Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)

AYOBANDUNG.ID - Jejak nama Sunan Gunung Djati lebih dulu dikenal sebagai salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Namun di Bandung, nama itu juga melekat pada sebuah kampus negeri yang saban hari dipenuhi mahasiswa, motor parkir berlapis-lapis, dan diskusi yang kadang lebih panas dari cuaca Cibiru di siang hari. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, atau yang akrab disebut UIN SGD, bukanlah institusi yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, melalui jalur berliku, dari gagasan idealistik hingga menjadi universitas dengan spektrum keilmuan yang kian luas.

Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung berakar pada perjalanan panjang pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Pada awal 1950-an, negara baru saja berdiri, birokrasi belum mapan, dan kebutuhan akan lembaga pendidikan Islam tingkat tinggi masih sering dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Namun justru dalam situasi seperti itulah benih-benih pendidikan tinggi Islam mulai disemai melalui Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri yang diatur lewat Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950. Dari fondasi inilah kelak lahir berbagai IAIN di Indonesia, termasuk di Jawa Barat.

Tonggak penting terjadi pada 1960, ketika pemerintah melebur Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri dengan Akademi Dinas Ilmu Agama. Peleburan ini bukan sekadar soal administrasi, melainkan upaya konsolidasi agar pendidikan tinggi Islam tidak berjalan sendiri-sendiri. Dari sinilah nama Institut Agama Islam Negeri mulai dikenal luas. Namun Jawa Barat saat itu belum memiliki IAIN sendiri. Para tokoh Muslim di wilayah ini merasa ada yang kurang: pusat kaderisasi ulama dan cendekiawan Islam belum benar-benar berakar di tanah Pasundan.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Dorongan itulah yang melahirkan inisiatif pada 1967. Sejumlah ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat Jawa Barat membentuk panitia pendirian IAIN. Langkah ini mendapat restu pemerintah daerah dan pengesahan dari Kementerian Agama. Setahun kemudian, tepat pada April 1968, berdirilah Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Tanggal berdiri itu kelak akan dikenang sebagai awal dari perjalanan panjang sebuah kampus yang mulanya serba terbatas, namun sarat ambisi intelektual.

IAIN Sunan Gunung Djati Bandung memulai langkahnya dengan empat fakultas: Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin di Bandung, serta Tarbiyah di Garut. Kampus pertamanya berlokasi di Jalan Lengkong Kecil, jauh dari kesan megah. Ruang belajar sederhana, fasilitas terbatas, dan sumber daya manusia yang harus bekerja ekstra adalah pemandangan sehari-hari. Namun justru dari keterbatasan itu lahir semangat membangun lembaga pendidikan Islam yang tidak sekadar mencetak sarjana, tetapi juga membentuk cara berpikir.

Sosok penting di balik fase awal ini adalah Anwar Musaddad, yang menjadi rektor pertama. Latar belakang pendidikannya mencerminkan pertemuan dua dunia: pendidikan Barat dan tradisi pesantren. Ia pernah mengecap sekolah-sekolah Belanda, lalu memperdalam ilmu agama hingga ke Mekkah. Pengalaman inilah yang kelak memberi warna pada arah pengembangan IAIN Bandung: berakar pada tradisi Islam, tetapi tidak alergi terhadap dunia luar. Di tangannya, kampus ini diletakkan sebagai ruang kaderisasi ulama dan intelektual yang berani berpikir terbuka.

Seiring waktu, kebutuhan ruang dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah membuat kampus ini berpindah-pindah. Dari Lengkong Kecil, IAIN Sunan Gunung Djati sempat bermarkas di Jalan Tangkuban Perahu, sebelum akhirnya menetap di kawasan Cibiru, Jalan A.H. Nasution. Lokasi inilah yang kini identik dengan UIN SGD Bandung. Perpindahan ini bukan sekadar urusan alamat, melainkan penanda pertumbuhan institusi yang menuntut ruang lebih luas untuk berkembang.

Baca Juga: Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Pada dekade-dekade berikutnya, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Jawa Barat. Fakultas-fakultas cabang di Bogor, Sukabumi, dan Cirebon sempat berada di bawah naungannya sebelum berdiri mandiri. Di satu sisi, ini mengurangi wilayah administratif IAIN Bandung. Namun di sisi lain, justru menunjukkan keberhasilannya menjadi “induk” yang melahirkan institusi-institusi baru.

Tahun 1990-an menjadi periode ekspansi keilmuan. Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab didirikan, menandai kesadaran bahwa kajian Islam tidak cukup berhenti pada hukum dan teologi. Komunikasi, budaya, dan bahasa menjadi bagian penting dari pengembangan keilmuan. Tak lama kemudian, program pascasarjana dibuka, memperluas peran kampus ini sebagai pusat riset dan kajian Islam tingkat lanjut.

Aktivitas di Halal Center UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)
Aktivitas di Halal Center UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)

Transformasi IAIN ke UIN

Puncak perjalanan panjang itu datang pada 2005. Melalui Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2005, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri. Perubahan status ini bukan sekadar pergantian papan nama. Ia membawa konsekuensi besar: perluasan mandat keilmuan dan integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Sebagai UIN, Sunan Gunung Djati Bandung tidak lagi membatasi diri pada studi-studi keislaman klasik. Fakultas-fakultas baru bermunculan, mulai dari Psikologi, Sains dan Teknologi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, hingga Ekonomi dan Bisnis Islam. Program studi seperti Teknik Informatika, Manajemen, dan Psikologi berdampingan dengan Tafsir, Hadis, dan Hukum Keluarga Islam. Di sinilah konsep integrasi keilmuan diuji dalam praktik sehari-hari.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Transformasi ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan Islam. Agama tidak diposisikan sebagai menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan sebagai lensa untuk membaca dunia modern. Mahasiswa UIN SGD Bandung didorong untuk memahami persoalan kontemporer dari mulai teknologi hingga konflik sosial tanpa melepaskan akar nilai keislaman.

Kini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menaungi sembilan fakultas dengan puluhan program studi. Salah satu yang menonjol adalah Studi Agama-agama, yang sejak awal dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman lintas iman. Program ini menjadi cerminan wajah UIN hari ini: sebuah kampus Islam negeri yang tidak hanya berbicara tentang keimanan, tetapi juga tentang toleransi dan hidup bersama dalam keberagaman.

Dari kampus sederhana di Lengkong Kecil hingga universitas besar di Cibiru, sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah kisah tentang adaptasi dan keberanian berubah. Ia lahir dari kegelisahan para tokoh umat, tumbuh melalui keterbatasan, dan kini berdiri sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Islam terkemuka di Indonesia. Sejarah itu belum selesai. Seperti mahasiswa yang terus datang silih berganti, perjalanan UIN SGD Bandung masih akan terus ditulis, halaman demi halaman.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)