Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Jatinangor. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Jatinangor. (Sumber: sumedangkab.go.id)

AYOBANDUNG.ID - Jatinangor hari ini identik dengan mahasiswa, kos-kosan berderet, dan lalu lintas yang kadang lebih padat dari jadwal UTS. Kecamatan di timur Bandung ini seolah ditakdirkan sebagai ruang singgah kaum muda yang sedang mengejar masa depan. Namun sebelum dipenuhi jaket almamater aneka warna, Jatinangor adalah lanskap sunyi: kebun, buruh, dan lonceng yang menentukan jam kerja. Sejarah Jatinangor bergerak pelan tapi pasti, dari wilayah eksploitasi kolonial menuju pusat produksi pengetahuan.

Secara administratif, Jatinangor merupakan kecamatan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Luasnya tak kecil, membentang dari kaki Gunung Manglayang hingga kawasan yang kini menjadi simpul pendidikan tinggi. Nama Jatinangor sendiri baru resmi digunakan pada awal 2000-an. Sebelumnya, wilayah ini dikenal sebagai Kecamatan Cikeruh, mengikuti nama sungai yang mengalir melintasinya. Perubahan nama ini bukan sekadar kosmetik, melainkan penanda pergeseran identitas kawasan.

Jejak asal-usul nama Jatinangor punya beberapa versi yang hidup di masyarakat. Ada yang menyebut kata “jati” merujuk pada pohon jati putih yang dahulu tumbuh di kawasan Kiarapayung, dipadukan dengan “nangor” yang berarti muda atau belum masak. Ada pula tafsir yang menyebut “nangor” sebagai posisi tanah yang menurun. Menariknya, kawasan ini justru lebih dikenal sebagai habitat pohon karet dan teh ketimbang jati. Bisa jadi, pada masa lalu, semua pohon keras dianggap jati—sebuah penyederhanaan yang lazim terjadi ketika ilmu botani belum jadi kebutuhan hidup.

Baca Juga: Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

Dari Kebun Kolonial ke Rel Kereta

Sejarah modern Jatinangor bermula pada pertengahan abad ke-19, tepatnya tahun 1841, ketika sebuah perusahaan swasta Belanda bernama Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen menguasai wilayah ini. Lahan yang dikelola mencapai ratusan hektare, membentang dari kawasan yang kini ditempati IPDN hingga lereng Manglayang. Pemiliknya, Willem Abraham Baud, dikenal masyarakat setempat sebagai Baron Baud—sosok pengusaha yang lebih akrab lewat jejak kebunnya ketimbang riwayat hidupnya.

Pada mulanya, teh menjadi komoditas utama perkebunan Jatinangor. Namun seiring perubahan pasar, karet mengambil alih peran utama. Perkebunan ini bukan aset tunggal; jaringan kebun Baud juga tersebar di Ciumbuleuit, Garut, hingga Bogor. Jatinangor hanyalah satu mata rantai dalam mesin besar ekonomi kolonial yang berputar tanpa banyak mempertimbangkan nasib buruh.

Untuk mengatur ritme kerja, Baron Baud membangun sebuah menara lonceng—kini dikenal sebagai Menara Loji. Lonceng di puncaknya dibunyikan tiga kali sehari, menjadi penanda waktu kerja bagi buruh kebun. Menara ini masih berdiri hingga kini di kawasan kampus ITB Jatinangor, meski loncengnya sudah lama raib sejak 1980-an. Ia menjadi saksi bisu dari masa ketika waktu kerja ditentukan bukan oleh jam tangan, melainkan bunyi logam dari ketinggian.

Jembatan Cijapati. (Sumber: KITLV)
Jembatan Cijapati. (Sumber: KITLV

Kebutuhan distribusi hasil kebun mendorong pembangunan infrastruktur transportasi. Pada 1916, jalur kereta api Rancaekek–Tanjungsari mulai dirancang. Awalnya, rel ini hanya dimaksudkan untuk mengangkut hasil perkebunan. Namun kepentingan militer dan publik membuat jalurnya diperpanjang. Medan yang sulit dan biaya yang membengkak membuat rel hanya berakhir di Tanjungsari, tak pernah mencapai Citali seperti rencana awal.

