Hikayat Skandal Dimas Kanjeng, Dukun Pengganda Uang Seribu Kali Lipat

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 04 Nov 2025, 16:50 WIB
Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun pengganda uang yang jadi sensasi nasional.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun pengganda uang yang jadi sensasi nasional.

AYOBANDUNG.ID - Segala tipu daya biasanya dimulai dari sesuatu yang tampak suci. Begitu pula kisah Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dukun karismatik asal Probolinggo yang mengaku bisa menggandakan uang sampai seribu kali lipat. Ia bukan hanya menjanjikan kaya mendadak, tapi juga menjual harapan spiritual. Tapi kisah ini terbongkar bukan karena janji palsu, melainkan karena bau busuk mayat yang dikubur dangkal di hutan.

Pada awal 2015, warga Situbondo mencium aroma aneh dari semak di Desa Tegalsono. Setelah digali, ditemukan jasad lelaki dengan tangan terikat, kepala dibungkus kresek hitam. Namanya Ismail Hidayah. Ia adalah antri setia, tangan kanan sekaligus bendahara lapangan Dimas Kanjeng. Ia tahu rahasia yang mestinya tak diketahui siapa pun: bahwa uang tidak pernah digandakan lewat doa, tapi diputar seperti arisan MLM yang berbungkus tasbih dan jubah putih.

Ismail adalah pengumpul mahar, istilah halus untuk uang setoran. Santri harus menyetor minimal Rp25 juta agar uangnya “dilipatgandakan” lewat ritual. Semakin besar mahar, katanya, semakin banyak rezeki yang akan turun dari alam gaib. Masalahnya, uang yang turun justru dari pengikut baru, bukan dari jin kaya raya.

Baca Juga: Hikayat Tragedi Lumpur Lapindo, Bencana Besar yang Tenggelamkan Belasan Desa di Sidoarjo

Ketika Ismail mulai kecewa dan membongkar kebohongan itu, Taat Pribadi panik. Sebab Ismail bukan santri biasa; ia tahu detail semua transaksi, bahkan siapa yang disetor, kapan, dan berapa banyak. Maka pada 2 Februari 2015, sembilan orang pengawal setia Dimas Kanjeng mencegat Ismail di jalan raya Paiton. Ia dibekap, dijerat, dan dibungkus kresek. Mayatnya dikubur asal-asalan. Tapi seperti kebohongan, kubur dangkal selalu ketahuan.

Polisi Probolinggo menemukan bukti pembunuhan berencana. Namun saat itu, nama Dimas Kanjeng belum sepenuhnya diseret. Ia masih dipuja ribuan santri dan pengikutnya.

Satu tahun kemudian, langit itu runtuh. Kali ini korbannya Abdul Gani, ketua yayasan padepokan sekaligus bendahara besar. Ia juga mulai kecewa karena janji penggandaan uang gagal total. Santri menagih, uang tidak muncul, dan Gani mulai menyebarkan kecurigaan. Taat Pribadi, yang hidup dari kepercayaan buta, tahu satu hal: dalam bisnis keajaiban, satu pengkhianat bisa menumbangkan seluruh kerajaan.

13 April 2016, Abdul Gani diculik dan dibunuh. Mayatnya dibuang ke Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Para pelaku yang berjulah sembilan orang, dibayar total Rp320 juta. Ini bukan kebetulan, tapi pola. Satu-satu, orang yang tahu kebusukan penggandaan uang dibungkam dengan cara brutal.

Penemuan dua mayat ini membuat polisi menyusun puzzle: dua korban, dua pengikut yang kecewa, satu nama sama di baliknya. Maka pada 6 Juli 2016, laporan resmi menyebut Taat Pribadi sebagai dalang. Lalu, operasi besar pun disiapkan.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Tanggal 22 September 2016, hampr 2.000an ribuan aparat kepolisian dan TNI mengepung Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Probolinggo. Para santri berbaris melindungi sang guru ketika polisi melempar gas air mata. Adegan itu lebih mirip film perang spiritual ketimbang operasi kriminal.

Dimas Kanjeng akhirnya ditangkap sambil mengenakan kaus berwarna ungu. Tak ada uang jatuh dari langit kala itu. Polisi sempat meminta Dimas Kanjeng menggandakan uang, namun dukun palsu itu berkilah. Tak bisa, katanya. Alasannya? Jin Ifritnya lari tunggang langgang menghindari gas air mata polisi.

Para pengikutnya menangis histeris, sebagian menganggap penangkapan itu cobaan bagi wali Tuhan. Tapi polisi sudah punya arah: ini bukan sekadar aliran sesat, ini kejahatan ekonomi berskala besar yang berlumur darah.

Dimas Kanjeng saat mengenakan pakaian tahanan. (Sumber: YouTube CNN Indonesia)
Dimas Kanjeng saat mengenakan pakaian tahanan. (Sumber: YouTube CNN Indonesia)

Setelah penangkapan, publik baru tahu siapa sebenarnya Dimas Kanjeng. Nama aslinya Taat Pribadi, lahir di Probolinggo, 28 Juli 1970. Ia pernah mondok, katanya, lalu berguru ke Banten untuk memperdalam ilmu kebatinan. Pada 2002, ia mendirikan padepokan megah. Di sana ada masjid, aula, asrama, dan rumah mewah bergaya istana. Dari situ ia menabalkan gelar baru: Dimas Kanjeng, terinspirasi dari kebangsawanan Jawa kuno.

Padepokan ini tampak damai awalnya: tempat meditasi, zikir, dan bakti sosial. Tapi sejak 2006, Dimas mulai mengaku mendapat “wahyu penggandaan uang”. Ia mengklaim bisa menarik uang dari dunia gaib lewat ritual tertentu. Video demonstrasinya viral: ia berdiri di depan para santri, mengenakan jubah serba putih, membaca doa, lalu… abrakadabra! muncul tumpukan uang seratus ribuan.

