Someah, Seunggah, jeung Bangkawarah

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kirab Budaya Hari Jadi Ke-80 Provinsi Jawa Barat ini diikuti sedikitnya 250 peserta dari 27 kabupaten/kota. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kirab Budaya Hari Jadi Ke-80 Provinsi Jawa Barat ini diikuti sedikitnya 250 peserta dari 27 kabupaten/kota. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu, saat sedang berbelanja makanan di warung nasi Kantin Biru Manisi, seorang kawan tiba-tiba bertanya,"Orang Bandung dikenal someah, ya? Tapi kenapa masih banyak kekerasan, keributan, tawuran? Bahkan kita diajarkan 'someah hade ka semah', tapi kenapa banyak yang justru bertamu setelah magrib?"

Kujawab singkat, “Emang hente kenging!”

“Iya, orang tua dulu mengajarkan adab bertamu sebaiknya tidak dilakukan sebelum atau setelah waktu magrib. Saat magrib atau bedug magrib, pemilik rumah biasanya sedang shalat, mengaji, atau mengajar anak-anak mengaji. Setelah shalat Isya barulah diperbolehkan bertamu, itu pun dengan batas waktu hingga jam 9 malam.”

Rakor Rancage Lurah dan Kades Se Jawa Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Rakor Rancage Lurah dan Kades Se Jawa Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjaga Falsafah Someah Hade ka Semah 

Dedi Mulyadi pernah menjelaskan ihwal menghormati tamu adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Dalam prinsip hidup masyarakat Sunda, penghormatan kepada tamu dikenal dengan istilah someah hade ka semah yang berarti ramah dan bersikap baik kepada tamu.

Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun. Someah hade ka semah merupakan prinsip orang Sunda yang merendah dan tersenyum saat menerima tamu. Pemilik rumah harus susuguh (menyuguhkan makanan). Dalam budaya Sunda, hidangan khas yang disajikan biasanya bakakak hayam. 

Namun sesungguhnya, prinsip ini bukan hanya milik orang Sunda. Justru melekat pada seluruh bangsa Indonesia yang dikenal ramah dan dermawan. (Kompas, 02 Maret 2017, 11:12 WIB)

Dalam tulisan bertajuk Someah Hade ka Semah, Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat menguraikan kita harus jujur mengakui, sangat banyak nilai budaya adiluhung di negeri ini. Setiap daerah memiliki kearifan lokal masing-masing. Salah satunya someah hade ka semah.

Prinsip ini sudah menjadi bagian dari filosofi hidup masyarakat Sunda, terutama dalam adab kepada tamu. Kita harus bersikap baik, ramah, menjamu, dan membahagiakan tamu, termasuk pada yang belum mengenalnya. Someah sendiri memiliki makna ramah. Hade artinya baik. Ka semah berarti ke tamu. Someah hade ka semah sama saja dengan “ramah kepada tamu”.

Wakil Wali Kota Bandung, Erwin mengunjungi rumah ibu asuh dalam rangka program “Bandung Nyaah ka Indung” di RT 07 RW 04 Kelurahan Pungkur, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jumat 20 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin mengunjungi rumah ibu asuh dalam rangka program “Bandung Nyaah ka Indung” di RT 07 RW 04 Kelurahan Pungkur, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jumat 20 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pudarnya Khazanah Kearifan Lokal

Sayangnya, nilai ini mulai sulit ditemukan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Budaya leluhur yang seharusnya dijaga, dirawat dan dilestarikan, kian memudar seiring menjamurnya budaya hedonis dan gaya hidup serba instan.

Someah hade ka semah sejatinya menjadi bentuk penghormatan dari tuan rumah kepada tamu. Sebagian besar masyarakat Sunda dahulu tidak pernah memandang status tamunya. Ya semua tamu wajib dihormati.

Rupanya, nilai keramahan ini kini mulai terkikis. Sekarang banyak orang menerima tamu dengan penuh perhitungan dan alasan materi. Kedatangannya kerap dinilai berdasarkan untung-rugi. “Apa manfaat ekonominya?” "Apakah layak menyambutnya?"

Walhasil, hubungan antara tuan rumah dan tamu menjadi formal, kaku, dan jauh dari kekeluargaan. Falsafah someah hade ka semah tinggal kenangan. Tak jarang, orang lebih memilih bertemu di lobi hotel, restoran daripada mengundang ke rumah.

Padahal, kita sangat akrab, bahkan sering mengalami masa ketika kehidupan masyarakat penuh dengan semangat kekeluargaan. Antar keluarga saling mengunjungi. Kakak bersilaturahmi ke adik, Ayi bertandang ke Akang. Semuanya dilakukan untuk menjaga ikatan persaudaraan, kebersamaan. 

Ingat, prinsip babarayaan (persaudaraan) tumbuh dengan sendirinya. Kini, dengan bergesernya budaya ke arah teknologi informasi, pertemuan langsung menjadi semakin langka. Acara kumpul keluarga lebih banyak digelar di vila-vila pinggiran kota, dengan format silaturahmi akbar. Semua menjadi tamu. Tidak jelas siapa tuan rumahnya.

Biasanya, yang datang paling awal akan didaulat menjadi tuan rumah. Ini sangat berbeda dengan nuansa silaturahmi yang digelar di rumah salah satu anggota keluarga. Posisi tuan rumah sungguh-sungguh ingin membahagiakan para tamunya. Di sinilah, prinsip someah hade ka semah kembali menemukan maknanya. 

