Infinite Scrolling dan Hilangnya Fokus

3 menit baca
Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Ditulis oleh Prof. Dr. Moch Fakhruroji diterbitkan
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Menjelajahi media sosial telah menjadi keseharian sebagian besar kita. Atau, mungkin saja istilah “menjelajahi” sudah tidak lagi relevan, sebab, kata menjelajahi lebih identik dengan tindakan sistematis dan sepenuhnya disadari.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. Fitur infinite scrolling jadi salah satu penyebabnya. Fitur ini dikenal pula dengan sebutan endless scrolling alias scrolling tanpa henti. Ia adalah salah satu teknologi interface—bagaimana kita berinteraksi dengan internet dan media sosial—yang lahir dengan desain dimana segala macam konten muncul secara dinamis dan terus-menerus. Jika kemudian sampai pada ujung, pengguna biasanya melakukan refresh page yang memunculkan konten lainnya lagi, dan terus seperti itu.

Teknologi infinite scrolling yang muncul pertamakali di tahun 2019 ini sangat berbeda dengan era sebelumnya yang masih mengandalkan halaman per halaman—yang memungkinkan kita untuk menjelajahinya. Itu sebabnya disebut sebagai browsing atau lebih awal lagi, disebut surfing. Dengan kata lain, ada latar yang membuat penggunanya berselancar dari satu “halaman” ke “halaman” lainnya.

Penyesalan seorang Penemu

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa ternyata sosok penemu teknologi ini, Aza Raskin, pernah menyesalinya. Dalam sebuah laporan yang dilansir The Time, Raskin menyesali penemuannya itu dengan mengatakan bahwa dirinya tidak menyadari konsekuensinya. Ia juga menyebut teknologi infinite scrolling sebagai produk yang tidak banyak membantu, alih-alih membuat pengguna untuk online selama mungkin.

Hari ini, sebagian besar platform media sosial justru menggunakan teknologi ini, bahkan platform marketplace hingga platform lain yang tidak tergolong sebagai media sosial sekalipun. Akibatnya, banjir informasi menjadi tidak terelakkan lagi, bahkan lebih tumpah-ruah dibanding sebelumnya.

Bayangkan, jika Anda membuka Tiktok atau Instagram dan scrolling selama 30 menit saja, pernahkah Anda menghitung berapa postingan yang Anda lihat? Lalu, implikasi praktisnya, Anda bahkan mngkin tidak pernah bisa mengingat postingan-postingan yang dilihat itu, bahkan jika harus menyebutkan sebagian kecilnya saja. Variasi informasi yang muncul di layar perangkat kita terlalu tumpah-ruah dan membuat kita kehilangan kemampuan untuk memilah dan mencernanya.

Jika tidak mampu mencerna, tentu pengguna menjadi semakin tidak kritis dan atau semakin emosional—namun semuanya hanya untuk sesaat. Hal ini disebabkan oleh semakin lemahnya kemampuan kita untuk fokus pada sesuatu yang kita anggap penting. Hal ini berbeda dengan interface web sebelumya yang masih menggunakan sistem pagination (halaman per halaman).

Fokus yang Terampas

Media sosial menjadi tempat di mana rahasia dibisikkan keras-keras, dan kebahagiaan diumumkan dengan huruf kapital. (Sumber: Pexels/mikoto.raw Photographer)
Media sosial menjadi tempat di mana rahasia dibisikkan keras-keras, dan kebahagiaan diumumkan dengan huruf kapital. (Sumber: Pexels/mikoto.raw Photographer)

Johann Hari (2022) menyebut fenomena ini sebagai “stolen focus”, yakni situasi dimana kita semakin kehilangan focus atas sesuatu karena kebiasaan kita mengakses ratusan atau bahkan informasi dalam bentuk video singkat secara hampir bersamaan. Menurut Hari, sekarang kita semakin sulit untuk focus pada satu hal untuk waktu yang lama seperti membaca buku. Media digital bahkan memang bekerja dengan logika dasar brevity dan immediacy, namun teknologi infinite scrolling telah mengubah semuanya secara revolusioner.

Baca Juga: Budaya Scrolling: Cermin dari Logika Zaman

Hari menambahkan bahwa sifat infinite scrolling yang praktis telah membuat kita tidak mampu untuk berpikir mendalam, kritis dan memahami sesuatu yang abstrak. Terlebih, variasi informasi visual ini juga telah banyak disoroti sebagai salah satu penyebab munculnya fenomena brainrot—kebusukan otak—yang telah menggeser cara berpikir mendalam menjadi sesuatu yang instan, dangkal, dan bahkan tanpa makna.

Tidak mengherankan jika kekhawatiran ini mulai melanda beberapa negara di Eropa yang mulai kembali kepada buku-buku cetak alih-alih buku digital atau buku-buku online sebagai bahan ajar. Regulasi ini bukan berarti tidak memahami cara belajar baru Gen-Z atau Gen-Alpha, akan tetapi merupakan pilihan rasional yang bertujuan untuk mengembalikan kemampuan generasi berikutnya untuk fokus pada satu hal dalam waktu yang lama. Mereka berharap hal ini akan menyegarkan kembali cara berpikir kritis, mendalam dan abstrak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)