Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Hikayat Skandal Dimas Kanjeng, Dukun Pengganda Uang Seribu Kali Lipat

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 04 Nov 2025, 16:50 WIB
Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun pengganda uang yang jadi sensasi nasional.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun pengganda uang yang jadi sensasi nasional.

AYOBANDUNG.ID - Segala tipu daya biasanya dimulai dari sesuatu yang tampak suci. Begitu pula kisah Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun karismatik asal Probolinggo yang mengaku bisa menggandakan uang sampai seribu kali lipat. Ia bukan hanya menjanjikan kaya mendadak, tapi juga menjual harapan spiritual. Tapi kisah ini terbongkar bukan karena janji palsu, melainkan karena bau busuk mayat yang dikubur dangkal di hutan.

Pada awal 2015, warga Situbondo mencium aroma aneh dari semak di Desa Tegalsono. Setelah digali, ditemukan jasad lelaki dengan tangan terikat, kepala dibungkus kresek hitam. Namanya Ismail Hidayah. Ia adalah antri setia, tangan kanan sekaligus bendahara lapangan Dimas Kanjeng. Ia tahu rahasia yang mestinya tak diketahui siapa pun: bahwa uang tidak pernah digandakan lewat doa, tapi diputar seperti arisan MLM yang berbungkus tasbih dan jubah putih.

Ismail adalah pengumpul mahar, istilah halus untuk uang setoran. Santri harus menyetor minimal Rp25 juta agar uangnya “dilipatgandakan” lewat ritual. Semakin besar mahar, katanya, semakin banyak rezeki yang akan turun dari alam gaib. Masalahnya, uang yang turun justru dari pengikut baru, bukan dari jin kaya raya.

Baca Juga: Hikayat Tragedi Lumpur Lapindo, Bencana Besar yang Tenggelamkan Belasan Desa di Sidoarjo

Ketika Ismail mulai kecewa dan membongkar kebohongan itu, Taat Pribadi panik. Sebab Ismail bukan santri biasa; ia tahu detail semua transaksi, bahkan siapa yang disetor, kapan, dan berapa banyak. Maka pada 2 Februari 2015, sembilan orang pengawal setia Dimas Kanjeng mencegat Ismail di jalan raya Paiton. Ia dibekap, dijerat, dan dibungkus kresek. Mayatnya dikubur asal-asalan. Tapi seperti kebohongan, kubur dangkal selalu ketahuan.

Polisi Probolinggo menemukan bukti pembunuhan berencana. Namun saat itu, nama Dimas Kanjeng belum sepenuhnya diseret. Ia masih dipuja ribuan santri dan pengikutnya.

Satu tahun kemudian, langit itu runtuh. Kali ini korbannya Abdul Gani, ketua yayasan padepokan sekaligus bendahara besar. Ia juga mulai kecewa karena janji penggandaan uang gagal total. Santri menagih, uang tidak muncul, dan Gani mulai menyebarkan kecurigaan. Taat Pribadi, yang hidup dari kepercayaan buta, tahu satu hal: dalam bisnis keajaiban, satu pengkhianat bisa menumbangkan seluruh kerajaan.

13 April 2016, Abdul Gani diculik dan dibunuh. Mayatnya dibuang ke Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Para pelaku yang berjulah sembilan orang, dibayar total Rp320 juta. Ini bukan kebetulan, tapi pola. Satu-satu, orang yang tahu kebusukan penggandaan uang dibungkam dengan cara brutal.

Penemuan dua mayat ini membuat polisi menyusun puzzle: dua korban, dua pengikut yang kecewa, satu nama sama di baliknya. Maka pada 6 Juli 2016, laporan resmi menyebut Taat Pribadi sebagai dalang. Lalu, operasi besar pun disiapkan.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Tanggal 22 September 2016, hampr 2.000an ribuan aparat kepolisian dan TNI mengepung Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Probolinggo. Para santri berbaris melindungi sang guru ketika polisi melempar gas air mata. Adegan itu lebih mirip film perang spiritual ketimbang operasi kriminal.

Dimas Kanjeng akhirnya ditangkap sambil mengenakan kaus berwarna ungu. Tak ada uang jatuh dari langit kala itu. Polisi sempat meminta Dimas Kanjeng menggandakan uang, namun dukun palsu itu berkilah. Tak bisa, katanya. Alasannya? Jin Ifritnya lari tunggang langgang menghindari gas air mata polisi.

Para pengikutnya menangis histeris, sebagian menganggap penangkapan itu cobaan bagi wali Tuhan. Tapi polisi sudah punya arah: ini bukan sekadar aliran sesat, ini kejahatan ekonomi berskala besar yang berlumur darah.

Dimas Kanjeng saat mengenakan pakaian tahanan. (Sumber: YouTube CNN Indonesia)
Dimas Kanjeng saat mengenakan pakaian tahanan. (Sumber: YouTube CNN Indonesia)

Setelah penangkapan, publik baru tahu siapa sebenarnya Dimas Kanjeng. Nama aslinya Taat Pribadi, lahir di Probolinggo, 28 Juli 1970. Ia pernah mondok, katanya, lalu berguru ke Banten untuk memperdalam ilmu kebatinan. Pada 2002, ia mendirikan padepokan megah. Di sana ada masjid, aula, asrama, dan rumah mewah bergaya istana. Dari situ ia menabalkan gelar baru: Dimas Kanjeng, terinspirasi dari kebangsawanan Jawa kuno.

Padepokan ini tampak damai awalnya: tempat meditasi, zikir, dan bakti sosial. Tapi sejak 2006, Dimas mulai mengaku mendapat “wahyu penggandaan uang”. Ia mengklaim bisa menarik uang dari dunia gaib lewat ritual tertentu. Video demonstrasinya viral: ia berdiri di depan para santri, mengenakan jubah serba putih, membaca doa, lalu… abrakadabra! muncul tumpukan uang seratus ribuan.

