Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Dukun bermantel tambal sulam memberkati sesaji dalam salah satu festival di jawa pada masa Kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Dukun bermantel tambal sulam memberkati sesaji dalam salah satu festival di jawa pada masa Kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung era kolonial, para dukun menjelma seperti juru selamat. Orang-orang dari segala lapisan mendatangi mereka, bukan sekadar untuk mencari obat, tapi juga harapan—rezeki, cinta, kekuasaan, dan kemenangan undian lotere. Semua bisa dibeli, asal cukup setia dan bersedia menyetor uang.

Sebut saja kisah Kamad dan temannya, dua warga Bandung yang percaya betul bahwa kemakmuran bisa diraih lewat air bunga dan selembar kertas berisi mantra. Mereka datang ke Gang Loena, ke rumah seorang dukun tua yang menjanjikan jalan pintas menuju kekayaan. Kamad diminta membayar 5 sen, lalu beberapa keping setengah sen, dan akhirnya satu gulden. Katanya, uang itu untuk beli tiket lotere yang pasti menang.

“Jika K. memberinya gulden lagi, ia akan membeli tiket lotre dengan uang itu, yang pasti harus menang! Pemuda itu pun mempercayainya, dan entah mimpi apa yang sebenarnya sedang ia impikan,” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 15 Maret 1937.

Temannya juga tergiur, membayar lebih mahal: 60 sen untuk jimat, 10 sen untuk mandi bunga, dan satu gulden lagi demi hadiah yang dijanjikan. Tapi seperti Kamad, ia tak pernah melihat tiketnya. Ketika kasus ini dibawa ke pengadilan, dukun tua itu berdalih bahwa tiket-tiket itu disimpannya sendiri. Hakim tak percaya, ia dijatuhi hukuman satu bulan penjara.

Tapi, malamnya, kisah baru muncul. Seorang perempuan muda mendatangi dukun yang sama, minta obat. Sang dukun menyuruhnya datang pukul 11 malam. Konon, arwah lebih “kuat” saat itu. Perempuan itu menurut. Tapi alih-alih disembuhkan, ia dirayu dan dimandikan oleh sang dukun—dalam posisi yang tak pantas. Di pengadilan, si dukun menyangkal. “Kebohongan,” katanya. Karena tak ada saksi, hakim membebaskannya.

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Bukannya jera, para dukun terus melanjutkan praktiknya. Di Sekelimoes, Batununggal, seorang dukun bernama Ali bahkan menjual jimat dengan harga tinggi ke empat perempuan: Haji Siti Djenab, Onja, Itjih, dan Ojo. Masing-masing membayar antara ƒ 8 hingga ƒ 12. Jimat itu, menurut si dukun, bisa mempercepat pernikahan dan mendatangkan rezeki.

“Jimat, yang terdiri dari selembar kertas kecil dan kain kotor, dapat mendorong perempuan untuk menikah dalam waktu singkat,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 3 April 1928.

Tak cuma orang kampung yang jadi korban. Perempuan Tionghoa berpendidikan dan para nyonya dari kalangan hartawan pun ikut memesan. Namun setelah berminggu-minggu, mereka sadar bahwa janji-janji itu palsu. Dukun Ali akhirnya ditangkap dan mengaku bersalah. Ia diganjar empat kali dua puluh hari penjara.

Bandung kolonial menjadi ladang subur bagi tipu daya berselubung kain putih dan dupa. Harapan dijual dalam bentuk jimat, dan mimpi dikemas lewat mantra yang mudah dihafal.

Pak Tani Sembuh karena Seduhan Resep Obat

Tak semua kasus berkutat pada tipu daya. Beberapa justru mencerminkan betapa lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ilmu kedokteran modern. Seorang petani yang bertahun-tahun sakit akhirnya, atas saran tetangganya, pergi ke dokter Belanda di Bandung. Ia diberi resep. Tapi karena tak mengerti isinya, ia malah membakar resep itu, mencampur abunya dengan air, lalu meminumnya.

“...pulang dengan resep yang dianggapnya sebagai jimat, membakar kertas itu, meminum abu yang dicampur air, dan sembuh total dari penyakitnya,” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 26 September 1933.

Potret petani di Jawa saat sedang membajak sawah pada masa kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)
Potret petani di Jawa saat sedang membajak sawah pada masa kolonial Belanda. (Sumber: Tropenmuseum)

Itulah Bandung zaman kolonial—di mana resep dokter dan mantra dukun bisa jadi satu di kepala rakyat kecil. Mana yang lebih sakti? Tergantung siapa yang membakar kertas dan siapa yang percaya.

Tahun 1939, di Kampung Bojong Goak, barat daya Bandung, tiga orang dari satu keluarga tiba-tiba menjadi gila: seorang pria, seorang wanita, dan anak perempuan mereka. Si ayah mengamuk, merusak rumah, dan mengancam keselamatan warga. Dua perempuan di rumah itu menunjukkan gejala yang sama. Penduduk panik. Si ayah ditaklukkan oleh loerah dan warga kampung.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Lurah menduga, semua ini gara-gara jimat. Ia menyebut bahwa saat gerhana bulan sebelumnya, warga ramai memukul alu dan kaleng sebagai ritual tolak bala. Tapi keluarga ini diam saja. Lurah percaya jimat telah melindungi mereka.

“Ia mendasarkan kecurigaan ini pada fakta bahwa saat gerhana bulan terakhir, ketiga "kampungen" ini tetap di rumah, sementara penduduk kampung lainnya sibuk memukul tong-tong, lisoeng, balok pemukul padi, kaleng, dan apa pun yang dapat menimbulkan suara,” tulis De Locomotief, 8 Mei 1939.

Ketika jimat tak lagi bekerja, dan dunia tak bisa dijelaskan dengan mantra, jiwa bisa retak. Dalam kekosongan itu, kegilaan mengambil alih. Bandung menjadi panggung dari benturan keyakinan dan kenyataan, antara harapan dan tipu muslihat.

Bandung kini tak lagi dikelilingi oleh dupa dan kain kafan. Tapi janji-janji mistik tetap hidup. Bedanya, kini hadir lewat siaran langsung di TikTok atau brosur pengobatan alternatif di pinggir jalan. Jimat berganti nama jadi “energi spiritual”, dukun tampil sebagai “coach spiritual”.

Zaman boleh berganti, tapi pola tetap sama: orang-orang masih mencari jalan pintas. Entah lewat mantra, entah lewat abunya resep. Dan Bandung—dengan segala romantikanya—masih menyimpan jejak itu, samar tapi terus hidup di sudut-sudut kota.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)