Dari Hotel Pos Road ke Savoy Homann, Jejak Kemewahan dan Saksi Sejarah Pembangunan Kota Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Hotel Savoy Homann Bandung tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)
Hotel Savoy Homann Bandung tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Hotel Savoy Homann berdiri anggun di Jalan Asia Afrika, Bandung—sebuah kawasan yang menjadi saksi sejarah panjang kota ini sejak masa kolonial. Di kiri depan Gedung Merdeka, bangunan hotel ini berdiri tegak seolah menjaga alun-alun kota. Ia berbatasan di utara dengan Jalan Asia Afrika, di timur dengan Kantor Keuangan, di selatan dengan gang kecil, dan di barat dengan Jalan Homann. Kawasan itu kini padat dengan kantor dan pusat perdagangan, mudah dijangkau dari Stasiun Hall, Terminal Leuwipanjang, maupun Cicaheum—tapi lebih dari seabad lalu, wilayah ini hanyalah bagian sunyi dari jalan besar bernama Grote Postweg.

Kisahnya dimulai pada tahun 1880. Seorang warga negara Jerman bernama A. Homann membangun sebuah penginapan sederhana di jalur strategis yang menghubungkan Batavia hingga Cirebon. Namanya kala itu Hotel Pos Road, sesuai dengan letaknya di tepi jalan pos yang dibangun Daendels. Hotel ini menjadi tempat singgah para pejabat dan pengusaha Eropa yang sedang melakukan perjalanan dinas atau inspeksi ke wilayah Priangan. Tak lama berselang, bangunan bergaya Baroque itu menjadi buah bibir di kalangan bangsawan kolonial.

Tiga tahun kemudian, pada 1883, Homann melakukan renovasi besar. Gaya bangunan berganti menjadi Gothic Revival, dengan menara dan jendela tinggi yang khas. Hotel ini semakin terkenal di kalangan pejabat Belanda, pedagang kaya, dan wisatawan asing yang ingin menikmati udara sejuk pegunungan Bandung. Tahun 1910, Homann memperluas bangunan hotelnya untuk menampung tamu yang makin ramai seiring naiknya nama Bandung sebagai kota wisata baru di Hindia Belanda.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Keberadaan Hotel Pos Road menjadi bagian dari awal pembangunan kota kolonial Bandung. Setelah Residen Priangan Van der Moore memindahkan pusat pemerintahan dari Cianjur ke Bandung pada 1864, kawasan sekitar alun-alun mulai berkembang. Puncaknya terjadi pada 1899, ketika Bandung ditunjuk menjadi tuan rumah Kongres Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula se-Hindia Belanda. Sejak itu, hotel-hotel, vila, dan gedung-gedung pemerintahan bermunculan. Bandung mulai dikenal sebagai kota bergengsi kaum meneer.

Tahun 1906, Bandung resmi berstatus Gemeente atau kotapraja. Dua dekade kemudian, statusnya naik menjadi Stadsgemeente. Pada 1916, ahli kesehatan H.F. Tillema menggagas pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung karena dinilai lebih sehat dan sejuk. Gagasan itu diamini banyak pejabat, termasuk Prof. Ir. J. Klopper, rektor Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Sejak 1920-an, kantor-kantor penting pemerintah kolonial mulai bermunculan di Bandung. Suasana kota makin ramai, dan permintaan tempat penginapan pun meningkat pesat.

Pada tahun 1938, bangunan lama Hotel Homann yang bergaya Gothic akhirnya dibongkar. Dua arsitek asal Belanda, A.F. Aalbers dan R.A. de Waal, ditunjuk untuk merancang ulang bangunan baru bergaya International Style—yang kelak menjadi ikon arsitektur Bandung. Aalbers kemudian mempercantik bangunan itu dengan sentuhan Streamline Moderne, sejenis gaya Art Deco yang menonjolkan garis lengkung dan aerodinamis seperti gelombang samudra. Hasilnya, Hotel Homann berubah menjadi bangunan bergaya modern fungsional yang mewah dan elegan.

Renovasi besar-besaran yang dimulai pada Februari 1937 itu melibatkan banyak pekerja dan pengrajin. Bagian depan hotel diperluas hingga menjorok ke tepi Grote Postweg. Aalbers memanfaatkan garis horizontal panjang berulang untuk menciptakan kesan ritme dan keluwesan visual. Ketika rampung pada 1939, bangunan baru itu diberi nama “Savoy” untuk menegaskan citra kemewahannya. Sejak itu, hotel tersebut dikenal sebagai Savoy Homann.

