Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum dikenal sebagai kampus biru di Tamansari, Unisba lebih dulu hadir sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang mengganggu banyak tokoh Islam di Jawa Barat. Ke mana anak-anak muda Muslim harus berkuliah agar tidak hanya pulang membawa gelar, tetapi juga tetap membawa iman.

Pertanyaan itu muncul pada akhir 1950-an, masa ketika republik masih sering tersandung oleh urusannya sendiri. Indonesia memang sudah merdeka, tetapi belum benar-benar selesai dengan persoalan dasar. Konstitusi diperdebatkan tanpa henti, kabinet silih berganti, dan kata stabilitas masih terdengar seperti janji yang belum tentu ditepati. Pendidikan tinggi ikut berada dalam pusaran itu.

Perguruan tinggi mulai tumbuh, terutama di kota-kota besar. Bandung termasuk salah satunya. Namun bagi sebagian tokoh Islam Jawa Barat, peta pendidikan tinggi terasa timpang. Kampus ada, fakultas ada, ijazah juga ada, tetapi mereka melihat jarak yang makin lebar antara ilmu dan iman. Pendidikan tinggi dinilai terlalu sibuk mencetak tenaga kerja, sementara pembentukan manusia sering tertinggal di belakang.

Tokoh-tokoh yang gelisah ini bukan orang-orang yang kekurangan pekerjaan. Sebagian duduk di Konstituante, sebagian aktif di organisasi sosial dan keagamaan, sebagian lagi berkecimpung di dunia akademik dan kesehatan. Mereka terbiasa berdebat soal masa depan negara. Maka ketika bicara soal pendidikan umat, perdebatan pun tidak pernah singkat.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dari rangkaian diskusi panjang itulah lahir gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam di Jawa Barat. Bukan sekolah agama yang menutup diri dari dunia modern, tetapi lembaga pendidikan tinggi yang sanggup mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan arah nilai. Gagasan ini terdengar ideal, bahkan berisiko, mengingat situasi ekonomi dan politik yang jauh dari stabil.

Walau begitu, pada 15 November 1958, gagasan itu tetap diwujudkan. Perguruan Islam Tinggi resmi berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam. Namanya sederhana, disingkat PIT, seolah ingin mengatakan bahwa yang penting bukan kemasan, melainkan isi.

PIT memulai perjalanannya di Gedung Muslimin Jalan Palasari Bandung. Gedung ini bukan dirancang sebagai kampus. Tidak ada halaman luas atau bangunan megah. Tetapi sejarah pendidikan Indonesia memang akrab dengan tempat-tempat semacam ini. Banyak institusi besar lahir dari ruang-ruang pinjaman dan fasilitas seadanya.

Di Palasari, PIT menyelenggarakan perkuliahan dengan segala keterbatasan. Mahasiswa datang dengan semangat, dosen mengajar dengan keyakinan, dan pengelola kampus bekerja sambil belajar mengelola institusi yang masih sangat muda. Tidak ada jaminan PIT akan bertahan lama. Tetapi justru ketidakpastian itulah yang membentuk wataknya.

Dalam peta pendidikan Islam, PIT termasuk datang lebih awal. Jauh sebelum kampus Islam negeri berdiri di Bandung, PIT sudah lebih dulu mengisi ruang itu. PIT berdiri satu dekade lebih awal dibandingkan institusi Islam negeri yang kemudian dikenal luas. IAIN (kiniUIN) Sunan Gunung Djati Bandung baru berdiri pada 8 April 1968, sepuluh tahun setelah PIT didirikan dan setahun setelah PIT bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Setahun kemudian, pada 1960, kegiatan akademik PIT berpindah ke Jalan Abdul Muis. Perpindahan ini mencerminkan dinamika perguruan tinggi yang masih mencari bentuk. Kampus muda harus lentur, berpindah jika perlu, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Dari Perguruan Islam Tinggi ke Universitas Islam Bandung

Perubahan besar terjadi pada 1967. Perguruan Islam Tinggi bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung. Nama ini membawa konsekuensi yang tidak kecil. Status universitas berarti cakupan keilmuan yang lebih luas, tuntutan akademik yang lebih berat, dan ekspektasi publik yang meningkat.

Transformasi ini terjadi di tengah perubahan nasional. Orde Lama berakhir, Orde Baru mulai menata ulang negara, dan pembangunan dijadikan kata kunci. Dalam suasana seperti itu, perguruan tinggi swasta harus pandai menempatkan diri. Terlalu idealis bisa tersingkir, terlalu pragmatis bisa kehilangan arah.

Unisba memilih jalur tengah yang tidak selalu nyaman. Ia membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern, tetapi tetap menegaskan identitas keislamannya. Kampus ini tidak ingin menjadi universitas umum yang kebetulan berlabel Islam, melainkan universitas Islam yang sungguh-sungguh menjalankan fungsi universitas.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Langkah penting berikutnya terjadi pada 1972 ketika seluruh aktivitas Unisba dipusatkan di Jalan Tamansari nomor 1. Lokasi ini kelak dikenal sebagai kampus biru. Tanahnya merupakan bantuan dari pemerintah kota, sebuah pengakuan bahwa Unisba telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Bandung.

Pembangunan kampus Tamansari dilakukan dengan cara yang jauh dari glamor. Tidak ada dana raksasa. Yang ada adalah swadaya dan swadana masyarakat muslim. Bangunan awal bersifat semi permanen. Ruang kuliah, kantor, perpustakaan, masjid, dan aula dibangun sedikit demi sedikit.

Kemudian Masjid Al Asy’ari berdiri sebagai pusat kehidupan kampus. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang sosial dan intelektual. Di sanalah denyut Unisba terasa paling hidup. Kampus ini sejak awal menolak memisahkan kegiatan akademik dan spiritual sebagai dua dunia yang bertentangan.

Pertumbuhan mahasiswa berjalan konsisten, meski tidak spektakuler. Unisba tidak tumbuh dengan lonjakan besar, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang stabil. Pada 1980, kebutuhan ruang tambahan tidak bisa dihindari. Maka dibangunlah kampus kedua di kawasan Ciburial Dago.

Lokasi Ciburial menawarkan suasana yang berbeda. Lebih sejuk, lebih tenang, dan relatif jauh dari hiruk pikuk kota. Lahan kampus ini berasal dari sumbangan tokoh masyarakat, sekali lagi menegaskan bahwa Unisba tumbuh lewat dukungan kolektif, bukan semata kebijakan institusional.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Pengembangan fakultas pun mengikuti kebutuhan zaman. Fakultas Psikologi berdiri pada awal 1970-an, ketika profesi ini masih jarang dibicarakan. Fakultas Teknik hadir untuk menjawab tuntutan pembangunan. Fakultas Ilmu Komunikasi tumbuh dari akar sinematografi, sebuah jalur yang tidak lazim bagi kampus Islam, tetapi justru memperlihatkan keterbukaan Unisba.

Program Pendidikan Agama Islam bahkan sudah ada sebelum Unisba resmi menjadi universitas. Fakta ini menunjukkan bahwa akar keislaman kampus ini bukan tambahan belakangan, melainkan fondasi awal yang terus dipelihara.

Secara kelembagaan, Unisba juga terus menyesuaikan diri. Pada 2007, Yayasan Pendidikan Islam berubah menjadi Yayasan Universitas Islam Bandung. Hingga kini, Universitas Islam Bandung telah memiliki beberapa kompleks kampus, ribuan mahasiswa, dan alumni yang tersebar di berbagai bidang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)