Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 12 Agu 2025, 14:53 WIB
Dukun bermantel tambal sulam memberkati sesaji dalam salah satu festival di jawa pada masa Kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

Dukun bermantel tambal sulam memberkati sesaji dalam salah satu festival di jawa pada masa Kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung era kolonial, para dukun menjelma seperti juru selamat. Orang-orang dari segala lapisan mendatangi mereka, bukan sekadar untuk mencari obat, tapi juga harapan—rezeki, cinta, kekuasaan, dan kemenangan undian lotere. Semua bisa dibeli, asal cukup setia dan bersedia menyetor uang.

Sebut saja kisah Kamad dan temannya, dua warga Bandung yang percaya betul bahwa kemakmuran bisa diraih lewat air bunga dan selembar kertas berisi mantra. Mereka datang ke Gang Loena, ke rumah seorang dukun tua yang menjanjikan jalan pintas menuju kekayaan. Kamad diminta membayar 5 sen, lalu beberapa keping setengah sen, dan akhirnya satu gulden. Katanya, uang itu untuk beli tiket lotere yang pasti menang.

“Jika K. memberinya gulden lagi, ia akan membeli tiket lotre dengan uang itu, yang pasti harus menang! Pemuda itu pun mempercayainya, dan entah mimpi apa yang sebenarnya sedang ia impikan,” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 15 Maret 1937.

Temannya juga tergiur, membayar lebih mahal: 60 sen untuk jimat, 10 sen untuk mandi bunga, dan satu gulden lagi demi hadiah yang dijanjikan. Tapi seperti Kamad, ia tak pernah melihat tiketnya. Ketika kasus ini dibawa ke pengadilan, dukun tua itu berdalih bahwa tiket-tiket itu disimpannya sendiri. Hakim tak percaya, ia dijatuhi hukuman satu bulan penjara.

Tapi, malamnya, kisah baru muncul. Seorang perempuan muda mendatangi dukun yang sama, minta obat. Sang dukun menyuruhnya datang pukul 11 malam. Konon, arwah lebih “kuat” saat itu. Perempuan itu menurut. Tapi alih-alih disembuhkan, ia dirayu dan dimandikan oleh sang dukun—dalam posisi yang tak pantas. Di pengadilan, si dukun menyangkal. “Kebohongan,” katanya. Karena tak ada saksi, hakim membebaskannya.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Bukannya jera, para dukun terus melanjutkan praktiknya. Di Sekelimoes, Batununggal, seorang dukun bernama Ali bahkan menjual jimat dengan harga tinggi ke empat perempuan: Haji Siti Djenab, Onja, Itjih, dan Ojo. Masing-masing membayar antara ƒ 8 hingga ƒ 12. Jimat itu, menurut si dukun, bisa mempercepat pernikahan dan mendatangkan rezeki.

“Jimat, yang terdiri dari selembar kertas kecil dan kain kotor, dapat mendorong perempuan untuk menikah dalam waktu singkat,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 3 April 1928.

Tak cuma orang kampung yang jadi korban. Perempuan Tionghoa berpendidikan dan para nyonya dari kalangan hartawan pun ikut memesan. Namun setelah berminggu-minggu, mereka sadar bahwa janji-janji itu palsu. Dukun Ali akhirnya ditangkap dan mengaku bersalah. Ia diganjar empat kali dua puluh hari penjara.

Bandung kolonial menjadi ladang subur bagi tipu daya berselubung kain putih dan dupa. Harapan dijual dalam bentuk jimat, dan mimpi dikemas lewat mantra yang mudah dihafal.

Pak Tani Sembuh karena Seduhan Resep Obat

Tak semua kasus berkutat pada tipu daya. Beberapa justru mencerminkan betapa lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ilmu kedokteran modern. Seorang petani yang bertahun-tahun sakit akhirnya, atas saran tetangganya, pergi ke dokter Belanda di Bandung. Ia diberi resep. Tapi karena tak mengerti isinya, ia malah membakar resep itu, mencampur abunya dengan air, lalu meminumnya.

“...pulang dengan resep yang dianggapnya sebagai jimat, membakar kertas itu, meminum abu yang dicampur air, dan sembuh total dari penyakitnya,” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 26 September 1933.

Potret petani di Jawa saat sedang membajak sawah pada masa kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)
Potret petani di Jawa saat sedang membajak sawah pada masa kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)

Itulah Bandung zaman kolonial—di mana resep dokter dan mantra dukun bisa jadi satu di kepala rakyat kecil. Mana yang lebih sakti? Tergantung siapa yang membakar kertas dan siapa yang percaya.

Tahun 1939, di Kampung Bojong Goak, barat daya Bandung, tiga orang dari satu keluarga tiba-tiba menjadi gila: seorang pria, seorang wanita, dan anak perempuan mereka. Si ayah mengamuk, merusak rumah, dan mengancam keselamatan warga. Dua perempuan di rumah itu menunjukkan gejala yang sama. Penduduk panik. Si ayah ditaklukkan oleh loerah dan warga kampung.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Lurah menduga, semua ini gara-gara jimat. Ia menyebut bahwa saat gerhana bulan sebelumnya, warga ramai memukul alu dan kaleng sebagai ritual tolak bala. Tapi keluarga ini diam saja. Lurah percaya jimat telah melindungi mereka.

“Ia mendasarkan kecurigaan ini pada fakta bahwa saat gerhana bulan terakhir, ketiga "kampungen" ini tetap di rumah, sementara penduduk kampung lainnya sibuk memukul tong-tong, lisoeng, balok pemukul padi, kaleng, dan apa pun yang dapat menimbulkan suara,” tulis De Locomotief, 8 Mei 1939.

Ketika jimat tak lagi bekerja, dan dunia tak bisa dijelaskan dengan mantra, jiwa bisa retak. Dalam kekosongan itu, kegilaan mengambil alih. Bandung menjadi panggung dari benturan keyakinan dan kenyataan, antara harapan dan tipu muslihat.

Bandung kini tak lagi dikelilingi oleh dupa dan kain kafan. Tapi janji-janji mistik tetap hidup. Bedanya, kini hadir lewat siaran langsung di TikTok atau brosur pengobatan alternatif di pinggir jalan. Jimat berganti nama jadi “energi spiritual”, dukun tampil sebagai “coach spiritual”.

Zaman boleh berganti, tapi pola tetap sama: orang-orang masih mencari jalan pintas. Entah lewat mantra, entah lewat abunya resep. Dan Bandung—dengan segala romantikanya—masih menyimpan jejak itu, samar tapi terus hidup di sudut-sudut kota.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)