentara Jepang (1943-1945).

Segera membuka kembali berbagai literatur mengenai periode pendudukan Jepang di Indonesia. Kebetulan pada 2021 pernah menulis buku Ajengan Sukamanah Biografi KH Zainal Musthafa Asy-Syahid, yang memaksa selama lebih-kurang satu setengah tahun, membuka buku dan sumber dari periode tersebut.

Sayang sekali situs yang memuat koleksi Malay Kranten, seluruh media cetak yang terbit pada kurun waktu 1940-1950, sudah tidak bisa diakses lagi. Satu-satunya cara adalah membuka warta harian periode Jepang yang tersedia.

Setelah melusuri koleksi koran lama di Perpustakaan Nasional Jalan Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat, secara manual dengan membukanya selembar demi selembar, berhasil menemukan sejumlah data baru mengenai kiprah Kiai Musaddad.

Satu per satu data mengenai perannya dalam merencanakan, mendirikan, dan mengelola Hizbullah Priangan, dapat saya peroleh. Saya beruntung koleksi warta harian Tjahaja yang terbit di Bandung cukup lengkap dan sudah dilaminating sehingga sangat memudahkan proses pencarian data yang saya perlukan.

Ihwal aktivitasnya dalam Komite Kesengsaraan (Mukimin) Indonesia di tanah Hijaz, ditelusuri melalui website khastara.perpusnas.go.id., layanan digital Perpustakaan Nasional yang sangat memudahkan para pencari data. Sumber lain yang digunakan adalah situs www.niod.nl., yang menyimpan dokumen Hindia Belanda pada Perang Dunia Kedua.

Buku kecil ini bermaksud menjelaskan secara ringkas dan padat peran K.H. Anwar Musaddad dalam tiga fase; sebagai Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka Priangan dan sebagai Pendiri Hizbullah Priangan. Penjelasan ketiga fase itu diperkuat dengan data media sezaman yang penulis sertakan pada bagian lampiran. 

Sebagai Ketua Kokesin, yang secara aktif ikut menyelamatkan ribuan orang yang terlantar di luar negeri dan mengembalikan mereka hampir seluruhnya dengan selamat ke kampung halaman masing-masing di Indonesia. Saat menjabat Kepala Syuumuka (Kantor Urusan Agama) Karesidenan Priangan, telah mempersiapkan, membentuk, dan mengelola Hizbullah di wilayah Priangan. Namanya dengan jelas tercantum dalam Struktur Pimpinan Hizbullah Priangan yang disita oleh NEFIS.

Dengan paparan ini tampak bahwa K.H. Anwar Musaddad telah tampil sebagai pahlawan jauh sebelum Indonesia merdeka. Saat menyelamatkan ribuan mukimin, telah menjadi pahlawan kemanusiaan. Ketika memimpin pembentukan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dua fakta sejarah yang sangat kuat Hizbullah Priangan, ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan merebut dan solid. Namun, pada akhirnya soal penetapan Pahlawan Nasional lebih kental aspek politisnya. Semoga saja bukti-bukti yang kuat mengenai kepahlawanan K.H. Anwar Musaddad ini akan didukung pula secara politik oleh para pihak yang berkewenangan sehingga dapat mengantarkannya sebagai Pahlawan Nasional dari Garut, Jawa Barat. (h. vii-viii)

Saat Masyumi terbentuk menggantikan MIAI, Musaddad menjadi perwakilannya untuk karesidenan Priangan. Dalam kedudukannya sebagai Kepala Syuumuka dan perwakilan Masyumi inilah, sekali lagi sejarah memanggilnya, untuk memimpin pembentukan Barisan Hizbullah Priangan. Dengan memimpin rapat pembentukan, menyeleksi calon tentara yang akan dilatih dan melepas mereka saat akan mengikuti pelatihan di Cibarusah. 

Ala kulli hal, Anwar Musaddad tak pernah memburu jabatan selama hidupnya, tetapi ketika tanggung jawab tiba di pundaknya, dilaksanakan dengan baik, dengan segala resikonya. Menjadi ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan, hanyalah dua karya besar di antara karya-karya lain yang ia torehkan sepanjang hidupnya. (h.37-38)

Baca Juga: Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Walhasil, saat membaca buku ini, kita tidak sekadar disuguhi biografi seorang tokoh. Kita diajak menelusuri jejak pejuang kemanusiaan dan diplomat sejati. Ulama yang tidak hanya berkiprah di ruang-ruang pendidikan, justru hadir di medan perjuangan moral dan sosial umat. Dengan berusaha untuk membangun khazanah pendidikan Islam dengan visi yang jauh melampaui zamannya, menggerakkan solidaritas umat dengan keteladanan, sambil terus menjaga martabat bangsa melalui sikap arif dan diplomasi yang berkeadaban.

Warisan pemikirannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan energi yang terus hidup, dijaga, dirawat, dan relevan hingga hari ini. Mudah-mudahan menjadi teladan yang inspirasi tentang bagaimana ilmu, perjuangan, dan kemanusiaan dapat berpadu dalam satu sosok KH Anwar Musaddad yang utuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)