Jejak Sejarah Bandung Dijuluki Kota Kembang, Warisan Kongres Gula 1899

5 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Mojang Belanda di Bandung tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)
Mojang Belanda di Bandung tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Bandung adalah soal gaya dan keindahan. Kota yang berhawa sejuk ini sejak masa kolonial sudah tampil sebagai etalase kemewahan dan pesona kaum elite Eropa di tanah Hindia. Tak mengherankan bila para meneer Belanda memberi julukan pada kota ini sebagai Paris van Java—Paris-nya Pulau Jawa—dan juga Kota Kembang. Dua sebutan yang seolah menggambarkan watak Bandung tempo doeloe: modis, memesona, dan selalu menggoda.

Layaknya Paris, Bandung sejak awal abad ke-20 sudah menjadi panggung gaya hidup bagi kalangan bangsawan dan pejabat kolonial. Jalan Braga menjadi ikon dari citra itu. Di sepanjang jalannya berdiri toko busana, kafe, dan galeri mode tempat kaum elite menampilkan kebaruan dari Eropa. Di tengah suasana yang elegan itu, aroma teh dan kopi dari perkebunan di dataran tinggi Priangan turut mengharumkan citra Bandung sebagai kota yang anggun dan menawan.

Latar belakang geografis Bandung yang dikelilingi pegunungan turut menambah pesonanya. Tanah yang subur membuat berbagai tanaman hias dan bunga tumbuh dengan mudah. Dari sinilah muncul anggapan bahwa julukan Kota Kembang lahir karena banyaknya bunga yang menghiasi kota. Hingga kini pun citra itu terus dijaga. Pada masa Wali Kota Ridwan Kamil, taman-taman kota kembali digalakkan, mempertegas kembali Bandung sebagai kota yang identik dengan warna-warni bunga. Namun, di balik keindahan itu, ada kisah lain yang lebih tua dan tak kalah menarik tentang asal-usul julukan “Kota Kembang” yang sesungguhnya.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Dari Kongres Gula hingga Kembang Dayang Priangan

Versi populer tentang bunga bukanlah satu-satunya penjelasan. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sejarawan Haryoto Kunto menguraikan hipotesis lain yang lebih berani. Menurutnya, istilah “Kota Kembang” justru berasal dari makna metaforis kembang dayang,sebutan halus bagi perempuan penghibur atau tunasusila di masa kolonial.

Cerita ini bermula pada tahun 1896, ketika Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff mendapatkan kepercayaan besar: Bandung ditunjuk menjadi tuan rumah Kongres Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula se-Hindia Belanda. Padahal, secara ironis, di wilayah Priangan tak ada satu pun pabrik gula.

Penunjukan itu sempat dipertanyakan oleh banyak pihak. Jarak Bandung cukup jauh dari pusat-pusat produksi gula di Jawa Tengah dan Timur. Biaya perjalanan tinggi, dan secara ekonomi dianggap tak masuk akal. Namun keputusan sudah diambil oleh Bestuur van de Vereeniging van Suikerplanters di Surabaya. Argumen dibalas dengan keyakinan bahwa Bandung menawarkan sesuatu yang tak dimiliki daerah lain: kenyamanan, pemandangan elok, dan suasana pegunungan yang menenangkan.

Redaktur surat kabar De Preangerbode, Jan Fabricius, bahkan menulis pembelaan panjang lebar tentang kelayakan Bandung. Ia menulis bahwa meskipun Bandung tak punya pabrik gula, Batavia dekat dan sarana sudah lengkap. “Ada lima penginapan besar dan tiga penginapan kecil yang mampu menampung lebih dari 200 tamu,” tulisnya. Ia juga menekankan bahwa hiburan dan aula rapat telah disiapkan dengan baik.

Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)
Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)

Baca Juga: Pasukan Khusus Pergi ke Timur, Jawa Barat Senyap Pasca Kup Gagal G30S

Pada Maret 1899, keyakinan itu terbukti. Para juragan gula dari Jawa Tengah dan Timur datang berbondong-bondong ke Bandung, sebagian naik kereta api melalui jalur Batavia–Bandung–Surabaya yang baru dibuka pada 1884. Kongres dibuka di aula Braga oleh Residen Priangan dan Direktur Escompto Maatschappij Batavia, J. Dinger, di depan 125 peserta. Sejak itu, Bandung untuk pertama kalinya dikenal sebagai kota yang mampu menyelenggarakan acara berskala nasional dengan rapi dan berkelas.

Tapi, di balik kesuksesan itu, ada kisah yang beredar di kalangan warga Priangan. Menurut penuturan yang dihimpun Haryoto Kunto, Pieter Sijthoff kala itu sempat bingung bagaimana cara menjamu para meneer yang datang dari jauh. Kota Bandung waktu itu masih seperti dusun perkebunan, dengan fasilitas hiburan yang terbatas. Di tengah kebingungan itu, muncul usulan dari seorang pemilik perkebunan kina di Pasirmalang bernama Willem Schenk. Ia mengusulkan agar Sijthoff membawa beberapa perempuan Indo Belanda dari wilayah selatan Bandung untuk memeriahkan suasana kongres.

“Perannya serupa escort lady saat ini, tapi tidak jelas sejauh mana peran mereka menghibur peserta kongres, apakah termasuk pelayanan plus-plus atau tidak,” ujar Ariyono Wahyu Widjajadi, pemerhati sejarah Bandung dari Komunitas Aleut.

Para perempuan Indo yang dibawa itu disebut memiliki paras cantik dan berkulit putih, khas hasil percampuran antara Eropa dan pribumi. Sejak 1830 hingga 1870, kebijakan tanam paksa membuat banyak lelaki Belanda menetap di Priangan tanpa boleh membawa istri. Akibatnya, banyak di antara mereka menjalin hubungan dengan perempuan lokal. Anak-anak hasil hubungan itu tumbuh menjadi generasi Indo yang rupawan dan menjadi simbol keindahan tersendiri di Bandung.

Kehadiran para mojang Bandung dalam kongres itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu. Mereka tak hanya terkesan oleh udara sejuk dan keindahan kota, tetapi juga oleh kecantikan para perempuan Priangan yang lembut tutur bahasanya. Seusai kongres, para peserta pulang dengan membawa cerita manis tentang “bunga-bunga dari pegunungan Hindia Belanda”. Dari sanalah muncul istilah De Bloem der Indische Bergsteden—Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

“Sejak itu salah satu kenangan yang tertinggal dari Kota Bandung ya soal perempuan,” kata Ariyono, yang akrab disapa Alex. Cerita itu pun berkembang di kalangan orang Belanda dan menjadi semacam legenda kecil di kalangan elite kolonial.

Karena itu tak berlebihan bila Bandung kemudian dijuluki Kota Kembang: sebuah kiasan yang merujuk pada dua makna sekaligus: bunga-bunga yang tumbuh di tanah subur Priangan, dan “kembang” dalam arti perempuan, lambang keindahan dan pesona kota itu sendiri.

Julukan itu bertahan hingga kini. Meski maknanya telah bergeser dari yang sensual menuju romantis, istilah Kota Kembang tetap melekat sebagai bagian dari identitas Bandung. Ia bukan hanya cerita tentang bunga yang bermekaran di taman-taman kota, tetapi juga kisah panjang tentang bagaimana sebuah kota di tanah pegunungan membangun citra dan keindahannya—dari kongres gula di abad ke-19 hingga taman-taman modern di abad ke-21.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)