Menulis Ignas Kleden dari Perut Buncitnya

6 menit baca
MH. D. Hermanto
Ditulis oleh MH. D. Hermanto diterbitkan
Ilustrasi Ignas Kleden. (Sumber: Istimewa | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Ignas Kleden. (Sumber: Istimewa | Foto: Istimewa)

Saya tidak tahu persis kapan terakhir kali mendengar nama Ignas Kleden disebut di luar forum-forum akademik. Mungkin sudah lama atau mungkin kita sedang hidup di masa yang tak lagi sabar membaca esai panjang yang tidak menjanjikan tepuk tangan.

Beberapa minggu lalu saya membaca ulang satu esainya. Tentang sasata, dan tentang bagaimana menulis bisa menjadi cara bertahan hidup. Saya lupa judulnya. Tapi saya ingat suasana setelahnya—hening, seperti duduk sendirian di dalam perpustakaan yang lampunya tinggal satu.

Saya lalu membayangkan tubuh Ignas. Tidak kecil, tidak ringkih, tubuh besar, perut buncit, dan wajah yang tenang. Seolah sedang menyimpan terlalu banyak pengetahuan, juga terlalu banyak kesabaran.

Dan saya bertanya dalam hati: bagaimana rasanya menulis dari dalam perut itu? Dari tubuh yang kenyang oleh buku, kenyang oleh forum, kenyang oleh sejarah panjang menulis tapi tidak berteriak? Mungkin dari situ tulisan ini bermula. Dari keinginan untuk menyelinap kedalam kenyang yang tenang itu, dan bertanya kenapa di luar tubuhnya, dunia tampak begitu bising tapi mandul?

Saya membaca Ignas Klenden seperti seseorang yang duduk diam di tengah ruangan dan tahu persis kapan harus bicara. Ia tidak meledak. Tidak memukul meja. Tapi sekali dua kali ia mengangkat tangan, kemudian menulis. Esai demi esai mengalir. Topiknya macam-macam. Dari puisi Afrizal Malna sampai teori Habermas. Dari demokrasi sampai puisi kampus. Ia seperti orang yang tidak terburu-buru, tapi tahu ke mana harus berjalan.

Yang saya heran, mengapa tulisannya tak lagi ramai dibicarakan? Padahal hampir semua soal sudah dia tulis. Tentang sastra yang kehilangan keberanian. Tentang politik yang kehilangan nalar. Tentang intelektual yang kehilangan malu. Saya pikir, bukan karena Ignas berhenti menulis. Tapi karena kita sendiri berhenti mendengarkan.

Atau mungkin karena zaman sudah berubah. Orang lebih tertarik dengan tulisan yang pendek dan cepat viral. Teks yang bisa disalin lalu ditempel di Instagram. Sementara Ignas menulis dengan ritme lambat. Ia bukan hanya berfikir, tapi juga mengunyah. Dan itu membuat tulisannya tidak bisa ditelan bagitu saja.

Lalu saya tersadar, apa yang ditawarkan Ignas bukan untuk semua orang. Ia menulis bukan untuk memikat, tapi untuk membentuk. Saya lalu mulai masuk lebih jauh ke karya-karya akademiknya. Ignas tidak hanya menulis esai popular. Ia punya pengaruh besar dalam dunia akademik, terutama dalam memperkenalkan pendekatan sosialogi sastra kepada generasi penulis dan peneliti Indonesia.

Ia menekankan bahwa sastra tidak pernah lahir dari ruang kosong. Setiap cerita, setiap puisi. Membawa bekas dari struktur sosial tempat ia ditulis, mewujudkan bahasa adalah rumah ideologi, dan sastra adalah ruang negosiasinya.

Di buku sastra dan politik, juga dalam banyak artikelnya di Basis  atau Kompas, Ignas menunjukan bagaimana karya sastra bisa menjadi alat baca atas perubahan sosial. Tapi pembacaannya yang dia usulkan bukan pembacaan revolusioner. Ia tidak memanggil pembaca  untuk turun ke jalan, tapi mengajak duduk dan menganilisis. Sastra adalah objek kajian, bukan peluru.

Saya tidak bilang itu keliru. Tapi pendekatan ini, yang kemudian banyak diikuti oleh kalangan akademik dan kampus sastra, secara tidak sadar telah menjauhkan sastra dari konfliknya yang nyata. Puisi yang dulu jadi alat protes berubah jadi bahan skripsi. Novel tentang buruh ditelaah dengan teori semiotik, tapi tidak pernah menyentuh buruh itu sendiri.

 Dalam hal ini, warisan Ignas bekerja dalam dua arah. Ia membukakan jalan untuk melihat sastra sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan. Tapi juga mungkin tanpa sengaja membentuk tradisi intelektual yang rapi, akademis, dan semakin jauh dari lumbung, dari pabrik, dari jalan raya.

Saya pikir itulah yang kini membatasi kita. Bukan karena Ignas salah. Tapi karena kita terlalu patuh pada bentuk yang dia bangun. Kita lupa bahwa teori juga bisa ditantang, bukan hanya dilestarikan. Dan sastra juga bisa digunakan, bukan sekedar dibedah.

Ilustrasi Ignas Kleden. (Sumber: Istimewa | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Ignas Kleden. (Sumber: Istimewa | Foto: Istimewa)

Aktivisme sekarang berjalan seperti panggung. Cepat, penuh slogan, dan sering kehilangan konteks. Tapi di saat yang sama, banyak tulisan, termasuk yang mengaku kritis justru kehilangan arah. Mereka terlalu nyaman. Terlalu banyak kutipan. Terlalu takut salah.

Sastra tidak lagi punya peran mengguncang seperti dulu. Ia kehilangan ketajamannya karena pembacanya pun kehilangan keberaniannya. Aktivisme kehilangan napas karena para pelakunya lupa membaca kemudian menuliskannya. Dan Ignas, meski banyak memberi fondasi berpikir, tampaknya berhenti di batas itu saja, ia memberi tapi tidak membongkar.

Barangkali itu bukan kesalahannya. Ia juga menulis dalam konteks Orde Baru. Di masa ketika ruang demokrasi begitu sempit, dan menulis adalah tindakan yang berisiko kala itu. Maka saya tidak ingin membandingkan secara langsung. Tapi saya ingin bertanya, setelah rezim itu tumbang, setelah kita punya ruang bicara, mengapa tulisannya tak dilanjutkan dengan tindakan yang lebih kongkrit?

Saya mulai berpikir soal kenyamanan. Perihal bagaimana Ignas bisa membaca begitu banyak, menulis begitu jernih, dan tetap berada dalam ruang yang aman. Ia tidak pernah terlihat sebagai orang yang bertabrakan dengan kekuasaan secara frontal. Tapi ia juga bukan penonton. Ia seperti berdiri di tepi, mengamati, mencatat, menulis, dan kadang memberi arah.

Beberapa orang menganggap itu cukup. Menulis adalah tindakan. Saya juga percaya itu, sampai pada titik di mana menulis menjadi kegiatan yang tak lagi berisiko. Tak ada yang dikejar. Tapi ada yang ditantang. Hanya berputar di ruang yang saling sepakat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Artikel Khusus Member

Untuk melanjutkan membaca artikel ini dan mendapatkan akses tak terbatas ke semua artikel, jadilah anggota hari ini.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)