Banyak yang percaya. Ribuann orang jadi korban. Total kerugian para korban diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan miliar. Pengikut padepokan ini tak cuma warga Probolinggo dan sekitarnya. Ada laporan yang menyebutkan ribuan orang dari Sulawesi Selatan (Sulsel) ikut jadi pengikut.

Baca Juga: Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

Skemanya operasinya sederhana: uang dari santri baru digunakan untuk membayar santri lama. Itu adalah ponzi murni dengan dupa dan jubah putih. Tapi berkat karismanya, Dimas Kanjeng bisa bertahan hampir satu dekade. Bahkan ketika korban pertama mulai melapor ke Bareskrim pada Februari 2016, ribuan orang masih percaya bahwa guru mereka dizalimi oleh “pihak yang tidak paham ilmu gaib”.

Untuk menopang kultus, Taat Pribadi menggunakan strategi marketing yang lumayan oke. Sejumlah foto yang memperlihatkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi bersama pejabat, termasuk Menteri Agraria Sofyan Djalil, Jenderal Moeldoko saat menjabat Panglima TNI, dan perwira TNI-Polri lain, terpampang di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo. Namun, keaslian foto-foto itu diragukan kepolisian. Meski begitu, warga setempat menyebut padepokan yang berdiri sejak 2005 itu memang sering dikunjungi pejabat dan tokoh nasional, termasuk Mahfud MD yang mengaku pernah datang.

Barang bukti kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi sangat beragam, mencakup benda pusaka, uang asing, dan perlengkapan ritual. Polisi menyita berbagai keris, patung Nyi Roro Kidul, tongkat, batu dari Gunung Kawi, minyak berkah, kitab aliran kecil, serta benda-benda mistis lain seperti sabuk mantra dan selendang emas.

Selain itu, ditemukan juga 260 batang logam diduga emas, berbagai lembaran uang palsu seperti “million bill” dan “one million euro”, serta ribuan uang asing dari Vietnam, Korea, dan China yang ternyata bukan uang asli. Ada pula peti berisi keris, jubah hitam, dan kartu identitas padepokan. Kasus ini menjerat Taat karena dugaan penipuan penggandaan uang dan pembunuhan, dengan korban mencapai lebih dari 3.000 orang dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Persidangan Dimas Kanjeng berlangsung seperti sinetron mistik yang berubah jadi drama kriminal. Di Pengadilan Negeri Kraksaan, jaksa bersikeras membuktikan ia memerintahkan pembunuhan. Para algojo bersaksi bahwa mereka dibayar Rp30–40 juta per orang. Taat Pribadi bersikeras tidak tahu apa-apa. Namun, saksi dan bukti forensik terlalu kuat. Hakim menjatuhkan vonis 18 tahun penjara pada 1 Agustus 2017 untuk dua pembunuhan berencana.

Baca Juga: Gaduh Kisah Vina Garut, Skandal Video Syur yang Bikin Geger

Sebulan kemudian, vonis lain datang untuk kasus penipuan senilai Rp800 juta. Dalam kasus itu, dia divonis dua tahun penjara, yang naik jadi tiga tahun setelah banding. Di tingkat kasasi Mahkamah Agung (Mei 2018), semuanya dikukuhkan: total 21 tahun penjara.

Tapi kisah ini belum selesai. Pada Desember 2018, Dimas Kanjeng Taat Pribadi kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya atas perkara penipuan senilai Rp10 miliar. Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana menyatakan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP. Meskipun demikian, hakim memutuskan vonis nihil karena Dimas Kanjeng telah lebih dahulu menjalani hukuman total 21 tahun penjara dari perkara sebelumnya, yakni 18 tahun atas kasus pembunuhan berencana terhadap Abdul Gani, serta 3 tahun untuk kasus penipuan.

Hakim Anne menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada ketentuan hukum yang tidak memperbolehkan pemberian hukuman secara kumulatif melebihi 20 tahun penjara. Oleh karena itu, hukuman tambahan tidak dijatuhkan meski terdakwa kembali terbukti bersalah.

Tahun berikutnya, Dimas Kanjeng kembali terjerat kasus penipuan dan penggelapan lain yang disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam perkara itu, Majelis Hakim yang dipimpin R. Anton Widyopriyono juga menjatuhkan vonis nihil dengan pertimbangan serupa. Berdasarkan Pasal 66 ayat (1) KUHP, seseorang yang telah menerima hukuman maksimal tidak dapat dijatuhi hukuman tambahan yang melampaui batas waktu penahanan. Vonis tersebut telah berkekuatan hukum tetap dan menjadi penutup dari rangkaian panjang kasus hukum Dimas Kanjeng.

Pada April 2025, Taat Pribadi bebas bersyarat. Dari 21 tahun hukuman, dia hana menjalani ukrang dari saparuh masa tahanan. Delapan tahun berlalu, dan ia kembali ke padepokan. Kabarnya, sebagian santri lama masih menyambutnya. Belakngan, beredar viral video kegiatan Taat Pribadi di Padepokan Dimas Kanjeng. Nuansanya ingar bingar. Ia duduk di kursi sofa empuk bak raja, dikelilingi pengikutnya yang, entah bagaaimana, masih menaruh hormat. Taat naik mobil, melambaikan tangan laiknya selebritas. Lambaian itu disambut meriah, meskipun semua tahu bahwa dia pernah menjelma coreng hitam di mata hukum, yang lebih pekat ketimbang celak matanya.

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)