Sejarah Bandung dari Kinderkerkhof sampai Parijs van Java

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Lukisan Situ Patenggang Ciwidey di Kabupaten Bandung karya Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1856. (Sumber: Wikimedia)
Lukisan Situ Patenggang Ciwidey di Kabupaten Bandung karya Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1856. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung bagian utara, dulu ada sebidang tanah yang lebih sering jadi bisik-bisik daripada cerita resmi. Namanya Kinderkerkhof. Orang Belanda menyebut begitu karena memang isinya makam anak-anak mereka sendiri. Jangankan jadi kota besar, Bandung di awal abad ke-19 masih lebih mirip kampung udik.

Jalanan becek, rumah penduduk seadanya, dan udara sejuk yang ternyata tak cukup menolong bayi-bayi kulit putih agar bisa panjang umur. Jadi jangan bayangkan sejak awal Bandung penuh kembang dan kafe. Awalnya, kota ini malah lebih akrab dengan suara tangisan orang tua Eropa yang kehilangan buah hatinya.

Dalam Sejarah Kota Bandung dari “Bergdessa” (Desa Udik) Menjadi Bandung “Heurin Ku Tangtung” (Metropolitan), Peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Nandang Rusnandar mengutip sejumlah risalah kolonial yang menyinggung nasib malang anak-anak Belanda di Priangan.

Penyakit tropis yang tak kenal ampun—malaria, disentri, demam berdarah—lebih lihai merenggut nyawa ketimbang dokter-dokter yang dibawa dari negeri jauh. Alhasil, kuburan kecil itu jadi bukti nyata kalau tinggal di tanah jajahan tak selalu enak. Orang Belanda boleh punya gedung-gedung bagus, tapi anak-anak mereka tetap saja tak jarang harus lebih cepat masuk tanah.

Bandung sendiri waktu itu belum disebut kota. Orang menyebutnya bergdessa, artinya desa udik. Letaknya memang strategis, diapit sungai dan dikelilingi tanah subur. Tapi lebih banyak orang lewat daripada menetap. Jalan utamanya pun bukan jalan raya yang mulus, melainkan tanah merah yang bikin kaki kotor. Baru setelah Herman Willem Daendels membangun Groote Postweg pada 1810, segalanya berubah. Jalan raya raksasa itu membelah Jawa dari Anyer sampai Panarukan, melewati Priangan, termasuk Bandung. Sejak itulah perhatian pemerintah kolonial lebih serius menoleh ke daerah ini.

Baca Juga: Sejarah Bandung, Kota Impian Koloni Eropa yang Dijegal Gubernur Jenderal

Bupati Bandung kala itu, Wiranatakusumah II, kebagian tugas memindahkan pusat kabupaten dari Dayeuhkolot ke lokasi baru yang dekat dengan jalur Postweg. Perintah datang, maka pindah. Dari sinilah berdiri Bandung yang baru, dengan alun-alun, pendopo, dan masjid agung yang jadi pakem tata kota Jawa. Cikal bakal kota lahir, walau bau anyir tanah kuburan anak-anak Belanda belum hilang juga dari angin utara.

Dia menyinggung dalam catatan risalah Belanda, orang Eropa yang datang awalnya kepincut Bandung karena udaranya sejuk. Mereka berharap hidup lebih nyaman dibanding Batavia yang pengap dan penuh malaria. Nyatanya, Bandung pun tidak ramah untuk semua. Anak-anak mereka tetap berjatuhan. Di sinilah psikologi kota mulai terbentuk: Bandung indah, tapi diam-diam menyimpan tragedi. Orang Eropa tetap betah karena dibanding Batavia, Bandung terasa lebih ringan. Setidaknya orang dewasa bisa bertahan hidup lebih lama.

Seiring waktu, kota ini mulai ditata rapi. Jalan-jalan lurus dibuka, rumah-rumah Belanda dibangun agak berjauhan dari kampung pribumi. Konsep tata ruang ala kolonial menempatkan alun-alun di tengah, diapit pendopo dan masjid agung. Itu sebabnya sampai sekarang kalau orang cari pusat Bandung, pasti ketemunya alun-alun di depan Masjid Raya. Dari situlah segala hiruk-pikuk menyebar.

Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)
Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)

Kawasan Braga, yang belakangan disebut-sebut sebagai simbol “Parijs van Java”, awalnya tak lebih dari jalan kampung yang becek. Nandang mengutip catatan bagaimana jalan itu pelan-pelan berubah setelah pedagang Eropa mendirikan toko-toko, restoran, sampai kafe. Kalau dulu anak-anak Belanda ramai di pemakaman kecil, kini mereka yang selamat bisa tumbuh besar dan nongkrong di Braga, sambil minum kopi atau belanja. Perubahan itu menunjukkan bagaimana kota yang awalnya dikenal lewat kuburan kecil bisa berganti wajah jadi tempat hiburan.

Kendati begitu, bayangan Kinderkerkhof tak hilang begitu saja. Kota ini tumbuh bersama kenangan pahit itu. Gedung-gedung kolonial berdiri megah, tapi di baliknya ada trauma yang jarang diceritakan. Itulah sebabnya Bandung tidak pernah benar-benar polos. Di satu sisi ia cantik, di sisi lain ada lapisan muram yang jadi fondasi.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Saat memasuki abad ke-20, Bandung makin mantap jadi kota orang Eropa. Jalur kereta api dari Batavia ke Bandung dibuka, dan itu menambah citra Bandung sebagai tempat liburan sekaligus hunian favorit orang Belanda. Braga makin ramai, toko-toko mode berjejer, bioskop berdiri. Tak salah kalau kemudian muncul julukan “Parijs van Java”. Di sepanjang Braga, orang bisa melihat perempuan Belanda berjalan dengan gaun, lelaki berkepala topi fedora, sambil mampir ke toko roti.

Gedung-gedung art deco muncul di mana-mana. Gedung Merdeka yang dulu jadi Societeit Concordia, Savoy Homann, sampai Villa Isola—semua menjadi saksi bagaimana Bandung jadi panggung gaya hidup Eropa di tanah jajahan. Kalau mau cari kota yang paling “Eropa” di Hindia Belanda, jawabannya bukan Batavia, melainkan Bandung.

Tapi lagi-lagi, ingatan soal kuburan anak-anak tetap ada. Orang boleh menyebut Braga sebagai miniatur Paris, tapi sejarah mencatat bahwa kota ini lahir bersama kuburan. Kontradiksi itu membuat Bandung berbeda: ia tak hanya hasil rekayasa tata kota kolonial, tapi juga hasil kompromi antara penyakit, udara, dan nasib buruk yang dialami para pendatang.

Disebutkan Nandang dalam risalahnya menyusun cerita Bandung seperti perjalanan panjang dari bergdessa hingga heurin ku tangtung. Dari desa udik yang jadi perlintasan, lalu jadi kota kabupaten, kemudian naik kelas jadi kota Eropa dengan segala simbol kemewahannya. Lalu pada akhirnya menjadi kota besar yang penuh sesak. Semua itu berawal dari masa ketika anak-anak Belanda lebih dulu masuk liang kubur sebelum sempat merayakan hidup di tanah Priangan.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Bandung pada masa kolonial memang punya wajah ganda. Di satu sisi, ia jadi pusat hiburan, kota mode, dan simbol modernitas. Di sisi lain, ia menyimpan jejak tragis yang tak tercatat di brosur wisata. Kota yang dipuja dengan julukan manis ternyata pernah dikenal lewat kuburan anak-anak.

Begitulah Bandung: lahir dari sebuah desa udik, dibentuk oleh tangan penguasa kolonial, dibalut dengan gemerlap Eropa, dan dibayang-bayangi nisan kecil di utara kota. Sejarahnya tak melulu soal Braga yang glamor, tapi juga soal tanah becek yang dipenuhi air mata. Dari situlah Bandung tumbuh, sampai akhirnya jadi kota yang dikenal dengan segala julukannya: Kinderkerkhof di awal, lalu Parijs van Java ketika sudah dewasa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)