Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 19 Jan 2026, 20:24 WIB
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)

Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum dikenal sebagai kampus biru di Tamansari, Unisba lebih dulu hadir sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang mengganggu banyak tokoh Islam di Jawa Barat. Ke mana anak-anak muda Muslim harus berkuliah agar tidak hanya pulang membawa gelar, tetapi juga tetap membawa iman.

Pertanyaan itu muncul pada akhir 1950-an, masa ketika republik masih sering tersandung oleh urusannya sendiri. Indonesia memang sudah merdeka, tetapi belum benar-benar selesai dengan persoalan dasar. Konstitusi diperdebatkan tanpa henti, kabinet silih berganti, dan kata stabilitas masih terdengar seperti janji yang belum tentu ditepati. Pendidikan tinggi ikut berada dalam pusaran itu.

Perguruan tinggi mulai tumbuh, terutama di kota-kota besar. Bandung termasuk salah satunya. Namun bagi sebagian tokoh Islam Jawa Barat, peta pendidikan tinggi terasa timpang. Kampus ada, fakultas ada, ijazah juga ada, tetapi mereka melihat jarak yang makin lebar antara ilmu dan iman. Pendidikan tinggi dinilai terlalu sibuk mencetak tenaga kerja, sementara pembentukan manusia sering tertinggal di belakang.

Tokoh-tokoh yang gelisah ini bukan orang-orang yang kekurangan pekerjaan. Sebagian duduk di Konstituante, sebagian aktif di organisasi sosial dan keagamaan, sebagian lagi berkecimpung di dunia akademik dan kesehatan. Mereka terbiasa berdebat soal masa depan negara. Maka ketika bicara soal pendidikan umat, perdebatan pun tidak pernah singkat.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dari rangkaian diskusi panjang itulah lahir gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam di Jawa Barat. Bukan sekolah agama yang menutup diri dari dunia modern, tetapi lembaga pendidikan tinggi yang sanggup mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan arah nilai. Gagasan ini terdengar ideal, bahkan berisiko, mengingat situasi ekonomi dan politik yang jauh dari stabil.

Walau begitu, pada 15 November 1958, gagasan itu tetap diwujudkan. Perguruan Islam Tinggi resmi berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam. Namanya sederhana, disingkat PIT, seolah ingin mengatakan bahwa yang penting bukan kemasan, melainkan isi.

PIT memulai perjalanannya di Gedung Muslimin Jalan Palasari Bandung. Gedung ini bukan dirancang sebagai kampus. Tidak ada halaman luas atau bangunan megah. Tetapi sejarah pendidikan Indonesia memang akrab dengan tempat-tempat semacam ini. Banyak institusi besar lahir dari ruang-ruang pinjaman dan fasilitas seadanya.

Di Palasari, PIT menyelenggarakan perkuliahan dengan segala keterbatasan. Mahasiswa datang dengan semangat, dosen mengajar dengan keyakinan, dan pengelola kampus bekerja sambil belajar mengelola institusi yang masih sangat muda. Tidak ada jaminan PIT akan bertahan lama. Tetapi justru ketidakpastian itulah yang membentuk wataknya.

Dalam peta pendidikan Islam, PIT termasuk datang lebih awal. Jauh sebelum kampus Islam negeri berdiri di Bandung, PIT sudah lebih dulu mengisi ruang itu. PIT berdiri satu dekade lebih awal dibandingkan institusi Islam negeri yang kemudian dikenal luas. IAIN (kiniUIN) Sunan Gunung Djati Bandung baru berdiri pada 8 April 1968, sepuluh tahun setelah PIT didirikan dan setahun setelah PIT bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Setahun kemudian, pada 1960, kegiatan akademik PIT berpindah ke Jalan Abdul Muis. Perpindahan ini mencerminkan dinamika perguruan tinggi yang masih mencari bentuk. Kampus muda harus lentur, berpindah jika perlu, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Dari Perguruan Islam Tinggi ke Universitas Islam Bandung

Perubahan besar terjadi pada 1967. Perguruan Islam Tinggi bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung. Nama ini membawa konsekuensi yang tidak kecil. Status universitas berarti cakupan keilmuan yang lebih luas, tuntutan akademik yang lebih berat, dan ekspektasi publik yang meningkat.

Transformasi ini terjadi di tengah perubahan nasional. Orde Lama berakhir, Orde Baru mulai menata ulang negara, dan pembangunan dijadikan kata kunci. Dalam suasana seperti itu, perguruan tinggi swasta harus pandai menempatkan diri. Terlalu idealis bisa tersingkir, terlalu pragmatis bisa kehilangan arah.

Unisba memilih jalur tengah yang tidak selalu nyaman. Ia membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern, tetapi tetap menegaskan identitas keislamannya. Kampus ini tidak ingin menjadi universitas umum yang kebetulan berlabel Islam, melainkan universitas Islam yang sungguh-sungguh menjalankan fungsi universitas.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Langkah penting berikutnya terjadi pada 1972 ketika seluruh aktivitas Unisba dipusatkan di Jalan Tamansari nomor 1. Lokasi ini kelak dikenal sebagai kampus biru. Tanahnya merupakan bantuan dari pemerintah kota, sebuah pengakuan bahwa Unisba telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Bandung.

Pembangunan kampus Tamansari dilakukan dengan cara yang jauh dari glamor. Tidak ada dana raksasa. Yang ada adalah swadaya dan swadana masyarakat muslim. Bangunan awal bersifat semi permanen. Ruang kuliah, kantor, perpustakaan, masjid, dan aula dibangun sedikit demi sedikit.

Kemudian Masjid Al Asy’ari berdiri sebagai pusat kehidupan kampus. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang sosial dan intelektual. Di sanalah denyut Unisba terasa paling hidup. Kampus ini sejak awal menolak memisahkan kegiatan akademik dan spiritual sebagai dua dunia yang bertentangan.

Pertumbuhan mahasiswa berjalan konsisten, meski tidak spektakuler. Unisba tidak tumbuh dengan lonjakan besar, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang stabil. Pada 1980, kebutuhan ruang tambahan tidak bisa dihindari. Maka dibangunlah kampus kedua di kawasan Ciburial Dago.

Lokasi Ciburial menawarkan suasana yang berbeda. Lebih sejuk, lebih tenang, dan relatif jauh dari hiruk pikuk kota. Lahan kampus ini berasal dari sumbangan tokoh masyarakat, sekali lagi menegaskan bahwa Unisba tumbuh lewat dukungan kolektif, bukan semata kebijakan institusional.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Pengembangan fakultas pun mengikuti kebutuhan zaman. Fakultas Psikologi berdiri pada awal 1970-an, ketika profesi ini masih jarang dibicarakan. Fakultas Teknik hadir untuk menjawab tuntutan pembangunan. Fakultas Ilmu Komunikasi tumbuh dari akar sinematografi, sebuah jalur yang tidak lazim bagi kampus Islam, tetapi justru memperlihatkan keterbukaan Unisba.

Program Pendidikan Agama Islam bahkan sudah ada sebelum Unisba resmi menjadi universitas. Fakta ini menunjukkan bahwa akar keislaman kampus ini bukan tambahan belakangan, melainkan fondasi awal yang terus dipelihara.

Secara kelembagaan, Unisba juga terus menyesuaikan diri. Pada 2007, Yayasan Pendidikan Islam berubah menjadi Yayasan Universitas Islam Bandung. Hingga kini, Universitas Islam Bandung telah memiliki beberapa kompleks kampus, ribuan mahasiswa, dan alumni yang tersebar di berbagai bidang.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)