Baca Juga: Jejak Sejarah Cimahi jadi Pusat Tentara Hindia Belanda Sejak 1896

Jalur ini resmi beroperasi pada 1921, lengkap dengan Jembatan Cincin yang melintasi Sungai Cikuda. Kereta yang melintas dijuluki Si Gobar oleh warga. Bagi masyarakat setempat, kereta bukan sekadar alat angkut, melainkan simbol keterhubungan Jatinangor dengan dunia luar.

Semua itu berhenti mendadak pada 1942, saat Jepang menduduki Hindia Belanda. Perkebunan terbengkalai, produksi berhenti, dan buruh dipaksa menjadi romusha atau dialihkan ke sektor lain. Rel kereta api pun dibongkar untuk kepentingan perang. Stasiun Tanjungsari mati suri sejak saat itu, tak pernah benar-benar hidup kembali.

Jadi Kota Sarjana

Pasca kemerdekaan, perkebunan Jatinangor sempat dihidupkan kembali dan berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun memasuki era Orde Baru, fungsi lahan mulai berubah. Melalui keputusan gubernur pada 1987, ribuan hektare lahan dialokasikan untuk berbagai peruntukan, termasuk pendidikan. Di sinilah arah baru Jatinangor mulai terbentuk.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Universitas Padjadjaran menjadi motor utama transformasi ini. Berdiri sejak 1957, Unpad lama tersebar di berbagai lokasi di Bandung. Kondisi itu menyulitkan pengelolaan kampus. Gagasan membangun satu kawasan terpadu muncul pada akhir 1970-an, terinspirasi dari konsep kota akademik di Jepang. Jatinangor dipilih karena lahannya luas dan relatif dekat dengan Bandung.

Pemindahan kampus berlangsung bertahap. Fakultas Pertanian menjadi pionir pada 1983. Fakultas lain menyusul perlahan, hingga akhirnya pada 2012, gedung rektorat resmi pindah ke Jatinangor. Peristiwa ini menegaskan bahwa pusat gravitasi Unpad telah bergeser sepenuhnya.

Kehadiran Unpad menarik institusi lain. IPDN, IKOPIN, dan Universitas Winaya Mukti mulai menempati kawasan ini sejak akhir 1980-an dan awal 1990-an. Pada 1989, Jatinangor ditetapkan sebagai Kawasan Perguruan Tinggi, lalu meningkat statusnya menjadi Kawasan Strategis Provinsi Pendidikan pada 2010. ITB ikut bergabung dengan membuka kampus yang berfokus pada life sciences.

Perlahan, wajah Jatinangor berubah total. Lahan kebun digantikan gedung perkuliahan. Rumah buruh bergeser menjadi kos mahasiswa. Warung kopi, fotokopian, dan laundry tumbuh subur mengikuti denyut akademik. Jatinangor menjelma menjadi kampung mahasiswa dalam skala besar.

Tapi perubahan cepat ini juga membawa persoalan: kemacetan, tekanan lingkungan, hingga tata ruang yang kerap tertinggal dari laju pembangunan. Di tengah hiruk-pikuk itu, sisa-sisa sejarah masih bertahan. Menara Loji, Jembatan Cincin, dan jejak rel tua menjadi pengingat bahwa Jatinangor pernah hidup dalam ritme yang sangat berbeda.

Baca Juga: Jejak Sejarah Bandung Dijuluki Kota Kembang, Warisan Kongres Gula 1899

Dari kebun kolonial hingga kota akademik, sejarah Jatinangor adalah kisah tentang perubahan fungsi ruang dan makna pembangunan. Ia mengajarkan bahwa sebuah wilayah bisa berganti wajah berkali-kali, selama ada visi dan keberanian untuk mengubah arah. Hari ini, Jatinangor bukan lagi ladang karet, melainkan ladang harapan—tempat ribuan anak muda belajar, gagal, bangkit, dan merancang masa depan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)