Falsafah someah hade ka semah tidak hanya berlaku saat menerima tamu di rumah. Justru bisa diterapkan dalam konteks yang lebih luas. Misalnya, saat seorang wisatawan asing bertanya arah jalan, sikap ramah dan membantu sebagai bentuk nyata penerapan prinsip ini.

Tentunya pergeseran nilai budaya dari kebersamaan menuju individualisme sangat berdampak besar. Pasalnya penting bagi kita untuk menyaring nilai-nilai baru agar tidak bertabrakan dengan prinsip budaya luhur yang sudah ada dan mengakar. 

Kemampuan menjaga dan menyesuaikan prinsip lama dengan perubahan zaman menjadi kunci untuk mengawal dan membangun peradaban. Memang perubahan sebuah keniscayaan. Namun, apakah perubahan itu akan membawa berkah atau justru melahirkan tragedi sosial. Semuanya tergantung pada kita sendiri. (http://www.hibar.pgrikabupatenbandung.id)

Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tata Krama Memuliakan, Menjamu Tamu

Meskipun saat ini falsafah someah hade ka semah, perilaku saling menghormati di antara sesama manusia sebagai warisan budaya leluhur urang Sunda, dirasakan mulai memudar akibat dampak derasnya pengaruh budaya luar, perkembangan teknologi, dan informasi yang semakin modern.

Setia Hidayat menegaskan, someah hade ka semah merupakan tanda perilaku dalam bertata krama yang bisa dipelajari, dibiasakan, dan digunakan sehari-hari. Pada intinya makna someah adalah menempatkan orang lain sebagai subjek bukan objek.

Bagi Hidayat Suryalaga, budaya Sunda lebih menumbuhkan rasa simpati dan empati kepada sesama yang diawali dengan iktikad dan perilaku yang menyiratkan rasa silaturahmi, someah hade ka semah. (Pikiran Rakyat, 10 Agustus 2006).

Sastrawan Utuy T Sontani (1957) mengatakan, “Urang Sunda hirup pinuh ku toléransi, darehdeh soméah hadé ka sémah, pameunteu marahmay béngras, leuwih sering imut tibatan sesebred. Salian kitu, teu pernah ngalakukeun tindakan sawenang-wenang, tega culika ka nu lian, tapi cukup ku seuri jeung nyengsurikeun, mun kadesek dipungkas ku nyeungseurikan katololan sorangan.”

Memang Ki Sunda lebih mementingkan eusi (isi) daripada cangkang (bungkus, kulit), toleransinya seringkali merosot menjadi sikap terlalu mengalah, dikalahkan, kalah. Sikapnya yang soméah hadé ka sémah (ramah terhadap tetamu) seringkali dianggap lemah oleh pihak lain, sehingga orang Sunda sering tersingkirkan hampir di mana-mana (jati kasilih ku junti). (Tjetje Hidajat Padmadinata, ‎Tatang Sumarsono, 2006: 68).

Semua itu tak lepas dari karakter ramah pada tamu, air mukanya lebih banyak cerah daripada mesum, tidak bersikap aniaya pada sesama manusia, gemar bergurau, suka menertawakan ketololan sendiri kalau terdesak, dan mengisi hidupnya dengan menciptakan lelucon-lelucon. Sayangnya, ada karakter yang perlu dihindari orang Sunda, yaitu masih adanya sikap berpegang teguh pada mitos-mitos yang tidak rasional dan tidak ada buktinya. (Ajip Rosidi, 2011: 93, 96 dan Makalah Seminar Nasional Kearifan Lokal 2017).

Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung dikenal sebagai kota yang ramah. Warganya someah, mudah tersenyum, saling menyapa, dan terbuka terhadap siapa pun. Sapaan sederhana seperti “punten” atau “mangga” menjadi ciri khas yang membuat masyarakat maupun pendatang merasa diterima.

Namun, keramahan itu bukan berarti tanpa sikap tegas. Urang Bandung bisa marah ketika kotanya dicoret-coret dengan vandalisme. Saat lingkungan dikotori oleh sampah yang berserakan. Khazanah kearifan lokal diabaikan, dipertentangkan, bahkan dibenturkan dengan pemahaman lain.

Kemarahan ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan ekspresi cinta. Ya sekadar menjadi bagian dari ikhtiar kolektif untuk menjaga Bandung agar tetap nyaman, aman, indah, dan beradab. Dengan begitu, citra Bandung sebagai kota ramah tetap sejalan dengan semangat masyarakatnya yang saling peduli dan berbagi.

Menutup perbincangan santai ihwal budaya di warung nasi prasmanan Manisi, seorang kawan pemerhati budaya Sunda menegaskan,

“Yang paling seunggah saat menerima tamu, terutama geugeuden, ingin  menghidangkan bakakak, padahal waktunya mendadak. Alih-alih sidak!”

Pernyataan itu kujawab dengan santai, “Nya asal tong jadi bangkawarah.”

Sontak, seorang lelaki berbadan gemuk itu menyahut, “Atuh eta mah sok biasana ditujukeun ka barudak nu keur raribut, tawuran. Dasar bangkawarah!” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)