Menyemai Minat Baca Mahasiswa di Tengah Dunia Digital

4 menit baca
Salsabiil Firdaus
Ditulis oleh Salsabiil Firdaus diterbitkan
Kegiatan literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Kegiatan literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Di suatu siang hari yang teduh di kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, suasana di dalam perpustakaan terasa berbeda dari hiruk pikuk dunia perkuliahan. Di lantai dua, di antara deretan rak buku tebal dan bangku yang melingkar, beberapa mahasiswa tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Ada yang sibuk mengetik laporan dengan wajah serius, ada yang membaca buku tipis dengan catatan kecil di pinggir halaman, sementara sebagian lain sekadar menikmati ketenangan ruangan berpendingin udara itu.

Salah satu mahasiswa yang sedang larut dalam aktivitasnya masing-masing, yakni Fereel Irsyad, mahasiswa KPI semester tujuh, menunduk di balik layar laptopnya. Buku-buku tebal berjejer di samping kanan, sementara ponsel di atas meja sesekali bergetar. “Kadang susah fokus kalau HP di samping,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi kalau di sini (perpustakaan), entah kenapa rasanya itu lebih tenang aja. Apalagi di perpustakaan memang tidak boleh berisik juga.”

Perpustakaan, bagi sebagian mahasiswa bukan hanya sekadar tempat mencari referensi. Seringkali perpustakaan juga dapat menjadi ruang sunyi untuk mengasingkan diri dari bisingnya dunia luar, tempatnya menata pikiran, mencari ide, atau sekadar menenangkan diri dari derasnya notifikasi media sosial. “Awalnya ke sini hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi lama-lama jadi kebiasaan. Kalau dalam seharian belum mampir ke sini, rasanya seperti ada yang kurang,” ujar Fereel.

Akses internet yang menunjang kegiatan literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Akses internet yang menunjang kegiatan literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Ironisnya, di tengah era digital yang serba cepat ini, budaya membaca dan menulis ini justru kian terpinggirkan. Di dunia akademis, khususnya mahasiswa kerap mengandalkan ringkasan, video singkat di media sosial, atau bahkan bantuan AI untuk memperoleh informasi. Padahal, literasi itu bukan sekadar kemampuan membaca teks saja, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan selektif terhadap informasi yang diterima.

Secara nasional, budaya literasi Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Data dari UNESCO Institute for Statistics mencatat tingkat melek huruf orang dewasa Indonesia mencapai sekitar 96 persen, menunjukkan hampir seluruh penduduk telah mampu membaca. Namun, survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal literate behaviour, yakni kebiasaan membaca dan menulis masyarakat.

Sementara itu, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh OECD menunjukkan skor kemampuan literasi membaca siswa Indonesia hanya sekitar 359 poin, masih jauh di bawah rata-rata global dan termasuk dalam kelompok negara dengan skor terendah. Angka-angka ini menunjukkan suatu paradoks bahwa sebuah bangsa yang telah mampu membaca, tetapi belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup.

Dalam ruang akademis seperti kampus, paradoks itu terasa nyata. Banyak mahasiswa kini bukan lagi membaca karena kebutuhan intelektual, melainkan karena kebutuhan tren fear of missing out. Buku kini hanya menjadi simbol tren baru yang difoto dan diunggah ke media sosial, tetapi jarang benar-benar dibaca sampai tuntas “Sekarang banyak yang beli buku hanya untuk tampil keren di story, tetapi sebenarnya itu bisa jadi langkah awal juga buat mulai suka baca,” kata Fereel.

Fenomena ini menunjukkan bahwa minat baca di tengah mahasiswa memang tumbuh, meski telah mengalami pergeseran makna yang dipengaruhi oleh budaya digital yang serba instan. Kini, literasi tak lagi terbatas pada aktivitas membaca buku ataupun menulis saja, melainkan merupakan bagian dari self-development dan ekspresi diri juga. Di sisi lain, tren ini justru membuka peluang untuk menumbuhkan semangat literasi di tengah mahasiswa, walaupun bentuknya mungkin berubah.

Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada konsistensi. Banyak mahasiswa yang memiliki niat membaca, tetapi terhenti di tengah jalan karena distraksi digital yang tiada henti. Perilaku seperti ini menunjukkan bagaimana dunia digital membentuk pola pikir instan dan rasa cepat bosan, bahkan terhadap aktivitas seproduktif membaca. “Kadang udah niat baca, tapi baru dua halaman langsung buka TikTok atau medsos lainnya,” ujar Fereel sambil tertawa kecil.

Dengan adanya pergeseran tren bentuk literasi yang ada saat ini, maka beberapa perpustakaan pun berubaya menghidupkan Kembali atmosfer literasi dengan mulai menyesuaikan diri. Beberapa ruang baca kini dirancang untuk lebih terbuka dan santai, serta spot area yang estetik, termasuk yang ada di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini. Mulai dari beberapa area diskusi yang estetik, tempat baca lesehan yang nyaman, hingga akses e-journal yang makin mudah untuk diakses.

Ruang baca yang estetik untuk menyesuaikan pergeseran tren literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)
Ruang baca yang estetik untuk menyesuaikan pergeseran tren literasi mahasiswa di perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis | Foto: Salsabiil Firdaus)

Hari pun mulai menjelang sore, cahaya oranye menembus jendela besar di sisi timur. Beberapa mahasiswa berkemas, sebagian masih tenggelam dalam catatan. Di antara mereka, Fereel menutup bukunya pelan, menyelipkan pembatas halaman, dan tersenyum kecil. “Terkadang kalau berada di perpustakaan, suka ada inspirasi yang tiba-tiba muncul yang membuat kita jadi lebih tumbuh dan berkembang,” ucapnya.

Di tengah arus digitalisasi yang serba cepat ini, kebiasaan literasi sederhana seperti membaca buku di perpustakaan ini barangkali dapat menjadi letak harapan baru literasi mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang. Di tengah hiruk pikuk ini, dunia digital tidak selalu menjadi musuh literasi, tetapi bisa menjadi mitra jika dimanfaatkan dengan bijak.

Berbagai platform digital membuka akses tanpa batas terhadap informasi dan pengetahuan, namun kemudahan itu harus disertai dengan kemampuan memilih juga mencerna. Karena makna literasi di era digital saat ini, bukan lagi soal seberapa banyak halaman buku yang sudah dituntaskan, melainkan seberapa dalam seseorang memahami makna yang terdapat dalam bacaannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)