Budaya Scrolling: Cermin dari Logika Zaman

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Kita menyebutnya scrolling, para peneliti menyebutnya sebagai ritual baru zaman digital. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)
Kita menyebutnya scrolling, para peneliti menyebutnya sebagai ritual baru zaman digital. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Di banyak ruang sunyi hari ini, kita melihat pemandangan yang sama, seseorang menunduk menatap layar, menggulir tanpa henti. Jari bergerak naik-turun seperti mengikuti ritme yang tak berujung. Tidak ada akhir yang jelas, tidak ada tujuan yang pasti, hanya arus gambar, suara, dan kata-kata yang terus berganti. Kita menyebutnya scrolling, para peneliti menyebutnya sebagai ritual baru zaman digital.

Scrolling bukan lagi sekadar tindakan teknologis, ia telah menjadi gaya hidup. Kita menggulir layar untuk mencari kabar, hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang.

Namun di balik gerakan sederhana itu tersembunyi logika zaman yang kompleks, logika kecepatan, keterhubungan, dan kecanduan. Scrolling adalah cermin dari bagaimana manusia hidup, berpikir, dan merasa dalam dunia media baru.

Scrolling sebagai Ritual Budaya Media Baru

Dalam The Language of New Media, Lev Manovich (2001) menyebut bahwa media baru memiliki lima prinsip utama: numerisitas, modularitas, otomatisasi, variabilitas, dan transkodifikasi. Kelima prinsip ini membuat media digital bersifat cair, interaktif, dan terus berubah. Dalam konteks itu, scrolling menjadi bentuk paling nyata dari pengalaman “variabilitas” media, setiap guliran menghadirkan konten baru, pengalaman baru, tanpa batas yang jelas antara awal dan akhir.

Desain “infinite scroll” tidak muncul begitu saja, ia adalah produk logika ekonomi perhatian (attention economy). Desain ini diciptakan agar pengguna tetap berada di dalam platform selama mungkin. Setiap gerakan jempol di layar sebenarnya adalah hasil dari user experience design yang memanfaatkan psikologi manusia, yaitu dorongan untuk selalu tahu lebih banyak, melihat lebih banyak, tidak ketinggalan apa pun. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk kebiasaan, bahkan kesadaran.

Manovich menulis bahwa dalam media baru, struktur logika komputer (database, algoritma) menjadi dasar dari pengalaman kultural. Maka, ketika kita menggulir, sebenarnya kita sedang menavigasi dunia yang disusun oleh logika digital, dunia yang terus diperbarui, selalu bergerak, dan jarang memberi ruang untuk berhenti.

Logika Jaringan dan Fragmentasi Waktu

Manuel Castells (1996) menyebut masyarakat kita sebagai network society, masyarakat jaringan. Di dalamnya, hubungan sosial, ekonomi, dan budaya dibentuk oleh logika jaringan global yang bekerja secara real-time. Informasi mengalir tanpa henti, waktu dan ruang kehilangan batas tegas. Scrolling adalah cara paling khas manusia berinteraksi dengan dunia jaringan itu, kita tidak lagi membaca realitas secara linear seperti membaca buku, tapi melompat dari satu potongan konten ke potongan lain.

Setiap guliran adalah potongan waktu kecil (micro-moments) yang membentuk ritme kehidupan digital. Kita belajar untuk hidup dalam “keterputusan yang terhubung”, berpindah cepat, tapi tetap terikat oleh arus. Dalam budaya seperti ini, keheningan menjadi langka, dan perhatian menjadi sumber daya yang paling langka pula.

Jonathan Crary (2013) menyebut keadaan ini sebagai 24/7 capitalism, di mana waktu manusia sepenuhnya dijajah oleh ritme ekonomi digital. Tidak ada malam bagi media sosial, dan tidak ada istirahat bagi pengguna. Scrolling adalah bagian dari kapitalisme tanpa tidur, kerja emosional tanpa upah, konsumsi tanpa jeda.

Scrolling dan Dunia Simulakra

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Namun lebih dalam dari sekadar jaringan dan kecepatan, budaya scrolling juga memperlihatkan sesuatu yang lebih filosofis, bagaimana realitas kini berubah menjadi simulasi. Jean Baudrillard (1981) dalam Simulacra and Simulation menjelaskan bahwa di era posmodern, manusia hidup dalam dunia hiperrealitas, di mana citra dan tanda lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.

