Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

AYOBANDUNG.ID - Bandung hari ini dikenal sebagai kota kreatif, kota fesyen, kota kuliner, kota musik, bahkan kota macet. Namun jauh sebelum segala label itu menempel, Bandung sudah punya julukan klasik yang begitu mentereng: “Parijs van Java”. Kedengarannya glamor, romantis, dan tentu saja Eropa sekali. Tapi, siapa sangka, julukan ini berawal bukan dari pujian, melainkan… sindiran.

Sejarawan lokal Bandung, Haryoto Kunto, dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, menuturkan kisah paling populer soal lahirnya istilah ini. Konon, seorang pedagang Yahudi-Belanda bernama Roth—pemilik toko mebel besar di Bragaweg—punya ide cemerlang di tahun 1920. Dalam sebuah pameran dagang kota, Jaarbeurs, Roth meluncurkan gimmick iklan dengan menyebut Bandung sebagai Parijs van Java.

Tujuannya sederhana: biar orang-orang terpesona, mampir, lalu belanja. Siapa sangka, istilah yang awalnya hanya trik marketing itu justru melekat abadi. Bandung akhirnya dikenal bukan sekadar kota pegunungan yang sejuk, tapi juga kota gaya, kota pamer, kota yang katanya mirip Paris di Pulau Jawa.

Tapi, ada versi lain yang lebih getir. Menurut Nandang Rusnandar dalam Sejarah Kota Bandung dari “Bergdessa” Menjadi Bandung “Heurin Ku Tangtung”, istilah itu sebenarnya pernah keluar dari mulut arsitek kondang Belanda, Hendrik Berlage, pada 1928.

Saat Congres Internationaux d’Architecture Moderne (CIAM) di Swiss, Berlage konon nyeletuk soal Bandung yang bangunannya terlalu kebarat-baratan. “Ah, ini mah Parijs van Java,” katanya, dengan nada menyindir. Maksudnya jelas: arsitektur Bandung saat itu sibuk meniru Eropa, lupa pada identitas tropisnya.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Sindiran itu, alih-alih bikin malu, justru jadi branding gratis. Mungkin orang-orang Belanda di Bandung kala itu tersenyum kecut: “Ya sudahlah, kalau mirip Paris, kenapa tidak kita pakai sekalian?” Sejak saat itu, Parijs van Java pun makin populer, bahkan dipakai pemerintah kolonial untuk jualan citra kota.

Julukan ini tak bisa dilepaskan dari peran Jalan Braga. Jalan yang awalnya cuma jalur pedati itu, pada awal abad ke-20 menjelma jadi pusat gaya hidup kolonial. Di sini berdiri toko-toko mewah, kafe, bioskop, sampai bank.

Terdapat Maison Bogerijen, restoran legendaris tempat gubernur jenderal Hindia-Belanda bersantap. Ada pula Au Bon Marché Modemagazijn, butik yang rajin mendatangkan mode terbaru dari Paris, lengkap dengan slogan berbunyi manis: wij brengen steeds de laatste mode (kami selalu menyajikan mode terbaru). Kalau hari ini orang Bandung belanja baju di factory outlet, dulu para nyonya Belanda pamer gaun Eropa di Braga.

Tak ketinggalan, deretan gedung bergaya art deco: Hotel Preanger, Savoy Homann, hingga Javasche Bank (sekarang BI). Kawasan Braga menjadi semacam catwalk kolonial, di mana orang kulit putih bisa pamer status sosial sekaligus belanja barang import.

Kenapa Bandung bisa jadi pusat segala kemewahan itu? Jawabannya ada di perkebunan. Dalam risalah yang terbit di Paradigma: Jurnal Kajian Budaya tahun 2020 berjudul “Melacak Akar Kreativitas di Kota Bandung Masa Kolonial”, peneliti sejarah Achmad Sunjayadi menjelaskan bahwa sejak akhir abad ke-19, Bandung sudah jadi rumah bagi para Preangerplanters—pengusaha perkebunan teh, kina, dan karet.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Kinderkerkhof sampai Parijs van Java

Undang-Undang Agraria 1870 memberi izin swasta Belanda membuka lahan di Hindia-Belanda. Bandung, dengan udara sejuk dan tanah subur, jadi ladang emas. Nama-nama seperti Bosscha, Kerkhoven, hingga Van der Hucht menetap di dataran tinggi Priangan. Uang berlimpah dari perkebunan mengalir ke kota, lalu diwujudkan dalam hotel, restoran, dan gedung-gedung gaya Eropa.

Tak heran bila pada 1920, Pemerintah Gemeente Bandoeng dengan percaya diri punya semboyan: Bandoeng is het paradijs der aardche schoonen. Daarom is het goed daar to wonen. Artinya, “Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Maka baiklah tinggal di sana.” Kalau diiklanin zaman sekarang mungkin bunyinya: “Bandung, surganya healing.”

Julukan Parijs van Java ini punya dinamika. Pada masa kolonial, sebutan ini memang multitafsir: sindiran dari Berlage di satu sisi, tapi juga promosi wisata dan dagang di sisi lain. Lama-lama, ia berubah jadi semacam branding resmi. Kota Bandung dipoles habis-habisan agar mirip Eropa: jalan-jalan lurus, taman rapi, gedung art deco, dan fesyen ala Paris.

Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)
Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)

Setelah kemerdekaan, julukan itu tetap bertahan. Meski suasana Braga tak semewah dulu, Bandung tetap dipandang sebagai kota gaya. Pada 1950-an, Presiden Soekarno bahkan rajin nongkrong di Savoy Homann dan Hotel Preanger. Bandung jadi kota kongres, kota musik, hingga kota mode. Identitas “Paris van Java” terus diwarisi, meski konteksnya berubah.

Tak semua orang sepakat dengan istilah ini. Ada sejarawan yang mengkritik penulisan Paris van Java alih-alih Parijs, sesuai ejaan Belanda. Ada juga yang bilang: buat apa repot-repot menempelkan nama Paris? Kenapa tidak bangga dengan identitas Sunda saja?

Baca Juga: Julukan Parijs van Java Bandung Diprotes Sejak Zaman Baheula

Tapi begitulah branding: sekali melekat, sulit dicopot. Paris memang terdengar lebih menjual ketimbang, katakanlah, “Cimahi van Java” atau “Purwakarta van Java.” Pada akhirnya, sebutan ini lebih banyak dipakai sebagai strategi promosi wisata ketimbang klaim budaya.

Saa memasuki era modern, Bandung kembali memperkuat citra “Paris van Java” lewat industri fesyen. Pada 1990-an, kota ini dikenal dengan factory outlet dan distro yang menyasar kalangan muda. Fenomena ini seolah menghidupkan kembali tradisi lama Bandug sebagai pusat mode.

Bandung kini juga bukan sekadar Paris tiruan. Ia juga kota musik, kota kreatif, bahkan kota teknologi. Tapi warisan kolonial tetap jadi daya tarik, terutama bagi wisatawan yang ingin bernostalgia di Braga sambil berfoto di depan gedung art deco.

Julukan Parijs van Java menjadi klasik bagaimana identitas kota bisa berubah makna. Apa yang awalnya hanya sindiran atau trik dagang, justru menjelma jadi kebanggaan. Paris mungkin jauh di Eropa, tapi di Jawa, Bandung berhasil menciptakan versinya sendiri—dengan gunung, cuaca sejuk, gedung art deco, dan jalan Braga yang masih jadi catwalk sampai hari ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)