Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

3 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran. (Sumber: Wikimedia)
Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum menjelma menjadi universitas besar dengan kampus di berbagai penjuru, Unpad berangkat dari satu keyakinan yang tak mudah digoyahkan. Keyakinan bahwa Jawa Barat membutuhkan universitas negerinya sendiri. Di tengah situasi politik yang belum stabil dan administrasi yang serba terbatas, gagasan itu bertahan, bernegosiasi, lalu perlahan menjelma menjadi universitas.

Pada awal 1950-an, keadaan pendidikan tinggi di Bandung sebenarnya tidak bisa dibilang kosong. Beberapa fakultas sudah ada, tetapi statusnya masih cabang dari universitas lain. Bagi masyarakat Jawa Barat, kondisi ini terasa janggal. Daerah dengan jumlah penduduk besar dan tradisi intelektual panjang justru belum memiliki universitas negeri yang berdiri sendiri.

Keinginan untuk memiliki institusi pendidikan tinggi yang utuh pun terus menguat, bukan sebagai simbol gengsi, melainkan kebutuhan nyata.

Baca Juga: Tamasya Bandung Tempo Dulu, Curug Jompong dalam Imajinasi Kolonial

Keinginan ini tidak muncul tiba-tiba. Jauh sebelumnya, tokoh-tokoh pendidikan Sunda telah menanamkan gagasan bahwa pendidikan adalah jalan penting bagi kemajuan masyarakat. Semangat itu hidup dan diwariskan lintas generasi, hingga akhirnya menemukan konteks politik yang memungkinkan setelah Indonesia merdeka.

Ketika Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika 1955, kesadaran itu semakin tajam. Kota ini mendapat sorotan internasional, dan di saat yang sama muncul pertanyaan sederhana: bagaimana dengan infrastruktur pendidikannya sendiri?

Dorongan tersebut disampaikan melalui berbagai pertemuan dan forum masyarakat. Respons pemerintah datang secara bertahap. Pada 14 Oktober 1956, dibentuk Panitia Pembentukan Universitas Negeri di Bandung. Ini menjadi langkah administratif pertama yang jelas arahnya.

Beberapa bulan kemudian, delegasi dibentuk untuk menyampaikan aspirasi Jawa Barat ke pemerintah pusat. Prosesnya panjang, berlapis, dan penuh tahapan, tetapi hasilnya mulai terlihat.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Pada 11 September 1957, Universitas Padjadjaran resmi berdiri. Beberapa hari setelahnya, keberadaan universitas ini ditegaskan melalui peraturan pemerintah, lalu diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia. Unpad memulai perjalanannya dengan empat fakultas: Hukum, Ekonomi, Kedokteran, serta Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Pilihan ini mencerminkan kebutuhan dasar pembangunan saat itu: hukum untuk tata negara, ekonomi untuk pengelolaan sumber daya, kedokteran untuk kesehatan publik, dan sains sebagai fondasi pengetahuan.

Pemilihan nama Padjadjaran disandarkan pada pertimbangan historis dan kultural. Ia merujuk pada Kerajaan Sunda yang pernah berjaya di bawah Prabu Siliwangi. Pilihan nama ini bukan nostalgia kosong, melainkan harapan agar universitas baru ini tumbuh dengan wibawa dan daya tahan yang sama.

Gedung FMIPA Unpad. (Sumber: Tropenmuseum)
Gedung FMIPA Unpad. (Sumber: Tropenmuseum)

Hijrah Kampus Utama dari Bandung ke Jatinangor

Pertumbuhan Unpad berlangsung cepat. Fakultas-fakultas baru dibuka dalam waktu relatif singkat, mencakup bidang sosial, humaniora, pertanian, psikologi, hingga peternakan. Dalam hitungan tahun, Unpad berubah dari universitas kecil menjadi institusi dengan cakupan keilmuan yang luas. Namun perkembangan ini membawa konsekuensi praktis: kegiatan akademik tersebar di banyak lokasi.

Pada satu masa, Unpad beroperasi di lebih dari sepuluh titik berbeda di Bandung dan sekitarnya. Kondisi ini menyulitkan pengelolaan dan membatasi pengembangan jangka panjang. Sejak akhir 1970-an, muncul gagasan untuk menyatukan seluruh aktivitas akademik dalam satu kawasan terpadu. Inspirasi datang dari konsep kota pendidikan yang telah diterapkan di luar negeri.

Pilihan lokasi jatuh pada Jatinangor, kawasan di kaki Gunung Manglayang yang sebelumnya merupakan area perkebunan peninggalan masa kolonial. Lahan luas dan relatif terbuka ini dinilai cocok untuk pengembangan jangka panjang. Pengadaan lahan dimulai pada akhir 1970-an, disusul perencanaan kawasan pendidikan tinggi yang terintegrasi.

Baca Juga: Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Pemindahan kampus dilakukan secara bertahap. Fakultas Pertanian menjadi yang pertama berpindah pada 1983, disusul fakultas-fakultas lain dalam rentang waktu puluhan tahun. Proses ini berjalan perlahan, menyesuaikan kesiapan infrastruktur dan kebutuhan akademik. Tonggak penting terjadi pada 2012, ketika pusat administrasi universitas resmi berpindah ke Jatinangor. Sejak saat itu, kawasan ini menjadi kampus utama Universitas Padjadjaran.

Dalam perkembangannya, Unpad memperoleh status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum yang memberi keleluasaan lebih besar dalam pengelolaan institusi. Akreditasi nasional dengan peringkat tertinggi dan posisi yang konsisten dalam pemeringkatan internasional menandai pengakuan atas kualitasnya. Jumlah peminat yang tinggi dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa Unpad tidak hanya besar secara sejarah, tetapi juga relevan bagi generasi baru.

Kini, Universitas Padjadjaran menaungi belasan fakultas dan puluhan program studi, dari diploma hingga doktoral. Dari gagasan yang diperjuangkan sejak awal kemerdekaan, Unpad tumbuh menjadi universitas yang berakar pada sejarah lokal sekaligus bergerak dalam lanskap global. Perjalanannya menunjukkan bahwa universitas tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari ketekunan menjaga keyakinan hingga menemukan bentuk yang paling mungkin.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)