Dalam setiap timeline media sosial, kita melihat dunia yang tampak indah, lucu, atau tragis, tapi semua itu adalah representasi, bukan realitas mentah. Kita menggulir bukan untuk memahami dunia, tapi untuk mengonsumsi tanda-tanda tentang dunia. Setiap like, share, dan story adalah fragmen dari simulasi sosial yang menciptakan ilusi kedekatan dan makna.

Scrolling, dalam logika Baudrillard, adalah tindakan partisipasi dalam simulakra. Kita menikmati permukaannya, bukan kedalamannya. Kita terseret oleh citra, bukan isi. Maka, saat kita terus menggulir, yang sebenarnya kita cari bukan informasi, melainkan sensasi, sensasi menjadi ada di tengah arus yang terus bergerak.

Krisis Perhatian dan Kehilangan Kedalaman

Nicholas Carr (2010) dalam The Shallows mengingatkan bahwa otak manusia berubah seiring cara kita berinteraksi dengan teknologi. Semakin sering kita terpapar informasi singkat dan cepat, semakin sulit kita untuk berpikir mendalam dan fokus lama. Budaya scrolling memperkuat pola ini, perhatian kita terfragmentasi menjadi serpihan waktu.

Pierre Bourdieu (1990) mungkin menyebutnya habitus digital, pola kebiasaan baru yang mengatur cara kita merespons dunia. Kita menjadi terbiasa berpikir cepat, bereaksi spontan, dan sulit menahan jeda. Scrolling tidak lagi hanya soal teknologi, scrolling bukan sekadar kebiasaan bermain ponsel. Ia mengubah cara kita memusatkan perhatian dan merasakan waktu. Kita terbiasa berpikir cepat, menatap banyak hal sekaligus, namun kehilangan kedalaman untuk benar-benar memahami.

Mungkin di sinilah tantangan terbesar zaman sekarang, bagaimana tetap sadar di tengah arus yang tak berhenti. Cal Newport (2019) dalam Digital Minimalism menawarkan jalan keluar sederhana, yaitu batasi konsumsi, pilih dengan sadar, dan berani menciptakan jeda. Namun kesadaran digital bukan sekadar soal manajemen waktu, ia juga soal spiritualitas modern, kemampuan untuk hadir, bukan sekadar terhubung.

Scrolling bisa menjadi jendela untuk refleksi: seberapa sering kita menggulir bukan karena ingin tahu, tapi karena takut berhenti? Takut kehilangan koneksi, takut merasa sendiri? Barangkali yang kita cari dalam guliran itu bukan informasi, melainkan makna, sesuatu yang diam-diam hilang dalam kecepatan.

Penutup: Cermin dari Logika Zaman

Budaya scrolling mencerminkan logika zaman digital: cepat, terfragmentasi, dan berbasis atensi. Ia memperlihatkan bagaimana teknologi bukan hanya alat, tapi juga membentuk cara berpikir, merasa, dan hidup. Dalam setiap guliran, tersimpan paradoks manusia modern, semakin banyak yang kita lihat, semakin sedikit yang benar-benar kita pahami.

Mungkin, seperti kata Baudrillard, kita hidup di dunia di mana “realitas lenyap dalam kecepatan tanda-tanda.” Namun kesadaran tentang hal itu bisa menjadi langkah awal untuk mengambil kembali kendali. Karena di tengah arus yang tak berhenti, manusia masih punya satu kemampuan yang belum bisa digantikan algoritma, yaitu kemampuan untuk berhenti, merenung, dan memilih. (*)

Daftar Referensi

  • Ahmed, S. (2004). The Cultural Politics of Emotion. Edinburgh University Press.
  • Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. Semiotext(e).
  • Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. Stanford University Press.
  • Carr, N. (2010). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. W.W. Norton & Company.
  • Castells, M. (1996). The Rise of the Network Society. Blackwell Publishing.
  • Crary, J. (2013). 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep. Verso.
  • Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. NYU Press.
  • Manovich, L. (2001). The Language of New Media. MIT Press.
  • Newport, C. (2019). Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World. Portfolio.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)