Banyak yang percaya. Ribuann orang jadi korban. Total kerugian para korban diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan miliar. Pengikut padepokan ini tak cuma warga Probolinggo dan sekitarnya. Ada laporan yang menyebutkan ribuan orang dari Sulawesi Selatan (Sulsel) ikut jadi pengikut.

Baca Juga: Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

Skemanya operasinya sederhana: uang dari santri baru digunakan untuk membayar santri lama. Itu adalah ponzi murni dengan dupa dan jubah putih. Tapi berkat karismanya, Dimas Kanjeng bisa bertahan hampir satu dekade. Bahkan ketika korban pertama mulai melapor ke Bareskrim pada Februari 2016, ribuan orang masih percaya bahwa guru mereka dizalimi oleh “pihak yang tidak paham ilmu gaib”.

Untuk menopang kultus, Taat Pribadi menggunakan strategi marketing yang lumayan oke. Sejumlah foto yang memperlihatkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi bersama pejabat, termasuk Menteri Agraria Sofyan Djalil, Jenderal Moeldoko saat menjabat Panglima TNI, dan perwira TNI-Polri lain, terpampang di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo. Namun, keaslian foto-foto itu diragukan kepolisian. Meski begitu, warga setempat menyebut padepokan yang berdiri sejak 2005 itu memang sering dikunjungi pejabat dan tokoh nasional, termasuk Mahfud MD yang mengaku pernah datang.

Barang bukti kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi sangat beragam, mencakup benda pusaka, uang asing, dan perlengkapan ritual. Polisi menyita berbagai keris, patung Nyi Roro Kidul, tongkat, batu dari Gunung Kawi, minyak berkah, kitab aliran kecil, serta benda-benda mistis lain seperti sabuk mantra dan selendang emas.

Selain itu, ditemukan juga 260 batang logam diduga emas, berbagai lembaran uang palsu seperti “million bill” dan “one million euro”, serta ribuan uang asing dari Vietnam, Korea, dan China yang ternyata bukan uang asli. Ada pula peti berisi keris, jubah hitam, dan kartu identitas padepokan. Kasus ini menjerat Taat karena dugaan penipuan penggandaan uang dan pembunuhan, dengan korban mencapai lebih dari 3.000 orang dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Persidangan Dimas Kanjeng berlangsung seperti sinetron mistik yang berubah jadi drama kriminal. Di Pengadilan Negeri Kraksaan, jaksa bersikeras membuktikan ia memerintahkan pembunuhan. Para algojo bersaksi bahwa mereka dibayar Rp30–40 juta per orang. Taat Pribadi bersikeras tidak tahu apa-apa. Namun, saksi dan bukti forensik terlalu kuat. Hakim menjatuhkan vonis 18 tahun penjara pada 1 Agustus 2017 untuk dua pembunuhan berencana.

Baca Juga: Gaduh Kisah Vina Garut, Skandal Video Syur yang Bikin Geger

Sebulan kemudian, vonis lain datang untuk kasus penipuan senilai Rp800 juta. Dalam kasus itu, dia divonis dua tahun penjara, yang naik jadi tiga tahun setelah banding. Di tingkat kasasi Mahkamah Agung (Mei 2018), semuanya dikukuhkan: total 21 tahun penjara.

Tapi kisah ini belum selesai. Pada Desember 2018, Dimas Kanjeng Taat Pribadi kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya atas perkara penipuan senilai Rp10 miliar. Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana menyatakan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP. Meskipun demikian, hakim memutuskan vonis nihil karena Dimas Kanjeng telah lebih dahulu menjalani hukuman total 21 tahun penjara dari perkara sebelumnya, yakni 18 tahun atas kasus pembunuhan berencana terhadap Abdul Gani, serta 3 tahun untuk kasus penipuan.

Hakim Anne menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada ketentuan hukum yang tidak memperbolehkan pemberian hukuman secara kumulatif melebihi 20 tahun penjara. Oleh karena itu, hukuman tambahan tidak dijatuhkan meski terdakwa kembali terbukti bersalah.

Tahun berikutnya, Dimas Kanjeng kembali terjerat kasus penipuan dan penggelapan lain yang disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam perkara itu, Majelis Hakim yang dipimpin R. Anton Widyopriyono juga menjatuhkan vonis nihil dengan pertimbangan serupa. Berdasarkan Pasal 66 ayat (1) KUHP, seseorang yang telah menerima hukuman maksimal tidak dapat dijatuhi hukuman tambahan yang melampaui batas waktu penahanan. Vonis tersebut telah berkekuatan hukum tetap dan menjadi penutup dari rangkaian panjang kasus hukum Dimas Kanjeng.

Pada April 2025, Taat Pribadi bebas bersyarat. Dari 21 tahun hukuman, dia hana menjalani ukrang dari saparuh masa tahanan. Delapan tahun berlalu, dan ia kembali ke padepokan. Kabarnya, sebagian santri lama masih menyambutnya. Belakngan, beredar viral video kegiatan Taat Pribadi di Padepokan Dimas Kanjeng. Nuansanya ingar bingar. Ia duduk di kursi sofa empuk bak raja, dikelilingi pengikutnya yang, entah bagaaimana, masih menaruh hormat. Taat naik mobil, melambaikan tangan laiknya selebritas. Lambaian itu disambut meriah, meskipun semua tahu bahwa dia pernah menjelma coreng hitam di mata hukum, yang lebih pekat ketimbang celak matanya.

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)