Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu. Dari catatan soal perdagangan hingga karya klasik Yunani. Sekarang, di era postmodern, keterampilan menulis sebagai seni merangkai kata masih menjadi krusial.
Bagi pelajar yang memiliki hasrat mengikuti kegiatan sosial atau organisasi, mempunyai keterampilan menulis itu penting sekali. Misalnya, untuk merancang laporan kegiatan, membuat caption yang persuasif, atau bahkan poster untuk acara sekolah. Secara singkat, tulisan yang sedap bisa membuat ide-ide lebih dikenal khalayak dan digemari.
A.S. Laksana, seorang penulis kenamaan, pernah mencatat satu hal. Ada satu kalimat yang selalu diingat:
"Orang lain membutuhkanmu. Mereka perlu sumbangan pemikiranmu, cerita, dukunganmu pada isu-isu tertentu, atau sekadar ingin tau bagaimana kamu memaknai hal kecil sehari-hari. Kamu bisa memenuhi keinginan mereka ketika mampu menulisnya dengan baik. Tulisan baik mampu mewakili apa yang mereka ingin suarakan tetapi tidak tau caranya, atau mungkin belum cakap melakukannya."
Pendeknya, menulis bisa membuat orang lain terinspirasi. Itu merupakan bukti betapa banyak kegunaan menulis. Bahkan di era serba cepat seperti sekarang ini. Pengemasan konten digital menjadi kunci.
Pada hari Sabtu, 18 Oktober 2025, Ikatan Alumni Sastra dan Ilmu Budaya Unpad menggelar workshop bertajuk "Seni Menulis Copywriting", dipandu Rizki Sanjaya, seorang alumni, yang juga penulis muda berbakat asal Cigadung.
Suasana terasa akrab. Sekitar 25 orang pembelajar dari berbagai usia dan latar belakang berhimpun di Coworking Space Bandung Creative Hub, Jalan Laswi No. 7. Mereka duduk melingkar, dengan buku catatan di tangan, bersiap menyerap ilmu.
Rizki membuka sesi dengan cerita pribadi. Ia memulai karir sebagai penulis di kota Bandung, dari menulis untuk Zine, caption mengandung iklan kecil-kecilan, hingga kampanye digital untuk tempatnya bekerja.
Ia kemudian memulai paparannya dengan menilik apa itu copywriting dan karakteristiknya. Menurutnya, Copywriting bukan sekadar menulis iklan. Ia menggeser slide yang menampilkan contoh-contoh lawas seperti slogan Nike 'Just Do It' dan berbagai produk lainnya yang melekat di benak orang banyak.
"Saat kita membuka majalah atau koran berisi iklan, itu mengandung copywriting. Begitu juga ketika melihat teks pada konten yang membuat kita tertarik," katanya.
Rizki menekankan bahwa copywriting berbeda dari buah pikiran dalam bentuk tulisan lainnya. Ia lebih tentang hasil. Sebuah upaya meningkatkan engagement atau penjualan. Namun tetap perlu insting dan jiwa penyair untuk membuatnya terasa manusiawi. Ia mengingatkan untuk penulis copy tidak ketinggalan tren dan isu terkini.
"Jangan lupa untuk mengenali siapa audiens kita," tambahnya.
Rizki lalu meminta peserta latihan. Menyusun copy singkat untuk promosi. Sesi interaktif itu berlangsung hampir satu jam, diselingi tanya jawab. Seorang peserta, sekaligus mahasiswa, hendak bertanya. Rizki menjawab dengan hangat:
"Mulai saja dari yang sederhana. Selayaknya bercerita," katanya.
Ia juga berbagi tips praktis: pergunakan formula AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) untuk struktur copy; eksperimen dengan emoji dan bahasa kekinian untuk konten digital; juga selalu baca ulang dengan suara keras untuk cek alurnya.
Workshop berakhir dengan sesi foto bersama. Rizki berjanji berbagi bahan pembelajaran lebih lanjut lewat WhatsApp. Para peserta lalu membubarkan diri.
Aal Novia, sebagai salah satu peserta, merasa terilhami. Ia berusia relatif paling muda di antara yang hadir di sana. Menurutnya, acara itu membuatnya ingin belajar lebih.
"Ilmunya juga keren sekali, langsung menempel di kepala saya, seru pokoknya," kata Aal.
Ia berharap bisa kembali mengikuti acara serupa. Mengenai penulisan dan hal yang berkaitan dengan kegiatan yang sedang ditekuninya. Mencoba menekuni keterampilan menulis sebagai seni merangkai kata-kata yang bisa menggugah pikiran dan hati banyak orang.
Workshop ini mengingatkan pada pesan A.S. Laksana: menulis adalah media komunikasi tercanggih. Kita punya waktu untuk memilih kata yang akan kita gunakan; kita bisa menimbang pesan apa yang layak disampaikan.
Dan, lebih dari itu, kita punya waktu untuk merenung dan mengoreksi pikiran sebelum melemparkan ke orang. Ini merupakan suatu keistimewaan yang tidak akan kita temui dalam ceramah lisan, atau percakapan spontan. [*]
