Solat dan Stadion, Dilema para Bobotoh Saat Laga Persib

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Konvoi Bobotoh, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Konvoi Bobotoh, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Bobotoh, sebutan bagi pendukung setia Persib Bandung. Bukan hanya dikenal karena kehebatannya yang luar biasa di stadion, tapi juga karena fanatisme mereka yang terkadang melampaui batas waktu.

Nama Bobotoh sendiri berasal dari bahasa Sunda, yang berarti orang-orang yang mendorong semangat orang lain. Mereka menyatukan nyala dan cinta pada klub sepak bola kota.

Dalam komunitas ini terdapat beragam kelompok, mulai dari Viking Persib Club (VPC), The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), hingga Flowers City Casuals (FCC).

Namun unik, seluruhnya tetap dikenal sebagai Bobotoh. Mereka juga tidak hanya berasal dan berkumpul di Bandung. Bobotoh tersebar di seluruh Jawa Barat, bahkan dari luar provinsi, menjadikannya salah satu basis suporter sepak bola terbesar di Indonesia.

Pertandingan Persib selalu menjadi magnet, kalau ada big match lawan Persija atau Persebaya, tribun bisa saja membludak. Bobotoh rela datang jauh-jauh, bahkan sehari sebelum pertandingan, demi memastikan posisi terbaik di stadion. Melihat kesayangannya berlaga.

Mengulik Skripsi Unik

Nah, di sinilah keseruannya. Muncul drama “Solat vs Stadion”. Jadwal pertandingan seringkali berdekatan dengan waktu sembahyang Ashar atau Maghrib, menimbulkan tantangan tersendiri buat Bobotoh yang mayoritas muslim.

Saepudin Zuhri memutar ide dan menjadikannya sebuah kajian yang menarik. Salam skripsinya “Hukum Qadha Shalat Menurut Imam An-Nawawi dan Ibnu Taimiyah: Studi Kasus Pelaksanaan Qadha Shalat Bobotoh Persib” (2019), ditemukan bahwa sebagian besar Bobotoh mengaku sulit melaksanakan salat tepat waktu saat pertandingan berlangsung.

Dari wawancara dengan sepuluh orang Bobotoh, sekitar 70% mengaku kesulitan menunaikan salat saat pertandingan. Waktu kick-off sering bertepatan dengan waktu azan, sementara fasilitas di stadion seperti musala atau tempat wudu sangat terbatas. Hal ini membuat sebagian Bobotoh harus menunda salat atau mencari tempat seadanya di sekitar stadion.

Sisanya, sekitar 30%, mengaku terlalu asyik dan larut menonton pertandingan hingga lupa menunaikan salat. Suara yel-yel, sorakan, dan drum yang menggema di tribun sering menutupi azan. Meski ingin menepati kewajiban, mereka kadang terhanyut suasana, menunjukkan betapa kuatnya atmosfer pertandingan bagi Bobotoh.

Meski sebagian besar menggantinya dengan qada, pengalaman ini menunjukkan fleksibilitas praktik beragama di tengah kesibukan dan kegembiraan stadion.

Bobotoh belajar menyeimbangkan antara semangat mendukung Persib dan kewajiban salat. Qada dilakukan dengan tenang, sering sambil berbagi cerita pertandingan atau suasana tribun bersama keluarga di rumah.

Sementara itu, sekitar 10% yang tidak mengganti salat yang tertinggal mengaku merasa sulit atau lupa. Hal ini memberi gambaran bahwa tidak semua penggemar mampu menyesuaikan ritme pertandingan dengan praktik religius. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas kehidupan sehari-hari, di mana gairah komunitas, tradisi, dan kewajiban agama terkadang saling bersinggungan, dan Bobotoh berusaha menemukan cara mereka sendiri agar keduanya tetap berjalan.

Ribuan Bobotoh memenuhi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib, menegaskan peran mereka sebagai identitas dan energi klub kebanggaan Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kelvin Nopian Zakaria)
Ribuan Bobotoh memenuhi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib, menegaskan peran mereka sebagai identitas dan energi klub kebanggaan Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kelvin Nopian Zakaria)

Agama Yang Hidup

Elizabeth Shakman Hurd dalam Beyond Religious Freedom: The New Global Politics of Religion, (2015), menamai fenomena ini dengan lived religion. Ia menunjukkan wajah agama yang berbeda, pengamalan dalam pengalaman. Cara orang menjalankan agama sehari-hari bisa berbeda dari aturan resmi. Dalam kenyataan, orang sering menyesuaikan sendiri cara beribadah, improvisasi, dan membuat praktiknya lebih fleksibel.

Mereka punya kemampuan sendiri untuk memahami dan menjalankan agama, meski tetap dipengaruhi oleh budaya dan aturan yang ada. Jadi, agama yang dijalani sehari-hari biasanya lebih hidup, cair, dan kreatif dibandingkan aturan resmi berdasarkan pedoman.

Nancy Ammerman lewat Everyday Religion: Observing Modern Religious Lives (2007) menyebutnya dengan konsep everyday religion. Ini lebih membantu kita dalam melihat agama dari perspektif orang biasa.

Agama bukan hanya ritual di rumah ibadah atau ajaran yang tertulis di pustaka suci. Ia hidup di meja makan, di kantor, di forum daring, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana. Termasuk stadion bahkan tribun.

Orang-orang selalu punya cara buat menyesuaikan praktik agama sesuai kebutuhan dan konteks hidup mereka. Dengan kata lain, mereka punya “agensi”, sebuah kemampuan aktif untuk membuat agama menjadi bagian dari kehidupan nyata, bukan sekadar aturan yang kaku. Konsep ini juga menunjukkan bahwa agama di dunia modern itu fleksibel dan adaptif. 

Melihat Diri Sendiri

Melihat pengalaman Bobotoh ini, kita bisa menarik pelajaran yang lebih luas tentang arti kehidupan religius di dunia sekarang. Di luar stadion, banyak orang yang menghadapi dilema serupa. Antara kesibukan, hobi, pekerjaan, media sosial, nongkrong, atau kegiatan komunitas, dan kewajiban agama yang ingin dijalankan.

Sama seperti Bobotoh yang menyesuaikan salat dengan pertandingan, mereka sering kali mesti menemukan cara kreatif agar praktik agama tetap bisa hidup di tengah laju harian yang padat.

Fenomena ini riil sungguh terjadi, bahkan mungkin itu adalah kita, menunjukkan bahwa agama menjadi bagian dari keseharian. Ini juga potret dari cara kita yang kerap “men-cheat” agama dengan akal-akalan sendiri, kadang mencari dalihnya dengan serius bahan pembelaan, lucu memang, Kita boleh saja tidak setuju secara normatif, tapi begitulah fakta sosialnya yang direkam oleh studi agama hari ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:34

Unjuk Rasa Mahasiswa, Sinar Asta Cita dan Suguhan Humor Segar

Jika segala aspek masalah ketenagakerjaan bisa ditangani dengan baik, niscaya 60 persen masalah bangsa ini kelar.

Unjuk rasa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:58

Pengembangan Mainan Anak Bercorak Tradisional

Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional dengan  menerapkan kemasan  yang menarik.

Permainan tradisional Sunda di halaman Gedung Pakuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:42

Menerobos Aturan di Simpang: Salah Pengendara atau Desain Jalan?

ATCS Dishub Kota Bandung mencatat ratusan pelanggaran di 10 lokasi simpang dengan tingkat pelanggaran tertinggi setiap bulan.

Dua pengendara sepeda motor kedapatan berhenti di zebra cross (4/5/2026). (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)