Pesta dansa di Hotel Savoy Homann Bandung tahun 1925-an. (Sumber: KITLV)
Pesta dansa di Hotel Savoy Homann Bandung tahun 1925-an. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Interior hotel pun dibuat semewah mungkin. Kaca patri, lampu gantung besar, dan furnitur berdesain Art Deco menghiasi ruang-ruang tamu. Lobi yang luas dengan lantai marmer dan tangga melingkar menjadi simbol prestise. Fr. J.A. van Es, pengelola hotel saat itu, dikenal piawai mengelola perhotelan. Ia pernah memimpin Hotel Des Indes di Batavia, dan di tangannya, Savoy Homann menjelma menjadi salah satu hotel terbaik di Asia Tenggara.

Tapi, masa keemasan itu tidak berlangsung lama. Ketika Perang Dunia II pecah, bisnis perhotelan menurun drastis. Pada 1942, pasukan Jepang menduduki Bandung dan menjadikan Savoy Homann sebagai Wisma Jepang. Hotel megah itu kehilangan kemewahannya dan berubah menjadi tempat administrasi militer. Setelah Jepang menyerah pada 1945, bangunan ini sempat dijadikan kantor Palang Merah Internasional di bawah pimpinan Kapten Gray.

Tahun 1946, hotel dikembalikan kepada pemiliknya, Van Es, yang kemudian mengelolanya hingga 1952. Setelah Van Es meninggal, sang istri, Nyonya Van Es de Brink, memutuskan menjual hotel itu kepada pengusaha lokal, R.H.M. Saddak. Di tangan Saddak, Savoy Homann kembali hidup. Hotel ini menjadi saksi penting sejarah Indonesia modern ketika digunakan sebagai tempat menginap para delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Di sinilah tokoh-tokoh besar dunia seperti Soekarno, Jawaharlal Nehru, Chou En Lai, dan Muhammad Nasser pernah beristirahat dan berbincang. Bandung kala itu menjadi pusat perhatian dunia, dan Savoy Homann menjadi salah satu simbol kejayaan kota itu.

Jadi Hotel KAA dan Berganti Pemilik

Sekitar tahun 1960 hingga 1970, reputasi Hotel Savoy Homann menjulang tinggi. Hotel ini menjadi tempat pelatihan bagi pegawai hotel dari seluruh Indonesia. Arsitekturnya yang megah dengan lengkungan khas di sudut Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika menjadikannya penanda visual kota. Di atas lahan seluas 10.074 meter persegi, bangunan seluas 11.185 meter persegi itu memadukan gaya plastis kurva linier dengan menara tunggal menjulang tinggi di salah satu sudutnya.

Savoy Homann juga dikenal memiliki pekarangan dalam yang jauh dari jalan raya. Di sanalah para tamu menikmati sarapan pagi dengan udara segar Bandung yang sejuk. Tidak heran bila sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan, hotel ini selalu menjadi tempat menginap favorit bagi tamu-tamu penting, dari diplomat asing hingga seniman.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Pada 1980-an, kepemilikan hotel berpindah tangan. Setelah melalui negosiasi panjang, R.M. Saddak menjual hotel kepada H.E.K. Ruchiyat dari PT Panghegar Group pada 1987. Renovasi besar kembali dilakukan. Area belakang hotel diubah menjadi tempat parkir dan kolam renang, sedangkan bagian depan tetap dipertahankan agar arsitektur aslinya tidak hilang. Lobi dan ballroom diperluas, namun sentuhan Art Deco tetap dijaga agar karakter historisnya tetap hidup.

Pada 14 Oktober 1989, setelah renovasi rampung, hotel ini diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Soesilo Sudarman. Namanya berubah menjadi Savoy Homann Panghegar Heritage Hotel, dengan 153 kamar dan fasilitas modern.

Tapi, badai krisis ekonomi Asia tahun 1997 mengguncang sektor pariwisata. Banyak hotel kehilangan tamu, dan bisnis perhotelan terpuruk. Ruchiyat akhirnya memutuskan untuk fokus pada satu merek, yaitu Panghegar Hotel, dan menjual saham Savoy Homann kepada investor baru. Pada Januari 2000, hotel bersejarah itu akhirnya diambil alih oleh Yayasan Bidakara dan resmi bergabung dalam jaringan Bidakara Group. Namanya kembali disederhanakan menjadi Hotel Savoy Homann.

Kini, lebih dari satu abad sejak didirikan oleh A. Homann, hotel ini tetap berdiri megah di jantung Bandung. Setiap lekuk lengkung bangunannya masih menyimpan kisah masa kolonial, kemerdekaan, hingga Konferensi Asia Afrika. Dari jendela kamar-kamarnya, tamu bisa menyaksikan denyut nadi Jalan Asia Afrika—tempat di mana sejarah Indonesia dan dunia pernah bertemu.

Savoy Homann bukan sekadar hotel. Ia adalah potongan sejarah yang hidup, saksi bisu perjalanan Bandung dari kota kolonial kecil menjadi kota kosmopolitan yang penuh kenangan. Arsitekturnya tetap menjadi penanda penting dalam lanskap kota, mengingatkan siapa pun bahwa kemewahan sejati tak pernah lekang oleh waktu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)